
Danar membawa Syarah dalam gendongannya menuju ke dalam rumah. Karena rasa khawatirnya yang tinggi pada Syarah membuatnya melupakan mobil yang tadi dikendarainya masih berada di luar rumah. Dia hanya fokus berjalan ke dalam rumah untuk bisa segera mengobati Syarah.
Sementara Syarah hanya diam tak ingin melihat ke arah Danar. Melihat Danar hanya akan memancing tangisnya saja. Sudah terlalu lama dia menangis karena Danar. Bayangan perselingkuhan itu seolah mencubit dan mengiris hatinya. Lalu sekarang Danar terlihat seolah menjadi pahlawan kesiangan yang menolongnya dari kejadian tadi. Syarah belum ingin melihat Danar, tapi pria itu muncul tanpa bisa dicegah.
Sesampainya di kamar, Danar mendudukkan Syarah ke sofa yang ada di kamar. Setelahnya dia beranjak untuk mengambil kotak obat yang ada di luar kamar. Syarah yang dirundung rasa kesal mencoba bangkit dari berdiri ingin ke kamar mandi. Dia merasa jengah untuk bisa berdekatan dengan Danar, dia pikir daripada hatinya selalu merutuki Danar. Tentu hal ini hanya akan menimbulkan dosa sebagai seorang istri.
Dengan menahan rasa perih di kakinya, Syarah menyeret langkahnya untuk bisa menggapai kamar mandi. Namun baru saja melangkah, suara pintu kembali terdengar tapi Syarah tetap melanjutkan langkahnya.
“Berhenti!” ucap Danar memperingati.
Dengan langkah lebar miliknya, Danar menggapai Syarah dan mendudukkannya dengan kasar di sofa. Kekesalan merasuki diri Danar, dia merutuki keras kepalanya Syarah yang tak memperdulikan luka di tubuhnya. Danar menyingkap bagian bawah dress, dia dapat dengan mudah menemukan luka bekas goresan di lutut Syarah. Dia mendesis pelan membayangkan perih yang harus Syarah rasakan.
Danar menggulung kemejanya ke siku untuk memudahkan kegiatannya nanti, jika Syarah dalam keadaan normal mungkin akan terpesona dengan penampilan Danar kali ini. Tapi karena perasaannya dalam kondisi kacau, dia lebih memilih melihat hal lain apa pun itu selain wajah Danar. Rasa pedih bahkan tak membuat Syarah beralih untuk melihat lukanya.
Danar mulai membersihkan luka dengan alkohol. Mengobati luka di lutut dengan baik seolah sudah biasa melakukannya. Dia sangat fokus dan lembut dalam mengobati Syarah, seolah khawatir jika dengan tekanan lebih dapat melukai Syarah. Tangan kekar Danar tak mempengaruhi sentuhan lembut yang dia berikan pada Syarah.
“Sudah selesai,” ucap Danar sambil meniup luka di kaki Syarah.
Mendengar ini Syarah segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Dia sangat membutuhkan air untuk meredakan suhu badannya yang panas luar dalam. Selain itu ia ingin menghindari Danar.
Danar yang melihat kepergian Syarah hanya menatap punggung Syarah yang mulai menjauh dari pandangan. Dia yang awalnya berniat untuk meminta maaf pada Syarah tetapi tidak bisa dia wujudkan segera setelah melihat respon Syarah yang seakan menghindar. Dia juga menghubungi Akira untuk pergi pulang saja.
“Ki, sepertinya kau belum bisa bertemu dengan Syarah. Dia sedang tidur, jadi lebih baik besok saja,” ucap Danar membohongi Akira.
“Kau tidak sedang membohongiku, bukan?” tanya Akira curiga dengan memicingkan matanya.
“Untuk apa aku berbohong. Kau juga tidak perlu khawatir, aku sudah menjelaskan pada Syarah,” jawab Danar membohongi Akira.
“Baiklah kali ini aku percaya padamu. Tapi kalau kau terbukti membohongiku, lihat apa yang akan aku lakukan nanti!” ancam Akira pada Danar.
