Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
Ketagihan Pijat


__ADS_3

Selamat membaca


Sedangkan Syarah hanya menundukkankepala tak kuat untuk sekedar melihat kepergian suaminya. Dari belakang Syarah bisa merasakan sebuah usapan lembut di bahunya.


“Nya, jangan bersedih ya. Besok kan masih bisa belajar dengan chef Ronald, Nyonya jangan menyerah. Bibi sudah menyuruh pelayan untuk menghubungi chef dan sekarang sudah dalam perjalanan,” ujar bibi memberi semangat pada Syarah.


“Terima kasih ya Bi,” jawab Syarah menahan kesedihannya.


Dia hanya bisa meremas ujung dressnya untuk menahan air mata yang akan lolos dari matanya. Buru-buru dia bangkit dan hendak meraih mangkuk sup yang ada di meja makan, tapi rupanya dia melupakan kehadiran orang lain dalam meja makan itu.


“Eh Mas Dimas,” lirih Syarah terlupa akan keberadaan Dimas.


Dimas pun hanya tersenyum tipis.


Karena merasa tak enak hati atas kejadian yang baru saja terjadi, Syarah pun membuka suara.


“M-mas maaf ya atas kejadian tadi, kalau mas masih ingin makan malam ditunggu sebentar ya. Chef Ronald masih dalam perjalanan,” kata Syarah malu.


“Tidak masalah, aku sudah kenal dengan Danar sejak dulu,” jawab Dimas yang mulai menyantap makanan di depannya tanpa ragu.


Melihat itu tentu Syarah hendak segera mencegah. Jika suaminya saja kecewa dengan hasil masakannya apalagi orang lain.


“Eh-eh Mas jangan, jangan dimakan. Biar diganti dengan menu yang baru saja,” cegah Syarah.


Dimas menyuapkan sesendok sup dengan potongan daging ayam, begitu masuk ke dalam mulut, dia bisa merasakan sup yang cukup asin tapi tidak parah.


“Not bad, tidak masalah aku bisa makan ini.”


Tanpa berkata atau pun kritik pedas, Dimas memakan makanan yang disajikan bahkan tak sungkan untuk tambah. Dia terlihat begitu menikmati makanan yang disajikan tanpa komentar seolah itu makanan yang cocok di lidahnya.


Syarah yang melihat Dimas makan tak bisa menyembunyikan senyum yang terbit di wajahnya. Perkataan tajam dari suaminya seolah sirna begitu saja melihat Dimas yang menikmati makanan buatannya.


Suasana ruang makan pun menjadi hening yang hanya ada Dimas dan Syarah saja. Hanya denting sendok dan garpu yang beradu saja yang mengisi kekosongan. Dimas yang fokus pada makanan dan Syarah yang masih syok dengan Dimas yang tak ragu menghabiskan makanannya.


“Huh kenyangnya,” ucap Dimas sambil meletakkan tulang ke piring.


Perutnya seakan mau meledak karena penuh makanan, dia hanya bisa menyenderkan punggung di sandaran kursi dan mengusap perutnya.


Syarah pun menyodorkan minuman pada Dimas.


“Ini minum dulu wedang serainya Mas. Pasti perutnya sangat penuh, abisnya makan banyak banget,” ujar Syarah senang bercampur malu.


Dimas pun meraih cangkir berisi minuman tradisional itu dan menegaknya hingga tersisa setengah.


Baru saja meletakkan cangkir ke tempatnya semula, matanya tak sengaja menangkap kue coklat dengan krim matcha di atasnya.


“Apa kue itu kamu juga yang buat?” tanya Dimas yang sudah mengalihkan pandangan pada Syarah.


“Iya Mas,” jawab Syarah ragu-ragu.


Dimas bisa menangkap gelagat dari Syarah dan dengan cepat memahami.


“Apa kue sebanyak itu tidak ingin kau bagikan padaku?” tanya Dimas.


Syarah tak membalas tatapan Dimas, dia hanya menunduk bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


“Syarah belum mencobanya, mungkin rasanya akan pahit,” ujar Syarah pesimis.


Dimas hanya tertawa renyah, “Bagaimana bisa kamu bilang pahit kalau belum mencobanya? Kau ini peramal apa?” gurau Dimas mencoba mencairkan suasana.


Tapi itu sama sekali tidak membantu, Syarah masih tegang dan khawatir.


“Ya sudah kalau tidak mau memotongkan, aku bisa potong sendiri. Masa makan tidak diberi makanan penutup,” sindir Dimas yang seketika menyadarkan Syarah.


“J-jangan Mas, biar Syarah potongkan saja. tapi sedikit saja ya Mas, siapa tau rasanya tidak cocok di lidah Mas,”


ujar Syarah yang sudah bangkit dan menyiapkan kue untuk Dimas.


Hanya potongan kecil dan diserahkan dengan ragu-ragu. Tapi Dimas tak menghiraukannya dan langsung memasukkan potongan kue ke dalam mulut.


Selama ini dia tidak pernah merasakan matcha. Sebagai seorang pria, kopi adalah minumannya.


‘Gila, ini enak sekali. kupikir rasanya tidak cocok untukku tapi ternyata perempuan ini bisa membuat kue aneh menjadi enak,’ batin Dimas merasakan kue yang baru masuk ke mulutnya.


Syarah yang melihat Dimas diam tanpa komentar bergidik ngeri. Jangan-jangan kuenya lebih parah dari masakannya.


“Mas kalau memang tidak enak jangan dimakan, takut sakit perut. Ini buatan pertama Syarah jadi mungkin rasanya


tidak enak,” larang Syarah.


“Tidak masalah, ini bisa masuk ke mulutku,” ujar Dimas sambil mengelap bibir.


