
Hai
Terima kasih sudah membaca,
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan like sebagai bentuk dukungan
“Emak, apakah ini sudah cukup?” tanya Syarah pada Emak.
“Sudah Non, wortel dan sawi putihnya sudah cukup segini saja,” jawab Emak.
“Apakah Emak memang setiap hari selalu panen terlebih dahulu untuk dimasak setelahnya?” tanya Syarah lagi.
“Kami memang terbiasa memetik sayuran terlebih dahulu sebelum dimasak. Namanya juga orang desa, lagipula kami menanam sayuran sendiri jadi mudah untuk mengambil makanan sewaktu-waktu. Sayuran yang baru dipanen juga lebih segar daripada setelah disimpan dalam waktu lama.”
“Benar itu Emak, Syarah di rumah juga menanam beberapa tanaman secara organik, jadi sayuran yang dihasilkan lebih sehat. Tapi tidak sebanyak tanaman Emak disini.”
“Wah itu bagus Non, Nona pasti sibuk tapi masih sempat mengurus kebun.”
“Tidak juga Emak, lagipula menanam itu tidak perlu ditunggu sepanjang waktu. Asalkan dirawat dengan baik akan menghasilkan produk yang sehat.”
“Itu benar, Non. Ayo kita segera kembali ke rumah, tidak lama pasti akan panas. Kasihan kalau Nona kepanasan, ayo.”
“Iya Emak, ayo.”
Mereka lalu kembali ke rumah untuk memasak wortel dan sawi putih yang sudah dipetik sebelumnya untuk dinikmati sebagai sarapan pagi. Syarah dan emak mulai mengolah masakan di dapur bersama. Sebenarnya yang memasak lebih banyak adalah emak, Syarah hanya membantu potong-potong sayuran dan bahan-bahan lainnya. Tidak memerlukan waktu lama, tumis sayuran, tempe goreng dan kacang rebus untuk sarapan pagi itu.
“Pak, Aden ayo sarapan dulu, makanan sudah siap,” kata emak pada suami dan majikannya yang ada di luar rumah.
“Iya emak, mari Aden kita sarapan dulu,” ajak mamang pada Danar yang hanya direspon dengan anggukan.
Mamang dan Danar berjalan bersama ke dalam rumah untuk makan sarapan. Mereka duduk di meja makan yang sederhana dari bangku panjang dan meja dari kayu. Mereka makan bersama dengan penuh khikmat dipenuhi dengan canda dan tawa yang dilontarkan oleh emak dan mamang. Makanan buatan emak memiliki rasa yang enak dan khas rumahan membuat Syarah teringat akan kedua orang tuanya.
Setelah menikmati sarapan, Syarah, Danar dan mamang berangkat menuju ke kendang rusa dan kuda yang letaknya tidak jauh dari rumah mamang tersebut. Syarah tak sengaja melihat rumah yang menjual pakaian, karena dia merasa tidak nyaman dengan pakaiannya meminta Danar untuk menghentikan motornya di toko tersebut untuk membeli pakaian ganti. Dia memilih celana dan pakaian sederhana, Danar sebenarnya tidak setuju Syarah membeli pakaian murah seperti itu. tapi karena kondisi yang mendesak dia tidak dapat melarang Syarah.
******
“Nona, tolong berhati-hati ya karena jalannya masih tanah dan semalam turun hujan jadi jalanan licin,” kata mamang.
“Iya Mang,” jawab Syarah.
__ADS_1
Kandang yang mereka datangi itu bukan hanya sekedar kendang, tapi ada paddock yang berukuran sangat luas. Kuda-kuda dilepas dengan bebas berlari dan bertingkah sesukanya. Memang benar kuda yang ada disana sangat banyak, apalagi kuda-kuda itu bukan kuda asli dari Indonesia yang memiliki ukuran tubuh sangat besar, tinggi dan gagah. Syarah dapat memperkirakan jika harga satu kuda saja bisa seharga rumah, lalu jika semua kuda ditotal Syarah tak mampu memperkirakan berapa harga yang digelontorkan Danar untuk memiliki kuda sebanyak itu.
“Aden, apa kabar? Sudah lama tidak terlihat,” sapa seorang anak laki-laki yang masih muda.
“Baik, kamu yang jaga kendang sekarang Man?” tanya Danar.
“Iya Den, sebentar saya bawakan Joni. Dia pasti sangat senang jika bertemu dengan Aden. Beberapa waktu belakangan, Joni lebih sering muncul, saya tanya dokter hewan katanya Joni sehat tapi kurang bersemangat,” jelas anak mamang yang bernama Rahman.
“Baiklah, aku akan ikut ke kandangnya. Syarah, kamu juga mau ikut?” tanya Danar pada Syarah.
“Iya Kak,” jawab Syarah.
Mereka kemudian berjalan ke arah kendang kuda yang disekat-sekat yang hanya diisi satu kuda per kamar, benar-benar eksklusif sesuai dengan harga kuda itu sendiri. Begitu mereka berjalan mendekat ke arah kamar Joni, kuda cerdas itu langsung menyambut seolah mengenal Danar. Syarah dapat melihat senyum tipis yang terukir di wajah suaminya. Sampai di depan Joni, Danar langsung meraih kepala kuda itu dan menyatukan kening seolah menyalurkan energi dan memberi salam.
Syarah takjub dengan interaksi Danar dengan kuda yang terlihat gagah, sama seperti pemiliknya.
