
Hai terima kasih sudah membaca ceritaku
Jangan lupa komen dan like sebagai bentuk dukungan
Setelah menunggu beberapa waktu pesanan sate mereka telah sampai. Syarah tak mengira jika sate yang dipesan Danar sebanyak itu. Apalagi ukuran daging satenya cukup besar semakin membuat Syarah merasa kenyang sebelum makan. Dia kemudian menatap suaminya seakan menanyakan apakah suaminya benar-benar memesan sebanya itu hanya untuk berdua saja.
"Sudah makan saja, aku jamin pasti enak," ucap Danar seolah mengerti arti tatapan Syarah.
"Tapi ini sepertinya terlalu banyak jika dimakan berdua," kata Syarah tak yakin.
"Ini makanlah," kata Danar sambil menyodorkan satu tusuk sate ke mulut istrinya.
Syarah menerima suapan Danar dan menggigit sate itu. Memang benar jika sate yang dimakannya terasa enak, dagingnya lembut dan tidak gosong. Bumbunya meresap ke dalam daging jadi terasa nikmat saat dikunyah.
"Kak Danar benar, satenya memang enak. Kapan-kapan kita kesini lagi ya Kak. Tapi sepertinya tempatnya jauh dari rumah," kata Syarah.
"Kalau kamu mau, bilang saja. Jika ada waktu kita bisa beli lagi. Disini tidak bisa pesan secara online karena letaknya yang tak jauh dari jangkauan. Rasa sate juga akan berbeda jika dibawa pulang, tidak akan sama nikmatnya seperti makan langsung di tempatnya," jelaz Danar.
"Ahh benar juga kata Kakak," ucap Syarah.
Danar sibuk menikmati makan satenya, sedang Syarah juga menikmati sate yang dihidangkan juga menikmati kebersamaan dengan suaminya. Ini adalah momen langka yang tak boleh dia lewatkan barang seditik. Dia berusaha menyimpan kenangan malam ini dengan baik dalam memorinya. Dia meraih hp yang ada di sakunya dan secara diam-diam mengambil foto suaminya yang sedang makan. Selama ini dia hanya memiliki foto suaminya hanya saat acara pernikahan dan pertunangan saja.
Setelah puas mengambil foto suaminya itu, dia kembali melanjutkan kegiatan makan malam sederhana yang menurutnya sangat romantis itu.
"Makanlah yang banyak, jangan takut gendut. Lihatlah badanmu yang bahkan terlihat seperti pohon bambu itu," kata Danar menyindir.
"Iya baiklah, kalau perlu aku akan makan semua sate yang dijual, tapi apa Kakak sanggup membelinya," kata Syarah sambil terkikik.
"Jangankan membeli sate, membeli lahan dan usahanya saja aku mampu. Aku akan pesankan semua sate yang tersisa, dan kau harus habiskan, setuju?" tanya Danar mengerjai.
"Ahh tidak, tidak, apa Kakak berencana membuatku menjadi balon dengan menyuruhku makan banyak," kata Syarah menggerutu.
"Makanya, makanlah makanan yang sehat dan banyak. Agar tidak kurus kering seperti kekurangan gizi seperti ini," kata Danar sambil mencubit pipi Syarah dengan gemas.
"Aww sudah hentikan Kak, sakit," kata Syarah berusaha menghentikan suaminya yang mencubit pipinya itu.
"Dasar bocah kecil," ejek Danar sambil mengacak rambut Syarah gemas.
__ADS_1
"Enak saja, aku sudah besar. Umurku saja sudah kepala dua. Bagaimana bisa aku masih bocah, orang aku sudah jadi istri orang," kata Syarah membela diri.
"Iya iya terserah apa katamu," ucap Danar.
Suasana malam hari di warung sate itu walaupun ramai namun tidak sampai membuat riuh karena lokasinya yang luas. Disana banyak terlihat muda mudi banyak yang makan disana, ada pula yang bersama dengan keluarga. Syarah melihat Danar yang memakai kaos saja tetap terlihat tampan, bahkan Danar tampak jauh lebih muda di bandingkan usianya. Badannya yang selalu dia rawat dengan rajin berolahraga sehingga membuat bentuk tubuhnya terjaga di usianya matang.
"Kakak sering datang kesini?" tanya Syarah.
"Beberapa kali saja," kata Danar sambil mengunyah.
"Sepertinya memang sering, sampai-sampai penjualnya hafal dengan Kakak. Memang Kakak kalau kesini dengan siapa?" tanya Syarah ingin tahu.
"Sendiri, bersama teman, kadang juga dengan kakek," kata Danar.
"Tapi tempat ini worth it untuk dikunjungi, walaupun tempatnya cukup jauh dari kota tapi terbayar dengan satenya yang enak dan pemandangan yang indah. Pantas saja banyak pasangan yang datang kesini," ucap Syarah sambil melihat orang-orang di sekitarnya.
"Hm iya," kata Danar.
"Kak, aku sudah tidak kuat lagi. Perutku sudah penuh," kata Syarah sambil mengelus perutnya yang terisi penuh dengan makanan.
Danar melihat piring Syarah yang hanya berisi 5 tusuk sate yang sudah dimakannya.
"Kak, sudah aku kenyang banget, Kakak saja yang menghabiskan."
Syarah sampai meluruskan kakinya karena kekenyangan. Dia sudah tidak mampu menampung makanan lagi di perutnya. Dilihatnya Danar masih menikmati makan satenya, sedangkan dia juga menikmati pemandangan indah melihat suaminya makan dengan lahap.
