Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
7. Meminang


__ADS_3

Siang ini, Rizal, Risa dan Syarah makan siang bersama di rumah makan padang di dekat kantor mereka. Ini merupakan ide dari Rizal yang datang ke kantor dan mengajak Syarah makan bersama. Tanpa diduga Syarah mengajak Risa.


Sudah hampir setengah tahun ini, Syarah dapat menangkap gelagat bahwa Risa tertarik pada Rizal. Namun sepertinya tidak untuk sebaliknya. Jadilah Syarah yang berusaha mendekatkan mereka. Berharap mereka dapat dipersatukan, tapi sebagai manusia, ia hanya dapat berusaha selebihnya tangan Yang Kuasalah yang memutuskan.


“Sya, kamu mau makan apa?” tanya Rizal pada Syarah yang duduk di depannya.


“Aku mau makan kikil saja, Mas,” jawab Syarah.


“Aku mau rendang,” ucap Risa sebelum ditanya.


Beep beep


Terdengar nada pesan masuk dari telepon Syarah, ia segera membuka pesan mungkin ada hal penting.


Sya, tadi pak Pandhu memintaku untuk menghubungimu. Beliau memintamu untuk bertemu dengannya malam ini di restoran Jalan Pahlawan setelah pulang kantor. Jangan lupa datang tepat waktu. Bye.


Ternyata itu pesan dari Ayesha, asisten pak Pandhu. Syarah yang mendapat pesan itu merasa terkejut, mengapa pak Pandhu memintanya bertemu dengan secara tiba-tiba. Jika dipikir-pikir selama ini mereka tidak pernah berinteraksi lebih, hanya sebatas dia sebagai pegawai pak Pandhu.


“Sya, ada apa? Kenapa kamu terlihat terkejut? Pesan dari siapa itu?” tanya Rizal pada Syarah.


“Ini tidak, bukan apa-apa,” jawab Syarah.


Syarah hanya tidak ingin membahas saja pada mereka, cukup biar Syarah saja yang terkejut dan akan Syarah temukan jawabannya nanti.


“Mas, nanti temani aku ke mall cari bedak ya. Bedakku sudah habis, setelah itu kita bisa cari sepatu. Kemarin kamu cerita kan kalo sepatu sepak bolamu sobek. Kita bisa sekalian membeli nanti,” ajak Risa pada Rizal.


Syarah hanya diam saja mendengarnya, karena memang tidak ingin terlibat. Biarlah mungkin mereka berdua bisa lebih dekat.


“Bagaimana Sya, kamu ikut juga kan?” tanya Rizal pada Syarah


“Sepertinya aku tidak ikut. Kalian pergi saja, bersenang-senanglah. Lagipula ini malam minggu, kalian mungkin bisa menonton sekalian. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Kalian pergilah,” ucap Syarah meyakinkan pada mereka.


Syarah meminta maaf telah berbohong, mungkin ini demi mereka berdua juga.


“Memang masih banyak pekerjaan Sya, sampai malam minggu pun kamu masih harus bekerja lembur? Apakah bosmu itu semena-mena padamu?” tanya Rizal.


“Tidak apa-apa, Mas. Mungkin mendekati akhir bulan jadi aku harus memastikan data sebelum dicek nantinya. Mas tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," ucap Syarah masih berusaha meyakinkan mereka.


“Jika kau butuh sesuatu jangan pernah ragu mengatakannya. Aku pasti akan membantumu, Sya,” ucap Rizal sambil memegang tangan Syarah.


Memang sejak kenal dengan Rizal, Syarah dapat memahami bahwa Rizal adalah seseorang yang sangat perhatian dan penyayang. Sering kali Rizal membantu Syarah disaat dia sedang kesulitan. Kadang Syarah merasa berhutang budi pada Rizal yang sangat baik pada Syarah.