__ADS_1
“Tidak. Sudah, aku antar kamu sekalian ke kantor.”
“Apa Tuan Pandhu di rumah?”
Akira memandang sekeliling, dia belum pernah ke rumah Danar sebelumnya. Biasanya Danarlah yang mendatangi Akira di tempat praktiknya atau janjian terlebih dahulu di suatu tempat. Jadi ketika berkunjung ke rumah Danar, Akira jadi teringat pada kakek Danar.
“Iya, Kakek di rumah. Tapi biasanya di jam siang seperti ini dia sedang istirahat tidur siang,” ucap Danar asal.
“Padahal aku ingin bertemu dengan pak Pandhu tapi baiklah tidak masalah. Lain kali aku akan berkunjung kemari lagi. Lagipula aku ada janji dengan pasienku.”
Mereka lalu pergi dari rumah. Sebenarnya yang dikatakan Danar hanyalah kebohongan. Danar hanya tidak ingin Akira bertemu dulu dengan Syarah. Danar sendiri belum menyiapkan diri untuk bisa menjelaskan segalanya pada Syarah. Jadi lebih baik dia membohongi Akira dan mungkin dia akan berusaha menghindarkan Akira dari lingkungan keluarganya sementara dia menyiapkan diri untuk bisa menjelaskan pada Syarah nantinya.
******
Dalam kamar, Syarah yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian tidak melihat Danar di dalam kamar. Dia menghembuskan nafas lemah, dia memang belum ingin bertemu dengan Danar. Syarah merebahkan diri di kasur menatap langit-langit kamar.
Entah dia harus bagaimana, perasaannya sangat kacau. Mau menangis juga dia enggan. Dia yang memang jarang menangis jadi ketika dia menangis lama sudah merasa lelah. Satu hal yang pasti adalah perasaan Syarah sudah lelah.
Tetapi yang ada dalam benak Syarah saat itu adalah bayangan wajah memohon dari pak Pandhu yang tak bisa lepas dari ingatan Syarah. Permintaan pak Pandhu untuk menikah dengan Danar adalah hal yang sangat mengejutkan untuk Syarah. Tetapi dalam hati kecilnya, dia tidak tega untuk menolak permintaan pak Pandhu, apalagi dengan kondisi pak Pandhu saat itu yang terbaring lemah.
Siapa pun pasti tak tega bila tidak menuruti permintaan orang tuanya, termasuk juga dengan Syarah. Dalam setiap ibadah yang dia lakukan, dia meminta petunjuk untuk memilih jalan terbaik. Wajah Danar dan bayangan kebahagian masa depanlah yang muncul, jadi Syarah menganggap itu sebagai jawaban atas pertanyaannya. Jadilah dia menerima pernikahan dengan harapan kebagiaan yang membumbung tinggi. Mungkin Danar benar-benar jodohnya.
Memikirkan Danar yang menjalin hubungan dengan wanita itu seakan meruntuhkan mimpi yang selalu dijunjung tinggi. Dirinya yang selama ini selalu mengalah dan berusaha menjadi istri yang terbaik tapi sepertinya Danar tidak peduli tentang itu. Dulu pernah Syarah merasa hubungannya dan Danar akan manis, tapi itu hanya di awal dan mungkin itu hanya bagian dari sandiwaranya agar Syarah mau menerimanya.
Syarah hanya terbaring di kasur saja, terkadang dia terlentang, tengkurap dan jika bosan dia akan duduk. Sebenarnya masih banyak urusan yang harus dikerjakan Syarah di toko bunga miliknya, tapi untuk beranjak dari kasur saja di merasa enggan. Sedari tadi Syarah juga menyadari bahwa teleponnya menyala menandakan adanya panggilan masuk, tetapi dia sangat enggan melakukan apa pun.
Ini adalah kegelisahan pertama Syarah dalam urusan percintaan, atau zaman sekarang orang mengatakannya ‘galau’. Perasaannya terasa campur aduk, namun kekecewaanlah yang mendominasi perasaannya kini. Syarah menyadari bahwa dalam hubungan bukan hanya satu pihak saja yang berjuang, tetapi harus kedua belah pihak yang berjuang.
