Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
17. Tentang Danar


__ADS_3

Pagi harinya, Danar terbangun dengan kondisi yang lebih baik ketimbang semalam. Saat ia menoleh ke samping, ia mendapat Syarah memeluknya dengan hangat. Melihat ini Danar tersenyum bahagia kala melihat wanita cantik yang kini berstatus sebagai istrinya tidur di sisinya.


Dielusnya surai panjang berwarna hitam kecoklatan milik Syarah lembut. Dikecupnya puncak kepada dan kening Syarah turun ke hidung dan berakhir di dagu.


Saat teringat kejadian semalam ia mengutuk dirinya sendiri, mengapa sakit yang selama ini dia pendam harus timbul di saat yang tidak tepat.


Ia tak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Syarah semalam melihat kekacauan yang timbul karenanya. Dia benar-benar merasa bersalah bagaimana mungkin memori itu muncul melayang di kepalanya bahkan saat dia dan Syarah sedang menikmatinya.


Tanpa sengaja matanya melihat handuk sepertinya untuk mengompres. Danar yakin bahwa semalam Syarah merawatnya dan pasti sangat panik dengan kondisinya. Dia juga mengingat bahwa semalam dia mendorong Syarah dengan sangat kasar.


Danar segera beranjak pelan-pelan dari ranjang tanpa ingin membangunkan Syarah. Ketika di kamar mandi dia membasuh wajahnya kasar. Dilihatnya dari cermin wajahnya yang lebam-lebam bekas kelakuannya pada diri sendiri malam tadi.


Malam yang seharusnya ia lewati dengan indah bersama istri yang dia nikahi kemarin pagi. Tapi sialnya karena ingatan itu dia menghancurkan hal yang sudah seharusnya dilakukan oleh sepasang suami-istri secara sah. Melihat dirinya mengenakan pakaian tidur, dia yakin Syarahlah yang mengenakannya pakaian.


Danar yakin Syarah adalah wanita yang baik dan penyayang. Segera saja Danar mandi membersihkan diri dan mendinginkan kepala kemudian setelah berpakaian Danar meninggalkan kamar. Danar meninggalkan Syarah yang masih bergelung tidur tanpa ada salam perpisahan.


Dia yang sudah mengenakan kaos santai dan jaket segera keluar hotel mencari keberadaan mobilnya. Sepertinya Danar butuh waktu dan tempat untuk meredakan kesesakannya.


Dia membawa mobilnya menuju sebuah rumah yang letaknya berada sangat jauh dari rumah. Satu-satunya rumah yang berada di tengah lebatnya pepohonan dan jauh dari hiruk pikuk perumahan. Bahkan tidak ada aliran listrik yang bisa menjangkau tempat itu.


Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan itu hanya ditemani oleh suara kicauan burung dan hewan-hewan yang hidup di lingkungan yang bisa dibilang seperti hutan.


Danar memberhentikan mobil di depan pagar rumah dengan halaman luas. Setelah pagar dibuka, dia melajukan mobil memasuki pekarangan luas rumah itu. Rumah yang dibangunnya tanpa sepengetahuan kakeknya, bahkan demi menghindari informasi tentang rumah ini, Danar menyuruh warga setempat sendiri yang membangun rumah itu.


Rumah kayu sederhana yang dikelilingi oleh pepohonan rindang dan rumput-rumput liar. Danar membangun rumah ini beberapa tahun lalu untuk menenangkan diri atas satu kejadian yang membuatnya hancur dan hampir kehilangan nyawanya dengan sia-sia.


*****


Danar POV


Aku adalah Danar Putra Wijaksana, putra dari Rama Wijaksana dan Ratih Arum. Kedua orang tuaku sudah tiada karena sebuah kecelakaan saat perjalanan menuju rumah. Saat itu aku yang masih bayi berusia 3 bulan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk dapat menikmati hidup.

__ADS_1


Setelah kepergian orang tuaku, kakeklah yang mengurusku. Pandhu Wijaksana, siapa yang tak kenal dengannya. Pengusaha ternama di berbagai bidang bisnis membuat namanya tersohor dikalangan pembisnis. Mungkin kemampuan inilah yang diturunkan ke ayahku, dan mungkin sekarang diturunkan padaku.


Sejak kecil aku diasuh sendiri oleh kakekku dengan bantuan bibi Rumi, pelayan yang sudah bekerja untuk kakekku sedari belia. Walaupun aku tidak memiliki orang tua tapi kakekku selalu mendidikku dengan caranya yang membuat aku tak merasa rendah diri pada teman-temanku lainnya.