“Mas, kamu tahu sendiri kan kalau Syarah ini kuat. Jadi kamu tidak perlu khawatir, lagi pula itu sudah tanggung jawabnya. Kalau ditunda-tunda nanti bisa memberatkannya juga," ucap Risa ikut membantu meyakinkan.


“Baiklah, ingat jangan pulang terlalu malam. Jangan terlalu memforsir tenagamu, jaga kesehatan jangan sampai sakit,” ucap Rizal sambil mengelus puncak kepala Syarah.


“Iya, Yang Mulia, hamba siap melaksanakan,” ucap Syarah sambil menangkupkan kedua tangan sambil tersenyum jenaka.


Rizal membalas mengacak rambut Syarah, tapi Syarah biarkan saja karena selama ini Rizal sering melakukannya pada Syarah. Selama ini Syarah sudah menganggap Rizal sebagai kakak laki-lakinya sendiri. Wajar karena Syarah tidak memiliki kakak laki-laki. Syarah menyayanginya layaknya saudara kandungnya.


Tak sengaja mata Syarah menangkap mata Risa yang menyiratkan makna sedikit kesal. Buru-buru Syarah lepaskan tangan Rizal yang masih bertengger di kepala Syarah. Makan siang berjalan tenang, Syarah harap Risa tidak terbawa hati dengan perlakuan Rizal pada Syarah. Setelah makan siang bersama, mereka kembali ke kantor melanjutkan pekerjaan.


*****


“Sya, saya pergi dulu. Jika kamu sudah selesai pulanglah,” ucap pamit Danar pada Syarah.


“Baik, Pak, hati-hati di jalan,” jawab Syarah.


Kemudian Syarah membereskan meja, lalu berlalu ke toilet untuk mencuci muka dan memoles wajahnya tipis. Malam ini Syarah ada janji dengan pak Pandhu, walaupun beliau tidak mengatakannya secara langsung tapi tak masalah karena beliau adalah bos disini.


Menatap pantulan Syarah di cermin, Syarah perhatikan lagi penampilannya ini, hari ini dia memakai blazer coklat dengan celana kulot hitam dengan kaos putih.

__ADS_1


Wajah Syarah hanya dipoles dengan bedak tipis dan lipstik senada warna bibir dengan sedikit perona wajah. Setelah Syarah pastikan sudah fresh, Syarah segera menuju tempat janjian dengan menggunakan ojol.


*****


Syarah sudah sampai ditempat yang Syarah tuju, tetapi Syarah merasa gugup melanda dirinya kini. Restoran ini benar-benar mewah dan berkelas, kembali Syarah lihat penampilannya yang jauh dari kesan mewah bahkan bisa dikatakan sangat sederhana. Syarah lihat orang-orang yang makan disini memakai pakaian berkelas, rasa mindernya benar-benar dalam mode on.


Sebenarnya apa maksud pak Pandhu mengajak Syarah bertemu? Apalagi di tempat seperti ini, ia sendiri tidak yakin kalau gajinya sebulan bisa untuk membeli makanan disini.


Tapi Syarah sudah terlanjur berada di tempat. Tidak mungkin ia membalikkan badan untuk pulang dan memberikan alasan palsu hanya karena ketidakpercayaan dirinya. Akhirnya Syarah melangkah menuju pelayan di bagian depan pintu yang berjaga.


“Permisi apakah pak Pandhu sudah ada disini?” tanya Syarah pada salah satu pelayan.


“Selamat malam, benar tuan Pandhu sudah berada di dalam. Apakah Anda adalah tamu beliau?” tanya pelayan yang berjaga.


“Iya, tadi aku ada janji dengannya,” jawab Syarah pada pelayan.


“Baiklah Nona, izinkan saya mengantarkan anda ke tempat tuan Pandhu,” ucap pelayan menawarkan.


Selama berjalan menuju tempat pak Pandhu, Syarah hanya bisa merapalkan doa. Semoga tidak terjadi sesuatu padanya, mengapa Syarah baru dilanda kegugupan sekarang.


