
“Kurasa, aku tak akan pernah bisa menjadikan Syarah sebagai istriku seutuhnya,” lirih Danar yang bisa ditangkap oleh Dimas.
*****
“Apa yang kau katakan barusan hah?” teriak Dimas meluapkan emosinya.
Dimas benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Danar. Bagaimana bisa Danar mengatakan hal seperti itu begitu mudahnya.
“Dimana otak cerdasmu itu?” tanya Dimas berapi-api.
Dimas meraih gelas Danar yang berisi minuman, ditegaknya minuman itu sekali teguk hingga tandas untuk meluapkan emosinya yang terasa hingga ke ubun-ubun.
Danar menyadari betul bahwa disini dialah yang salah, tapi dia memanggil Dimas untuk menemaninya bukan untuk menambah permasalahannya.
“Aku memintamu kemari bukan untuk menyalahkanku saja. Kau tahu apa yang terjadi padaku. Bagaimana ada orang yang mau menerima kondisiku yang seperti ini termasuk dia?” lirih Danar.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Dimas.
“Aku tidak tahu,” jawab Danar lemah.
“Tunggu tunggu, apakah kau sudah menceritakan masa lalumu pada Syarah?” tanya Dimas.
Danar hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Dimas. Melihat ini Dimas menghembuskan nafas kasar. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sahabat lamanya ini.
“Kalau kau tidak mau melakukannya dengannya, kenapa kau mau menikahinya?” tanya Dimas.
“Kakek yang memintanya. Kakek sedang kritis saat itu, dia terus mendesakku untuk menikahi Syarah. Kau tahu kalau aku tidak akan tega dan menolak perintahnya,” terang Danar.
“Jadi kau menikahinya hanya karena menuruti permintaan kakekmu?” tanya Dimas memastikan.
“Lalu bagaimana denganmu, apakah kau memiliki perasaan dengan Syarah?” tanya Dimas lagi.
“Aku tidak tahu. Aku rasa tidak. Tapi aku tidak tahu, setiap kali aku berada di dekatnya, jantungku selalu berdetak lebih cepat. Perasaanku selalu nyaman ketika bersamanya,” jelas Danar.
“Kau tahu arti dari perilakumu yang tak wajar itu?” tanya Dimas.
“Entahlah,” jawab Danar.
“Itu berarti kau ada perasaan dengan perempuan itu. Hanya saja kau yang terlalu buta dan menutup hatimu,” jelas Dimas.
__ADS_1
Danar merenungi semua kenangan saat bersama dengan Syarah. Setiap momen saat Danar dan Syarah bersama membuat Danar berperingai aneh tak seperti Danar biasanya.
Dia merasa berubah ketika bersama Syarah, hanya Syarah yang bisa melunakkan hati kerasnya. Hanya Syarah yang mampu meredam egonya yang tinggi. Danar tidak pernah merasakan hal seperti itu ketika bersama perempuan lain. Tapi Danar berusaha mengelak suara hatinya itu.
“Menurutku akan lebih baik jika kau menceritakan masa lalumu pada Syarah. Jika dia benar-benar mencintaimu maka dia akan menerimamu sebagai suami. Tanpa menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk menjadi. Tapi jika setelah kau menceritakan itu dia meninggalkanmu maka kau harus menerimanya. Jangan ikat perempuan jika kau tidak memiliki tali pengikat,” jelas Dimas memberi saran kepada temannya yang sedang kalut.
“Sepertinya aku tidak akan sanggup jika harus menceritakan kepadanya. Dia akan mengetahui kelemahanku yang sebenarnya. Jika nanti dia tidak menerimaku dan malah menyebarkan berita tentangku pada semua orang,” ucap Danar.
“Lalu apakah kau akan membiarkan hubungan pernikahanmu mengambang seperti ini?” tanya Dimas.
“Entah,” jawab Danar.
Dimas sudah tidak tahu harus berkata apa lagi untuk memberitahu sahabatnya. Mungkin akan lebih baik dia membiarkan Danar dulu, mungkin Danar membutuhkan waktu berpikir akan jalan hidup rumah tangganya.
Sebagai sahabat, Dimas hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Dimas tahu pasti apa yang dialami oleh Danar adalah hal berat yang bahkan membuat sahabatnya itu hampir meninggalkan dunia.
“Dan, sudah hentikan! Kau sudah minum sangat banyak. Ayo aku antar kau pulang, kau tidak akan bangun besok jika kau teruskan lagi!” ucap Dimas memperingati.
Danar sudah meneguk sangat banyak minuman, Dimas yang menemaninya tak tega melihat kerapuhan sahabatnya itu segera menghentikan dan membawa Danar pulang ke rumah.
*****
Tinn tinn
Melihat mobil tuannya tiba, satpam rumah segera membukakan gerbang rumah. Dimas membuka kaca samping mobil untuk dapat berbicara dengan satpam yang berjaga.
