
“Halo, Assalamualaikum. Syarah, bagaimana kabarmu?” tanya seseorang dari seberang.
“Waalaikumsalam Ibu. Ibu apa kabar?” tanya Syarah pada ibunya yang menelpon.
“Alhamdulillah baik. Bagaimana kabar suamimu?” tanya ibu Syarah.
“Alhamdulillah kami sehat disini Buk, keluarga di rumah bagaimana kabarnya?” tanya Syarah teringat keluarga. Memang semenjak menikah dia belum pernah pulang, dia juga jarang menghubungi keluarganya karena kesibukannya.
“Alhamdulillah semuanya baik. Oh iya, ibu dan bapak minta maaf ya belum bisa datang ke rumahmu pada saat pak Pandhu meninggal.”
“Iya Bu, tidak apa-apa, yang penting Ibu dan semua orang di rumah sehat.”
“Saat kamu mengabari kalau pak Pandhu meninggal dunia, anaknya bu dhe masuk rumah sakit karena terpapar virus. Bapak juga sedang kurang sehat, jadi ibu tidak bisa pergi sendiri.”
“Ibu kenapa tidak cerita pada Syarah? Lalu sekarang kondisi bapak bagaimana?” tanya syarah mencemaskan ayahnya.
“Bapak sudah sehat, sudah bisa jalan lagi. Ibu tidak tega menceritakan kondisi rumah sama kamu, sedangkan kamu sendiri sedang berduka di sana.”
“Maaf ya Bu, aku salah karena terlarut dalam duka di rumah jadi melupakan Ibu dan bapak,” jelas Syarah merasa menyesal.
“Tidak Sya, ibu paham apa yang kamu rasakan. Kamu harus fokus pada keluargamu itu yang paling utama, terlebih di sana hanya kamu sebagai perempuan satu-satunya di rumah. Sejak kamu diijab qabul, saat itu kamu adalah menjadi milik suami dan keluarga suamimu juga. Kewajibanmu bukan hanya pada bapak dan ibu saja, tapi kamu memiliki kewajiban pada suami dan keluarga suamimu. Ketika mereka sedang berduka dan kesusahan sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang istri mendampingi suamimu dan keluarganya yang sudah menjadi keluargamu sendiri. Sekuat apa pun seorang laki-laki, dia tetaplah manusia yang membutuhkan seseorang untuk mendampingi hidupnya. Hidup itu tidak bisa ditebak, bisa bahagia bisa juga kesedihan yang menghampiri hari kita. Hanya satu yang perlu dilakukan, tetaplah jalani hidup dengan penuh kesabaran dan keyakinan.”
Pesan dari ibu Syarah tak pelak membuat keduanya menangis bersama. Padahal waktu masih pagi, Syarah yang baru selesai menjalankan ibadah sholat subuh mendapat panggilan video dari ibunya. Apa yang disampaikan oleh ibunya seperti menjawab kegundahan hatinya selama ini. Memang benar ikatan ibu dan anak sangat kuat.
******
Setelah mendapat pesan dari ibunya, Syarah menjadi lebih berenergi hari ini. Dia tidak boleh menjadi wanita yang lemah, dia harus menjadi istri yang baik untuk suaminya. Dalam kehidupan rumah tangga pasti aka nada masalah di dalamnya, walau berat semoga dapat dijalani dan mendapat hasil yang baik.
“Kak, ini pakaiannya sudah aku siapkan.”
Danar meraih pakaian yang disodorkan istrinya dan memakainya dengan cepat. Tapi tanpa Syarah sadari, suaminya menatap ke arah tangannya yang masih melempuh dan pergelangan tangan yang membiru akibat perbuatannya kemarin. Wajah cantik istrinya terlihat pucat pagi ini.
__ADS_1
Tapi dia tidak memperdulikan karena rasa kesalnya, dia tetap cuek dan melewati Syarah keluar kamar. Tapi Syarah meraih ujung kemeja Danar takut-takut.
“Kak, emm … apa aku sudah diperbolehkan keluar kamar?” tanya Syarah merasa takut.
“Tidak,” jawab Danar singkat tanpa menoleh ke istrinya.
Danar keluar kamar dan mengunci pintu kamar dari luar secara otomatis. Syarah hanya bisa menatap pintu kamar dengan tatapan nanar.
Sedangkan Danar setelah menutup pintu kamar, tetap berdiri didepan pintu. Hatinya tak tega membiarkan istrinya berada di dalam kamar dengan alasan menghukumnya. dia juga lelah selalu bersikap marah pada istrinya, sudah cukup hanya urusan pekerjaan saja yang menguras emosinya tapi istrinya malah menambah beban pikirannya.
Turun dari tangga, dia berpapasan dengan bibi Rumi yang sedang membersihkan ruangan.
“BI,” panggil Danar. Mendengar tuannya memanggil, bibi Rumi segera menghampiri.
“Iya Tuan, ada yang bisa saya lakukan?” tanya bibi Rumi.
“Tolong Bibi awasi Syarah, jangan biarkan dia keluar kamar. Bawakan obat untuk tangannya yang melempuh, bawakan pereda memar dan siapkan makanan untuknya. Dia tidak boleh keluar kamar tanpa seizinku. Lakukan apa yang aku minta, dan jangan beritahu kalau aku yang meminta Bibi untuk menemuinya. Oh iya, pintu kamar bisa dibuka dengan finger print Bibi, jangan katakan padanya kalau sebenarnya pintu bisa dibuka selain olehku.”
