
Malam ini, Syarah memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di kamar. Dia hanya tidak ingin mengganggu Danar. Selain itu, dia ingin meredakan semua kegelisahannya.
Sebelum subuh, Syarah bangun untuk menunaikan kewajiban, dia tadi juga berusaha membangunkan Danar tapi ditolak mentah-mentah.
Mungkin Danar seperti itu karena efek semalam. Akhirnya Syarah berangkat menuju masjid yang berada di dekat rumahnya ditemani oleh bibi Rumi dengan berjalan kaki.
Setelah sampai rumah, Danar masih asyik bergelung di bawah selimut. Melihat itu Syarah menghampiri suaminya.
“Selamat pagi, Kak. Maafkan aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Semoga kau selalu bahagia,” bisik Syarah dekat tangan yang mengelus rambut tebal Danar.
Sebelum beranjak Syarah mengecup lama kening Danar. Ia merasa teramat bersalah, ia tidak dapat mencegah Danar untuk mengonsumsi minuman seperti itu.
Pagi ini, Syarah sangat tidak bersemangat, pikirannya terus tertuju pada Danar seorang. Syarah merasa dirinya tidak boleh seperti itu terus. Akhirnya Syarah memutuskan untuk keluar menikmati udara pagi yang sejuk, dengan ini mungkin dia bisa berpikir lebih baik.
*****
Syarah keluar menikmati pagi yang sejuk dengan memakai sweater rajut untuk membungkus tubuhnya karena udara pagi ini terasa dingin menusuk.
Syarah berjalan menyusuri jalanan kompleks yang membawanya ke taman kota yang berada persis di depan kompleks. Taman itu tidak begitu ramai mengingat hari ini bukanlah akhir pekan dimana orang-orang harus bersiap untuk bekerja.
Dia berjalan mengelilingi taman untuk sedikit menghangatkan tubuh dan melihat suasana taman. Selama dia tinggal di rumah pak Pandhu, dia jarang berjalan-jalan, dia hanya tinggal dirumah dan menjalankan aktivitasnya yang baru untuk mengurus rumah serta keluarga.
Setelah berkeliling, Syarah melihat ada bangku taman. Syarah menghampiri untuk duduk di bangku tersebut. Saat akan berjalan dia melihat seseorang yang sudah lama tidak dia temui.
Rizal, laki-laki itu sedang berlari mengelilingi taman, karena sangat fokus dia jadi tidak melihat keberadaan Syarah yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
“Mas Rizal,” panggil Syarah saat Rizal hampir ada di depannya.
Mendengar panggilan itu, Rizal seketika menegang. Itu adalah suara perempuan yang selama ini dia rindukan. Tapi sekarang dia justru ingin menghindar. Andai dia memiliki kemampuan teleportasi mungkin dia bisa menghilang dalam sekejap agar tidak perlu bertemu dengan perempuan itu lagi.
Rizal hanya mampu berpura-pura tidak mendengar dan terus berlari sedikit menjauhi. Untungnya dia menggunakan earphone mungkin ini bisa menjadi alasan dia tidak mendengar panggilan itu yang jelas-jelas didengarnya.
“Mas, tunggu!” ucap Syarah mengejar dan meraih lengannya.
Rizal hanya bisa mendesah tak tenang, dia sudah tidak bisa menghindar lagi. Dia tidak mau jatuh lagi, susah payah dia redam perasaannya. Tapi hanya dengan mendengar suaranya saja sepertinya benteng yang dia bangun kokoh mulai menipis.
Mau tidak mau akhirnya Rizal membalikkan badan.
“Mas? Mas kenapa mau pergi pas aku panggil? Apa mas tidak mau melihatku? Apa aku sangat menjijikkan sampai-sampai kau tidak ingin melihatku?” tanya Syarah menggebu-gebu.
__ADS_1
“Aku memakai earphone jadi tidak mendengarmu,” jawab Rizal terdengar mengada-ada.
Rizal melihat Syarah yang matanya mulai merah. Selama Rizal mengenal Syarah, tidak pernah sekali pun Rizal melihat wanita itu terlihat selemah ini. Dapat ditangkapnya mata Syarah menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ada luka yang dipancarkan yang tentu dapat ditangkap oleh Danar.
“Sya? Apa yang terjadi padamu?” tanya Rizal.
Demi apapun, Rizal tidak sanggup melihat perempuan di depannya ini dalam kondisi serapuh itu.
“Mas? Apa kamu juga menghindariku selama ini? Waktu itu aku melihatmu di lift kantor dan kamu tidak menghiraukanku saat itu. Apa kamu juga menghindariku hah?” tanya Syarah yang kini sudah mengeluarkan air mata.
Syarah begitu sedih melihat Rizal yang sepertinya berusaha untuk menghindarinya. Dia sangat menyayangi Rizal yang dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.
“Aku tidak menghindarimu, hanya saja saat itu keadaan sedang ramai,” elak Rizal.
“Jangan menghindari aku, Mas, apalagi berniat untuk menjauh dari aku,” pinta Syarah pada Rizal.
Syarah sampai menangkupkan kedua tangan sampai dia hendak berlutut pada Rizal. Rasanya sangat sakit ketika orang yang berada dekat dengannya berniat untuk menghindarinya.
“Sudah jangan seperti ini. Ayo kita duduk dulu,” ajak Rizal sambil merangkul Syarah menuju bangku taman.
