
Sampai di kantor kembali, Danar harus berusaha menahan perasaan marahnya. Rapat yang dihadiri para direksi perusahan sangat penting dan membutuhkan ketelitian. Walaupun terkadang sekelebat ingatan tentang Syarah melayang di kepalanya membuat fokus terpecah.
Beruntungnya otaknya bisa diajak bekerja sama. Selesai dengan rapat, Danar segera menghubungi seseorang yang berprofesi sebagai dokter kejiwaan untuk menemuinya.
“Halo Ki, jika kamu sedang tidak sibuk temui aku di kantor segera,” ucap Danar tanpa basa-basi.
“Tidak bisakah kau menyuruh orang dengan baik, aku ini bukan pegawaimua perlu kau tahu!” kata Akira menyahut.
“Aku kirim sopir untuk menjemputmu, kirimkan saja alamatnya,” ucap Danar tanpa memerdulikan lawan bicaranya.
“Pria menyebalkan!” ucap Akira memaki.
Butuh kesabaran lebih untuk Akira bisa bertahan untuk menghadapi sikap Danar. Jika bukan karena amanah dari ayahnya, sudah dari dulu dia angkat kaki sebagai dokter pribadi laki-laki itu. Setiap ucapan yang keluar dari bibir pria itu bagai perintah yang tidak bisa dibantah.
Danar benar-benar mengirim sopir untuk memaksa Akira agar segera menemuinya. Seolah tak membiarkannya untuk menunggu lebih lama. Akira yang sudah hafal jika Danar seperti membuatnya harus segera bertemu artinya ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
******
“Hiks hiks. Apa aku boleh untuk lelah? Apa aku boleh marah? Kenapa hanya dia yang boleh berbuat sesuka hatinya?” tanya Syarah pada dirinya.
Dia merasa batinnya begitu lelah menghadapi suaminya yang berubah-ubah sifatnya dalam waktu yang begitu singkat. Hatinya bagaikan bermain roller coster, kadang berada di awang-awang tapi di waktu yang bersamaan merasakan pedih mendalam.
Ingin rasanya dia menceritakan isi hatinya pada orang lain, meluapkan kesedihan yang dia rasakan. Tapi ketika teringat bahwa permasalahan rumah tangga harus ditutup rapat-rapat membuatnya memendam cerita rumah tangganya pada diri sendiri. Apa dia selemah itu hingga tak bisa bertahan dalam pernikahannya.
Saat mengingat orang tuanya, dia merasa iri. Kedua orang tuanya begitu harmonis, ayahnya sangat mencintai dan menyayangi ibunya. Pernah dia protes kala ayahnya mendahulukan ibunya dibandingkan anak-anaknya dan ayahnya mengatakan jika saat dewasa nanti dia akan mengerti.
Dia tak memungkiri jika saat akan menikah dulu, salah satu alasan yang membuatnya menerima pernikahan itu adalah untuk mendapat kasih sayang dari orang lain selain orang tua dan keluarganya sendiri.
Dipukulnya pelan kepalanya sendiri, dia terlalu naif. Menganggap semua orang itu sama baiknya, dia juga berpikir bahwa suaminya kelak bisa semanis ayahnya. Tapi manis yang suaminya suguhkan padanya hanya di awal saja, mungkin untuk sekedar membuatnya mau menyetujui pernikahan ini.
“Aww shh,” rintih Syarah sambil memegang perutnya.
Perutnya terasa perih, ternyata tamu bulanan hadir saat itu. Nyeri yang diakibatkan di hari awal semakin menjadi ditambah belum ada sesuap makanan yang masuk ke dalam perutnya. Air dalam lemari pendingin di kamar pun juga sudah kehabisan stok.
__ADS_1
Demi bisa sedikit meredakan sakitnya, dia melangkah terseret ke kamar mandi. Dengan air mata yang mengalir di pipi halusnya, dia memagang pinggir wastafel dan menatap pantulan diri di cermin. Ditangkupkan kedua tangannya untuk mewadahi air yang mengalir dari keran.
Syarah meminum air dari keran wastafel tak kuasa menahan rasa di perutnya. Tempat tinggal yang begitu megah dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya ternyata tidak menjamin kebahagiaan penghuninya. Perutnya terasa melilit dan bergejolak, kemungkinan buruk dia mengalami maag yang sudah lama tak menyerang.
“Ya Allah, seberapa sakit yang Engkau berikan padaku. Aku akan menerimanya, karena diriku adalah milikMu.”
Dalam keadaan sakit pun, dia masih mengingat penciptanya. Sakit yang mendera membuatnya tak kuasa berjalan kembali ke dalam kamar. Hingga kesadaran mulai terenggut dari dirinya.
*****
“Ki, aku benar-benar tak berguna! Aku bahkan tak bisa mengendalikan diriku sendiri!” ucap Danar begitu Akira masuk ke ruangannya.
“Duduklah dulu Dan, kau bisa menceritakannya baik-baik,” ajak Akira yang melihat wajah Danar sudah memerah.
“Aku tidak bisa, Ki! Semua yang aku lakukan gagal, semuanya sia-sia.”
Akira diam menunggu Danar melanjutkan perkataannya. Sebagai dokter dan orang yang dekat dengan Danar sejak lama, dia dapat memahami jika orang di depannya itu sedang dalam keadaan kacau.
“Aku telah mencobanya, aku sudah berusaha kembali seperti diriku sesungguhnya. Tapi aku tidak bisa menahan gejolak kemarahanku sendiri. Aku bahkan menyakitinya Ki, aku menyakiti istriku sendiri!” ucap Danar dengan suara keras hingga urat di kepalanya timbul.