Aku yang tumbuh di keluarga yang sangat berkecukupan dengan segala fasilitas yang bisa aku peroleh dengan mudah tak membuatku menjadi anak manja. Kakek mendidikku menjadi anak yang mandiri, baik pada semua orang dan menolong siapa pun yang membutuhkan.


Aku dikenal sebagai anak yang cerdas dibandingkan teman-temanku. Setiap materi dan ajaran yang diberikan selalu mudah untuk masuk di otakku. Sepanjang aku sekolah tak pernah namaku absen setiap pengumuman juara pertama. Jangan bayangkan aku yang saat itu adalah orang yang kutu buku dan cupu.


Kalian salah besar. Aku adalah idola hampir semua perempuan yang satu sekolah denganku ataupun tidak. Kepribadianku yang mudah bergaul dengan orang dan keramahan yang aku miliki nyatanya memikat siapa pun padaku kala itu. Ditambah dengan wajah yang aku miliki, itu menurut teman-temanku.


Tapi aku tak pernah merasa tinggi hati karena anggapan orang padaku. Aku tetap menjadi diriku biasa. Bergaul dengan siapa pun asal tidak memberi pengaruh buruk padaku. Namun sebagai remaja pada umumnya, aku juga sering ikut dalam aksi perkelahian antar sekolah. Aku menganggap ini sebagai pemanasan dan ingin menantang ilmu yang aku dapat dari karate yang sudah aku pelajari sejak TK.


Teman-temanku mengajukanku sebagai pemimpin mereka, mereka menganggapku lebih bijaksana dan memberikan solusi yang tepat. Bukan keinginanku menjadi pemimpin geng seperti ini tapi biarlah untuk mengisi waktu.


Hingga tiba saat aku lulus SMA, aku memutuskan untuk menempuh Pendidikan lebih serius ke luar negeri. Aku dan kakek bersepakat bahwa aku akan melanjutkan pendidikan di Amerika.


Disanalah aku berubah menjadi seperti sekarang. Perkenalanku dengan mahasiswi cantik bernama Jessica ternyata mengantarkanku pada dunia kelam yang selama ini tak pernah kubayangkan. Aku yang belum pernah memiliki pengalaman pada perempuan terlalu mudah luluh dengan semua tindakan Jessica padaku.


Kami sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan atau bahkan ketika perkuliahan. Jessica adalah perempuan yang cerdas dan mudah bergaul sehingga membuatku nyaman berada di dekatnya. Kedekatanku dengan Jessica memberi pengaruh baik karena aku selalu memeroleh nilai baik dan meraih berbagai prestasi.


Kedekatan kami tidak lebih dari sahabat bagiku yang memang sudah diberi pesan oleh kakek untuk tidak memiliki hubungan dengan perempuan dalam masa pendidikanku. Tapi kasih sayang dan kelembutan yang Jessica berikan padaku perlahan-lahan meruntuhkan tembok tebal yang selama ini kubangun untuk membentengi diri.


Aku menjadi buta akan tujuan dan pedoman yang kupegang selama ini. Aku melupakan pesan kakek dan bertindak mengingkarinya. Aku dibutakan akan cinta yang ditawarkan padaku, menenggelamkanku pada sejuta cinta yang dia berikan namun hanya diawang-awang.


Hingga suatu malam kelulusan, kami merayakan pesta kelulusan bersama hingga tak kusadari aku minum terlalu banyak. Padahal selama ini hanya pernah mencoba itu pun sangat sedikit karena aku merasa tidak nyaman mengonsumsinya. Tapi karena bujukan teman-temanku yang dapat kulihat mereka sangat menikmati minuman itu aku jadi terbawa.


Tak sadar, aku tandas 2 botol minuman berkadar tinggi yang selama ini sangat aku hindari. Kini kesadaranku sudah hampir hilang, kurasakan seseorang membawaku pergi. Aku yang sudah melayang jauh tak menyadari apa yang kulakukan.


Keesokan harinya, aku menemukan diriku berada di dalam kamar apartemen yang kutempati selama kuliah. Aku sangat terkejut saat menemukan Jessica tertidur di sampingku, aku lekas membuka selimut dan mendapati tubuhku polos tanpa apapun. Aku memukul-mukul kepalaku mencoba mengingat tindakan bodoh apa yang sudah kulakukan semalam.


Tapi sedikit pun aku tidak menemukan ingatan apapun tentang semalam. Mendengar teriakanku membuat Jessica terbangun. Dia terbangun dan menangis meraung-raung menyalahkan perbuatanku semalam kepadanya.