“Permisi Tuan Pandhu, apakah nona ini adalah tamu Anda?” tanya pelayan pada pak Pandhu yang duduk sendiri.


“Iya, terima kasih,” jawab pak Pandhu.


“Baik, Tuan, permisi," ucap pelayan pamit.


Setelah pelayan berlalu, Syarah menatap pak Pandhu yang hanya duduk seorang diri. Tempat sekitar mereka tidak ada orang lain, hanya ada mereka berdua. Sungguh jantung Syarah berdetak kencang menandakan kegugupan.


“Selamat malam, Pak Pandhu. Apakah benar Bapak meminta saya untuk datang kemari?” tanya Syarah membuka suara.


“Iya Syarah, duduklah,” jawab pak Pandhu.


“Terima kasih, Pak,” ucap Syarah.


“Sebelumnya mohon maaf apabila saya lancang, jika boleh saya tahu sebenarnya tujuan dan maksud Bapak meminta saya bertemu ada apa ya, Pak? Apakah saya melakukan kesalahan?” tanya Syarah was-was.


“Kau ini lucu sekali, jika kau melakukan kesalahan untuk apa aku malah mengajakmu kemari,” ucap pak Pandhu dengan senyum lebar, senyum yang selama ini tidak pernah Syarah lihat di wajah tegasnya yang mulai menua.


Syarah hanya tersenyum malu sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal menyadari kebodohannya.


“Pesanlah apapun yang kau inginkan. Puaskan perutmu, belum tentu perantau sepertimu bisa makan seperti ini,” ucap pak Pandhu setelah pelayan menghampiri mereka.


Bagaimana bisa beliau tahu kalau Syarah adalah perantau? Ah sudahlah beliau adalah pemilik perusahaan tentunya beliau memiliki data semua karyawannya.


Menu yang diberikan pelayan pada Syarah yang hanya membuatnya bingung. Syarah tidak tahu makanan-makanan ini, semua memakai bahasa asing yang dapat dia pastikan bukan bahasa Inggris. Lama Syarah membaca sambil melihat gambar-gambar yang ada di menu, sebuah suara memecah konsentrasinya.


“Malam, Kakek,” sapa seseorang yang baru datang.


Suara ini dari belakang Syarah, dan Syarah berani bertaruh bahwa seseorang itu adalah Danar.


“Malam, Danar, duduklah,” sapa pak Pandhu.


Fix yang datang adalah bos Syarah, Danar. Syarah lantas berdiri hendak menyapa Danar, saat Syarah membalik Syarah melihat Danar sedikit terkejut namun hanya sepersekian detik Syarah langsung mengubah ekspresi Danar.


“Selamat malam, Pak Danar,” sapa Syarah pada Danar.


“Kenapa ada dia juga disini?” tanya Danar pada pak Pandhu.


“Aku yang mengadakan makan malam ini, jadi hakku untuk mengundang siapapun,” ucap pak Pandhu.


“Hm baiklah,” ucap Danar.

__ADS_1


Danar duduk di sebelah pak Pandhu. Saat Syarah ditanya mau pesan apa, Syarah kebingungan. Apa iya ada satu makanan yang Syarah yakini ada disini.


“Saya mau steak,” ucap Syarah.


“Baik mohon ditunggu pesanannya akan segera kami sajikan,” ucap pelayan.


Setelah itu suasana hening, karena di ruangan sebesar ini hanya ada mereka bertiga bahkan pelayan pun tidak ada.


“Syarah bisa kau ceritakan tentang dirimu?” tanya pak Pandhu pada Syarah.


Syarah berdeham untuk menetralkan suaranya dan untuk meredakan kegugupannya.


“Baik, Pak, saya Syarah Haura. Saat ini saya berusia 22 tahun tepat Agustus kemarin. Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Orang tua saya bekerja sebagai abdi negara. Saya berasal dari salah satu kota kecil di Jawa Tengah," jelas Syarah pada pak Pandhu.


