
"Apa yang membuatmu bersembunyi adalah perempuan yang berpakaian putih itu?" tanya Danar pada anak perempuan itu.
"Iya, dia akan memberikan aku obat pahit. Aku tidak mau, tapi dia selalu memberikanku itu," jawabnya dengan berbisik berharap tak ada yang mendengar.
"Lalu apa yang harus dia lakukan agar kamu mau makan obat gadis cantik?" tanya Danar.
"Aku ingin makan coklat. Iya benar, aku suka coklat. Tapi dia tidak mengizinkanku makan coklat," jawabnya sambil menunduk sedih.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberikanmu coklat. Tapi setelah itu kau harus berjanji untuk minum obat. Oke?" ucap Danar menawarkan.
"Paman serius?" tanya anak itu senang.
"Aku serius, tapi kita temui sustermu dulu. Baru setelah itu kita membeli coklat sesukamu, setuju?" tanya Danar.
"Setuju," jawab anak itu senang sambil menautkan jari kelingkingnya yang kecil ke kelingking Danar yang besar.
Danar lalu menggendong anak itu dan dengan mudah suster tadi menemukan orang yang sedari tadi dia cari.
"Aduh Nona dari mana saja? Suster cari-cari dari tadi tidak ketemu-ketemu," kata suster.
"Aku tidak mau minum obat," jelas anak itu.
"Tuan, maaf apabila Nona merepotkan Anda," kata suster pada Danar.
"Tidak masalah, aku sudah berjanji untuk membelikannya coklat. Tapi setelah dia mau makan, tadi sudah berjanji akan minum obat dulu sebelum menerima coklat," jelas Danar.
"Tidak perlu repot-repot Tuan, terima kasih atas bujukannya," tolak suster.
"Tidak masalah, ayo sekarang Tuan Putri minum obat dulu ya," ajak Danar pada anak itu.
"Tapi nanti aku dapat coklat, kan?" tanya anak itu.
"Pasti, sekarang minum obat dulu ya," ucap Danar.
Danar membawa anak itu duduk di bangku taman yang ada di rumah sakit itu. Tanpa disadari semua yang terjadi itu dilihat oleh Syarah. Awalnya Syarah terkejut dengan keberadaan Danar dan merasa dia salah melihat namun lama mengamati memang benar jika itu adalah suaminya. Syarah tak menyangka jika suaminya yang selama ini dia anggap kaku dan dingin ternyata memiliki perhatian pada anak-anak. Walau memang tetap terlihat dingin namun terpancar kelembutan yang diberikan Danar pada anak perempuan itu.
__ADS_1
"Anak pintar, sekarang kita beli coklatnya karena kamu sudah meminum obatnya," kata Danar menepati janji.
"Yey ayo Paman, kita beli sekarang," ucap anak perempuan dalam gendongannya.
"Ayo kita berangkat," ucap Danar.
Mereka bertiga berjalan ke supermarket yang ada di rumah sakit itu. Syarah tak ingin mengikuti, biarlah suaminya melakukan hal yang dia inginkan. Mungkin hal kecil seperti itu membuat suaminya sedikit berkurang kesedihannya. Dia kembali melanjutkan kegiatan sosial yang sempat ditinggalkannya tadi yang berniat ke toilet namun malah melihat kegiatan yang sayang untuk dilewatkan.
"Mbak Sya dari mana? Ditunggu dari tadi sama orang-orang," tanya Ratih.
"Iya, maaf menunggu lama. Yasudah ayo kita kembali kesana," kata Syarah.
Syarah melanjutkan kegiatan sosialnya hari itu dengan semangat yang bertambah setelah melihat suaminya. Dia yang memang suka kegiatan sosial menikmati harinya. Kegiatan yang dilangsungkan memang sederhana seperti olahraga pagi, bernyanyi bersama dan melakukan permainan kecil yang menghibur karena hampir semua pasien di rumah sakit tidak bisa banyak bergerak. Sedikit hiburan yang diberikan oleh para relawan yang tergabung sedikit banyak membuat pasien kanker disana terhibur dan memiliki semangat. Selama ini mereka yang selalu kepikiran dengan sakit yang diderita sedikit melupakannya.
Danar yang sudah memberikan coklat pada anak perempuan jadi teringat akan tujuannya datang ke rumah sakit ini. Dia pun melangkah mencari keberadaan istrinya dan melihat kondisi di rumah sakit itu. Hatinya merasa miris saat melihat ada beberapa pasien yang terlihat kesakitan di ruang perawatannya. Banyak diantara mereka sudah tak memiliki rambut baik itu laki-laki maupun perempuan. Terbesit sebuah rencana di kepala Danar, hanya dia dan Tuhanlah yang tahu akan hal itu.
