Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
20. Wanita Lain


__ADS_3

Setelah mengantarkan pak Pandhu ke kamarnya lagi, Syarah menuju ke dapur untuk membuat makan siang. Syarah membuka kulkas dan menemukan berbagai jenis sayuran, daging dan buah-buahan. Melihat kulkas yang terisi penuh membuat Syarah jadi kebingungan mau memasak apa.


Kemudian dia memutuskan untuk membuat tumis sawi putih dengan campuran wortel yang sedikit pedas juga ayam goreng bumbu kuning. Dia juga membuat sambal bawang untuk berjaga-jaga apabila tidak ingin makan sayur. Masakan Syarah hanya masakan sederhana khas rumahan yang dia bisa masak.


Lama Syarah berkutat dengan aktivitas memasaknya dibantu oleh juru masak di dapur yang mengarahkan. Syarah terlihat antusias saat belajar untuk memasak karena dia ingin menjadi istri yang bisa diandalkan terutama memasak. Setelah selesai, Syarah meminta juru masak untuk menilai hasil masakannya siang ini.


“Bi Jum, tolong cicipi masakannya,” ucap Syarah.


Kemudian juru masak rumah yang bernama bi Jum ini mencicipi masakan yang dibuat Syarah dengan arahan darinya.


“Bagaimana rasanya, Bi? Apakah asin atau justru hambar?” tanya Syarah penasaran pada hasil masakannya.


“Ini enak, Non. Apalagi kalau dimakan bersama ayam goreng sama sambalnya pasti nanti rasanya maknyuss,” jawab bi Jum dengan mengacungkan dua jempol pada Syarah.


“Alhamdulillah. Ini semua berkat Bi Jum. Kalau tidak diajarkan sama Bi Jum mana bisa Syarah membuat masakan ini,” ucap Syarah pada bi Jum.


“Tidak Non, ini semua berkat keinginan Non sendiri yang mau belajar memasak dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak mana bisa jadi seenak ini. Sudah seperti makanan dari restaurant mahal saja walaupun dengan masakan sederhana khas rumahan seperti ini,” kata bi Jum.


“Bi Jum jangan terlalu memuji, nanti kepala saya bisa besar. Ya sudah tolong bantu menata masakannya di meja makan dan saya akan mengemas di bekal. Rencana saya mau mengirim makan siang untuk kak Danar,” jelas Syarah.


“Siap Non,” ucap Bi Jum.


Syarah dan bi Jum bekerja sama untuk menyiapkan masakan untuk orang rumah. Setelah selesai menyiapkan bekal untuk makan siang Danar, Syarah bersiap pergi ke kantor untuk mengantarkan makan siang langsung untuk Danar.


Mengingat sekarang posisinya dia sudah menjadi istri Danar, Syarah sudah harus memperhatikan penampilan agar tidak membuat suaminya malu karena penampilannya yang terlihat kurang pantas bersanding dengan Danar.


“Bibi Rumi tolong nanti antarkan makanan ke kamar kakek, jangan lupa juga untuk memastikan kakek meminum obatnya,” ucap Syarah memerintahkan ke bibi Rumi.


“Iya, Non, nanti akan bibi siapkan makan siang tuan besar tidak lupa dengan obat beliau,” jawab bibi Rumi.


“Terima kasih, Bi. Syarah pamit pergi dulu,” ucap Syarah.


Syarah berangkat menuju kantor Danar, kantor dimana dia bekerja dulu. Tapi semenjak akan menikah dengan Danar, pak Pandhu meminta Syarah untuk berhenti bekerja. Danar pun juga meminta Syarah berhenti bekerja dan tinggal di rumah saja.


“Pak Salam, nanti kalau saya sudah selesai saya hubungi,” ucap Syarah berpesan pada pak Salam sopir pak Pandhu yang mengantarnya.


“Baik, Non,” jawab pak Salam.

