Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
60. Merajuknya Syarah


__ADS_3

Sepertinya niat Danar benar-benar bulat, dia tetap duduk di kursi samping ranjang pasien Syarah. Dia sama sekali tidak ingin beranjak sedikit pun, namun kini penampilannya sudah lebih baik setelah berganti pakaian dan cuci muka atas paksaan bibi Rumi. Tapi dia menolak saat ditawari makan siang oleh bibi Rumi.


Tatapan matanya fokus pada istrinya yang masih setia memejamkan mata. Tapi dia langsung tersadar saat mata indah perempuan itu mulai mengerjap. “Syarah, Syarah kau sudah bangun.” Danar sontak berdiri dan menyentuh wajah istrinya.


“Kak,” panggil Syarah dengan suara serak khas orang bangun tidur.


“Iya, mau aku panggilkan dokter?” tanya Danar menawarkan dengan masih mengelus pelan wajah istrinya.


“Minum,” ucap Syarah lemah.


Dengan sigap Danar mengambil segelas air dengan sedotan untuk mempermudah istrinya minum. Saat merasa sudah cukup Syarah mendorong gelasnya menjauh, Syarah merasa tubuhnya sangat lemas namun perutnya sudah tidak melilit seperti sebelumnya.


Sedikit pegal karena mungkin terlalu lama berbaring, Syarah bangkit untuk duduk namun dicegah oleh suaminya. “Jangan banyak bergerak, kamu baru saja sadar. Tunggu biar dokter memeriksamu dulu.” Danar langsung memencet tombol yang terhubung langsung pada ruangan dokter dan perawat.


Karena memang berada di ruang perawatan utama, sehingga tak perlu menunggu lama dokter dan perawat akan siap sedia dipanggil setiap saat. Dokter dan perawat memasuki ruangan sesuai panggilan tadi.


“Nona, sudah sadar syukurlah.” Dokter dan para perawat melakukan tugas medisnya untuk memeriksa Syarah. “Keadaan Nona sudah jauh lebih baik, tekanan darahnya walaupun masih cukup rendah namun tidak masalah. Trombositnya juga sudah naik, hanya saja perlu menjaga pola makan agar maagnya tidak kambuh lagi. Tidak perlu waktu lama, Nona sudah diperbolehkan kembali ke rumah asalkan mau mengonsumsi makanan yang sehat juga penambah darah tidak lupa juga vitamin.”


“Baik Dokter, berikan obat yang paling baik untuk istri saya,” ucap Danar.


“Pasti, jangan khawatir. Satu lagi, Nona jangan terlalu banyak berpikir berat. Itu bisa berdampak pada kesehatan,” ucap dokter memperingati.


“Baik Dok, terima kasih banyak,” ucap Syarah pada dokter yang merawatnya dengan senyum tulus.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu,” pamit dokter itu lalu pergi dari ruangan bersama perawatnya.


Syarah tak tahan ingin duduk karena merasa punggungnya pegal. Melihat ini, Danar Manahan Syarah dan mengatur ranjang secara otomatis menjadi sandaran. Syarah yang merasa lebih enak menjadi lebih nyaman dibandingkan sebelumnya.


“Kak jam berapa sekarang?” tanya Syarah memecah keheningan. Danar yang sedari tadi tetap berdiri di samping ranjang dengan fokus penuh pada Syarah terhenyak langsung melihat ke jam tangan mahal yang melingkar di jarinya.


“Jam 2 siang. kamu mau makan? Tadi perawat memberikan jatah makan siang untukmu,” ucap Danar menawarkan.


“Boleh,” ucap Syarah dengan anggukan kecil. Danar langsung mengambil piring dengan berbagai menu untuk Syarah. Dia juga menyiapkan meja makan yang tersedia.


Syarah yang teringat akan kejadian sebelum tragedi pingsannya membuatnya masih merasa kesal dengan suaminya. Dia yang tidak ingin berinteraksi lebih dengan suaminya memilih makan. Tapi baru satu suapan, dia merasa mual dan memuntahkannya mengenai pakaiannya.

