
Danar berangkat ke kantor dengan kepala yang masih memikirkan istrinya. Syarah terasa berbeda dari biasanya. Dia berbicara seperlunya saja tidak seperti biasa. Walaupun mereka juga jarang bicara, tapi Danar bisa merasakan sesuatu yang lain dari istrinya. Sampai di kantor dia tidak bisa lepas dari memikirkan Syarah barang sedetik pun.
Danar jadi merasa bahwa dirinya semakin jauh dari Syarah. Dia juga menyadari penuh bahwa semua akibat dari perbuatannya sendiri. Dia yang berlaku acuh tak acuh pada istrinya yang tak berdosa.
Danar jadi berharap waktu segera berjalan dengan cepat. Dia sangat menunggu datangnya siang yang akan membuat Syarah menghampirinya ke kantor untuk membawakan makan siang. Tak sadar bibirnya tersungging melukiskan senyum bahagia menanti istrinya itu.
Diantara tumpukan berkas yang harus dia kerjakan, matanya terus-terusan melihat ke arah jam yang terletak di dinding. Baru saja sebentar meninggalkan istrinya untuk bekerja, tapi Danar sudah dirundung rasa rindu yang menggebu seperti itu.
Drrrtt drrrt
Suara alarm yang sudah diatur Danar sebelumnya berbunyi menandakan waktu siang hari. Dia senang karena sebentar lagi pasti istrinya akan datang membawakannya makanan. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Deringan telepon membuat Danar sedikit gugup melihat nama Syarah tertera pada teleponnya. Segera saja panggilan itu diangkat oleh Danar.
“Halo,” ucap Danar.
“Halo, Tuan Danar, ini bibi, Den. Maaf bibi memakai telepon nona Syarah untuk menghubungi Tuan. Bibi mau mengabarkan bahwa nona Syarah sedang sakit. Sejak tadi dia merintih kesakitan sambil memanggil nama Tuan,” jelas Bibi Rumi.
“Apa? Apa yang terjadi pada Syarah?” tanya Danar panik.
“Nona Syarah sedari tadi kesakitan perutnya, saya sudah menghubungi dokter Panca. Dokter bilang sebentar lagi akan kemari setelah menangani pasien,” jawab bibi Rumi sedikit ketakutan.
“Baiklah, jaga dan awasi Syarah. Sebentar lagi saya pulang,” ucap Danar.
Danar yang panik mendengar kabar Syarah yang jatuh sakit segera melesat menuju rumahnya. Selama kenal dengan Syarah tidak pernah Danar mendengar kabar Syarah sakit. Begitu mendengar kabar Syarah yang sakit membuat Danar cemas.
Saking paniknya, sampai-sampai dia membawa kendaraannya melaju diatas kecepatan rata-rata. Mobil yang ditumpanginya bergerak gesit membelah jalan melewati kendaraan ramai di jalanan. Dengan membawa kendaraannya seperti kesetanan berhasil membuat Danar tiba di rumah dalam waktu yang singkat.
Terburu-buru keluar dari mobil dan melangkah lebar-lebar untuk bisa mencapai kamarnya. Melewati 2 sampai 3 anak tangga agar bisa segera sampai di tempat istrinya berada.
Begitu pintu kamar terbuka, terdengar rintihan kecil memanggil nama Danar sambil mendesis kesakitan. Syarah terbaring di ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Danar langsung mendekati dan duduk persis di samping Syarah.
“Sya, aku sudah disini. Apa yang terjadi denganmu?” tanya Danar yang semakin panik melihat Syarah.
Syarah terlihat pucat dengan keringat dingin yang mengucur deras dari dahinya. Pendingin ruangan di kamar juga diatur dengan suhu normal karena Syarah terlihat kedinginan.
Tak peduli dan tanpa rasa jijik, Danar mengelap keringat yang terus mengucur di dahi istrinya.
Bahkan dia juga mengecup kening istrinya yang sedang kesakitan. Pintu kamar terbuka dari luar menampilkan dokter ditemani oleh bibi Rumi. Setelah mendapat arahan, dokter memeriksa keadaan Syarah yang sedari tadi merintih kesakitan.
__ADS_1
“Dokter Panca bagaimana kondisi istri saya?” tanya Danar khawatir.
“Istri kamu sedang datang bulan, kamu tidak perlu khawatir karena keram perut saat datang bulan itu wajar. Sakit yang dirasakan juga tidak parah jadi hanya perlu istirahat dan akan saya berikan penambah darah. Nanti kamu bisa beli obatnya di apotik,” jelas Dokter Panca yang merupakan dokter keluarga.
