
Setelah acara lamaran pagi tadi, Pak Pandhu mengajak kedua orang tua Syarah ke restoran tempat Syarah makan malam juga dengan pak Pandhu.
“Jadi pada malam ini, saya ingin bertanya mengenai kapan rencananya pernikahan Danar dan Syarah bisa dilangsungkan? Jujur saya ingin pernikahan ini bisa segera dilangsungkan. Saya takut bila terlalu lama, saya tidak bisa menghadari mengingat kondisi saya yang seperti ini,” jelas pak Pandhu setelah mereka menikmati makan malam.
“Kakek jangan berkata seperti itu!” peringat Danar pada kakeknya.
“Kakek, Syarah mohon Kakek harus semangat untuk sembuh. Syarah yakin Kakek akan sembuh cepat asal Kakek rutin minum obat,” ucap Syarah sambil mengenggam memberi kekuatan.
“Begini Pak Pandhu, sebelum saya dan istri saya datang kemari. Kami sudah menanyakan pada saudara kami perihal tanggal yang baik untuk Danar dan Syarah. Dan kami mendapat dua pilihan yaitu tepat minggu depan dan 7 bulan lagi,” jelas ayah Syarah.
“Kalau untuk saya, lebih cepat akan lebih baik. Apalagi niat baik jangan ditunda-tunda. Bagaimana menurut kalian?” tanya pak Pandhu kepada Syarah dan Danar.
“Jika memang bisa. Minggu depan kita bisa melangsungkan pernikahan,” jawab Danar.
“Apakah itu tidak terlalu terburu-buru? Kita pasti juga butuh mempersiapkan segalanya,” kata Syarah protes.
“Tidak perlu khawatir, nanti akan saya cari pengurus pernikahan yang bisa mengurus pernikahan dengan baik,” jawab Danar.
“Kalau kami setuju-setuju saja. Tapi semua kembali ke calon pengantinnya,” ucap ayah Syarah.
“Baiklah kalau begitu Syarah setuju,” ucap Syarah.
“Bagaimana dengan maharnya?” tanya Danar mengarah pada ayah Syarah.
“Kami serahkan pada Syarah,” jawab ayah Syarah.
“Mahar apa yang kamu inginkan untuk pernikahan Syarah?” tanya Danar menatap Syarah.
“Aku ingin mahar hafalan sebuah surat dan juga bangunan tempat ibadah yang dibangun di tempat yang sulit akses,” jawab Syarah.
Danar cukup terkejut dengan ini, dia cukup tidak yakin bisa memberikan mahar itu. Mengapa Syarah tidak meminta uang atau perhiasan saja darinya? Danar benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Syarah.
“Baik, akan aku berikan,” jawab Danar meyakinkan diri.
Bukan Danar bila tidak bisa menjalankan tantangan yang diberikan padanya, ia bertekad dan akan membuktikan bahwa dia bisa melakukannya pada Syarah. Malam ini mereka melanjutkan berbincang sampai pukul 10 malam baru kembali kerumah.
*****
Karena waktu untuk persiapan pernikahan sudah sangat dekat jadi Danar memutuskan untuk membiarkan Syarah mengambil cuti untuk perisapan.
__ADS_1
“Halo, Pak? Bisakah pergi ke butik? Kita ada janji untuk fitting baju,” ucap Syarah dari seberang telepon.
“Baiklah setengah jam lagi saya akan kesana. Kita langsung bertemu disana saja,” jawab Danar.
Kali ini Syarah pergi ke butik bersama dengan ibunya diantar oleh sopir pak Pandhu. Sesampainya di butik, Syarah kebingungan untuk memilih kebaya yang akan digunakannya nanti saat akad nikah. Ahirnya dari pemilik butik memilihkan 10 kebaya untuk dicoba Syarah.
Berada di dalam kamar ganti, Syarah melihat pantulan dirinya di cermin, menurutnya kebaya yang digunakannya ini yang paling cantik untuknya. Setelah selesai berganti gorden sekat pembatas dibuka oleh pelayan yang membantu.
Syarah ingin menunjukkan kepada ibunya apakah kebaya itu cocok atau tidak bila dipakainya. Saat akan membalikkan badan, ia kaget karena dibelakangnya bukan ibunya.
“Kok Bapak disini? Ibu kemana?” tanya Syarah kebingungan melihat Danar bukan ibunya.
Danar melihat kebaya yang membalut tubuh ramping Syarah begitu pas dan cocok dikenakannya. Beberapa saat pandangan mereka terpaku, bahkan Danar hampir tak berkedip.
“Kenapa Pak? Saya tidak cocok ya memakai kebaya ini?” tanya Syarah sambil meneliti lagi penampilannya.
“Ahh tidak, itu cocok untukmu. Sangat cantik,” jawab Danar.