__ADS_1


Dia memukul-mukulku meluapkan kekesalannya, aku yang tidak mengingat kejadian apa pun semalam hanya bisa pasrah mendengar penuturannya itu. Aku berusaha memeluknya menenangkan. Aku berjanji akan bertanggung jawab bila dia hamil.


Sejak saat itu, Jessica tinggal bersama di apartemenku. Aku yang sudah selesai pendidikan awal berencana melanjutkan pendidikan di jenjang selanjutnya. Hari demi hari kami lewati dengan aku yang bekerja dan kuliah sementara Jessica hanya berdiam diri di rumah.


Seminggu setelah kejadian malam itu, Jessica memberi tahu bahwa dia positif hamil. Bagai disambar petir di malam hari, aku merasa senang dengan kabar kehamilannya tapi di lubuk hati terdalam aku tidak begitu senang mendengarnya.


Laki-laki sejati akan memegang ucapannya, aku yang pernah berjanji menikahi Jessica segera kuwujudkan. Kakek yang mendengar kabar ini marah besar padaku. Bahkan di hari pernikahanku kakek tidak sudi datang bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat pun tidak.


Aku merasa bersalah pada kakek tapi aku tak bisa mengelak dari buah perbuatanku sendiri. Setelah menikah, setiap kali aku ingin mengajak Jessica berhubungan dia selalu menolak. Seribu satu alasan dia berikan setiap kali aku meminta hakku. Entah dia bilang karena efek kehamilannya atau dia yang merasa tak enak badan.


Seiring berjalannya waktu sayup-sayup aku mendengar pembicaraan tentang kehamilan Jessica yang bukanlah aku ayah kandungnya. Tapi kutepis pemberitaan itu dengan berasumsi bahwa mereka iri saja pada Jessica yang mendapatkanku yang banyak digandrungi wanita.


Hingga pada satu malam, aku benar-benar tak tahan dan meminta hakku pada Jessica. Aku memaksanya, dan ketika hampir di puncak Jessica menyebut nama laki-laki lain. Nama seorang laki-laki yang sangat aku kenali. Mendengar ini sontak aku segera beranjak dari atasnya.


Memunguti pakaian yang sebelumnya kukenakan dan segera berlalu keluar apartemen tanpa menghiraukannya yang menangis mencegah kepergianku.


Sebenarnya aku yang sudah jengah dengan segala pembicaraan miring terhadap Jessica memutuskan untuk mencari tahu sendiri kebenarannya. Aku mendapat fakta bahwa laki-laki yang membuat Jessica hamil adalah Alex, sahabatku sendiri. Tapi informasi itu tidak kutelan mentah-mentah, ketika malam itu juga aku mendapat konfirmasi langsung dari mulut Jessica rasanya diriku pecah berkeping-keping.


Ditambah kenyataan bahwa Jessica bersekongkol dengan dokter kandungannya yang memanipulasi usia kehamilan Jessica yang sebenarnya sudah menginjak 7 bulan. Nyatanya aku baru berhubungan dengan Jessica baru 5 bulan.


Aku menyesal dan merutuki kebodohanku. Setelah kejadian ini, aku membiarkan Jessica di apartemenku sedangkan aku mencari tempat tinggal lain. Aku tak sudi melihat wajahnya yang hanya membuatku ingin melenyapkan dia dari dunia.


Aku masih baik untuk tetap memberinya tempat tinggal dan tak mengusirnya mengingat kehamilannya. Tapi rasa kecewaku begitu dalam, hingga satu hari aku terlalu banyak menegak minuman itu tanpa memasukkan makanan ke dalam tubuhku yang berakhir kritis di rumah sakit.


Kakek datang setelah mengetahui semua yang kualami, entah dari siapa mungkin ada informannya. Setelah melewati masa kritisku, setiap malam aku selalu terbangun karena terbayang ingatan saat aku menyatu dengannya sedang dia meneriakkan nama orang lain. Memori ini membuatku kadang menjadi tidak stabil.


Kakek yang menemaniku dalam masa sulitku ini, dia yang selalu menjagaku dan memberikanku hal-hal positif agar aku bisa bangkit dari keterpurukanku. Selama kurang lebih dua tahun aku selalu konsultasi dengan psikolog, aku sudah mulai bisa hidup normal.


Terkadang bayangan itu muncul, tapi dokter memberikan obat penenang yang selalu jadi andalanku saat memori itu melayang-layang. Inilah yang membuat kepribadianku berubah terbalik dari diriku dulu.


TBC

__ADS_1


Hai temen-temen, part ini full cerita tentang Danar. Maaf ya nggak ada dialognya. Semoga kalian suka. Jangan lupa komen dan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya


__ADS_2