"Sudah selesai ayo kita bayar dulu," kata Danar.
"Iya Kak," ucap Syarah.
Syarah mengikuti Danar membayar makanannya. Entah Syarah terlalu merasa percaya diri atau bagaimana, tapi banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Tapi Syarah tidak ingin ambil pusing dan menikmati kebersamaan dengan suaminya yang langka.
Saat kembali ke motor, Danar mengambilkan helm Syarah. Syarah yang hendak menerima helm dari suaminya, tak menyangka jika suaminya itu malah memasangkan helm di kepalanya. Perlakuan itu terasa manis bagi Syarah. Walaupun wajahnya tenggelam dengan helm besar yang dipakaikan Danar namun dia tersenyum manis atas perlakuan suaminya padanya.
Berada di atas motor, Syarah kembali mendekap tubuh suaminya agar tidak jatuh. Beruntungnya Danar tidak mempermasalahkan istrinya itu. Sedikit rasa bahagia muncul di hatinya. Pelukan Syarah malah membuatnya merasa nyaman dan memberi tanda jika di belakangnya ada orang yang harus dia jaga dengan baik.
Syarah yang dibonceng tidak bisa melihat jalanan depan karena tertutup tubuh Danar yang tinggi menutupi pemandangan jalan. Dia hanya bisa melihat ke kanan dan kiri saja. Jalanan yang dia lalui semakin gelap dan hanya terdapat pohon-pohon tinggi menghiasi jalanan. Rumah-rumah warga semakin lama semakin tak terlihat. Hawa dingin malam semakin menusuk tubuh Syarah yang memang kurus walaupun sudah memakai jaket yang lumayan tebal.
__ADS_1
Sampai motor berhenti di tengah kegelapan malam membuat Syarah meragu untuk turun.
"Turunlah dulu!" perintah Danar.
"Tapi kita ada dimana? Mengapa ini asing untukku?" tanya Syarah.
"Sudah, turun saja dulu. Nanti kau juga akan tahu," kata Danar.
Akhirnya Syarah menurut untuk turun dari motor. Danar juga turun dari motor untuk membuka pagar. Walau cukup gelap tanpa lampu, namun cahaya bulan menyinari, Syarah bisa melihat sebuah rumah kayu. Walaupun tidak jelas namun masih bisa terlihat bentuk rumah di tengah pepohonan lebat.
"Kak, ini rumah siapa? Kenapa kita kemari?" tanya Syarah.
"Rumahku," jawab Danar singkat.
"Rumah Kakak?" tanya Syarah memastikan.
"Ayo naiklah, halamannya luas. Kakimu tak akan sanggup berjalan," kata Danar menyindir.
Syarah menuruti kata Danar dengan menaiki motor Danar untuk memasuki rumah. Memang benar halaman rumah yang mereka datangi sangalah luas. Karena tak ada pencahayaan lampu dan hanya sebatas sinar rembulan jadi tak bisa melihat pemandangan rumah secara jelas.
Motor berhenti tepat di depan rumah itu, mereka turun dan Danar membuka pintu rumah itu. Syarah heran apakah memang benar jika rumah itu adalah milik suaminya. Terlalu banyak misteri pada diri suaminya.
Memasuki rumah itu begitu gelap karena tanpa ada penyinaran. Syarah takut pada keadaan gelap seperti itu jadi dia berpegangan pada lengan suaminya. Danar yang menyadari ketakutan istrinya berusaha memberikan ketenangan namun dengan caranya sendiri. Setelah menemukan korek api, dia menyalakan lilin dan alat pencahayaan sederhana. Walaupun terdapat aliran listrik, tapi jika tidak membutuhkan dia tidak akan menggunakan listrik. Dia merasa lebih nyaman dengan menggunakan pencahayaan tradisional seperti lilin dan petromak.
"Kita sedang berada di tengah hutan jadi kuharap kau tidak banyak mengeluh dengan kondisi yang serba terbatas ini," kata Danar memperingati
"Iya Kak, aku percaya sepenuhnya dengan kamu. Aku yakin dimanapun berada, kamu pasti akan melindungiku," kata Syarah.
"Disini hanya ada satu kamar."
Danar menunjukkan sebuah kamar yang ada di rumah itu. Setelah diberi penerangan, Syarah dapat melihat sekeliling ruangan rumah. Rumah yang terbuat dari kayu, benar-benar terlihat klasik namun tetap elegan. Hanya ada beberapa ornamen sederhana namun tetap membuat indah suasana rumah.
Danar menunjukkan sebuah kamar, disana terdapat ranjang yang terbuat dari kayu. Dengan kasur yang belum diberi sprei, juga ada lemari dan nakas yang terbuat dari kayu pula. Disana juga terdapat sebuah pintu yang entah terhubung ke ruangan apa. Selain itu terdapat pintu kaca yang menampakkan pemandangan luar. Cahaya bulan menerobos masuk ke dalam kamar membuat kamar itu terasa seperti kamar di hotel.
Sementara Danar meletakkan beberapa lilin dan petromak di kamar agar Syarah tenang dan tidak takut. Namun tak lama setelahnya hujan turun deras disana.
"Sya, aku akan mengecek kondisi rumah jika ada yang bocor. Kamu disini saja jangan kemana-mana, sprei dan selimut ada di lemari, ambillah dan kau bisa pasang untuk tidur nanti," kata Danar.
__ADS_1
"Iya Kak."
Dalam hati Syarah mulai bertanya apakah mereka sedang bulan madu setelah menikah.