Mendengar kalimat itu dan melihat tatapan Danar pada Syarah membuat pelayan ikut terbawa perasaan. Terutama Syarah yang dipuji merona begitu saja.
Tadi saat berganti pakaian, Syarah sempat bertanya pada pelayan harga kebaya yang dipilihnya. Ternyata harganya dua digit, tentu Syarah terkejut dan hendak memilih kebaya lain dengan harga lebih rendah. Tapi pemilik butik menolak, ia tidak akan memberikan kebaya dengan harga murah untuk calon cucu menantu dari pak Pandhu.
Pemilik butik sempat bercerita bahwa, bila bukan karena pak Pandhu yang menyekolahkannya di fashion dan memberi modal padanya tidak mungkin dia bisa sesukses seperti sekarang. Jadi ketika dia mendengar kabar Danar akan menikah, dia begitu antusias dan mendesain kebaya khusus untuk pernikahan ini.
Kini giliran Danar yang akan mencoba pakaian untuk pernikahannya. Tapi dia memilih untuk menggunakannya sendiri tanpa bantuan pelayan.
Saat sudah selesai, Danar keluar dari kamar ganti, Syarah yang sedang menunggu di luar kamar ganti begitu terpana melihat penampilan Danar.
“Aku memang tampan, tapi tidak perlu sampai berliur seperti itu,” ucap Danar tersenyum lebar sangat jarang.
Syarah yang merasa disindir menundukkan kepalanya dalam, memang benar Danar terlihat begitu tampan.
“Kemarilah, bantu aku melepaskan ini,” ucap Danar pada Syarah.
Ia melihat ke pelayan disana, tapi pelayan tersebut mengerti jika pasangan ini ingin berdua jadilah mereka meninggalkan ruangan.
“Kemarilah cepat!” peringat Danar pada Syarah yang hanya diam mematung tapi segera menuruti.
Saat sedang membantu melepas pakaian bagian luar, Danar berbisik.
__ADS_1
“Kita akan menikah, jangan panggil aku bapak mulai sekarang. Aku tidak setua itu sampai kau panggil bapak. Mengerti?” tanya Danar.
“Baik, Pak.” jawab Syarah bingung.
“Terserah mau memanggil apa asal jangan bapak,” ucap Danar sambil memainkan rambut Syarah yang tergerai.
“Wahh wah calon pengantin mesra sekali,” ucap pemilik butik memasuki ruangan.
Syarah yang kepergok sangat malu berbeda dengan Danar yang bersikap biasa saja.
Setelah mereka selesai memilih pakaian untuk semua anggota keluarga, mereka melanjutkan ke tempat fotografer. Ibu Syarah memutuskan untuk pulang saja karena sudah merasa lelah dan ingin mengurus bagian cathering saja di rumah.
*****
“Kak, kupikir kita tidak perlu ada foto prewedding mengingat pernikahan kita tinggal beberapa hari saja, masih banyak hal yang harus diurus,” jelas Syarah.
Tadi di perjalanan, mereka sudah berdebat memanggil Danar apa dan akhirnya perdebatan dimenangkan oleh Danar yang menginginkan dipanggil kak.
“Nona tidak perlu risau, foto prewedding bisa berlangsung cepat. Kalau memang mau kita bisa melakukannya di studio untuk menghemat waktu,” jelas fotografer yang menangani acara lamaran kemarin.
“Kita foto di rumah saja, ingat pesanku kemarin bukan?” tanya Danar pada fotografer.
“Siap kita bisa lakukan sekarang. Untuk pakaian casual saja, nanti ada pegawaiku yang akan membantu kalian untuk persiapan,” jelas fotografer.
*****
Dalam perjalanan Syarah kebingungan akan memakai pakaian apa untuk foto nanti akhirnya Danar mampir ke mall untuk mencari pakaian. Disana Syarah menemukan dress berwarna putih sedangkan untuk Danar dipilih kemeja berwarna khaki. Setelahnya mereka segera menuju rumah.
Syarah dibantu oleh pegawai untuk menata rambutnya, kini dia sudah siap dengan dress putih dengan make up tipis natural dan rambut yang dikepang kesamping.
Saat menuruni tangga dia menemukan Danar juga sudah siap dengan kemejanya, pakaian yang santai tidak kaku seperti biasanya. Lalu mereka mulai melakukan foto prewedding di berbagai tempat di rumah sesuai arahan fotografer.
“Ayo lebih dekat lagi, tatapannya lebih dalam lagi,” ucap fotografer.
“Matamu ada beleknya,” ucap Danar sambil terkekeh.
“Gigimu masih ada sisa cabai tuh,” balas Syarah pada Danar.
Mereka yang sedang tertawa tertangkap oleh kamera dan diabadikan. Berbagai pose sederhana dan natural mereka menambah kesan romantis dalam foto prewedding ini.
__ADS_1
TBC
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya