Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
53. Terluka


__ADS_3

Setelah menikmati ikan bakar yang sudah dibuat Danar, mereka kembali ke rumah setelah Danar mendapat panggilan dari asistennya. Sore itu mereka kembali ke rumah karena Danar harus menghadiri pertemuan penting dan diadakan mendadak. Karena bisnis bukan hanya sekedar meeting saja, tapi terkadang pelayanan seperti menemani saat santai dapat mempererat hubungan kerjasama antara dua belah pihak.


Syarah sebenarnya pulang dengan berat hati karena dia masih betah untuk singgah di rumah itu untuk sementara waktu. Tapi urusan suaminya tidak dapat ditinggalkan, dia juga tidak boleh egois dengan memaksa suaminya menurutinya untuk tetap tingal hanya untuk kesenangannya saja. Saat Danar memberitahu tadi, mereka langsung bersiap dan pulang tanpa ada obrolan sama sekali.


Dalam perjalanan pun terasa hening tanpa ada obrolan ringan dari keduanya, hal ini secara tidak langsung disebabkan atas insiden tadi yang membuat Danar menjadi marah pada Syarah dan tidak ingin membuka suara pada istrinya. Hingga mereka sampai di rumah dan Syarah segera membantu menyiapkan pakaian suaminya. Sementara Danar masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan badan sebelum menemui rekan bisnisnya.


“Kak, ini aku sudah menyiapkan pakaian untuk kamu pergi,” kata Syarah.


Danar melihat kemeja berwarna hitam yang dipadukan dengan celana berwarna coklat serta ikat pinggang berwarna coklat pula. Syarah memilih pakaian seperti itu karena menurutnya itu cocok digunakan untuk acara semiformal. Selain itu memang suaminya tidak banyak memiliki pakaian yang lebih santai jadi dia memilih kemeja.


Tanpa banyak kata Danar meraih pakaiannya dan memakainya.


“Kakak, aku buatkan minum dulu sebentar ya,” kata Syarah sambil berjalan tertatih karena kakinya yang cidera masih terasa nyeri saat digunakan untuk jalan.


“Jangan bertindak semaumu sendiri jika akan berakhir merepotkan orang lain,” ucap Danar yang jengah pada istrinya.


“M-maksud Kakak bagaimana? Aku tidak paham,” tanya Syarah ingin memastikan.


“Kau pikir sendiri saja,” kata Danar acuh.


Syarah paham jika suaminya masih menyimpan kemarahan atas dirinya, banyak alasan bagi suaminya untuk merasa kesal padanya. Tapi dia tetap berusaha melakukan dan memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya. Dia berjalan tertatih-tatih menuruni tangga untuk bisa ke dapur untuk sekedar menyiapkan minuman untuk suaminya.


Berada di dapur, ada bi Jum yang sedang menyiapkan makanan untuk berjaga-jaga jika majikannya ingin makan.


“Non, kaki Non Syarah kenapa?” tanya bi Jum.


“Tidak apa-apa Bi, hanya nyeri sedikit,” jawab Syarah.


“Kalau Non sedang sakit, lebih baik tadi menghubungi dapur saja jika membutuhkan sesuatu,” ucap bi Jum.


“Tidak apa-apa Bi, Syarah hanya ingin membuat minuman saja,” kata Syarah.


Syarah mulai menyiapkan minuman untuk suaminya.


“Bi, Bi Jum sedang memasak apa?” tanya Syarah ramah.


“Bi Jum memasak makanan seperti biasa Non,” jawab Bi Jum.


“Sayuran di kebun masih ada yang bisa dipetik, segera dipetik saja Bi. Rencana akan ganti pohon minggu depan, jadi yang masih bisa dimasak segera diambil dan disimpan,” jelas Syarah.


“Iya Non, nanti biar saya lihat lagi di kebun,” jawab bi Jum.


“Terima kasih Bi,” kata Syarah.

__ADS_1


“Aww,” teriak Syarah dan gelas pun pecah di lantai.


“Non, Ya Ampun. Nona tangannya kena air panas, ayo Non ke kursi dulu,” ucap bi Jum memperingati.


Baru saja bi Jum hendak menuntun Syarah ke ruang makan untuk duduk, suara langkah terburu-buru terdengar memasuki dapur.


“Ada apa ini?” tanya Danar yang sudah berdiri di hadapan dua orang tersebut.


Syarah yang masih syok hanya memandang tangannya yang sakit karena ketumpahan air panas dan melihat Danar tanpa mampu menjawab pertanyaan dari suaminya.


“Ini Tuan, Nona Syarah ketumpahan air panas dari gelas yang tadi dibuat.”


Mendengar jawaban dari bi Jum, Danar melihat tangan istrinya yang sudah terlihat kemerahan.


“Bi, ambilkan kotak obat,” perintah Danar.


“Kak, maafkan aku,” ucap Syarah yang melihat Danar berjalan mendekatinya.


Danar menatap istrinya dengan tatapan tajam mengintimidasi, Syarah yang ditatap berusaha kuat dan mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan suara.


“Kak, aku tidak apa-apa. Tunggu sebentar ya, aku buatkan minuman yang baru,” ucap Syarah sekuat hati agar suaminya tidak marah padanya.


“Tidak perlu! Kembalilah ke kamar!” bentak Danar.


“Kamu tidak mendengar ucapanku!” bentak Danar sekali lagi.


Syarah yang sedang memegang cangkir baru tersentak kaget mendengar bentakan dari suaminya. Dia meremas gagang cangkir untuk menahan tangannya yang sudah gemetaran. Danar tiba-tiba menarik lengan Syarah membawanya ke kursi di ruang makan. Setelah mendudukkan Syarah, dia mengambil obat untuk dia oleskan pada tangan istrinya yang sudah memerah tersiram air panas.


Selesai dengan mengobati luka di tangan Syarah, tanpa aba-aba Danar menarik tangan Syarah yang lain untuk dia bawa ke kamarnya. Cengkraman tangan Danar yang sangat kuat membuat Syarah merintih kesakitan, sakit di kakinya dan perih di tangan yang belum lama tersiram air panas. Tapi dia tidak bisa memberontak atau membantah suaminya yang terlihat dilingkupi dengan perasaan marah yang begitu besar.


Langkah lebar Danar membawa Syarah seakan menyeret tubuh kecil Syarah ke kamar. Dia melemparkan tubuh ringkih itu ke kasurnya yang luas dengan tenaga penuh membuat istrinya terpantul. Syarah masih menahan tangisannya agar tidak terlihat oleh suaminya.


“Kau tidak boleh keluar kamar sebelum aku sendiri yang mengizinkan!” ucap Danar memperingati membuat Syarah kaget dengan ucapan suaminya.


“Kak, aku mohon maafkan aku, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi,” ucap Syarah memohon.


“Aku tidak akan mempercayai ucapanmu lagi! Juga kau tidak boleh menyentuh area dapur!”


“Kak, aku tahu jika aku salah tapi aku mohon maafkan aku.”


“Aku tidak akan termakan perkataanmu lagi!”


Danar segera beranjak pergi meninggalkan istrinya di kamar. Dia menutup pintu kamar dan menguncinya secara otomatis dari luar sehingga tidak bisa terbuka dari dalam. Dari dalam Syarah menggedor pintu memanggil suaminya dan kata maaf tak henti terucap.

__ADS_1


‘Maafkan aku, jika kau tidak bertindak bodoh maka aku tidak akan melakukan ini padamu.’


Dengan langkah berat Danar pergi meninggalkan rumah untuk menemui rekan bisnisnya. Berada di dalam mobil pun, Danar masih menyimpan kemarahan yang membumbung karena tindakan yang istrinya lakukan. Baginya, Syarah sangat ceroboh dan tidak bisa melakukan segala hal dengan baik dan hanya akan berakhir bisa membahayakan dirinya sendiri. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat menyalurkan kemarahannya.


******


Mobil yang ditumpangi Danar memasuki wilayah pantai dimana rekan bisnisnya berada. Tapi berdasarkan informasi yang disampaikan oleh asistennya, rekan bisnisnya itu sedang bersantai di salah satu beach club terkenal yang ada disana. Memang orang yang akan Danar temui itu berasal dari luar negeri yang mungkin sudah terbiasa dengan suasana club.