“Brother Jon, apa kabar? Maafkan aku yang sudah lama tidak mengunjungimu,” kata Danar pada kuda itu seaakan kuda itu bisa diajak bicara.
“Kak, Joni benar-benar kuda yang gagah. Pantas saja jika Kakak sangat dekat dengan dia,” kata Syarah.
“Dia memang kuda, tapi aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku. Dia sudah ada denganku sejak lama,” kata Danar.
“Stop! Jangan mendekat Syarah! Sekali pun dia baik denganku, tapi itu hanya denganku dan tidak bisa pada sembarang orang. Dia bisa menggigitmu jika kamu dekat-dekat dengannya,” kata Danar memperingati.
“Oh maaf Kak, aku pikir tidak masalah jika aku mendekati Joni,” kata Syarah.
Danar kemudian meninggalkan tempat Joni bersama dengan Rahman. Sedangkan Syarah berkeliling untuk melihat-lihat kuda yang masih ada di dalam kamarnya. Syarah dibuat takjub dengan kandang milik Danar yang ada di tengah hutan jauh dari hiruk pikuk manusia.
Tak lama Danar muncul dengan peralatan yang ada di tangannya dan sudah terpakai di badannya. Dibelakangnya Rahman juga memakai peralatan yang terpasang dibadannya dan ada beberapa tali di tangannya. Mereka juga memakai helm dan sepatu boot seperti akan berkuda.
“Kak Danar mau berkuda?” tanya Syarah.
“Iya, kamu juga mau?” tanya Danar.
“Mau, aku mau sekali tapi aku belum bisa menunggang kuda.”
“Tidak masalah, nanti kamu bisa naik dengan aku. Tapi biar aku sendiri dulu, baru bersamamu.”
“Siap Kak.”
__ADS_1
Joni dibawa Danar keluar kandang entah kemana dia tidak tahu. Sedangkan Rahman juga membawa satu kuda yang digiring keluar wilayah kandang. Syarah mengikuti mereka dibelakang dan menjaga jarak, karena sesuai arahan Danar, kuda bisa sensitif di bagian belakang.
Danar menunggang kuda dengan begitu lincah dan terlihat jantan memacu kudanya di lapangan yang sangat luas. Syarah dapat memperkirakan jika Danar sudah lama bisa menunggang kuda, dia tampak luwes dalam memacu kudanya di lapangan. Dia hanya melihat Danar dan Rahman memacu kudanya dari pinggir lapangan. Setelah beberapa putaran, Danar membawa kudanya ke arah Syarah dan berhenti di depannya.
“Rahman, bawakan satu helm!” kata Danar memerintah.
Rahman yang mendapat perintah segera mengambil helm yang entah dipakai untuk apa. Selagi Rahman mengambil helm, Danar istirahat setelah cukup lama berkuda dan membiarkan kudanya dilepas bebas. Syarah menyerahkan botol minuman untuk suaminya yang terlihat cukup kelelahan walau hanya menunggang saja. Tidak begitu lama, Rahman kembali dengan membawa sebuah helm di tanggannya.
“Aden, ini helmnya,” kata Rahman.
“Terima kasih Man,” ucap Danar.
“Aden, saya izin membantu mengurus kuda-kuda dulu, kalau membutuhkan sesuatu bisa langsung memanggil saya saja. Permisi,” pamit Rahman.
“Syarah, pakailah helmnya,” ucap Danar.
Dia membantu Syarah memakai helmnya, tapi dengan jahilnya dia mencuri kecupan pada istrinya yang mendapat balasan tepukan di lengannya.
“Ih Kakak, nanti kalau ada yang lihat,” kata Syarah sambil memberengut.
“Masa bodoh,” kata Danar acuh.
“Aku akan naik dulu, baru kau naik,” kata Danar.
Kemudian Danar memanggil kudanya yang dilepas bebas dengan bersiul, begitu mendengar siulannya kuda yang bernama Joni langsung berlari tunggang langgang ke Danar. Begitu sampai di depan Danar, Danar langsung menaiki kudanya. Begitu sudah nyaman dalam duduknya, dia memanggil Syarah.
“Sya, naiklah!” perintah Danar.
Syarah naik dengan bantuan Danar, kuda itu benar-benar tinggi membuatnya kesulitan untuk naik. Bagaimana tidak jika tinggi kuda itu setinggi dirinya. Akhirnya Danar turun terlebih dahulu, tanpa aba-aba Danar mengangkat tubuh kecil Syarah ke atas kuda dengan mudahnya. Syarah yang tak siap menjerit kaget.
“Aaa! Kakak, kenapa tidak bilang dulu,” kata Syarah.
“Biar cepat, kaki pendekmu tidak akan sampai,” jawab Danar.
Syarah duduk di depan Danar, jika dilihat Syarah seperti dipeluk dari belakang dengan Danar yang memegang tali. Posisi duduk mereka sangat menempel agar bisa menunggang kuda dengan baik.
“Peganglah talinya, tenang saja kita akan pelan-pelan.”
Kemudian mereka berkuda keluar dari area kandang kuda menyusuri hutan yang masih asri di pagi hari. Kuda itu diperintah untuk jalan pelan agar mereka bisa menikmati pemandangan yang mereka lalui. Syarah dan Danar menikmati kebersamaan mereka walau hanya dengan kegiatan sederhana seperti berkuda.
__ADS_1