“Baik Tuan, akan saya lakukan seperti yang Tuan katakan,” kata bibi Rumi patuh.
“Terima kasih, tolong jangan sampai ada yang salah,” ucap Danar mempertingatkan.
“Maaf Tuan, Tuan tidak sarapan dulu? sarapan sudah siap di meja makan.”
“Tidak Bi, aku ada pekerjaan yang harus segera aku kerjakan. Aku pergi dulu.”
“Hati-hati di jalan Tuan.”
Bibi rumi memandang kepergian tuannya hingga Danar tidak terlihat lagi dari pandangan. Dia hanya bisa menghela napas lelah, dia yang mengurus Danar sedari bayi hafal betul dengan kepribadian Danar. Walau terlihat sekeras batu tapi laki-laki itu sebenarnya memiliki hati yang tulus dan perhatian.
Tak ingin berlama-lama, bibi Rumi segera menyiapkan segala hal seperti yang sudah disampaikan padanya. Setelah semua siap, dia segera menuju kamar dimana Syarah berada. Memang pintu kamar Danar hanya bisa diakses oleh Danar dan bibi Rumi.
__ADS_1
*****
Ceklek. Syarah yang mendengar pintu terbuka terperanjak dan tanpa sengaja menjatuhkan buku tebal yang sedang dia bawa. Saat menoleh dia melihat bibi Rumi yang masuk kamar dengan seorang pelayan rumah yang membawa beberapa barang ditangannya.
“Permisi Nona, saya kemari untuk mengantarkan makanan untuk Nona,” kata bibi Rumi.
“Bibi Rumi bagaimana bisa masuk ke kamar? Bukannya pintunya dikunci oleh Kak Danar?” tanya Syarah penasaran.
“Iya Non, bagaimana saya bisa masuk tidak penting, yang penting Nona makan dulu. Tadi saya dengar katanya Nona kemarin ketumpahan air panas. Bagian mana yang terluka?” tanya bibi Rumi.
“Ah tidak apa-apa Bi, itu hanya insiden kecil saja,” kata Syarah. Tapi dengan mudah bibi Rumi dapat melihat luka yang tidak terlalu besar di punggung tangan Syarah yang masih memerah. Pantas saja tuannya itu terlihat khawatir, melihat orang lain terluka saja dia cemas apalagi istrinya yang terluka.
“Tapi Bi, aku tidak bisa. Aku belum minta izin pada kak Danar,” ucap Syarah.
Mendengar penuturan Syarah, bibi Rumi merasa tersentuh. “Nona, tidak perlu khawatir. Tuan pasti mengizinkannya, Nona sejak kemarin tidak makan nanti bisa jatuh sakit.”
“Terima kasih Bi sudah mau membawakan saya makanan, tapi mau saya tidak bisa makan tanpa seizin dari Kak Danar.” Saat mengatakannya dia berusaha agar tidak menampakkan perasaan hatinya. Siapa yang tidak kelaparan kalau semenjak kemarin belum makan, tapi dia tidak bisa mengutamakan keinginannya tanpa izin suaminya.
Bibi Rumi yang memahami kepatuhan Syarah pada suaminya tak ingin memaksakan. “Baiklah Non, tapi izinkan saya mengobati luka Nona. Saya yakin pasti diizinkan oleh tuan.” Tak ingin tujuannya kemari sia-sia, bibi Rumi berusaha meyakinkan Syarah untuk mau diobati lukanya.
“Baiklah Bi. Tapi aku mohon, jangan beritahu kak Danar,” mohon Syarah.
“Iya Non, saya tidak akan memberitahukan pada Tuan.” Padahal dalam hati, ‘Syarah andai kamu tahu kalau ini semua atas perintah langsung dari suamimu.’
Segera saja bibi Rumi menyiapkan obat untuk luka di tubuh Syarah. Dia merasa miris melihat perempuan muda yang ada di sampingnya. Semakin hari tubuh perempuan yang menjadi istri tuannya itu terlihat semakin kurus. Hanya dari matanya saja, bibi Rumi sudah bisa menangkap kesedihan yang ditutupi rapat-rapat. Tapi sebagai sesama perempuan, dia bisa mengerti kegundahan hati perempuan muda itu.
“Bi, terima kasih banyak atas kebaikan hati Bibi sudah mau mengobati saya. Sekali lagi, saya mohon jangan sampai ada yang tahu kalau Bibi masuk ke kamar dan membantu saya,” kata Syarah.
“Pasti Non, lebih baik Nona istirahat agar bisa segera pulih dan berlalu.” Bibi rumi mengatakannya sambil mengelus lengan Syarah seperti memberi kekuatan. Tapi Syarah tidak menyadari arti dari ucapan bibi Rumi dan hanya tersenyum sebagai balasan.
Setelah bibi Rumi keluar dari kamar, Syarah yang seorang diri di kamar meraih buku yang tadi sempat jatuh saat bibi Rumi memasuki kamarnya. Karena ketidaksengajaannya, dia menemukan secarik foto yang terselip di tengah buku tebal yang mulai using. Sebuah foto yang menggambarkan seorang laki-laki tampan dan seorang wanita yang bisa dia perkirakan bukan dari tanah air yang sama dengannya.
__ADS_1
Foto siapa yang Syarah temukan? Nantikan kelanjutannya, jangan lupa komentarnya dan like ya kakak-kakak agar aku semakin semangat.