“Selamat sore Tuan,” sapa Danar pada laki-laki yang sedang duduk bersantai.


“Tuan Wijaksana, Anda ternyata benar-benar menemui saya. Mari silahkan duduk,” kata laki-laki itu.


Orang yang ditemui Danar itu adalah laki-laki tua yang berkepala botak, perutnya yang besar menandakan dia adalah orang yang makmur, dengan kemeja yang kancingnya segaja dibiarkan terbuka seolah memamerkan tubuhnya tanpa rasa malu pada orang lain.


“Bagaimana menurut Anda pemandangan disini?” tanya laki-laki itu pada Danar.


“Club ini cukup bagus yang menjual pemandangan pantai. Cukup bagus diantara beach club yang ada di negara ini,” jawab Danar.


“Permisi Tuan, ada yang ingin Tuan?” tanya perempuan yang dibalut pakaian yang sangat minim.


“Soda saja, terima kasih,” jawab Danar.


“Wah apa Tuan Wijaksana ini bukanlah seorang peminum?” tanya laki-laki itu.


“Ini masih sore Tuan, jadi soda sepertinya cocok untuk dinikmati,” jawab Danar memberi penjelasan agar tidak merembet kemana-mana.


“Sepertinya saya salah memilih orang untuk menemani saya menghabiskan sore yang indah ini.”


“Apakah Tuan adalah salah seorang penikmat minuman?” tanya Danar berusaha mengalihkan topik.


“Tentu, sebagai seorang pria sudah sewajarnya untuk meminum minuman yang menyegarkan itu. Seorang pria akan lebih terlihat berkarisma dan berkuasa saat bisa minum dan menikmati.”


“Pantas saja, Tuan bisa memiliki perusahaan yang kini semakin berjaya dan menjadi sorotan.”


“Kalau itu tentunya karena kemampuan saya dalam mengelola perusahaan hingga bisa seperti sekarang,” ucap pria itu berbangga diri.


“Iya Tuan, Anda benar.”


Sementara mereka membicarakan tentang bisnis dan hal-hal lain seputar masalah laki-laki, perempuan yang merupakan asisten dari bos besar itu pamit ke belakang untuk ke kamar mandi. Tempat itu dipenuhi oleh orang lokal maupun dari luar, semua berbaur menjadi satu dan menikmati sore di pantai sambil menunggu matahari kembali ke peraduan. Ada juga yang sedang berenang di kolam yang sudah disediakan sebagai fasilitas penunjang tempat itu.


Danar yang memakai setelan itu terlihat salah kostum diantara orang-orang yang berpakaian santai. Namun itu sama sekali tidak membuat auranya menurun dan malah menjadi pusat perhatian para wanita disana baik lokal maupun mancanegara. Banyak diantara wanita itu yang ketahuan mencuri pandang maupun terang-terangan memandang kearahnya. Baginya itu sudah biasa, dia tidak merasa tinggi hati sama sekali dan bersikap cuek tak ingin memperdulikan tindakan mereka.


Mereka berbincang berbagai hal, hingga waktu berjalan lebih cepat yang menunjukkan matahari sudah sepenuhnya tenggelam dan suasana club dihiasi oleh lampu-lampu. Sementara di rumah, Syarah yang terkunci di dalam kamar tanpa bisa kemana-mana sudah menghentikan tangisannya. Segala luka ada di tubuhnya sama sekali tidak ada bandingannya dengan luka di hatinya. Baru saja hatinya bersemi setelah kemarau panjang menerpanya, kini bukan hanya kemarau tapi bagai dihujani dengan batu.

__ADS_1


Begitu cepatnya semua hal berubah hanya dalam sekejap mata. Baru saja dia meneguk kebahagian bersama suaminya. Tapi dia kembali dijatuhkan dengan kenyataan jika suaminya memang seperti yang ada di kepalanya saat pertama bertemu. Berdiam diri di dalam kamar tanpa bisa melakukan banyak aktivitas membuatnya berpikir dan merenungi segala kesalahan yang dia perbuat hingga membuat suaminya murka seperti tadi.


__ADS_2