Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
46. Istri kecil


__ADS_3

Hai terima kasih sudah membaca


Jangan lupa komen dan like sebagai bentuk dukungan


Syarah yang ditinggal sendiri di dalam kamar walaupun merasa takut dengan kondisi minim pencahayaan, sunyi senyap karena jauh dari hiruk pikuk lalu lalang manusia. Dia melangkah ke lemari kayu yang ada di samping kasur berniat ingin mengambil sprei dan sarung bantal juga guling untuk mereka tidur malam ini.


Sprei, sarung bantal dan selimut disana ada dua dan berwarna putih semua. Disana juga ada beberapa kemeja yang bisa dia tebak adalah milik Danar. Diamatinya beberapa barang yang ada di kamar, semuanya bersih dan berdebu tipis. Dia jadi kepikiran siapa yang mengurus rumah ini jika Danar saja selalu pulang ke rumah. Terlebih jarak yang harus ditempuh dari rumah ke rumah yang dia tempati ini sangat jauh.


Sementara Syarah menyiapkan kamar untuk mereka tidur malam ini, Danar yang berkeliling rumah untuk memeriksa jika terdapat kebocoran. Walaupun sudah dipastikan bahan yang digunakan untuk membangun rumah dadi bahan-bahan berkualitas namun dia tetap memeriksa. Sekaligus untuk memeriksa keamanan sekitar rumah berhubung dia tidak tinggal sendiri. Ada orang lain bersamanya yang harus dia jaga dan memastikan keamanannya.


Listrik sengaja tidak dia nyalakan walaupun dia memiliki sumber listrik dari panel surya yang dia pasang untuk memasok listrik ke rumah. Jika dia singgah di rumah itu saat malam hari akan memilih untuk tidak menggunakan lampu. Tentu bukan tanpa alasan, dia sengaja tidak menggunakan lampu karena ingin mendapatkan ketenangan jika dia sedang dirundung permasalahan. Setelah menyalakan obor di pintu luar dan belakang dan memastikan semua aman, Danar yang sedang memandang hujan di luar dikagetkan dengan suara teriakan membuatnya segera bergegas menghampiri sumber suara.


"Syarah ada apa?" tanya Danar.


"Kak, ada kodok. Aku takut," kata Syarah yang berdiri di atas kasur.


Danar mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Syarah tempat kodok itu berada. Syarah benar-benar merasa ketakutan sampai-sampai dia melompat ke atas kasur untuk menghindari kodok yang tidak tahu dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di lantai kamar.


Dengan sigap Danar mengambil kain keset dan menutup kodok itu agar tidak melompat ke tempat lain. Benar saja, lemparan Danar tepat mengenai kodok dan memerangkap kodok sehingga tidak bisa kabur kemana-mana. Kemudian dia segera mengambil kodok yang terbungkus kain keset untuk dia lepas di luar rumah. Syarah lega melihat kodok itu sudah pergi dari pandangannya, seumur-umur kodok adalah hewan yang paling dia takuti.


Setelah melepas kodok ke halaman luar rumah, Danar masuk kembali ke dalam rumah. Dia memasuki kamar dan melihat Syarah yang sedang duduk di kasur sambil mengamati rintik hujan dari pintu kaca yang berhadapan dengan kasur. Menyadari kedatangan suaminya Syarah mengeluarkan suara untuk bertanya yang sedari tadi dia ingin tanyakan.


"Kak, kemarilah aku ingin bertanya," ucap Syarah.


Danar menurut dan berjalan ke arah Syarah yang duduk di pinggir kasur.


"Kak, apakah malam ini kita benar-benar akan menginap disini?" tanya Syarah setelah suaminya duduk di sampingnya.


"Iya. Apa kau keberatan tidur di tempat seperti ini?" tanya Danar.


"Tidak sama sekali. Dimana pun kamu berada, aku akan selalu ada denganmu Kak."

__ADS_1


"Dasar perayu ulung. Pasti dulu kau sering merayu laki-laki di luar sana dengan kata-kata manismu itu," ejek Danar.


"Mana ada. Asal Kakak tahu, aku tidak pernah dekat dengan laki-laki mana pun selain Kakak. Dengan Kakak saja langsung diajak menikah," kata Syarah membela diri.


"Jadi maksudmu kamu menyesal menikah denganku sebelum bisa menjerat para laki-laki di luar sana?" tanya Danar.


"Huh terserah Kakak mau mengatakan apa tentang aku. Toh apa pun yang aku katakan tidak akan Kakak percayai," ucap Syarah mulai kesal.


"Kau ini mudah sekali merajuk macam anak kecil saja," kata Danar sambil terkikik.


"Apa? Kenapa sih Kakak selalu mengatakan aku anak kecil? Orang aku sudah besar begini juga. Kakak saja yang badannya kebesaran, lihat lengan Kakak saja seukuran dengan pahaku. Apalagi badan Kakak, 3 kali dari badanku. Memang Kakak makan apa saja bisa sebesar ini? Setauku Kakak makannya tidak banyak," kata Syarah panjang.


Jika biasanya Danar tidak akan memperdulikan orang yang banyak bicara dan akan mengacuhkannya tapi dengan Syarah, dia mendengarkan perkataan perempuan itu tanpa ada rasa terpaksa.


"Kau saja yang kecil tak bergizi. Aku rasa kamu ini cacingan, jadi tidak bisa tumbuh," ejek Danar.


"Hish Kakak ini. Badanku ini sudah bawaan dari sana, mana ada cacingan," ucap Syarah sambil merenggut kesal.


"Kak ...."


