
Mendengar kabar suaminya yang sudah pergi berangkat ke kantor tanpa ada pamit terlebih dahulu sedikit membuat Syarah kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, suaminya adalah orang yang dingin dan kaku walaupun terkadang bersikap lembut seperti sutra. Menghela nafas, Syarah mencoba meluapkan emosinya ke awang-awang.
Bisa-bisa dia nanti mengalami penuaan dini jika ada sedikit permasalahan sudah membuatnya emosi. Mungkin Syarah harus belajar lebih untuk bersabar menghadapi suaminya itu. Langkah pelan Syarah memasuki rumah kembali, kewajiban lainnya harus dia jalankan.
Menata bubur di piring untuk sarapan pak Pandhu sebentar lagi. Usai menemani pak Pandhu menikmati sarapannya, Syarah menengok ke taman yang ada di belakang rumah. Bunga-bunga yang tumbuh semakin lebat membuat taman terlihat rimbun oleh bunga.
Daripada pohon bunga dipangkas begitu saja, mungkin dia bisa petik beberapa bunga untuk dirangkai dalam vas bunga sebagai penghias rumah. Rumah itu memang sangat megah dan elegant. Tapi mungkin karena tidak ada sosok perempuan di dalamnya membuat rumah terkesan monoton tanpa sentuhan tangan seorang perempuan.
Dilihatnya bunga-bunga mawar bermekaran indah. Mawar yang ditanam di taman ini berwarna-warni memanjakan siapa pun yang melihatnya. Diambilnya keranjang untuk meletakkan bunga-bunga yang dipetiknya.
Dia memetik secukupnya, setelah dirasa cukup dia kembali ke gazebo untuk meletakkan keranjang. Dia terlihat sangat menikmati waktu untuk merangkai bunga sesuka hatinya. Kemarin dia meminta pelayan untuk membeli vas bunga, jadilah dia merangkai bunga-bunga yang mekar indah itu untuk mempercantik rumah.
Pada sisi lain, pak Pandhu sedang membaca buku sambil berjemur di pagi hari. Dirasa sudah cukup untuk merangkai bunga, Syarah meminta pelayan untuk meletakkan vas bunga di beberapa bagian di rumah. Sedangkan dia akan menanam biji sayuran yang sebelumnya sudah dibeli oleh tukang kebun disana.
“Mang, kemarin beli bijinya apa saja?” tanya Syarah.
“Kemarin mamang beli biji kangkung, wortel, sawi, selada, tomat, cabai sama kentang,” jawab mamang tukang kebun.
“Wahh banyak banget Mang, seperti mau membuat kebun beneran saja. Kalo tanahnya sudah selesai disiapkan ini?” tanya Syarah.
“Sudah Non, tinggal masukin bijinya saja. Silahkan kalo Nona mau tanam,” ucap mamang tukang kebun.
“Siap, Mang,” jawab Syarah.
Syarah menikmati waktunya untuk berkebun, mungkin karena terbiasa hidup di desa membuatnya terbiasa dengan pekerjaan bertani seperti ini. Dia bahkan tidak segan-segan untuk turun tangan langsung untuk menanam tanpa memerdulikan terik sinar matahari yang mulai menengat kulit. Dia menanam biji ke tanah dengan telaten pada beberapa gundukan tanah yang sebelumnya sudah disiapkan oleh tukang kebunnya.
Pada bagian atas ditutup dengan plastik untuk menghindari air hujan yang dapat menghambat pertumbuhan bibit tersebut. Setelah semua biji selesai ditanam, Syarah mengakhiri kegiatan penanaman ini dengan menyiram semua bibit yang dia tanam. Setelah selesai berkutat dengan penanaman bibit, dia menengok tepat disampingnya terdapat kolam ikan yang cukup besar dan terawat.
Melihat ini Syarah juga ingin memberikan pakan ke ikan-ikan disana. Melemparkan pakan ikan ke permukaan air membuat ikan-ikan bermunculan menyerbu pakan. Melihat ikan koi yang memiliki warna cantik membuat Syarah betah berlama-lama untuk berada di sisi kolam hanya untuk melihat ikan-ikan yang berlarian kesana kemari.
