
Hai semua,
Terima kasih sudah membaca ceritanya, jangan lupa like dan komen sebagai bentuk dukungan yang sangat berarti🥰🥰
Syarah berlari keluar kamar tak ingin berdekatan dengan Danar. Perkataan suaminya mungkin ada benarnya, tetapi suaminya bisa memberitahunya dengan pelan tanpa harus membawa emosi seperti tadi. Hati Syarah yang sensitif tak bisa menahan kesedihan yang ditimbulkan karena Danar.
Baru sampai di tengah tangga, Syarah mendengar seseorang yang memanggilnya di lantai atas. Orang itu berlari tergopoh-gopoh untuk bisa sampai di dekat Syarah.
"Non, tuan besar Non," ucap bibi Rumi dengan nafas terengah.
Seketika mendengar kata 'tuan besar', Syarah segera berbalik menghadap wanita itu.
"Apa apa, Bi? Apa yang terjadi pada kakek?" tanya Syarah khawatir.
"Tuan sepertinya terkena serangan jantung lagi Non. Tolong bantu tuan," jelas bibi Rumi.
"Ya Tuhan, Bi tolong beri tahu Kak Danar di kamar. Saya ke kamar kakek dulu," ucap Syarah.
Mereka berjalan ke arah tujuan masing-masing.
Syarah berlari ke kamar pak Pandhu dan segera masuk karena pintu terbuka.
"Kakek, Kakek kumohon tenangkan dirimu jangan khawatir Kakek akan baik-baik saja ya," ucap Syarah berusaha tenang agar tak menambah kepanikan yang tercipta.
Tak lama terdengar derup langkah mendekat terkesan buru-buru.
"Kakek, kumohon bertahanlah!"
"Tuan, mobil sudah siap di bawah. Dokter Panca juga sudah dihubungi dan dalam perjalanan ke rumah sakit," jelas salah satu pegawai disana.
"Bantu aku bawa kakek ke mobil!" perintah Danar pada mereka.
Syarah juga ikut mereka membawa pak Pandhu ke rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan kondisi laki-laki yang sudah dianggap sebagai kakeknya sendiri. Tapi sebisa mungkin dia menahan kepanikannya agar tak berlebihan yang justru akan memperkeruh keadaan.
******
"Dok, tolong tangani kakek saya. Berapa pun akan saya bayar asal kakek saya bisa selamat!" ucap Danar pada Dokter Panca.
__ADS_1
"Danar, tunggulah dulu. Aku akan berusahan maksimal, berdoalah pada Tuhan agar kakekmu diberi kesembuhan," ucap Dokter Panca sambil menepuk pundak Danar memberi kekuatan.
"Kakek ...."
Danar sangat khawatir pada kondisi kakeknya yang tiba-tiba terkena serangan jantung. Dia tak bisa membayangkan jika kakeknya meninggalkannya. Apakah tak cukup bila dia hidup tanpa kedua orang tuanya, dan Tuhan juga ingin mengambil satu-satunya orang yang selalu berada bersamanya.
Brakk
Danar meninju tembok rumah sakit meluapkan emosinya membuat buku-buku tangannya berdarah karena benturan keras. Dia tak merasa sakit sama sekali bahkan dia juga membenturkan kepalanya ke tembok. Syarah yang melihat kerapuhan Danar tak bisa membiarkannya, dia segera menghampiri Danar dengan segala risiko yang mungkin akan terjadi nanti di tengah Danar yang sedang berapi-api.
"Kak, sudah kumohon berhenti. Jangan menyakiti dirimu seperti ini ... " ucap Syarah sambil menahan tangan Danar yang hendak meninju dinding lagi.
"Pergi! Jangan ikut campur! Aku tidak butuh belas kasihan darimu! Kamu tidak akan tahu apa yang aku rasakan!" bentak Danar.
"Kak, aku memang tidak tahu benar apa yang kamu rasakan. Tapi satu yang pasti aku tahu bahwa kamu sangat menyayangi kakek. Begitu pula dengan aku. Aku juga sedih melihat kakek sakit seperti sekarang, tapi kita harus kuat Kak. Bukan emosi seperti ini yang dibutuhkan kakek, tapi kita harus kuat dan yakin jika kakek pasti bisa melewati masa kritisnya ini," jelas Syarah memberi pengertian pada Danar.
Danar menangis menunduk menandakan kepedihan yang teramat sangat pada dirinya.
"Kak, sebagai istri aku mohon bagilah kesedihan yang kamu rasakan denganku. Kamu sudah tidak sendiri lagi Kak, aku ada disini untuk kamu," ucap Syarah membujuk.
Danar langsung merengkuh Syarah dalam pelukannya. Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Syarah meluapkan kesedihannya. Mendekap erat tubuh Syarah dalam pelukannya sangat erat menyalurkan emosi. Syarah membalas memeluk Danar, dia mengelus punggung Danar memberi ketenangan.
Mereka saling meluapkan emosi masing-masing lewat pelukan. Tangisan Danar di pundaknya sama sekali tak membuat Syarah memandang Danar sebagai lelaki yang cengeng justru, Danar adalah laki-laki yang penuh kasih sayang pada keluarganya. Sebenarnya sejak beberapa waktu tadi, Syarah sudah merasa keram di pundaknya karena Danar yang menopangkan kepalanya. Badan Danar yang besar dan tinggi terlihat seperti menenggelamkan Syarah yang berbadan kecil.