Danar yang terlanjur gemas dengan istrinya itu menggelitiki perut Syarah dengan ganas. Syarah yang diserang secara tiba-tiba berusaha menggelak tapi sebesar apa pun dia berusaha lepas dari kungkungan badan suaminya akan sia-sia. Tenaganya kalah jauh dengan suaminya itu. Dia hanya bisa tertawa kegelian sambil meremas lengan suaminya minta dilepaskan.


"Kak, sudah lepaskan. Geli sekali, huh huh," pinta Syarah yang sudah kelelahan tertawa.


Danar semakin brutal menyerang, dia juga mencuri kecupan pada istrinya yang sudah memerah wajahnya karena kegelian. Mereka tak sadar jika aktivitas mereka merusak sprei yang sudah ditata oleh Syarah tadi akibat Syarah yang tergeletak di atas kasur dengan bergerak tak tentu karena gelitikan suaminya.


Danar yang sudah merasa puas mengakhiri dengan mengecup kening istrinya lama. Aktivitas sederhana yang membuat hatinya menghangat setelah sekian lama membeku karena peristiwa masa lalu. Entah Syarah sadari atau tidak, Danar tadi juga ikut tertawa. Tawa yang sangat lama tidak dia keluarkan dalam hidupnya yang datar.


Syarah dan Danar sama-sama berbaring di kasur yang spreinya sudah acak kadut karena ulah mereka berdua.


"Haduh Kak, karena terlalu lelah tertawa tenggorokanku jadi kering. Aku ingin minum, apakah ada minuman disini?" tanya Syarah pada Danar yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Pasti, kau tidak lihat Tuhan sedang memberikan air," jawab Danar enteng sambil tersenyum miring.


"Kak, kau ini. Maksudnya kamu menyuruhku minum air hujan begitu?" tanya Syarah yang menangkap maksud Danar.


"Itu kau tahu," jawab Danar.


"Kamu ini nakal sekali Kak."


"Pergilah ke dapur, rebus air dari keran. Sepertinya masih ada persediaan rempah-rempah yang bisa dibuat."


"Tapi aku tidak tahu letak dapurnya. Aku juga masih takut kalau ada kodok atau hewan lain. Kamu temani aku ya, Kak. Kumohon," pinta Syarah memelas.


"Kau ini penakut sekali," ucap Danar.


Walaupun berkata demikian, Danar tetap bangkit untuk menuruti permintaan Syarah. Syarah yang masih merasa takut berpegangan pada kaos Danar yang berjalan di depannya. Dia bahkan melangkah cepat agar tidak tertinggal dengan langkah lebar suaminya.


"Sudah, aku akan duduk di meja makan. Apa kau juga masih takut?" tanya Danar.


"Tidak tidak," ucap Syarah menampakkan senyum giginya.


Syarah kemudian melangkah mengambil air di keran dan memanaskannya. Sembari menunggu airnya matang, Syarah mengupas membakar jahe untuk dibuat wedang jahe. Minuman hangat akan cocok untuk menemani suasana dingin hujan di malam hari. Mencari camilan teman minuman tapi tidak bisa menemukan.


Danar yang duduk di meja makan, memperhatikan setiap gerakan cekatan Syarah di dapur. Selama ini dia jarang sekali melihat istrinya memasak. Dia hanya tahu masakan jadi dan istrinya yang sudah bersih dan rapi kembali setelah memasak. Dulu setelah ditegur karena penampilannya yang lusuh karena selesai memasak tanpa bersih-bersih dahulu dan langsung melayani Danar, membuat amarah Danar tidak bisa dikontrol. Setelah itu Syarah tidak pernah lalai untuk berpenampilan bersih setelah berkutat di dapur.


Walaupun tanpa memuji, tapi Danar mengakui jika hasil masakan Syarah dari hari ke hari semakin lezat dan nikmat. Sekali pun dia mengatakan jika istrinya memiliki badan kurus, namun sejujurnya dia mengatakannya agar istrinya itu makan lebih banyak. Dipandangnya Syarah lama, pakaian yang dipakai istrinya itu jarang sekali ganti. Bahkan dia tidak pernah mendapat laporan pengeluaran besar dari istrinya.


Uang yang keluar dari kartu yang diberikan Danar pada Syarah hanya digunakan untuk membayar biaya pengobatan kakeknya. Pernah dia mencoba untuk mengecek pengeluaran istrinya. Tapi hal yang membuatnya tak hahis pikir adalah selama ini istrinya tidak pernah menggunakan uang yang dia berikan untuk berbelanja kebutuhannya. Paling belanja bulanan untuk keperluan orang-orang rumah.


Istrinya itu adalah orang yang benar-benar sederhana. Dia yakin jika istrinya itu bukan orang yang bodoh yang tidak paham tentang kartu yang dia berikan pada istrinya. Kartu yang dia berikan tidak akan pernah habis. Namun istrinya tidak menggunakannya untuk kesenangan pribadinya.


Kadang dia juga mendengar jika setiap pembagian gaji pegawai rumah, pegawainya itu mendapatkan bingkisan sembako. Padahal Danar tidak pernah menyuruh Syarah, tapi istrinya itu berinisiatif sendiri untuk berbagi pada pegawai rumah. Bukan berarti gaji yang diberikan pada pegawainya itu tidak banyak, namun lebih dari rata-rata gaji di tempat lain dengan posisi yang sama. Dalam hening, senyum Danar terkembang tulus.

__ADS_1


"Tuhan, terima kasih telah menjadikannya istriku. Jadikan rumah tangga kami selalu dalam ridhaMu."


__ADS_2