Cukup lama Syarah menikmati pemandangan kolam, dia tersadar bahwa hari sudah mulai terik menandakan sebentar lagi akan menuju tengah hari. Syarah beranjak meninggalkan kawasan kolam menuju kamar untuk membersihkan diri setelah beraktivitas sejak pagi hari. Hanya butuh 15 menit, Syarah sudah selesai mandi dan juga mengganti pakaian.
Dia turun ke dapur untuk membuat makan siang untuk suaminya dan orang rumah. Selalu masakan sederhana yang dibuatnya, mengingat kemampuan memasaknya masih sangat rendah. Jadi dia putuskan untuk memasak apa yang dia bisa saja, yang penting baginya adalah rasa.
Merasa sudah matang dan rasa yang enak dilidah, Syarah mengambil kotak bekal makan siang untuk suaminya. Sebenarnya Syarah tidak enak hati bila setiap hari dia harus ke kantor suaminya untuk mengantar makan siang. Mungkin diantara karyawan disana menganggap dirinya posesif yang ingin suaminya makan makanannya saja, atau pun berpikir bahwa kehadirannya ke kantor hanya untuk menunjukkan diri sebagai istri bos besar mereka.
Sebenarnya Syarah mendengar bisikan-bisikan seperti itu saat dia mengantar makanan ke kantor Danar kemarin, tapi dia acuhkan saja. Toh itu hanya pendapat pribadi mereka tanpa mengetahui kondisi sebenarnya. Jadi dia tetap berjalan menuju ruangan Danar tanpa memerdulikan ucapan mereka.
Dia mengantar makanan tak lebih karena ingin memastikan bahwa suaminya tidak melewatkan makan siang setelah paginya tidak menyentuh sarapan. Dia tidak mau suaminya jatuh sakit karena lalai dalam hal makan. Akan sangat tidak berguna dirinya, jika dia tidak benar dalam mengurus suami.
*****
“Kek, Syarah pamit ke kantor ya mau mengantar makan siang untuk kak Danar,” pamit Syarah pada pak Pandhu.
“Iya, hati-hati,” jawab pak Pandhu.
Setelah menyalami pak Pandhu, Syarah meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor Danar dengan diantar oleh pak Salam.
Dalam perjalanan, dia mengirim pesan kepada Danar untuk menanyakan keberadaan suaminya itu. Tadi karena terlalu fokus pada kegiatan memasak, Syarah sampai lupa untuk menanyakan keberadaan suaminya.
‘Kak, apakah kamu sekarang berada di kantor? Aku sedang dalam perjalanan untuk mengantar makan siang untukmu.’ Demikianlah isi pesan Syarah kepada Danar.
Pesan sudah menandakan dua centang putih, lama ditunggu namun tak kunjung berubah menjadi biru sampai mobil yang dikendarai sudah sampai di depan pintu utama kantor.
Syarah meraih rantang makanan yang sudah disiapkan, entah mengapa perasaannya sedikit tidak enak. Dilihatnya pintu utama, tapi rasanya kakinya enggan untuk beranjak walau sejengkal.
Kedua tangannya menggenggam tali rantang melampiaskan keraguan hatinya. Sedang pintu mobil sudah dibuka oleh pak Salam dan beliau masih setia menunggu majikannya untuk turun. Dirasa sudah cukup lama menunggu majikannya yang tak kunjung turun, dia mencoba untuk menegur.
__ADS_1
“Permisi Non, Non jadi turun tidak?” tanya pak Salam.
“Mmm iya, Pak,” jawab Syarah.
Mau tak mau, Syarah menggerakkan kakinya untuk turun dari mobil dan melangkah menuju kantor. Sudah terlanjur sampai, apa iya harus kembali tanpa melakukan tujuannya. Perasaannya tak enak pasti ada penyebab di baliknya. Ingatan tentang seorang perempuan yang sedang bersama suaminya bahkan terlihat sangat dekat hubungannya membuatnya sedikit takut, mungkinkah perempuan itu menemui suaminya lagi.
*****
“Siang, apakah pak Danar ada di ruangan?” tanya Syarah pada sekretaris Danar.
“Selamat siang, Bu Syarah, beliau ada di ruangan. Tapi maaf beliau sedang menerima tamu, beliau tadi berpesan bahwa tidak ada yang boleh mengganggu selama ada tamu. Tapi jika Ibu ada keperluan dengan tuan bisa saya hubungkan,” jelas sekretaris Danar.