“Mang, tolong bantu saya bawa Danar ke dalam rumah. Dia ketiduran,” ucap Dimas memerintahkan.
“Siap, Den,” jawab Pak Satpam.
Dimas dan satpam rumah membopong Danar untuk bisa memasuki rumah. Saat mereka sampai di ruang tamu, Syarah yang ingin menuruni tangga melihat mereka segera mengampiri mereka.
“Pak, ini kenapa Kak Danar bisa seperti ini?” tanya Syarah panik melihat Danar yang sudah tidak sadarkan diri.
“Dia terlalu banyak minum jadi teler,” jawab Dimas.
“Baiklah tolong dibawa ke kamar ya,” pinta Syarah pada mereka.
Mereka membawa Danar menuju kamarnya dan merebahkan Danar ke ranjang.
__ADS_1
“Terima kasih, Pak,” ucap Syarah.
Sebenarnya Syarah sedikit kebingungan melihat kehadiran seorang laki-laki yang datang membawa Danar.
“Maaf sebenarnya Kak Danar dari mana? Kenapa dia pulang dengan kondisi seperti ini?” tanya Syarah pada Dimas.
“Dia terlalu banyak minum, mungkin sedang terjadi sesuatu padanya. ya sudah aku pergi dulu. Mobil Danar aku bawa dulu karena kendaraanku masih ada disana,” jawab Dimas.
“Kenapa dibawa mobilnya?” tanya Syarah was-was.
“Tenang saja, aku tidak akan mencurinya. Aku Dimas, teman Danar. Kalau besok dia sudah bangun katakan untuk mengambil mobilnya di kantorku. Aku pergi dulu,” pamit Dimas.
Setelah Dimas dan satpam meninggalkan kamar Danar bersama Syarah, Syarah segera melepas sepatu yang masih dipakai Danar. Dia juga melepas kemeja yang dikenakan Danar, saat akan melepaskan dia mencium aroma yang sangat pekat saat berdekatan dengan Danar.
Kedua kali, Syarah melihat Danar dengan kondisi mabuk berat seperti sekarang. Dia tidak pernah melihat orang dalam kondisi seperti ini karena memang Syarah dibesarkan di lingkungan yang baik.
Hati Syarah terasa tercubit, kenapa suaminya ini gemar meminum minuman seperti itu? Apakah benar yang dikatakan oleh Dimas bahwa sedang terjadi sesuatu yang membuat Danar seperti ini disebabkan olehnya?
Hoekk hoekk
Danar mengeluarkan isi perutnya di lantai samping ranjang sampai terciprat mengenai kaki Syarah. Syarah bergegas mencari minyak angin untuk membuat Danar lebih baik juga sambil memijat tengkuk agar Danar bisa lebih lega.
Setelah itu, Syarah mengambil baskom air untuk mengelap wajah Danar yang sudah tak beraturan. Digantinya baju Danar dengan pakaian rumah agar suaminya itu nyaman saat tidur.
Dielusnya pelan rahang kokoh Danar yang ditumbuhi bulu kasar dengan sayang. Syarah jadi bertanya pada dirinya sendiri, akankah dia sanggup untuk hidup berdampingan dengan seseorang yang suka minum seperti Danar.
Syarah bingung apakah dia bisa menerima jika Danar pulang dengan kondisi seperti ini selama pernikahannya.
Tak ingin kembali bersedih, Syarah membersihkan lantai bekas muntahan Danar. Dalam hati ia hanya bisa berdoa, jika memang Danar adalah jodohnya. Dia hanya ingin hatinya lebih dikuatkan lagi untuk menerima Danar seutuhnya.
*****
Tadi saat Dimas melintasi ruang tengah, matanya tanpa sengaja menangkap bingai foto berukuran besar yang terpajang disana.
Terlihat sepasang pengantin yang tertawa bahagia di hari pernikahannya, Danar yang terlihat tampan ditunjang dengan pakaian yang dikenakannya. Didampingi seorang perempuan yang merangkul lengannya dengan senyum yang indah. Dapat Dimas perkirakan bahwa usia Syarah masih muda, tapi dia dapat melihat kedewasaan dalam diri Syarah yang terpancar begitu kuat.
Wanita itu terlihat ayu dengan penampilannya yang sederhana, justru yang bisa Dimas tangkap adalah ketulusan. Sejenak dia mengamati wajah Syarah di bingkai foto itu.
Danar memang baru melihat Syarah pertama kali, karena kabar penikahan mereka yang mendadak membuatnya tidak bisa menghadirinya karena Dimas sedang mengurus bisnis yang tak bisa ditinggalkannya.
__ADS_1
Tak ingin tertangkap memperhatikan foto itu, Dimas segera menuju keluar rumah meninggalkan kediaman keluarga Wijaksana.