Syarah merasa seperti diremukkan badannya oleh kungkungan badan Danar. Walaupun sudah merasa keram, pegal dan susah tapi Syarah menahannya demi kenyamanan suaminya. Hingga dirasa Danar sudah mulai sedikit tenang dia sedikit berani membuka suara.
"Kak, bagaimana jika kita meminta pada Allah untuk kesembuhan kakek, ini masih waktu dhuha jadi akan lebih baik jika kita sholat dan berdoa meminta pertolongan," ucap Syarah pelan.
Mendengar ajakan Syarah, Danar tergerak hatinya. Dia sadari bahwa kehidupan adalah milik Sang Pencipta, sebagai manusia dia hanya bisa memohon dan meminta. Akhirnya dia melepaskan pelukannya pada Syarah. Menyadari telah menangis Danar sedikit menunduk dan memandang ke arah lain agar tidak dilihat oleh Syarah. Namun sepandai-pandainya menutupi, tetaplah Syarah menangkap semua itu.
Dihapusnya titik air mata yang berada di ujung mata suaminya, dia juga tak segan-segan membersihkan hidung yang keluar ingusnya tanpa rasa jijik. Syarah melakukan semua itu dengan senyum tulus tanpa kata, dia tidak ingin suaminya merasa malu bila menangis dihadapannya. Malahan Syarah senang jika suaminya tak segan-segan mengekspresikan perasaannya.
"Ayo Kak kita cari masjid dulu," ucap Syarah.
"Tapi bagaimana dengan kakek?" tanya Danar
"Kakak tidak perlu khawatir, disini ada pengawal kakek yang siap sedia menjaga kakek. Nanti jika ada informasi pasti akan segera disampaikan pada kakak," jawab Syarah.
__ADS_1
"Kamu benar juga, ya sudah ayo," ajak Danar sambil menggandeng tangan Syarah.
Menyadari perlakuan suaminya, Syarah tersenyum bahagia. Ini memang tindakan kecil bagi orang lain, tapi bagi Syarah, ini adalah hal besar yang membuatnya bahagia mendapat perhatian dari suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju masjid di rumah sakit elit itu.
*****
"Assalamualaikum warrahmatullah."
Danar menengok ke belakang, Syarah menyalami Danar. Saat sholat tadi, Syarah tak kuasa untuk mengeluarkan tangisannya. Selama menikah dengan Danar, ini adalah kali pertama mereka melaksanakan ibadah bersama. Syarah terharu bisa melakukan sholat dengan imam yang sebenarnya.
"Ya Allah, hamba hanya manusia yang penuh dengan dosa dan kesalahan. Tetapi hamba ingin memohon meminta pertolonganMu. Berikanlah kesembuhan untuk kakek. Beliau adalah orang yang baik, dengan sepenuh hati merawat dan membesarkanku. Aku menyadari penuh atas kesalahan-kesalahan yang selama ini kulakukan baik aku sengaja maupun tidak. Aku bersimpuh dan memohon kepadaMu, berikan dia kesempatan untuk bisa hidup lebih lama. Setidaknya berikan dia kesempatan untjk bahagia di sisa usianya sebelum dia pergi sari dunia ini selama-lamanya. Aku mohon kabulkan permohonanku," mohon Danar dalam doanya.
Syarah juga ikut berdoa dan mengaminkan doa Danar. Dia juga ingin pak Pandhu bisa sembuh dari sakitnya. Sosok laki-laki tua yang selalu terlihat gagah tapi semenjak sakit beliau menjadi lunglai tak berdaya. Sebagai seseorang yang ditunjuk langsung olehnya untuk mendampingi Danar, tentu Syarah masih merasa belum bisa mengabulkannya. Hubungannya dengan suaminya bagaikan laut yang mengalami pasang dan surut. Dia merasa belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sepenuhnya.
Baru selesai berdoa, hp Danar berbunyi menandakan panggilan masuk.
"Halo, ada apa?" tanya Danar.
"Halo, Tuan. Tuan Besar sudah selesai ditangani, sekarang akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya sudah stabil jadi sudab bisa dipindahkan," jelas pengawal itu memberitahu.
"Syukurlah, baik aku akan kesana. Tetap jaga kakek, aku segera kesana."
"Bagaimana keadaan kakek, Kak?" tanya Syarah.
"Alhamdulillah, kakek sudah stabil dan sekarang dipindah ke ruang perawatan. Ayo kita kesana sekarang," jawab Danar dengan nada senang.
"Alhamdulillah, baik ayo," ucap Syarah.
Mereka berjalan bersama ke ruang perawatan terbaik yang ada di rumah sakit itu. Pak Pandhu yang memang memiliki kontribusi besar dalam pembangunan rumah sakit itu membuatnya dengan mudah mendapatkan akses perawatan eksklusif. Dengan mudah mereka bisa menemukan kamar yang ditempati pak Pandhu karena letaknya yang ada di lantai khusus untuk ruangan suite.
"Kakek, kumohon kau harus pulih."
Sesampainya di ruangan, Danar segera menghampiri kakeknya yang terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan yang terpasang. Danar meraih tangan kakeknya dan menggenggamnya kuat, seolah tak rela jika harus kehilangan orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
"Kak, kakek pasti akan sembuh. Kamu harus percaya dan yakin dengan itu," ucap Syarah.
Syarah merangkul pundak Danar dan menyandarkan kepalanya di pundak Danar.
__ADS_1
"Kamu benar, selama ini kakek selalu berjuang. Aku tidak boleh menjadi lemah seperti ini."