__ADS_1


Tangannya juga terciprat dengan muntahannya langsung dipegang oleh Danar dan dielap dengan sapu tangan. Tanpa merasa jijik Danar membersihkan pakaian Syarah yang terkena cipratan muntahan. Bahkan tanpa merasa risih dia mengganti pakaian Syarah dengan yang baru agar wanita itu merasa lebih nyaman.


Baru akan mengangkat pakaian Syarah melewati tangan, tapi langsung ditepis oleh Syarah. “Kak, apa yang mau kamu lakukan?” tanya Syarah dengan tatapan mencurigai.


“Aku hanya ingin mengganti pakaianmu dengan pakaian bersih agar kamu merasa lebih nyaman,” ucap Danar menjelaskan.


“Tidak, ini hanya sedikit. Tidak perlu diganti,” ucap Syarah menolak.


Tapi bukan suaminya jika menurut saja saat keinginannya ditolak. Syarah yang masih lemah hanya menurut dengan tindakan suaminya yang menggantikan pakaiannya padahal muntahannya hanya sedikit terciprat dan hanya perlu dilap. Suaminya benar-benar berlebihan sekali.


Usai dengan urusan membersihkan pakaian Syarah, Danar hendak menyuapi Syarah. “Aku tidak mau makan itu,” ucap Syarah dengan menutup mulutnya.


Danar kebingungan dengan tingkah istrinya, tak butuh waktu lama dia memahami jika mungkin makanan rumah sakit terasa hambar apalagi bagi orang yang sedang sakit. “Lalu kamu mau makan apa?” tanya Danar singkat.


“Aku mau roti sama es krim,” ucap Syarah sambil membayangkan makanan itu. mendengar ucapan istrinya, Danar segera mengambil hp untuk menghubungi seseorang.


“Belikan semua jenis roti dan semua rasa es krim ke rumah sakit, 15 menit harus sudah sampai kalau kau tidak ingin dipecat,” ucap Danar pada orang tersebut.


Syarah yang mendengar ucapan suaminya melongo kaget. Bagaimana bisa suaminya memesan makanan sebanyak itu, dia tidak bisa membayangkan saat makanan itu ada di hadapannya nanti. Ditambah peringatan Danar pada orang di panggilan tadi membuatnya bergidik ngeri. Sepertinya suaminya menjadi lebih menyeramkan setelah naik jabatan.


Syarah mengalihkan pandangan ke arah lain selain Danar. Tapi dia merasa sedari tadi tatapan Danar begitu intens dan terpaku pada dirinya membuat Syarah menjadi risih sendiri. Ingin rasanya dia menegur suaminya agar tidak terus-terusan melihatnya, tapi dia masih dalam mode kesal pada suaminya.


Dia juga manusia biasa yang masih memiliki perasaan kesal dan marah pada orang lain termasuk suaminya. Tapi dia tidak ingin terjerumus pada kemarahannya dengan memilih mengunci rapat-rapat bibirnya. Seperti peringatan Danar tadi, pintu kamar dibuka dari luar oleh seseorang berpakaian formal berwarna hitam.


Dengan membawa 5 kantong besar laki-laki berbadan tinggi tegap dengan balutan hitam sangat aneh membawa kantong toko berwarna merah muda dengan pita seperti itu. “Pernisi Tuan, saya sudah membawa pesananan sesuai perintah Tuan. Tapi saya terlambat 5 menit, saya minta maaf tolong jangan pecat saya. Saya berjanji akan bekerja lebih baik ke depannya.”


Orang itu berkata dengan kepala sedikit ditundukkan menandakan kekhawatirannya. Keringat mengucur di wajah garangnya, mungkin karena takut atau terburu-buru. Syarah langsung menengok pada Danar yang memasang wajah kaku seperti kanebo kering dan tatapan dominan.


“Aku sangat tidak suka dengan keterlambatan. Tidak ada toleransi, letakkan barangnya disana dan pergilah.”


Danar mengatakannya dengan suara pelan namun terkesan dalam dan berkuasa. Laki-laki tadi menuruti perkataan Danar dan meletakkan barang di atas meja. Bahkan dia masih sempat menundukkan kepala sebelum meninggalkan ruangan kamar dengan hormat.


“Kak, apa yang kamu lakukan? Kau memecatnya dengan alasan sekecil itu, huh aku tidak habis pikir,” ucap Syarah sambil memegang kepalanya tak mengerti jalan pikiran suaminya.