Syarah menangis tersedu-sedu, dia meluapkan rasa sedih dan gundahnya melalui tangisannya. Rizal yang tak tega dengan Syarah segera mendekap Syarah dalam peluknya, berharap dapat memberikan ketenangan pada Syarah.
Sejenak Rizal mengabaikan status Syarah yang merupakan istri orang. Dalam otaknya, yang terpenting hanyalah berusaha menenangkan perempuan yang sejak dikenalnya sudah hinggap di hatinya.
Rizal jadi bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi pada Syarah hingga membuat Syarahnya yang selalu terlihat kuat kini justru begitu lemah dan rapuh seperti daun kering.
Dia berani bersumpah bila benar Syarah terluka karena suaminya itu, Rizal akan memberikan balasan yang setimpal untuknya.
Wanita yang selama ini dia sayangi dibuat menangis dan terluka, dia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Syarah.
Sejak kabar pernikahan Danar dan Syarah mulai tersebar ke publik, Rizal begitu hancur. Dia menyadari bahwa dirinya adalah seorang pengecut yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada wanita yang dicintainya diam-diam.
Sampai di hari pernikahan Syarah, Rizal tidak berani untuk muncul berhadapan dengan Syarah. Hatinya begitu hancur berkeping-keping, tapi dia tidak mampu melakukan apa-apa untuk mencegah pernikahan itu.
Atau setidaknya dia mengungkapkan rasa yang dia miliki pada Syarah. Tapi dia terlalu pengecut dan tidak memiliki keberanian sebesar itu. Jadilah dia membentengi diri dengan menghindari segala pemberitaan tentang Syarah dan bahkan memblokir kontak Syarah di teleponnya.
Mereka berpelukan cukup lama, seakan mereka berkomunikasi dan menyampaikan perasaan masing-masing lewat pelukan itu.
Pelukan yang memiliki arti berbeda bagi keduanya. Pada satu sisi, pelukan itu untuk melampiaskan segela amarah dan kegundahan yang terpendam. Sedangkan di sisi lain, pelukan itu membangkitkan keinginan untuk memiliki.
__ADS_1
Rizal sudah meyakinkan diri bahwa Danar akan bisa membahagiakan Syarah, sehingga Rizal relakan Syarah bersama Danar. Tapi ketika melihat Syarahnya begitu terluka seperti ini bahkan dibuat menangis, Rizal mulai memantapkan hati. Jika memang Syarah adalah jodohnya, dia akan menaklukan segela risiko yang kemungkinan akan terjadi.
Dia sudah tidak peduli lagi jika dia dicap sebagai perusak rumah tangga orang, atau bahkan menjadi duri dalam rumah tangga. Dia benar-benar tidak peduli. Baginya, kebahagian Syarah adalah segalanya.
“Mas, maafkan aku. Bajumu jadi basah karena aku,” ucap Syarah.
“Jangankan air mata, kau siram aku dengan air saja tak akan masalah,” goda Rizal sambil terkekeh.
Sebenarnya Rizal hanya ingin mengubah sedikit suasana hati Syarah. Rizal tidak ingn Syarah sedih berlarut-larut.
“Mas kenapa bisa ada di sini juga? Memang tempat tinggal Mas dimana?” tanya Syarah.
“Aku sedang mencari suasana baru saja. Tanpa disangka malah ketemu gadis cengeng ini,” goda Rizal sambil mencubit pipi Syarah.
Dengan posisi dekat seperti ini, Rizal dapat memastikan bahwa Syarah benar-benar semakin kurus. Entah apa yang terjadi hingga membuat perempuan yang dikenalnya doyan makan sampai harus kehilangan bobot badan seperti ini.
“Ihh sakit tau!” rajuk Syarah sambil mengusap pipinya yang merah.
“Ya sudah ayo kita makan. Kamu pasti lapar kan?” tanya Rizal menawarkan.
“Baiklah, ayo,” jawab Syarah.
Sebenarnya Syarah tidak ingin makan, tapi dia tidak enak hati bila menolak. Akhirnya dia makan bubur yang dijual di gerobak.
*****
Sesampainya di rumah, Syarah yang akan menuju kamarnya untuk mempersiapkan kebutuhan Danar justru mendapati keberadaan Danar yang menuruni tangga.
“Kak, kamu udah mau berangkat ke kantor? Kamu tidak mau sarapan dulu? ini aku sudah belikan bubur untuk kamu dan kakek,” tanya Syarah.
“Tidak, aku berangkat sekarang saja,” jawab Danar.
“Tunggu sebentar. Dasimu mana kak?” tanya Syarah.
“Lupa pakai,” jawab Danar.
“Ya sudah, tunggu sebentar aku ambilkan dasimu dulu,” ucap Syarah segera menuju kamar.
Syarah memilih dasi yang cocok untuk pakaian Danar hari ini. Saat sudah menemukan dan menuju ke ruang tamu dia tidak mendapati keberadaan Danar. Saat keluar dia melihat mobil yang biasa digunakan pak Pandhu keluar rumah. Firasatnya mulai tak enak.
__ADS_1
“Pak, Bapak ada lihat kak Danar?” tanya Syarah pada satpam rumah.
“Lah den Danar baru saja berangkat Non pakai mobilnya tuan Besar,” jawab satpam.