“Kau masih sangat muda, bagaimana bisa diterima di perusahaan saya?” tanya pak Pandhu.


“Saya tidak tahu pasti, namun saya diterima sebagai asisten manajer lapangan saat itu,” jelas Syarah.


“Apa yang bisa kamu banggakan dari dirimu saat ini?” tanya pak Pandhu.


“Saya hanya manusia biasa, Pak, mungkin tidak ada yang membanggakan dari diri saya. Saya hanya seperti apa yang anda nilai,” jelas Syarah.


Syarah tak tahu apa maksud dari pertanyaannya. Jadi Syarah jawab apa adanya yang terlintas di otaknya. Danar hanya diam saja, seakan tak tertarik pada obrolan singkat itu.


Makanan sudah mulai disajikan dan mereka mulai menikmati dengan hening hanya denting pisau dan garpu yang beradu. Hingga satu kejadian terjadi, steak yang sedang Syarah potong karena saking gugupnya terjatuh tepat di depan piring Danar.


“Aduh maaf, maaf, Pak, saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Syarah.


Danar langsung membanting alat makan yang dipegangnya ke piring.


“Kau menghancurkan makan malamku!" bentak Danar.


“Maaf, Pak, saya benar-benar tidak senagaja. Saya izin memanggil pelayan ke bawah,” ucap Syarah.


Syarah menunduk tidak berani merasakan aura mengerikan keluar darinya. Saat Syarah akan berdiri dan beranjak tak sengaja Syarah terlilit kain di meja yang membuatnya jatuh terjerembab.


Bruakk


Siku dan lutut Syarah mencium kerasnya lantai marmer dengan suara berdebam yang dapat diperkirakan rasa sakitnya. Tanpa Syarah bisa cegah air matanya menetes, tidak ada yang berusaha membantunya. Syarah segera bangkit dan berusaha mencari pelayan.


Syarah berjalan sedikit terseok menahan sakit di lutut. Saat akan menekan tombol lift pelayan muncul. Syarah memintanya membersihkan meja yang kotor karena ulahnya setelahnya Syarah menuju lift.


Syarah yang kalut memasuki lift dan turun di lantai 2, saat keluar Syarah bertanya letak toilet pada pelayan. Sesampainya di toilet, Syarah meluapkan tangisnya. Syarah benar-benar malu untuk muncul dihadapan Danar dan pak Pandhu.


Sebenarnya yang membuatnya takut adalah bentakan Danar yang sampai saat ini terngiang di kepala Syarah. Syarah menyadari bahwa Syarah tidak boleh terlalu lama berdiam di toilet. Sekarang Syarah ada janji dengan pak Pandhu, akan sangat tidak sopan bila Syarah tinggalkan terlalu lama yang akan menambah daftar kesalahan Syarah malam ini.


Sekuat hati Syarah menampilkan senyum terbaiknya meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa. Saat Syarah kembali ke meja, dilihat hanya ada pak Pandhu seorang diri tanpa cucunya.


“Maaf Pak, maaf apabila saya terlalu lama. Maaf juga sudah mengacaukan makan malam Anda,” ucap Syarah menunduk dalam penuh penyesalan.


“Duduklah, aku sudah memesankan makanan untukmu,” ucap pak Pandhu.


“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Syarah.


Syarah tidak berani bertanya tentang dimana keberadaan Danar. Setelah selesai makan, pak Pandhu membuka suara.


“Sya, apa kau tahu tujuan saya mengajakmu bertemu?” tanya pak Pandhu.


“Maaf Pak, saya benar-benar tidak tahu,” jawab Syarah.


“Mungkin ini terkesan buru-buru tapi ini adalah hal baik yang ingin saya sampaikan segera," pak Pandhu menjeda ucapanya, Syarah pun hanya terdiam menunggu kalimat selanjutnya dari pak Pandhu, “Saya ada rencana baik untuk meminangmu.”

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya


__ADS_2