“Baiklah, terima kasih Dokter sudah datang memeriksa istri saya. Bibi Rumi tolong antar Dokter Panca,” perintah Danar.
“Baik, Tuan. Mari Dokter saya antar,” ucap bibi Rumi.
Danar memerintahkan pegawainya untuk membeli obat penambah darah yang Dokter Herman tadi resepkan untuk Syarah. Dia sangat khawatir dengan kondisi Syarah itu. Merasa tak nyaman dengan pakaian kantor yang masih dikenakan, dia menggantinya dengan pakaian rumah.
Kemudian dia sudah berkutat untuk merawat Syarah dengan mengompres bagian perut Syarah agar segera membaik. Dia yang memang tak pernah mengetahui perempuan yang sedang haid merasakan sakit perut seperti sekarang. Danar menjadi bingung harus melakukan apa untuk menolong Syarah dari rasa sakit itu.
Dia terus menggenggam tangan Syarah yang terasa dingin. Memberi pijatan dibagian pinggang agar Syarah lebih rileks. Punggung Syarah sedari tadi juga dia beri elusan untuk menenangkan Syarah.
Badan Syarah yang berkeringat dingin membuat pakaian Syarah jadi basah. Tapi itu semua tidak menghalangi Danar untuk merawat istrinya. Danar menjaga Syarah sedari siang tadi tanpa sadar dia juga ikut tidur melihat Syarah yang tertidur satu jam yang lalu.
Danar hanya bisa tidur satu jam karena memang tidak terbiasa tidur siang sehingga tidak bisa lama-lama tidur. Dia bangun dan melihat Syarah yang ada dalam dekapannya masih memejamkan mata walau terkadang masih merasakan sakit di perutnya. Danar beranjak dari tidurnya dengan pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan Syarah.
Lalu dia berjalan ke arah sofa untuk kembali mengerjakan pekerjaan yang tadi tertunda karena kepulangannya. Sebenarnya dia bisa saja kembali ke kantor untuk bekerja, tapi dia lebih memilih untuk tinggal dan menemani Syarah. Walaupun sedang fokus bekerja tapi tak membuat Danar bisa melupakan Syarah.
Setiap beberapa menit dia akan menoleh ke arah Syarah dan memastikan bahwa istrinya itu tak merasakan sakit seperti tadi. Saat hari beranjak sore, Danar yang mendengar suara rintihan Syarah segera menghampiri.
“Sya, kamu sudah bangun. Duduklah, kamu minum dulu,” ucap Danar membantu Syarah duduk bersandar ke kepala ranjang.
“Kak, Kakak mengapa sudah berada di rumah? Memang sekarang jam berapa?” tanya Syarah.
“Tadi siang bibi mengabari kalau kamu sedang sakit jadi aku pulang,” jawab Danar dengan menyodorkan segelas air pada Syarah.
“Kak, harusnya kamu tidak perlu repot-repot untuk pulang hanya karena aku sedang sakit. Kamu pasti punya banyak pekerjaan, kalau kamu di rumah lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu di kantor?” tanya Syarah.
“Jika aku membiarkan istriku kesakitan tanpa aku di sisinya. Apa kata orang tentangku nanti,” jawab Danar.
Sebenarnya Danar hanya tidak ingin Syarah besar kepala karena dia rela meninggalkan kantor untuk merawat Syarah yang sedang sakit, jadilah jawaban tadi dia berikan pada Syarah.
“Terima kasih banyak Kak, kamu sudah mau berkorban untuk merawat aku yang sedang sakit. Maafkan aku yang merepotkan kamu,” ucap Syarah lemah.
“Sudahlah. Bibi bilang kamu belum makan sejak pagi. Sebentar aku minta pelayan untuk mengantarkan makanan,” ucap Danar.
Danar meraih telepon yang berada di kamar untuk menghubungi bagian dapur di rumahnya. Dia meminta pelayan dapur untuk mengantarkan makanan untuk Syarah juga untuknya ke kamar. Mengingat kondisi Syarah yang masih sakit dia tak tega menyuruh Syarah untuk turun makan.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, makanan sudah diantar oleh pelayan ke kamar Danar. Pelayan menyajikan berbagai jenis makanan untuk majikannya itu. Setelah makanan itu selesai disajikan pelayan melapor pada Danar jika makanan sudah siap dinikmati.
Tanpa pikir panjang, Danar menggendong Syarah di lengannya tanpa merasa keberatan sedikit pun. Dengan mudah dia membawa Syarah menuju sofa untuk makan. Karena sedang sakit, Syarah jadi tidak begitu nafsu makan. Dia bahkan tidak ingin menyentuh piring untuk mengambil makanan.