__ADS_1


Syarah bergegas memasuki kantor, sebelumnya dia menyapa Risa yang ada di bagian lobi. Setelah berbincang sebentar Syarah pamit karena ingin mengantarkan makan siang ke ruangan Danar mengingat waktu hampir menunjukkan jam makan siang.


Saat memasuki kantor semua pegawai memandang hormat pada istri bosnya ini. Mereka memberi salam dan menunduk hormat, takut bila bersikap tidak hormat akan menimbulkan masalah pada pekerjaan mereka. Syarah yang mendapat perlakuan ini kurang nyaman, karena dia ingin orang-orang bersikap biasa saja tidak perlu setakut itu padanya.


Syarah bukan orang yang gila hormat dan pujian, jadi ketika orang-orang bersikap demikian justru membuat dirinya tak nyaman. Dengan cepat Syarah menuju ke pintu lift yang akan membawanya ke ruangan Danar. Ruangan kerja danar bukan seperti yang dulu melainkan kini berpindah ke ruangan pak Pandhu karena semua pekerjaan pak Pandhu dialihkan padanya.


Lift yang membawa dia ke lantai ruangan Danar berada terasa begitu cepat. Sebenarnya ia sedikit gugup untuk bertemu dengan Danar di kantor seperti ini. Kantor ini mengingatkannya pada kenangannya dengan Danar di awal perjumpaan mereka.


Ketika pintu lift terbuka di lantai tertinggi Gedung kantor itu yang hanya diisi oleh ruangan kerja CEO juga ruang meeting dan beberapa direksi. Terlihat begitu hening karena memang jarang dilalui karyawan perusahaan. Sebelum keluar pintu dia melihat wajahnya melalui telepon untuk memastikan penampilannya siang ini.


Setelah merasa penampilannya aman barulah dia keluar lift. Baru keluar pintu lift, dia menengok ke sebelah kanan dan mendapati seorang laki-laki dan perempuan sedang berbincang di depan pintu ruangan. Syarah mengenali si pria ini walau hanya dari samping, sedangkan untuk yang perempuan dia tidak pernah melihatnya.


Perasaan Syarah sedikit tidak enak melihat tatapan keduanya, yang seakan dalam dan sudah terbiasa Bersama. Tak lama mereka berpelukan, dapat Syarah lihat bahwa Danar memeluk perempuan ini dengan dekapan erat dan hangat. Syarah melihatnya dan hatinya bergemuruh, dia terdiam seperti patung tak bergerak barang sejengkal pun.


Laki-laki yang kini menjadi suaminya itu tengah berpelukan mesra dengan seorang perempuan yang bahkan terlihat sangat dekat. Mereka berdua melepaskan pelukan lalu entah apa yang diucapkan oleh perempuan itu yang membuat Danar tersenyum tulus. Senyum yang belum pernah Syarah lihat saat bersama dengan Danar.


Saat perempuan itu akan berjalan ke arah lift, Syarah buru-buru melarikan diri sebelum Danar melihat keberadaannya. Syarah langsung menuju ke tangga yang ada di samping lift. Dia belum sanggup untuk bertemu dengan Danar di saat kondisi hatinya masih belum stabil.


Air mata terus keluar tanpa bisa Syarah cegah, mewakili perasaan hatinya yang koyak melihat kedekatan suaminya dengan wanita lain. Merasa sedikit tenang Syarah berusaha berpikir positif dan tidak ingin membuat prasangka buruk pada suaminya. Mungkin wanita itu hanyalah teman Danar atau rekan bisnis Danar mengingat mereka belum terlalu dekat untuk dapat mengetahui orang-orang yang ada di sekeliling Danar.


Tok tok tok


“Masuk,” jawab Danar dari dalam ruangan.


Syarah melangkahkan kaki memasuki ruangan Danar, terlihat begitu luas berbeda dengan ruangan yang Danar tempati sebelumnya. Danar tidak mengalihkan pandangan hanya untuk sekedar melihat siapa yang memasuki ruangannya kini.


“Kak,” panggil Syarah.


