
Danar dan Syarah dengan setia berada di samping pak Pandhu dengan harapan agar beliau bisa segera sadar dan sembuh.
"Kak, ini sudah siang. Kakak makan dulu ya, ini ada kiriman makanan dari rumah," ucap Syarah.
Danar hanya menggeleng sebagai bentuk jawaban. Sedari masuk ke ruangan rawat kakeknya, Danar tak beranjak sama sekali dari samping kakeknya. Meski ada panggilan masuk dari beberapa rekan bisnisnya, namun dia tetap mengangkatnya tapi dengan mempertahankan posisinya yang duduk di kursi samping ranjang kakeknya. Dalam keadaan apa pun, dia tetap harus bertanggung jawab pada bisnisnya. Dia tidak akan mengecewakan kakeknya dengan lengah dari pekerjaan.
"Sedikit saja Kak, yang penting perutnya tidak kosong," ucap Syarah memaksa Danar.
"Syarah tolong, aku sedang tak ingin makan," jawab Danar menolak.
Syarah tak bisa memaksa suaminya. Dia tahu bahwa suaminya itu sedang dalam keadaan buruk jadi dia tidak ingin memaksa suaminya. Satu hal yang harus dia lakukan adalah tetap berada di sisi suaminya untuk mendampingi.
*****
Waktu berjalan begitu lambat bagi mereka. Pak Pandhu masih dengan setia menutup matanya seakan nyaman dalam tidurnya yang mungkin saat ini sedang bermimpi indah. Sedari tidak sadarkan diri, walau sedang terlelap pak Pandhu tetap terlihat tersenyum seperti sedang bahagia.
Danar juga masih setia dalam posisinya berada di dekat kakeknya. Dia hanya akan beranjak jika ingin ke kamar mandi atau atas ajakan Syarah untuk menunaikan sholat. Selebihnya dia hanya akan duduk dan memasang wajah damai kakeknya dengan alat bantu pernapasan yang terpasang padanya. Selama hidup dengan kakeknya, tak sekali pun Danar melihat kakeknya dalam kondisi lemah tak berdaya seperti ini. Kakek yang selama ini dikenalnya selalu tampak gagah, pemberani dan tak gentar pada segala macam serangan yang ditujukan padanya yang begitu sukses menjalankan bisnisnya.
Walaupun tidak pernah mengungkapkan secara langsung, namun di dalam hatinya dia menjadikan sosok kakeknya sebagai panutan dalam hidup. Kakeknya yang terlihat kejam di depan orang namun siapa sangka jika secara tersembunyi, kakeknya membangun dan membantu masyarakat di tempat pelosok yang jauh dari jangkauan pemerintah. Pak Pandhu juga tak akan segan-segan menggelontorkan dana besar untuk membantu membiayai pendidikan pemuda daerah yang memiliki keinginan tinggi untuk menempuh pendidikan namun terhalang kapasitas yang memadai di daerahnya.
Bukan untuk mencari nama di mata masyarakat daerah, namun dengan niat tulus ikhlas ingin membantu menyejahterakan orang-orang yang kurang mampu. Kekayaannya yang berlimpah tak membuatnya gila harta untuk ditunjukkan ke orang-orang. Namun dia memiliki prinsip hidup yang dipegangnya dan diajarkan hany pada cucunya seorang.
'Bekerjalah sekerasnya, selama nafas masih dirasakan. Maka carilah harta sebanyak-banyaknya, sebanyak itulah harta yang kau miliki untuk membantu orang yang membutuhkan. Sejatinya, orang yang menolong sesama adalah orang yang terpuji di mata Sang Pencipta.'
Itulah ajaran yang selalu pak Pandhu ajarkan pada Danar. Memang beliau tidak banyak bicara, namun dengan tindakan sebagai contoh langsung bagi Danar, penerus satu-satunya. Pak Pandhu sebagai kakek dan kekuarga satu-satunya untuk Danar sejak bayi tidak pernah membuat Danar merasa sendiri dan kesepian. Dulu saat Danar masih kecil dan merengek karena tidak ada teman bermain jika sudah sampai di rumah, akhirnya diajak oleh kakeknya ke panti asuhan yang menjadi tempat kakeknya tumbuh.