*****
"Mbak Syarah, terima kasih banyak atas kerelaan hatinya untuk mau berbagi kebahagiaan bersama dengan saudara-saudara disini. Hanya Tuhanlah yang bisa membalas kebaikan Mbak," kata ibu ketua kegiatan
"Terima kasih banyak Mbak Syarah. Semoga rezeki Mbak dan keluarga dilancarkan. Saya turut berduka atas kepergian pak Pandhu. Beliau adalah salah satu relawan yang sangat aktif, tapi beliau selalu menutupi semua itu agar tidak ada yang tahu. Semoga kebaikan yang diberikan oleh pak Pandhu mendapat balasan yang baik pula oleh Allah," kata ibu tersebut.
"Amin, terima kasih atas doanya. Baiklah Bu, kami pamit pulang dulu karena nanti malam akan ada pengajian rutin di rumah. Assalamualaikum," pamit Syarah.
"Waalaikumsalam. Hati-hati Mbak," jawab ibu tersebut.
Syarah bersama Ratih dan Rahma meninggalkan ruangan untuk pulang. Saat di pintu dia dikagetkan dengan keberadaan suaminya di samping pintu. Begitu juga dengan Ratih dan Rahma yang kaget dengan kemunculan laki-laki bertubuh besar yang muncul tiba-tiba di depan mereka yang belum mengenal Danar.
"Kak Danar, kenapa kamu tiba-tiba ada disini. Aku jadi kaget," ucap Syarah sambil mengelus dada karena keget.
"Tadi saat akan pulang melewati rumah sakit jadi aku mampir saja kesini karena kamu bilang kamu sedang ada kegiatan disini," kata Danar.
"Jadi begitu. Sekarang aku sudah selesai dan mau pulang. Kakak apakah ada keperluan disini?" tanya Syarah.
"Tidak ada," jawab Danar.
__ADS_1
"Yasudah ayo kita pulang. Eh tapi ada Ratih dan Rahma juga," ucap Syarah yang hampir melupakan karyawan yang bersamanya.
"Mereka biar diantar pakai mobil satunya, kamu ikut denganku," kata Danar.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih sudah membantu hari ini, kalian pulangnya hati-hati ya," ucap Syarah.
"Baik Mbak, kami pamit dulu," pamit Ratih.
Sedangkan Danar dan Syarah berjalan berdampingan keluar rumah sakit juga. Syarah bahagia mendapat perhatian dari suaminya, dia tidak menyangkan Danar akan menyusulnya ke tempat dia berada. Ternyata dibalik sikap cuek suaminya masih terselip perhatian di dalamnya. Syarah tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya apalagi mengingat kejadian tadi.
*****
Berada di dalam mobil, Syarah duduk di samping Danar dengan rasa bahagianya. Namun belum lama mobil berjalan Danar menaikkan kaca pembatas antara sopir dan penumpang di mobil. Syarah heran mengapa harus dinaikkan, apakah ini adalah kebiasaan suaminya karena dia belum pernah menaiki mobil milik suaminya yang kini ditumpangi.
Syarah tak ingin bertanya saat melihat wajah kusut Danar petang itu. Mungkin suaminya kelelahan dan butuh istirahat tanpa ada gangguan. Tak ingin mengganggu dia melemparkan pandangan ke arah luar yang menampakkan langit berwarna jingga. Tapi dia merasa pundaknya merasa berat, saat menoleh ternyata suaminya sedang menyenderkan kepalanya di pundak kanannya tanpa izin terlebih dahulu.
"Apakah rapat tadi membuatmu kelelahan Kak?" tanya Syarah memecah keheningan.
Dia merangkul bagian belakang kepala Danar sambil memberi pijatan lembut untuk suaminya, dengan tangan satunya menyentuh telapak tangan suaminya yang besar.
"Begitulah. Perlu sedikit tenaga untuk menghadapi singa kelaparan disana," kata Danar.
"Tapi semuanya berjalan baik, kan Kak?" tanya Syarah.
"Tentu," jawab Danar singkat.
Dia hanya ingin bersandar dan berdekatan dengan Syarah. Entah mengapa berdekatan dengan Syarah seperti memberikannya kenyamanan yang tak pernah dia dapatkan. Hanya berada di dekatnya saja sudah membuat hatinya nyaman dan tenang. Apalagi mendapat elusan lembut tangan Syarah malah membuatnya ketagihan dan mengantarkannya pada rasa kantuk.
"Jika memang ada yang bisa aku bantu kerjakan, aku akan dengan senang hati membantumu Kak," ucap Syarah dengan senyum tulus yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Tidak perlu," jawab Danar menolak.
Mendengar jawaban suaminya yang ketus tak membuat Syarah langsung marah. Dia sudah terbiasa dengan tutur kata Danar yang singkat dan dingin seperti itu.
"Kak, lebih baik kamu sandaran saja, nanti pusing kalau menyender seperti ini," kata Syarah.
__ADS_1
"Biarlah seperti ini sebentar saja."