Mengerti dengan pikiran Syarah, Danar mengambil makanan ke piringnya. Dia menyodorkan sendok ke arah mulut Syarah. Syarah kaget dengan tindakan Danar ini, dia juga hendak menolak. Tapi gerak-gerik Danar mengisyaratkannya untuk patuh.
Hanya beberapa sendok saja, Syarah sudah menolak suapan Danar. Syarah sudah tidak ingin memasukkan makanan ke tubuhnya. Badannya yang sedang kurang fit membuat makanan terasa tidak enak di mulutnya.
“Kak, sudah, aku tidak mau lagi,” ucap Syarah melolak suapan Danar.
Danar juga tidak ingin memaksa lagi, yang paling penting Syarah sudah mau makan walau tidak banyak. Dia meraih obat yang tadi diresepkan oleh dokter untuk Syarah.
“Ini minumlah obatnya,” ucap Danar menyodorkan obat dan segelas air putih.
Syarah menerima obat tersebut tanpa banyak bertanya dan memasukkan obat itu ke dalam mulutnya. Selain menyuapi Syarah, Danar tadi juga ikut makan karena sejak siang dia belum makan. Syarah yang masih lemas hanya duduk di samping Danar belum ingin beraktivitas.
Beranjak ke kasur saja dia merasa tidak kuat. Sedangkan Danar sudah kembali menggeluti pekerjaannya setelah meja tempat makanan sudah dibersihkan oleh pelayan. Syarah duduk bersandar di sofa sambil membuka aplikasi baca novel online favoritnya.
Tak lama dia kembali jatuh ke alam mimpi. Mungkin efek setelah makan atau karena fisiknya yang sedang lemah. Danar yang duduk di sampingnya tak mengetahui ini karena dia sedang fokus pada pekerjaannya.
******
Adzan maghrib yang berkumandang menyadarkan Danar dari sibuknya mengurus pekerjaan. Saat meregangkan badan yang terasa kaku, dia melihat Syarah kembali terlelap. Melihat Syarah yang tidur, Danar berniat membangunkan untuk mandi membersihkan diri. Namun saat menyentuh lengan Syarah terasa panas, dia memastikan kondisi Syarah dengan mengecek kening dan benar saja badan Syarah panas.
“Oh Tuhan ... Syarah kenapa kamu malah demam seperti ini,” ucap Danar pada diri sendiri.
Danar segera saja membawa Syarah kembali ke kasur untuk dibaringkan. Mengambil selimut tebal juga minyak angin untuk membuat Syarah lebih hangat. Keadaan ini justru membuat Danar semakin panik dibandingkan tadi.
Syarah yang selalu kuat kini sedang sakit di hadapannya. Katakanlah dia berlebihan, namun melihat orang yang selama ini menyayanginya jatuh sakit membuat Danar juga merasakan sakit yang sama. Dia mengambil handuk dan baskom berisi air untuk mengompres Syarah.
Danar juga membawa Syarah dalam pelukannya untuk bisa menyerap panas dari tubuh Syarah, ini yang dia pernah dengar dari orang lain.
“Kenapa harus kamu yang sakit, Sya. Melihatmu lemah seperti ini justru membuatku semakin bersalah. Kumohon segeralah sembuh, Tuhan kenapa kau berikan sakit pada orang yang sangat baik sepertinya. Kenapa tidak kau berikan saja padaku,” lirih Danar dengan tangan menggenggam erat tangan halus milik Syarah.
Dia mengecup jari manis Syarah yang terpasang cincin pernikahan mereka. Danar sedih menyadari dirinya yang tidak bisa memberi kebahagiaan pada Syarah, justru hanya membuat Syarah menderita berada didekatnya. Semalaman Danar merawat Syarah dengan telaten tanpa meminta bantuan dari siapapun termasuk pelayan.
Dia hanya ingin istrinya dirawat olehnya sendiri. Danar menyadari bahwa selama ini dia sudah keterlaluan pada istrinya. Mungkin dengan ini dia bisa sedikit membalas budi pada istrinya.
Ketika hampir pagi, baru Danar tak sadar tertidur. Rasa lelah sudah menguasai dirinya itu. Namun sebelumnya dia sudah lega karena panas Syarah sudah menurun. Tapi genggaman tangan Danar tak pernah lepas meski dalam keadaan tertidur.
__ADS_1
Haii terima kasih sudah membaca ceritaku. Jangan lupa like dan komen yaa