__ADS_1
Bila dibawa ke panti asuhan Danar akan senang karena dia akan memiliki banyak teman bermain. Dia bisa bermain bersama teman-teman sebayanya disana dan tidak akan merasa kesepian. Sudah menjadi rutinitas jika hampir setiap hari mereka akan datang berkunjung agar Danar tak kesepian. Jika malam, mereka baru akan pulang.
Mengingat memori kebersamaannya dengan kakeknya, Danar menjadi terharu atas segala perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh kakeknya demi kelangsungan hidupnya. Tidak sekali dua kali dia melakukan kesalahan pada kakeknya, tapi tak sekali pun dia mendapat kemarahan dari kakeknya. Kakeknya memang tegas tapi bukan dengan kemarahan yang dia tunjukkan, tapi dengan tindakan.
Syarah menggeliat kecil terbangun dari tidurnya karena merasa kurang nyaman dengan tempat dia tidur. Ia akhirnya terbangun karena merasa kurang nyaman, setelah nyawanya terkumpul baru dia bisa mengingat jika dia ada di rumah sakit untuk menemani kakeknya yang jatuh sakit. Dia menengok ke arah kasur dan melihat Danar masih setia dengan posisinya duduk di samping ranjang kakeknya. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi, Syarah ingin mencuci muka sebelum menghampiri suaminya.
"Kak, ini sudah hampir lebih dari tengah malam. Sebaiknya Kakak juga istirahat," ucap Syarah pada Danar sambil mengelus pundak suaminya.
"Aku masih belum ingin," jawab Danar.
"Kak, kita harus percaya kalau kakek akan baik-baik saja, kita harus kuat agar kakek juga kuat. Lagipula kakak juga kan istirahat di sofa sana, tidak jauh dari kakek," ucap Syarah masih berusaha membujuk.
"Tidak, kamu saja yang tidur, biar aku disini berjaga. Siapa tau sebentar lagi kakek akan bangun dan membutuhkan bantuan," tolak Danar.
"Hm iya iya."
Danar akhirnya menurut pada ucapan Syarah dengan beranjak dari duduknya ke sofa yang tadi ditempati oleh Syarah. Danar merasa sedikit rileks karena sedari tadi dia duduk di kursi yang keras, saat duduk di sofa empuk membuatnya merasa sedikit rileks. Syarah juga ikut duduk di samping suaminya.
"Kak, ini aku kupaskan apel, kamu makan ya. Setidaknya ada sedikit makanan yang masuk dalam tubuhmu. Jika tidak aku khawatir kamu akan sakit," kata Syarah dengan cekatan mengupas apel untuk suaminya.
"Ini Kak, kamu minum dulu."
Syarah menyodorkan minum di botol untuk membasahi tenggorokan Danar yang tidak minum apa pun semenjak tadi sebelum memberikan potongan apel pada suaminya. Beruntungnya Danar menerima potongan apel dari istrinya tanpa berniat menolak lagi. Berada di dekat Danar, Syarah bisa melihat suaminya yang tampak sangat kacau dan terpancar kesedihan yang besar.
Syarah juga ikut sedih melihat suaminya terpuruk seperti ini. Danar tampak sangat berbeda dibanding tadi saat memarahi Syarah. Syarah lebih memilih suaminya memarahinya, ketimbang harus melihat suaminya sedih dan terpukul seperti ini seolah tak bertenaga dan tak memiliki daya. Rasa sedih dan kecewa yang dirasakan Syarah pagi tadi, entah mengapa bisa lenyap begitu saja saat melihat suaminya yang terluka seperti sekarang. Bagi Syarah, kesedihan yang dirasakan oleh suaminya jauh lebih besar dibanding apa yang yang dirasakan oleh Syarah.
