Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
Selalu salah


__ADS_3

Selamat membaca


"Mbak Risa, Mbak Risa!" panggil Syarah berkali-kali namun mobil taksi tetap melaju.


Syarah hanya bisa menatap mematung atas kepergian sahabatnya. Kakinya sulit beranjak dari sana dan tatapannya terpaku pada mobil yang terus melaju hingga hilang dari pandangan.


"Mbak Syarah, ternyata di sini, aku nyari kemana-mana pantas saja gak ada," ujar Ratih yang baru saja


sampai di samping Syarah.


Syarah masih diam seolah membeku.


"Ayo kita ke mobil saja Mbak, bentar lagi jam 12 nih," ajak Ratih.


Mendengar itu Syarah seketika tersadar.


"Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi. Ayo cepat." Syarah segera merogoh tasnya untuk mengambil hp.


Tak ingin membuang waktu dia segera mencari kontak orang yang dia cari.sambil berjalan. "Halo Pak, tolong


segera ke pintu masuk ya. Saya tunggu," ujar Syarah.


 


Sedangkan Ratih juga mengikuti langkah Syarah.


Tanpa menunggu lama sopir yang dipekerjakan untuk menantar Syarah sudah sampai di depan mereka. Segera saja Syarah dan Ratih masuk ke dalam mobil yang bermerek Alpha seperti milik selebriti.


Drrrt drttt


"Ck apa dia tidak ada kerjaan sampai harus menelpon," decak Syarah kesal tapi tetap dia angkat.


Ratih yang duduk di samping Syarah hanya diam tak berani berkomentar. Dari cerita Syarah, dia sudah tahu bagaimana watak suami bosnya.


"Halo Syarah, kamu dimana sekarang?" tanya orang yang menelpon Syarah.


Benar dugaan Syarah, suaminya ini seakan tak pernah membiarkannya pergi barang sebentar.


"Aku sudah dalam perjalanan ke kantor, seperti yang aku katakan semalam kalau aku hari ini pergi mengunjungi


temanku yang baru saja melahirkan," jelas Syarah menahan kesal.


'Sabar Syarah, ingat dia suami kamu,' batin Syarah mengingatkan diri.


Danar yang sedang berada di ruangannya memegang hp dengan sebelah tangan dimasukkan dalam saku. "Kamu


kan ada hp, bisa lihat jam kan? Sudah jam berapa sekarang? Kamu mau membuat aku kelaparan hm?" tanyanya.


Syarah menarik napas dan membuangnya beberapa kali untuk menghilangkan pikiran buruk di kepalanya. "Iya tunggu sebentar, aku mampir dulu beli makanan untuk kamu ya, Kak," jawab Syarah lembut seperti biasa.


"Sudah terlalu lama, kamu tahu pekerjaanku menumpuk. Kalau hanya untuk menunggu makanan dari kamu bisa-bisa pekerjaanku terbengkalai," bantah Danar bersungut-sungut.


Mendengar jawaban tak mengenakkan dari suaminya yang sarat akan rasa marah membuat Syarah yang sedang berkecamuk pun mulai terpancing kesal.


"Ka-" ucap Syarah terpotong.


Tutt tutt tutt


Panggilan terputus dari Danar membuat Syarah tak percaya.


"Astaghfirullah." Syarah sendu mengingat suaminya.

__ADS_1


Setiap aktivitasnya selalu salah di mata suaminya. Mau sekeras apa pun dia berusaha menjadi baik tetap saja ada


saja yang kurang di mata suaminya.


Sedangkan Ratih yang melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi di sampingnya ikut merasa empati pada


Syarah.tapi dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Pak, kita mampir ke BurQa ya," ujar Syarah pada sopirnya.


Sepanjang jalan dia hanya memandang ke luar jendela yang menampakkan pemandangan kota. Syarah tak bisa menutupi apa yang dia sedang rasakan.


Ting


"Guys kalian sedang apa? Aku lagi gak ada kerjaan nih di kantor. Nongkrong yuk." -Napik


"Dasar pemakan gaji buta." -Rizki


"Ke tempat biasa ya, aku masih harus mengajar dulu." -Alfi


"Okey Bro dan kau Ris, jangan banyak bicara aku tahu kamu lagi gak nglatih anak-anak kan? Sudah ayo


kesana." -Napik


"Pemaksaan. Aku tidak bisa, aku sibuk." -Riski


"Sudahlah Ris, jangan terlalu berhalusinasi. Orang menganggur begitu tidak perlu sok-sok sibuk. Cepat


bersiap, nanti aku jemput,." -Alfi


"Dasar kalian pemakan gaji buta." -Riski


Syarah yang membaca percakapan teman-temannya hanya tersenyum. Dia sangat tahu bagaimana rasa pertemanan mereka.


bersenang-senang seperti temannya dengan bebas tanpa perlu terikat pada tanggung jawab.


"Betul itu, Riski hanya membual aja kalian jangan percaya hahaha,." Syarah pun ikut menimpali percakapan grup mereka tak ingin ketinggalan.


"Nyonya baru muncul, kemana aja neng?" -Napik.


"Kamu ini pakai nanya segala, nyonya besar banyak urusan, Mana sempet buka chat rakyat


jelata." -Alfi


Syarah pun tersenyum tanpa bisa dicegah. Celetukan bebas dari temannyalah yang dia rindukan.