Mendengar suara panggilan itu, Danar langsung menoleh ke arah Syarah. Dia sedikit terpaku dengan penampilan Syarah hari ini. Entah mengapa semakin kesini Syarah terlihat semakin cantik. Padahal wanita itu hanya mengenakan dress polos selutut tanpa riasan yang mencolok bahkan tanpa perhiasan yang mahal sekali pun.


“Kak, aku kesini mau mengantarkan makan siang untukmu. Tadi pagi kamu belum sarapan, aku pikir kamu belum makan jadi aku bawakan makan siang untukmu,” kata Syarah menjelaskan maksud kedatangannya secara tiba-tiba ke kantor Danar.


Suara Syarah yang lembut membuat Danar tersadar untuk tidak terlalu memerhatikan Syarah. Ia mengingatkan diri sendiri agar tak terjatuh terlalu dalam pada pesona yang Syarah terbarkan untuknya.


“Tidak perlu repot-repot. Aku bisa makan siang tanpa perlu kau bawakan,” ketus Danar.


Mendengar nada yang kurang enak dari Danar, Syarah merasa kehadirannya tidak dibutuhkan Danar. Tapi dia harus menurunkan egonya, Syarah kemari untuk memberikan makan siang pada Danar. Dia tidak boleh lupa pada tujuannya itu.

__ADS_1


“Aku minta maaf kak apabila kehadiranku mengganggumu bekerja. Aku hanya ingin memberikan makan siang ini untukmu. Kau harus makan tepat waktu, jangan sampai karena lalai makan dan sibuk bekerja membuat kamu sakit,” jelas Syarah dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya sedari tadi.


“Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan tanpa harus kau ingatkan,” sanggah Danar.


“Iya Kak, aku tahu kamu bisa mengurus dirimu sendiri dengan baik. Tapi sekarang aku sudah menjadi istrimu jadi sudah kewajibanku untuk mengurus keperluan suamiku. Jadi kumohon, makanlah, Kak,” pinta Syarah.


“Tinggalkan saja di meja. Pekerjaanku sangat banyak,” ucap Danar.


“Apa mau aku suapi saja? Jadi Kakak bisa makan sambil tetap melanjutkan pekerjaan,” kata Syarah tetap berusaha membujuk Danar.


“Baiklah,” ucap Danar yang memang ingin disuapi.


Syarah tersenyum senang mendapati suaminya ini menuruti keinginnnya. Segera saja Syarah menyiapkan makanan untuk dinikmati suaminya. Danar yang melihat antusias Syarah dalam menyiapkan makan siang membuat hatinya menghangat.


Syarah selama ini mengurus dan menyiapkan kebutuhan Danar dengan baik tanpa perlu diminta.


“Kemarilah, Kak,” pinta Syarah pada Danar untuk duduk di sebelahnya.


Danar duduk di sofa sebelah Syarah sesuai petunjuk Syarah sebelumnya. Syarah menyuapi Danar dengan Danar yang menyibukkan diri dengan iPad miliknya seolah sedang mengerjakan banyak pekerjaan.


Padahal sebenarnya dalam hati Danar sangat bahagia dengan kehadiran Syarah yang tiba-tiba untuk mengantarkan makan siang untuknya. Sungguh setiap hari pun Danar mau bila Syarah datang mengantarkan makan siang untuknya.


Syarah melayani suaminya dengan sangat baik, dia menyuapi dengan telaten bahkan sampai makanan dalam bekalnya tandas oleh Danar.


“Menurutmu bagaimana masakannya Kak? Apakah enak?” tanya Syarah penasaran.


“Iya enak,” jawab Danar, “memang masakan bi Jum selalu enak,” terus Danar.


Deg.


Danar mengira makanan yang dibawa oleh Syarah adalah masakan bi Jum. Tapi Syarah senang mendapati penilaian suaminya terhadap masakannya yang enak.


Biarlah Danar mengira itu adalah masakan bi Jum, yang terpenting bagi Syarah adalah Danar menikmati makanannya dan itu sudah membuat Syarah bersyukur senang.


TBC


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2