__ADS_1
Sebuah apel sudah habis dimakan Danar, Syarah hendak mengupas apel lagi namun ditahan oleh Danar.
"Kak, aku kupaskan lagi ya. Kalau hanya satu tidak akan berpengaruh apa-apa untuk kamu," ucap Syarah.
"Tidak perlu," kata Danar.
Syarah hanya menurut tak ingin membantah suaminya. Dia meletakkan pisau yang tadi digenggamnya ke meja seperti semula. Dia menatap suaminya yang masih memandang kakeknya yang masih terbujur di ranjang pasien.
Tiba-tiba Danar merebahkan kepalanya di paha Syarah. Danar berbaring miring menghadap kakeknya membelakangi Syarah. Mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu, tentu membuat Syarah terkejut dengan tindakan Danar. Namun Syarah segera sadar dari keterkejutannya.
Tangannya tergerak terulur untuk menyentuh kepala Danar. Dengan perasaan sayang, Syarah mengelus kepala Danar yang terasa besar dipangkuannya. Dia juga memberi pijatan lembut untuk suaminya, berusaha memberi rasa rileks pada suaminya yang seharian ini sangat tegang dan cemas.
Dielusnya kening Danar yang lebar dan sedikit berkerut. Syarah jadi membayangnya berapa banyak beban yang dipikirkan oleh suaminya selama ini yang membuat suaminya selalu terlihat seperti pemikir keras. Mendapat sentuhan lembut dari istrinya membuat Danar menikmatinya dan menutup mata untuk lebih meresapi kenyamanan yang diberikan. Perlakuan Syarah ini, sedikit banyak memberikannya ketenangan dari rasa cemas yang seharian ini menghantuinya.
Danar meraih tangan Syarah yang berada di kepalanya secara tiba-tiba dan membawanya dalam genggaman. Entah apa yang merasukinya untuk bisa melakukan hal seperti itu. Meskipun sedikit kaget dengan tindakan suaminya, Syarah membalas genggaman suaminya dengan lembut.
"Aku tak ingin kehilangannya," ucap Danar yang masih memejamkan mata.
Syarah yang tidak ingin mengganggu suaminya memilih diam menunggu kelanjutan ucapan suaminya dengan masih menggenggam tangan besar milik suaminya.
"Dia selama ini telah membohongiku. Bertahun-tahun dia menipuku dengan selalu menampakkan diri dengan terlihat sehat. Jantungnya sudah bermasalah sejak 8 tahun lalu. Saat itu aku masih tinggal di luar negeri untuk mengurus perusahaan yang ada di luar. Aku yang terlalu fokus pada impianku jadi melupakan seseorang yang selama ini selalu menjagaku. Baru kusadari benar jika aku adalah orang yang egois. Aku mementingkan keinginanku di atas segala-galanya. Dia yang bahkan rela memberikan nyawanya untukku, malah aku lupakan karena egoku yang tinggi pada hal-hal yang ingin aku raih. Aku adalah manusia terbodoh di dunia ini. Aku adalah manusia yang tak tahu diuntung pada orang yang sangat berjasa pada hidupku. Selama ini aku kadang menganggapnya semena-mena pada hidupku. Tapi otakku ini tak bisa menangkap pembelajaran hidup yang dia berikan padaku hingga aku bisa bertahan hingga kini dan pasti akan berguna untuk masa depanku nanti."
Danar mencurahkan perasaan hatinya, rasa penyesalan yang teramat sangat pada orang yang sangat berjasa seumur hidupnya. Mendengarkan kata demi kata yang diucapkan suaminya, Syarah tak kuasa menahan air mata ikut merasakan kesedihan yang diungkapkan oleh suaminya. Dia tak ingin mengganggu suaminya yang sedang meluapkan perasaan hatinya hanya bisa menggenggam erat-erat tangan Danar yang sudah basah karena air mata.
"Aku tidak ingin kehilangannya, Sya. Setidaknya aku ingin memberikan kebahagiaan untuknya sebelum dia pergi selama-lamanya. Aku sangat menyayanginya, Sya."
__ADS_1