“Tidak perlu, aku akan menunggu saja. Mungkin itu tamu penting jadi tidak bisa diganggu. Terima kasih,” ucap Syarah.
Syarah melangkah ke sofa yang ada di dekat jendela yang menghadap langsung ke ruangan Danar. Dia akan menunggu sampai suaminya selesai menerima tamu. Menunggu tanpa tahu kapan akan berakhir, membuat Syarah melamun mengingat bahwa selama dia menikah dengan Danar, dia jarang sekali keluar rumah.
Aktivitasnya di rumah sangat terbatas, ditambah sikap Danar yang semakin hari semakin memburuk membuatnya kurang bersemangat menjalani hari. Tak ingin terlalu lama melamun dan memikirkan hal yang tidak-tidak, dia beranjak menuju toilet yang letaknya di ujung ruangan. Syarah membasuh wajahnya dengan air, berharap dengan air itu bisa terserap dalam tubuhnya dan melunturkan kegundahannya.
Menatap dirinya di cermin, ditampilkannya senyuman di wajah. Tak ingin perasaannya menguasi dirinya saat ini. Ketika menutup pintu toilet, sekali lagi dia melihat pemandangan yang sangat tidak diharapkannya.
Kedua kali melihat suami memeluk wanita lain bahkan mengusap kepala wanita itu seakan memberi kenyaman. Tak ingin berlama melihat pemandangan yang menyakitkan lebih baik dia masuk ke dalam toilet lagi sebelum Danar memergoki keberadaannya. Syarah menyandarkan punggungnya di dinding toilet yang terasa dingin. Beruntung baginya, toilet ini berada di lantai khusus jadi tak mudah bagi karyawan keluar masuk toilet di lantai ini.
Hatinya sakit melihat adagen mesra itu. Tapi air mata seakan enggan untuk keluar dari matanya. Entah karena terasa sakit atau hatinya sudah mulai kebal.
Selang 15 menit, Syarah meyakinkan diri untuk keluar dari persembunyiannya. Dia harus menyelesaikan tujuannya ke kantor yang sempat tertunda tadi. Langkah kaki terayun menuju depan pintu ruangan suaminya berada.
Diketuknya pelan dan setelah mendapat jawaban dia baru masuk. Syarah melangkah mendekat ke arah meja Danar, dia hanya diam menatap suaminya yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Tak ada sepatah kata untuk menyapa suaminya. Bibirnya seakan terkunci rapat terasa kelu untuk berucap.
“Syarah. Ada apa kemari?” tanya Danar.
Bibir Syarah masih terkunci tak bisa menjawab pertanyaan Danar. Apakah efek adegan yang dilihatnya tadi membuatnya jadi seperti ini.
Sampai di sofa, Syarah mulai menata makanan ke meja dengan telaten sebelum Danar sampai. Tak lama Danar menghampiri dan duduk di sebelah Syarah. Posisi duduk mereka sangatlah rapat, semua tentu ulah Danar yang ingin berdekatan dengan istrinya.
Syarah menyodorkan makanan yang sudah disiapkannya ke arah Danar dan diterima dengan senang hati. Sebenarnya Danar ingin meminta maaf tentang keadaannya semalam pada Syarah. Tapi dia masih meragu untuk mengatakannya.
Sementara Syarah duduk dengan pandangan ke arah kakinya yang terbalut sepatu flatshoes yang dikenakannya. Hanya keheningan yang menyelimuti suasana makan siang di ruangan itu. Dengan kedua insan yang sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.
Selesai dengan kegiatan makannya, Danar meletakkannya kembali ke meja. Danar merasa sangat kenyang setelah menghabiskan semua makanan yang dibawakan oleh Syarah. Dia merasa masakannya semakin nikmat saja, entah apa yang ditambahkan oleh bi Jum pada masakannya tapi dia sangat menikmati.
“Aku sudah selesai,” ucap Danar memberi tahu.
Ucapan Danar membuyarkan lamunan Syarah, segera saja Syarah membereskan rantang yang dia bawa tadi. Tak ingin meninggalkan bekas kotor, dia juga membersihkan meja yang digunakan. Setelah selesai Syarah bangkit berdiri.
“Aku pulang dulu, Kak,” pamitnya sambil menyalami Danar.
Sebelum Danar mengatakan hal yang sedari tadi ada di benaknya, Syarah sudah terlebih dulu menutup pintu ruangan. Pupus sudah rencananya tadi.