Hampir 3 jam Syarah menghabiskan waktu hanya dengan berbaring di kasur akhirnya dia memutuskan untuk beranjak. Dengan penampilan sedikit acak-acakan, Syarah melangkah menuju kebun bunga miliknya yang ada di halaman depan rumah. Hari ini adalah tanggal 25, artinya Syarah harus memberikan hak pendapatan bagi karyawan yang bekerja di tokonya.
Jika biasanya Syarah akan memberikan tambahan berupa barang pada waktu pembagian gaji, tapi dengan drama siang tadi membuatnya lupa membelikan barang untuk mereka. Sehingga Syarah memutuskan jika besok dia akan membelikan barang untuk karyawannya. Walaupun hanya sekadarnya, namun dia berharap bahwa itu dapat bermanfaat bagi mereka.
__ADS_1
Hanya dengan daster rumahan juga memakai sandal jepit, Syarah memasuki rumah kaca tempatnya menyimpan bunga. Rambutnya yang hanya diikat asal menjadi satu, ketika ada angin akan membuat anak rambut lepas dari ikatannya yang asal. Syarah benar-benar tidak ada semangat dan gairah sore itu.
Dia menunggu kedatangan karyawannya sambil melihat-lihat stok bunga yang ada di kebun miliknya. Memang di toko bunga miliknya, Syarah menyediakan bunga yang ditanam oleh dirinya sendiri. Jadi bunga yang akan dibuat terlihat lebih alami dan baru karena memang baru dipetik setelah dipesan.
Dengan adanya keunikan ini, membuat banyak orang tertarik untuk membeli bunga di tempat Syarah. Karena memang bunga dari tempat Syarah akan lebih indah dan segar jika dibandingkan dari toko bunga lain yang menjual karangan bunga dari bunga yang sudah lama dipetik. Hasil karangan bunga itu juga sebagian besar adalah karya Syarah sendiri, jadi memang sangat identik.
“Selamat sore, Mbak,” sapa karyawan Syarah yang memasuki kebun.
“Sore, kalian baru sampai. Langsung ke meja saja,” ucap Syarah.
Mereka lalu berjalan beriringan ke meja bundar yang ada di ujung kebun.
“Ratih dan Rahma, terima kasih banyak atas kerja keras kalian di toko ini. Dengan kerja keras kalian, pesanan kita bulan ini bisa naik 45% dari bulan kemarin. Saya harap kalian tetap menjaga semangat kalian untuk bekerja di toko ini. Saya juga meminta pada kalian, jika memang ada keluh kesah langsung saja sampaikan pada saya jangan pernah ragu dengan itu,” jelas Syarah panjang.
“Terima kasih juga, Mbak, atas kepercayaannya pada kami. Semoga toko bunganya makin jaya supaya kita juga bisa mendapatkan hasil yang baik,” kata Ratih mewakili.
“Sebelumnya saya ingin minta maaf, untuk kali ini saya akan membayar gaji kalian melalui transfer ke rekening kalian. Aku belum bisa keluar untuk mengambil uang tunai. Apakah kalian keberatan?” tanya Syarah.
“Tidak, Mbak. Tidak masalah, lagipula di depan kompleks ada mesin atm jadi kita mengambil nanti,” jawab Ratih.
“Syukurlah, terima kasih banyak. Uangnya sudah saya transfer ke rekening kalian. Semoga bisa bermanfaat ya. Hari juga sudah sore, kalian bisa kembali ke rumah sebelum malam,” ucap Syarah.
“Baik, Mbak, kami pamit pulang dulu, Assalamualaikum!” ucap mereka bersamaan.
“Iya, Waalaikumsalam,” jawab Syarah.
******
“Syarah!”
“Bibi ada lihat Syarah?”
__ADS_1
“Maaf, Den, sejak siang bibi tidak ada lihat nona.”