
Hai
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan komentar dan like sebagai bentuk dukungan agar aku bisa cepat melanjutkan cerita. Terima kasih
Danar masih menemani rekan bisnisnya di beach club, walaupun dengan setengah hati karena rekannya itu orang yang congkak. Selain itu sedari tadi dia yang minum soda selalu dicaci oleh bos besar itu karena menganggap Danar adalah orang yang cupu. Tapi Danar membiarkan dan masa bodoh dengan itu tak ingin mencari perkara dengan rekan bisnisnya yang merupakan salah satu investor besar di anak cabang perusahaannya.
“Ayolah Tuan Danar, ayo kita nikmati malam ini dengan bersenang-senang. Jangan terlalu kaku, kita minum-minum agar lebih rileks,” ajak bos besar botak itu.
“Terima kasih Tuan, saya sedang ingin menikmati soda saja. Silahkan Anda saja,” kata Danar menolak.
“Ini tidak setiap hari Tuan, jadi tidak masalah jika menikmatinya malam ini,” kata asisten bos tersebut.
Merasa tidak enak hati karena terus menerus didesak akhirnya Danar minum minuman yang selama ini selalu berusaha dia hindari. “Baiklah, saya mau minuman yang ringan saja.” Danar teringat jika besok dia harus bekerja jadi dia tidak boleh mengonsumsi minuman itu secara berlebihan.
“Nah dari tadi seperti itu kita bisa sama-sama bersenang-senang,” kata bos besar itu sambil tertawa senang.
Danar merasa kurang nyaman dengan kebersamaannya dengan bos besar tersebut. Jika bukan karena hubungan kerjasama, dia tidak sudi harus menemani orang untuk mabuk-mabukan sedangkan waktu masih sore seperti membuang waktu sia-sia. Itu sama sekali bukan gaya Danar, akan lebih baik dia gym atau menghabiskan waktu lebih produktif disbanding bersantai-santai membuang waktu.
Bukan Danar bodoh, dia menyadari jika sedari tadi asisten bos besar itu selalu menatapnya dengan tatapan menggoda. Dandanannya yang berlebihan dengan warna-warna seperti wanita penggoda. Apalagi pakaian yang dipakai sangat minim seperti kekurangan bahan bukannya membuat Danar tergoda untuk mencicipi malah justru dia merasa jijik pada perempuan yang duduk di kursi sebrangnya.
Dia tidak bodoh untuk dapat menangkap sinyal ketertarikan yang dilontarkan wanita itu. Hanya saja, dia menghargai orang penting di sampingnya. Bisa saja dia memaki perempuan itu yang terus-terusan memandangnya seolah ingin menelanjangi. Dia sangat-sangat risih saat itu.
Tepat pukul 9 malam, Danar pamit pulang terlebih dahulu. Dia berkelit sedemikian rupa agar bisa segera pulang. Perasaannya tak nyaman, terlebih dia terus kepikiran pada istrinya yang terkunci di dalam kamar. Setiap mengingat istrinya itu, rasa marah selalu menyelimuti hati dan pikirannya.
__ADS_1
Ingin rasanya dia mengunci Syarah di dalam kamar terus agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Entah terbuat dari apa istrinya itu, apa pun yang dilakukan istrinya selalu tidak beres dan meninggalkan kecerobohan. Sulit rasanya membuat istrinya itu melakukan segala hal dengan tepat tanpa ada kesalahan dan kecerobohan.
Apa pun yang dilakukan istrinya hanya meninggalkan jejak kemarahan pada Danar. Pekerjaan yang dilakukan istrinya selalu tidak sempurna dan serba salah. Itulah yang membuat Danar tidak mengizinkan istrinya untuk bekerja.
Melakukan hal kecil saja selalu tidak sempurna, lantas jika dia mengizinkan istrinya bekerja mau jadi apa pekerjaan yang dilakukan istrinya. Geram rasanya hanya dengan teringat akan Syarah, istrinya. Mungkin dengan hukuman yang dia berikan pada istrinya akan sedikit menyadarkan istrinya untuk menginterospeksi diri dan berbenah.
******
Danar sampai di rumah dengan keadaan setengah mabuk, semua berkat bos besar yang memaksanya terus menerus untuk menegak minuman itu. Kepalanya berdenyut semenjak tadi membuatnya kelimpungan. Sopir yang mengantar Danar dengan sigap membantu bosnya untuk memasuki rumah dengan kondisi setengah mabuk.
“Lepaskan, aku masih bisa berjalan sendiri. Pergilah!” ucap Danar.
“Baik Tuan.” Sopir itu masih berdiri di belakang majikannya berjaga-jaga apabila memerlukan bantuannya mengingat bosnya berjalan tidak seimbang. Sementara Danar berjalan masuk dengan langkah goyah menuju kamarnya tanpa mengingat istrinya yang sedang mendapat hukuman darinya.