Terasa getaran dari saku celananya, dia pun merogoh untuk melihat penelpon yang menghubunginya. Tapi dia memilih untuk tidak mengangkat dan membuka pesan yang belum dibacanya.


‘Ah sial,’ batin Dimas.


“Sya, aku pergi dulu. Terima kasih untuk makan malamnya,” kata Dimas yang sudah berdiri menjulang.


“Iya Mas, maaf tidak seharusnya Mas melihat keributan tadi dan … terpaksa memakan masakan Syarah,” ujar Syarah menunduk.


Asyik memandangi lantai, Syarah tak tahu kalau tangan besar Dimas sudah bertengger di kepalanya dan mengacaknya pelan.


“Jangan terlalu dibawa ke hati, Danar memang seperti itu. teruslah belajar memasak,” kata Dimas singkat.


Syarah tentu terkejut dengan perilaku Dimas padanya. Dia pun mendongakkan kepala dan melihat Dimas yang berdiri menjulang di depannya. Bahkan dia harus mendongak karena tingginya hanya sebatas dada lelaki itu saja.


Setelah mengatakan itu, Dimas segera berlalu tanpa sekedar menitipkan salam untuk sahabatnya.


Sementara Syarah masih terpaku melihat Dimas sampai benar-benar hilang dari pandangan. Buru-buru dia


menggelengkan kepala, ini semua tidak benar. Dia sudah menjadi istri orang, hatinya tidak boleh mudah luluh hanya dengan perlakuan sederhana dari pria lain.


“Syarah! Syarah!”


Terdengar suara suaminya menggelegar di rumah besar itu.


“Iya Kak, tunggu sebentar.” Syarah dengan segera melangkah ke sumber suara suaminya.


Tak ingin mendapat semprotan amarah lagi dari suaminya, Syarah buru-buru ke kamarnya. Dengan napas terengah, dia sampai di pintu kamar dan membukanya dengan sidik jari.


“Ada apa Mas?” tanya Syarah begitu memasuki kamar.

__ADS_1


Dia melangkah mendekati Danar yang sedang duduk bersandar di sofa kamar.


“Kepalaku pusing,” ujar Danar sambil memijat kepalanya.


Tanpa menyuruh secara langsung, Syarah sudah paham dengan kode yang diberikan suaminya.


“Mungkin kamu terlalu lelah jadi sampai pusing begini. Tunggu sebentar ya Kak, aku ambilkan minyak tadi aku juga sudah buat wedang serai. Aku ambilkan sebentar ya Kak,” kata Syarah dengan lembut.


Danar tak merespon dan memilih melanjutkan mengecek data yang dikirim oleh manager. Sedari tadi dia memang sudah merasakan sakit kepala, tapi dia tahan karena pekerjaan masih sangat menumpuk.


Tak berapa lama, Syarah sudah kembali dan membawa nampan. Diletakkannya nampan berisi cangkir dan minyak gosok untuk suaminya ke meja.


“Diminum dulu Kak mumpung masih hangat,” ujar Syarah sambil menyodorkan cangkir pada suaminya.


“Hmm.” Danar pun menerima dan menegaknya sedikit, sedangkan Syarah menggulung rambutnya agar tidak terganggu saat memijat.


Setelah meletakkan cangkir ke nampan Syarah menyuruh Danar duduk di karpet dan dia duduk di sofa.


“Kak, kamu duduk di bawah ya. Biar aku bisa sampe mijat kepalanya, kamu tinggi banget sih,” ujar Syarah dengan senyum hangat.


Tanpa banyak bertanya, Danar menurut patuh. Dibalurnya tangan Syarah dengan minyak kelapa dan mulai memijat lembut kepala suaminya. Mulai dari pelipis, ubun-ubun hingga kepala belakang.


Meski pengetahuan mengenai pijatnya masih minim, tapi dia berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membantu suaminya.


“Nah iya sebelah situ, bener ahh,” ujar Danar yang menikmati pijatan istrinya.


Jika dulu ketika dia kelelahan, dia hanya mengandalkan krim untuk meregangkan otot yang kaku sekarang dia sudah memiliki istri yang bisa dia suruh.


“Memangnya kerjaan kamu lagi banyak banget ya Kak? Sampai kaku begini ototnya,” tanya Syarah.


“Hmm ya, mau bagaimana lagi sekarang tanggung jawab perusahaan ada di tanganku,” jawab Danar.


Syarah ikut menghela napas membayangkan betapa lelahnya suaminya.


“Kak, kalau kamu merasa kelelahan segera katakan padaku. Kapan pun kamu minta buat dipijat, aku pasti akan selalu siap buat kamu,” kata Syarah bersungguh-sungguh.


Danar hanya tersenyum miring, dia begitu gemas dengan ucapan istrinya. Meski menurutnya Syarah tidak pandai masak tapi setidaknya Syarah jago memijatnya.


“Kalau begitu kamu pijat saja aku setiap hari,” ujar Danar datar.


Mendengar itu Syarah kaget, namun seketika dia tersenyum lembut dan mengangguk. “Boleh,” jawab Syarah tanpa ragu.


“Kok jadi gerah gini,” ujar Danar sambil melepas kancing piyama dan melepasnya.


“Loh kok dicopot bajunya, nanti masuk angin loh,” kata Syarah tak setuju.


“Panas Sya, ACnya mati nih,” adu Danar yang sudah menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya.


Syarah geleng-geleng kepala mendengar aduan suaminya. Bagaimana bisa rusak kalau pendingin udara di rumah selalu dirawat setiap bulan.


'Duh enak banget pijatannya, nagih.'


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, juga like dan vote

__ADS_1


__ADS_2