"Nyonya sudah sampai," kata sopir memberi tahu,


Syarah pun mendongakkan kepala dan baru menyadari kalau dia sudah sampai di restoran tujuannya.


"Oh iya Pak, tunggu sebentar ya." Syarah menyampirkan tas ke pundak dan beranjak turun dari mobil


dengan ditemani Ratih.


Di restoran, dia memesan beberapa menu makan siang untuk suaminya. Makanan yang dia pesan pun simple yang


tidak membutuhkan waktu lama dengan harapan agar Danar tidak menunggu lebih lama. Setelah menunggu tak berapa lama, makanan sudah siap dan dia pun melanjutkan perjalanan ke kantor suaminya.


***


Sesampainya di kantor, Syarah turun dari mobil dan masuk ke gedung perusahaan yang menyuplai daging ke hampir seluruh supermarket di Indonesia.

__ADS_1


"Siang Tere, apakah kak Danar ada di dalam?" tanya Syarah.


Perempuan yang ditugaskan di bagian depan ruangan Danar langsung berdiri begitu melihat Syarah yang datang.


"Selamat siang Bu Syarah, iya Tuan Danar ada di dalam. Silahkan langsung masuk saja," jawab Tere dengan


sopan dan merasa tak enak hati pada istri atasannya.


"Baiklah aku masuk dulu, terima kasih."


Danar yang sedang duduk sambil bermain hp dengan ekor matanya melihat istrinya yang datang ke ruangannya. Tapi dia acuh dan berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja. Padahal dia sudah ingin menghampiri Syarah yang terlihat manis dengan dress panjang berwarna putih dengan sepatu putih juga.


Dari pandangan Danar bisa melihat istrinya justru terlihat muda, ketika dia melihat dirinya malah terlihat semakin


tua.


“Kak, ini aku bawakan makan siang untuk kamu,” ujar Syarah sambil meletakkan makanan ke meja.


Tapi Danar tidak ingin merespon dan berharap istrinya merayunya. Tidak mendapat tanggapan membuat Syarah mendengus kesal.


“Ini makanannya dimakan jangan lupa minum vitamin juga. Sepertinya kamu sangat sibuk, ya sudah kalau begitu aku pulang dulu saja ya.” Syarah hendak berbalik dan pergi dari ruangan Danar, namun Danar langsung buka suara.


“Ngapain aja kamu jam segini baru sampai? Kamu gak liat apa sekarang udah jam 1 kurang 10 menit?” tanya Danar dalam.


Syarah tetap memasang senyum di wajah cantiknya kepada sang suami. “Maaf ya Kak, tadi aku asyik berbincang


dengan temanku sampai terlambat menyiapkan makan siang buat kamu,” jelas Syarah berharap suaminya paham.


Danar akhirnya menatap istrinya. Wajah istrinya masih memasang senyum menenangkan, seperti merayunya untuk mendekap Syarah lama-lama.


“Kalau sudah tahu ada kewajiban yang harus dikerjakan setidaknya kamu harus menyadari dan bertanggung jawab.” Mendengar nada bicara Danar, Syarah jadi teringat saat masih menjadi asisten Danar dulu.


Nada bicara yang Danar gunakan saat sedang bersama karyawannya.


“Syarah minta maaf Kak.” Syarah mengatakannya dengan menundukkan kepala dan menautkan tangan tak berani menatap suaminya.


“Setiap kesalahan harus ada konsekuensinya,” ujar Danar tiba-tiba.


Kini Syarah hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dia alami. Mau membantah pun percuma, suaminya tidak akan memberikan celah.


“Ehem satu bulan ini, kamu sudah tidak boleh pergi kemana-mana. Tetap dirumah dan kalau kamu sampai keluar tanpa sepengetahuanku maka hukuman akan bertambah,” kata Danar datar.


Ucapan Danar yang seperti seorang hakim yang bisa memutuskan suatu hal membuat Syarah hanya bisa membuang napas pasrah.


Syarah pun diminta untuk menyuapi Danar karena sebelumnya pria itu mengatakan jika dirinya sedang banyak


pekerjaan. Tentu itu hanya akal-akalannya saja dan Syarah tetap mematuhi suaminya dengan melayani sang suami sepenuh hati dengan mengesampingkan egonya.


Hingga makanannya telah habis, Syarah baru pamit pulang.


Dia berjalan dengan lesu yang ditutupi dengan senyum. Saat berjalan keluar dari lift, kesedihan yang membuncah di hatinya tak lagi mampu ditahan.


Tes


Setetes air mata lolos di pipi mulusnya tepat saat pintu lift terbuka. Menyadari pintu terbuka, Syarah pun mengusap air matanya dan melangkahkan kaki keluar.


Baru saja ingin melangkah keluar, seseorang di luar lift menyapanya. “Syarah, kamu di sini.”


Terima kasih sudah membaca


Dukung novel PTISD dengan like, komentar dan vote

__ADS_1


Setiap komentar Dewi selalu membacanya, sebelumnya Dewi mohon maaf tidak bisa**update rutin dikarenakan tanggung jawab dengan pendidikan. Selain itu, Dewi juga sangat terbuka untuk kritik dan saran dari para pembaca, bila memang ada yang merasa kurang Dewi mohon maaf.


Jaga kesehatan semuanya.**


__ADS_2