Air mata yang semenjak tadi mengalir deras dari kedua matanya, kini mulai mengering walau terkadang masih tetap keluar setiap teringat tindakan kasar suaminya. Tiba-tiba pintu digedor dari luar dengan tak sabaran dan gagang pintu seperti dibuka secara paksa. Syarah kaget segera menghampiri tapi bagaimana caranya sementara pintu kamar dikunci otomatis oleh suaminya dari luar.
“Kak apakah itu kamu?” Syarah bertanya dari dalam kepada pelaku yang menggedor kamar tak sabaran. “Iya, cepat buka pintunya!” bentak Danar dari luar.
“Tapi tadi Kakak sendiri yang kunci pintunya. Aku tidak bisa membukanya,” kata Syarah menyahut.
“Sial.” Danar mulai merogoh saku celananya mencari key card khusus yang hanya dimiliki Danar. Setelah pintu terbuka, Danar masuk dengan sempoyongan sambil memegang kepalanya yang berdenyut.
Syarah dapat menebak jika suaminya sedang mabuk, aroma alkohol tercium pekat di indera penciumannya. Saat sedang mabuk seperti ini Danar selalu bertingkah kasar. Syarah yang sedang sakit di kaki dan tangan tidak bisa membantu Danar karena membawa dirinya saja terasa sakit.
__ADS_1
Saat Danar sudah ambruk di atas kasur, Syarah bisa melepas sepatu dan pakaian yang melekat di tubuh suaminya. Duduk di dekat suaminya, dia dapat mencium aroma alkohol dan rokok yang sangat pekat di pakaian suaminya. Syarah merasa aneh, seingatnya suaminya itu tidak menikmati rokok namun dia tepis pemikirannya dengan meyakinkan diri jika yang merokok adalah orang didekat Danar.
Syarah bisa saja membiarkan suaminya tidur memakai pakaian yang tadi dipakainya, tapi Syarah tidak nyaman jika dirinya atau suaminya tidur dengan pakaian yang sudah dipakai dari luar. Selesai melepas semua pakaian suaminya, dia meletakkan pakaian kotor ke keranjang pakaian. Sebelum kembali ke kasur, dia mencuci wajahnya setidaknya jika suaminya nanti bangun tidak mendapatinya dalam keadaan buruk. Rutinitas Syarah setiap akan tidur adalah mengoleskan krim wajah untuk menjaga kesehatan wajahnya secara teratur setiap malam sebelum tidur.
Beres dengan kegiatan membersihkan diri, Syarah berjalan kembali ke kasur untuk tidur. Dia yang akan mematikan lampu tidur melihat kalender yang ada di atas nakas. Tanggal hari ini dia tandai, tanda itu dia buat untuk mengingatkan jika hari ini adalah tanggal suburnya.
Hari ini juga tepat 3 bulan dia menikah dengan suaminya, Danar. Tapi sekali pun Danar belum menyentuhnya lebih dalam. Dirinya yang sudah berstatus sebagai seorang istri masih dalam keadaan tersegel. Suaminya sendiri belum merebut kepemilikannya tanpa pernah menyinggung tentang aktivitas yang halal bagi sepasang suami istri.
Tanpa terasa air mata mengalir deras di pipinya. Tak ada seorang istri yang tidak ingin disentuh oleh suaminya. Tidak ada seorang istri yang tidak mengharapkan kehadiran anak hasil keturunannya dan suami. Tapi dia tidak bisa meminta Danar untuk melakukannya mengingat pengalaman buruk setiap mereka mencoba melakukannya. Terbesit pemikiran apakah terjadi sesuatu pada suaminya itu saat mereka akan berhubungan.
Dia menatap suaminya yang tidur tengkurap. Suara dengkuran suaminya memenuhi ruangan kamar yang berukuran besar. Dia menatap punggung suaminya yang kekar tanpa baju karena suaminya menolak saat akan dipasangkan. Dielusnya lembut kepala Danar dengan sayang.
“Kak, apakah ada yang kamu sembunyikan dariku?”
“Apakah ada yang tidak aku tahu tentang kamu?”
“Sikapmu yang seolah tidak ingin menyentuhku terasa menyakitkan hati. Apakah kamu tidak tertarik padaku hingga menyentuhku pun kau tak sudi?”
“Tolong sampaikan semuanya padaku, Kak. Aku penuh dengan ketidaksempurnaan, masih banyak yang luput dariku tentangmu. Aku ingin kita saling terbuka satu sama lain. Bukannya aku berpikir buruk tentangmu, tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Apa pun itu, kuharap kamu mau membaginya denganku. Sebagai seorang istri sudah menjadi tugasku untuk menerima yang menjadi bebanmu. Karena masalahmu juga adalah masalahku.”
Cup.
“Selamat malam, suamiku.”
__ADS_1