“Duduklah,” ajak Akira meraih tangan Danar dan membawanya ke sofa yang bersih dari ceceran barang. Dia mendudukkan Danar di sampingnya dan menepuk pundak lebar Danar memberi kekuatan.
“Sekarang, coba ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Akira mencoba mencari informasi.
“Aku tak tahu apa yang merasukiku dan membuatku hilang kontrol atas kesabaranku. Dia, dia berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan resiko yang terjadi. Dia tidak pernah tepat dalam melakukan segala hal. Dia sangat ceroboh, KI. Kau tahu sendiri aku tidak pernah bisa mentolelir kecerobohan, sekali mungkin aku bisa memaafkan. Tapi dia melakukannya berkali-kali. Saat aku sedang mencoba untuk sembuh dan berubah, dia tak bisa dikendalikan. Dia berbuat semaunya sendiri dan keras kepala. Aku benci saat dia sakit, tapi aku tak bisa berhenti menorehkan luka padanya,” jelas Danar dengan air mata yang mengalir.
“Aku ingin dia bisa selalu bersamaku hingga maut memisahkan kita, Ki. Tapi dia sendiri bahkan tak bisa menjaga dirinya sendiri. Aku tak ingin kehilangan lagi Ki. Tapi dia sama sekali tidak bisa mengerti keinginanku. Aku hanya perlu dia bertahan di sisiku, tetap dalam keadaan baik tanpa luka sedikit pun tapi kenapa terasa begitu sulit untuknya?” tanya Danar pada Akira dengan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.
Akira beranjak untuk mengambil air minum untuk Danar. Setidaknya energi negatifnya melebur dengan air yang masuk ke dalam tubuhnya.
“Minumlah, tenangkan dirimu dulu,” ucap Akira sambil menyodorkan segelas air.
“Mana obatnya?” tanya Danar teringat obat yang bisa sedikit menenangkannya.
__ADS_1
“Aku tidak membawanya, berdoalah sebelum minum. Itu bisa jadi obat mujarab melebihi obat apa pun di dunia.”
Sebenarnya Akira membawa obat yang selalu tersedia di tasnya untuk berjaga-jaga jika pasiennya dalam keadaan tak bisa dia kendalikan.Akira dengan sabar menunggu Danar untuk meredakan emosinya. Dia tahu jika Danar tak akan bisa dia beri tahu saat dirinya sendiri tak terkontrol. Terlintas ide untuk memesan sesuatu untuk seseorang yang sudah dianggapnya sebagai saudara.
“Apakah sudah lebih baik sekarang?” tanya Akira memecah keheningan.
“Tak pernah ada yang baik dalam hidupku,” jawab Danar singkat.
“Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat bangga padamu, Danar. Kau adalah laki-laki yang sulit dicari,” ucap Akira memberi sanjungan.
“Itu adalah kata-kata seseorang yang ingin mengajak berbisnis denganku. Hanya merayu untuk mendapat imbalan,” kata Danar.
“Aww apa yang kau lakukan Ki?” tanya Danar pada Akira yang mencubit pinggangnya sangat dalam.
“Aku mencubitmu Tuan Keras Kepala. Setidaknya ucapkan terima kasih jika ada yang memujimu, entah itu adalah kejujuran atau dusta,” ucap Akira.
Mendengar jawaban Akira, tanpa sadar membuat Danar tertawa. Dia mengacak-acak rambut Akira. Danar sudah menganggap Akira sebagai sahabatnya sendiri selain menjadi dokter untuknya.
“Dan, kau adalah laki-laki yang kuat. Kau sudah ditempat sejak sebelum kau dilahirkan. Pak Pandhu membesarkan kamu dengan peluh dan darah. Dia ingin membuat cucu kesayangannya menjadi seseorang yang kuat dan hebat. Kini aku bisa melihat hasil dari jerih payahnya membesarkanmu dengan kedua tangannya sendiri dan dia berhasil.”
Akira mengatakannya pada Danar membuat Danar menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
“Tapi aku tidak sempurna Ki. Kakek pasti merasa kecewa denganku,” kata Danar menyergah ucapan Akira.
“Manusia memang tidak ada yang sempurna, tapi kumohon lihatlah dirimu. Semua orang bermimpi agar bisa sepertimu. Otak cerdas yang tidak dianugrahkan pada semua orang, segala kemampuan dan fisik yang membuat orang-orang ingin menjadi seperti dirimu.”
“Mereka seperti itu karena mereka tidak tahu diriku yang sebenarnya.”
“Tapi tidak dengan istrimu. Dia mengetahui dan menerima segela yang ada dalam dirimu. Apa kau tidak menyadari itu? Jika setelah mengetahui sisi hidupmu yang gelap dia tetap ada untukmu lalu apa namanya? Dia memiliki seribu satu alasan untuk lepas darimu, tapi dia tetap memilih untuk bertahan. Dan, tidak ada satu pun istri yang bisa sabar menunggu tiga bulan bulan lamanya tanpa disentuh oleh suaminya. Apa dia pernah protes padamu akan hal itu?”
Akira berkata pelan mencoba masuk dalam pikiran Danar untuk mengarahkannya pada jalan yang benar.
“Kau bilang, kau tidak ingin dia pergi darimu. Tapi justru tindakanmu yang tidak bisa mengontrol diri hanya akan mempermudah jalannya untuk pergi. Dan, lakukan sebaik mungkin. Aku percaya kau bisa.”
__ADS_1
Seperti angin, Danar bergegas pergi meninggalkan Akira di ruangannya. Hanya satu tujuannya kini yaitu Syarah, istri tercintanya.
Apakah Syarah masih mampu bertahan dengan suaminya atau dia memilih menyerah? Nantikan kelanjutan ceritanya