“Ya sudahlah, toh kemarin aku tidak melakukan hal fatal sampai harus meminta maaf padanya,” ucap Danar.
Dia kembali ke meja untuk meneruskan pekerjaan yang tak pernah ada habisnya. Apalagi saat ini perusahaan kakeknya sedang berkembang pesat dan tumbuh baru di beberapa tempat. Teleponnya bergetar menandakan ada pesan masuk.
Saat dibuka isinya tentu tentang pekerjaannya, tapi matanya menangkap pesan yang dikirim oleh Syarah namun belum dibukanya. Penasaran dengan isinya dibukalah pesan Syarah itu. Ternyata pesan itu tentang istrinya yang mengabari kehadirannya ke kantor Danar. Tapi saat dilihat waktu pesan itu dikirim, Danar ingat kalau saat itu dia sedang konsultasi dengan Akira jadi dia tidak membuka telepon miliknya.
Senyum bahagia terukir jelas di wajah tampan Danar. Mengetahui perhatian yang diberikan istrinya pada Danar membuat perasaannya membuncah. Mungkin ini yang menjadi alasan Danar bersemangat untuk sembuh.
*****
__ADS_1
Seperti malam-malam biasanya, Danar pulang kerja saat malam hari disaat para pekerja di rumahnya sudah terlelap. Danar memasuki rumah dengan kondisi yang remang. Karena hanya lampu kecil yang dinyalakan setiap malam saat waktu istirahat.
Berharap istrinya menunggu kepulangannya, membuat jantungnya berdebar tak karuan. Namun sampai di ruang tengah, dia belum menemukan tanda-tanda keberadaan istrinya. Dengan langkah lunglai dia menaiki tangga yang akan membawanya ke kamar. Kecewa, benar hatinya kecewa tidak mendapati keberadaan Syarah menunggu kepulangannya.
Memasukkan kode pintu kamar, Danar hanya mendapati suasana gelap seperti kebiasaan tidurnya. Dia semakin lunglai memikirkan Syarah yang sudah terbawa mimpi. Saat meletakkan jas dan segala yang melekat di tubuhnya, Danar merasakan hembusan angin menyapa kulitnya.
Merasa ganjil, dia menengok ke samping, pintu balkon terbuka lebar tentu angin dari luar bisa memasuki kamarnya. Tanpa menduga apa pun dia melangkah untuk menutup pintu, tapi dilihat Syarah berdiri menghadap ke arah luar dengan tangan mendekap tubuhnya.
Danar melangkah mendekati Syarah. Dia berdiri di samping Syarah tanpa suara. Berdehem pelan, membuyarkan lamunan Syarah malam itu.
“Kak, Kakak sudah pulang. Tunggu sebentar aku siapkan pakaian dulu,” ucap Syarah.
Tersadar dari lamunan, Syarah bergegas menyiapkan kebutuhan suaminya. Memunguti pakaian kotor yang diletakkan Danar di sofa kamar dan mengambil pakaian tidur Danar. Aktivitas Syarah tak luput dari pandangan Danar, bahkan setiap gerakan gesit Syarah tak lepas dari penglihatannya.
“Kak, segeralah mandi,” ucap Syarah memberitahukan.
Setelah mengatakan itu pada suaminya, Danar pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Saat keluar kamar mandi dia melihat Syarah sudah terbaring menghadap ke arahnya. Padahal dia ingin mendengar dan melihat Syarah lebih lama. Tapi mungkin dia sudah kelelahan sampai tak menunggunya selesai mandi.
Daripada memikirkan Syarah, lebih baik dia mengerjakan pekerjaannya sebelum beristirahat. Saat akan meraih ipad miliknya, di meja sudah disiapkan minuman yang masih mengeluarkan asap. Saat disentuh cangkir itu terasa panas di tangannya, menandakan minuman ini baru saja dibuat.
Dia yakin pasti Syarah yang menyiapkan minuman itu untuk Danar. Danar jadi berpikir, terbuat dari apa hati perempuan itu. Dia yang tak pernah memberi perhatian, tapi Syarah selalu menyuguhkan tanpa pernah dia minta.
Menyeruput sedikit merasakan hangat melewati tenggorokan dan menciptakan kehangatan pada tubuh. Wedang jahe, istrinya membuat wedang jahe untuk Danar. Tapi ternyata dia melewatkan sesuatu.