“Itulah konsekuensi jika melakukan kesalahan,” ucap Danar tenang sambil berjalan mengambil barang pesanannya tadi untuk Syarah.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak bisa makan makanan dari orang yang sudah kau sakiti hatinya. Kau pikir dia itu jin yang bisa melakukan pekerjaan dengan waktu secepat itu?” ucap Syarah meluapkan kekesalannya bahkan melupakaan kondisinya yang masih lemah.


Bisa-bisanya suaminya memecat orang semudah itu tanpa berpikir panjang dulu. “Tidak perlu kau pikirkan, makanlah.”


“Tidak, aku kehilangan nafsu makan, aku tidak akan makan di atas penderitaan orang lain.”


Setelah mengatakannya Syarah membalikkan badan memunggungi Danar. Entah dimana letak hati nurani suaminya itu, dia pikir cari pekerjaan zaman sekarang itu mudah. Apalagi mencari pekerja yang berdedikasi dan melayani bosnya dengan baik.


“Huh … lalu kau mau bagaimana?” tanya Danar mengalah.


“Seharusnya kau tahu tanpa perlu bertanya padaku,” ujar Syarah pelan.


Danar yang tidak ingin istrinya kembali marah dengannya, lebih baik mengalah dengan menurunkan sedikit egonya. “Kau tidak jadi saya pecat, kirimkan nomer rekeningmu pada sekretarisku. Katakan padanya untuk mengirim lima juta untukmu.” Belum sempat lawan bicaranya merespon ucapannya, Danar mematikan panggilannya.


“Sudah, sekarang makan sebelum es krimmu mencair,” kata Danar sambil menarik pundak Syarah ke posisi semula.


Syarah mengalah dan menikmati es krim yang disuapi oleh Danar. Laki-laki itu masih betah berdiri sambil menyuapi istrinya. Tapi Syarah mengabaikannya, jika memang Danar sudah merasa lelah pasti akan duduk sendiri.


Setelah menikmati roti dan es krim sesuai keinginannya, Syarah jatuh tertidur karena kekenyangan. Sementara Danar masih setia mengelus rambut panjang milik istrinya dengan sesekali mengecup punggung tangan Syarah. Waktu beranjak malam ketika Syarah bangun dari tidurnya menemukan suaminya juga berbaring miring menghadapnya.


Jauh di dalam hati Syarah, dia mencintai suaminya. Tapi dia bisa merasakan ada sesuatu hal yang ditutupi oleh suaminya dari dirinya. Padahal sebagai suami istri tidak boleh ada yang dirahasiakan, setidaknya dia ingin suaminya mempercainya sebagai istrinya dan mau berbagi dengannya.


Jari telunjuk Syarah bergerak menyusuri wajah Danar dari kening meluncur turun melewati hidung tinggi suaminya dan berakhir di berewok tebal suaminya. Sebenarnya Danar sudah bangun saat Syarah memandangnya lekat-lekat. Dia hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan istrinya saat dia masih tidur.


Saat jari itu masih asyik menelusuri wajah kokoh suaminya, tiba-tiba ditangkap oleh tangan kekar suaminya. Syarah terhenyak dan berusaha melepaskan diri dari genggaman suaminya. Danar tetap menggenggam tangan mungil itu dan mengecupnya dalam.


“Kak, turunlah sempit jadinya.”


Syarah berusaha menjauhkan badannya dari Danar dan membuat alasan agar tidak dekat dengan suaminya. Bukannya menjauh, malah merangkul pinggang ramping istrinya semakin mendekat ke arahnya. Ditenggelamkannya wajah Danar di ceruk leher jenjang istrinya berusaha meraup dalam-dalam aroma istrinya untuk mengumpulkan kekuatan.


Dia bertekad mala mini juga dia harus mengatakan semuanya pada istrinya. Dia tidak ingin kembali ditinggalkan oleh orang tercintanya untuk kesekian kalinya.


Menurut para pembaca, lebih baik Danar menjadi menderita atau menjadi bahagia dengan Syarah? Jangan lupa komen di kolom komentar dan like sebagai bentuk dukungan. Terima kasih sudah membaca.


Double up

__ADS_1


__ADS_2