Sepiring brownies juga disiapkan tapi terletak di samping pintu. Mungkin Syarah lupa menaruhnya di samping cangkir. Malam itu Danar berkutat dengan pekerjaan ditemani secangkir wedang jahe yang menghangatkan juga brownies yang menurutnya enak.
Tidak lama tubuhnya sudah tidak bisa lagi diajak bekerja, terutama rasa kantuk sudah menyerangnya. Perlahan Danar menaiki ranjang tak ingin membuat Syarah terbangun karena pergerakannya. Dia berbaring menyamping menghadap punggung Syarah yang berbaring membelakanginya.
Besar keinginan Danar untuk bisa mendekap Syarah dalam tidurnya. Tapi dengan sikapnya yang terlanjur kaku khawatir akan membuat Syarah takut akan sikapnya yang berubah-ubah. Dia hanya bisa mengecup lembut puncak kepala Syarah, menyalurkan kasih sayang pada istrinya itu. Tak lama Danar pun terbawa ke alam mimpi menyusul Syarah.
*****
Seperti biasanya, rutinitas pagi Syarah adalah memasak untuk sarapan orang rumah. Sarapan sederhana yang selalu jadi andalan dan sudah menjadi kebiasanaan di rumah ini. Tentu saja keluarga Wijaksana tidak akan membuang waktu mereka hanya untuk sekedar menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh pegawainya.
Bagi seorang pembisnis, waktu adalah uang. Sedikit saja mereka lengah pada waktu, akan berdampak pada uang yang akan mereka dapatkan. Setengah jam berkutat di dapur, akhirnya sarapan pun sudah siap dihidangkan.
Walaupun tidak pergi ke kantor untuk bekerja, namun pak Pandhu tetap sarapan sesuai jam biasanya. Saat sedang melayani pak Pandhu sarapan, Syarah tak menyadari kehadiran Danar ke arahnya. Kursi yang berdecit di sampingnya membuat Syarah menengok.
Danar duduk di meja makan dan bersiap untuk sarapan. Tumben sekali Danar mau sarapan di rumah sebelum pergi ke kantor. Terlebih Danar masih mengenakan pakaian tidurnya, sepertinya dia hanya menggosok gigi dan cuci muka saja.
“Kak, kamu mau sarapan juga?” tanya Syarah yang masih kaget.
“Tentu saja,” jawab Danar.
Syarah melayani Danar dalam diam, sepertinya efek kejadian kemarin masih membekas sampai sekarang. Sarapan pagi ini hanya diwarnai oleh obrolan dua pria dewasa. Mereka membahas seputar bisnis yang mereka geluti.
Syarah tentu memahami ini, bagaimana tidak, dia juga berkutat pada bisnis mereka. Tapi dia acuh dan memilih menikmati sarapannya tak ingin ikut menimbrung obrolan mereka. Selesai dengan itu, Syarah membereskan meja makan bekas sarapan mereka.
Namun pelayan melarang Syarah melakukannya, karena itu adalah tugas mereka dan terasa sangat tidak pantas bila majikan mengerjakan pekerjaan seperti itu.
Tak ambil pusing Syarah pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian kantor untuk suaminya. Di dalam lemari tak banyak pilihan warna yang ada membuat pekerjaan Syarah lebih mudah, tak perlu pusing-pusing memikirkan kecocokan warna pada pakaian yang akan dikenakan.
Hanya ada kemeja berwarna hitam kebanyakan juga celana hitam. Dia mengambil salah satu pakaian dan menyiapkan pasangannya. Terlihat Danar keluar dari kamar mandi menuju arah Syarah berdiri.
Mengerti akan tugasnya, Syarah membantu suaminya mengenakan pakaiannya dengan cekatan. Memastikan tidak ada yang terlewat dari penampilan suaminya, Syarah merasa puas. Berada dekat dengan Syarah membuat Danar menjadi berpikir bahwa perempuan yang berstatus sebagai istrinya ini sedang ada sesuatu.
Syarah yang akan berbicara lebih dan mengajaknya mengobrol sejak tadi pagi tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Bicara hanya seperlunya saja. Membuat Danar jadi berpikir tentang apa yang terjadi pada Syarah.
__ADS_1
Hai haii
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa komen dan like. Dukungan kalian sangat berarti untukku🥰🥰