
Syarah keluar dari ruangan Danar dengan senyum bahagia, seakan peristiwa beberapa waktu lalu tak pernah terjadi dalam diri Syarah.
Baginya, prioritas utama Syarah adalah suaminya, urusan hati dan perasaan Syarah biarlah dia kesampingkan.
Syarah melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai bawah. Saat akan keluar dari lift, Syarah melihat Rizal yang sepertinya akan masuk ke lift. Syarah hendak memanggil dan menyapanya.
Tapi saat akan bersuara pria itu sudah terlanjur masuk lift dan berdiri paling belakang diantara orang-orang yang juga akan menggunakan lift tersebut.
Mau tak mau Syarah mengurungkan niatnya untuk menyapa Rizal. Dia melangkah menuju ke depan dimana pak Salam sudah menunggunya tepat di depan pintu lobi.
Sedangkan di lain sisi, Rizal yang melihat kehadiran Syarah cukup terkejut.
Tapi untungnya dia terselamatkan oleh orang-orang di belakangnya yang hendak segera memasuki lift. Sehingga dia berada di posisi paling belakang yang dapat memudahkannya menghindari Syarah.
*****
Sesampainya di rumah Syarah bingung harus melakukan kegiatan apa. Dia sudah terbiasa disibukkan dengan pekerjaan kantor.
Jadi ketika dia harus di rumah dalam waktu lama, Syarah merasa kebingungan untuk melakukan aktivitas apa di rumah.
Syarah memutuskan untuk membuka aplikasi yang menayangkan video yang kini tengah dikonsumsi banyak kalangan di segala usia. Dia melihat salah satu video olahraga yang dilakukan seorang perempuan.
Melihat keseruan dalam video tersebut membuat Syarah menjadi tertarik untuk mencontohnya. Kini dia sudah memakai pakaian olahraga lengkap dengan sepatu. Dia melakukan senam di pelataran samping rumah dengan bermodal laptop yang akan menampilkan instruktur senamnya kali ini.
Syarah begitu menikmati senamnya sore ini sampai dia penuh keringat. Mungkin karena baru pertama kali, Syarah belum jago dalam senam dan mudah lelah walau baru sebentar.
Dengan olahraga mungkin dia bisa melupakan sejenak permasalahan yang secara tidak sadar tengah dihadapinya. Mengingat waktu sudah hampir malam, Syarah segera beranjak untuk membersihkan tubuhnya dari keringat dan mempersiapkan makan malam untuk suaminya. Setelah selesai mandi tanpa polesan make up, Syarah memasak untuk makan malam keluarga tentu dengan dibantu oleh bi Jum.
Selama memasak, bi Jum banyak bercerita perihal kebiasaan makanan di keluarga WIjaksana. Bi Jum juga berbagi banyak resep masakan kepada Syarah tanpa menutupi resep-resep rahasia yang selama ini bi Jum tutup rapat bila ada yang bertanya.
Hanya pada Syarahlah, bi Jum mau berbuka resep masakannya yang memang diakui sangat lezat.
Syarah menerima semua ajaran memasak dari bi Jum, dia bahkan mencatat dan ingin sekali mencoba resep-resep yang sudah bi Jum berikan padanya. Bi Jum bahkan sangat berantusias saat Syarah memintanya untuk mendampingi Syarah dalam percobaan memasaknya nanti.
Seakan lupa waktu dalam memasak, sampai terdengar suara azan menandakan hari sudah berganti menjadi malam. Syarah jadi teringat pada Danar, apakah Danar akan pulang terlambat malam ini? Syarah hanya bisa berharap semoga Danar bisa pulang tepat waktu jadi mereka bisa makan malam bersama.
Meja makan rumah ini hanya terisi oleh dua orang saja dengan ditemani oleh pelayan yang akan siap sedia setiap saat untuk melayani majikannya kapan pun dibutuhkan.
“Sya, kamu tidak makan?” tanya pak Pandhu.
“Syarah makan nanti menunggu kak Danar. Kakek makan dulu saja, mumpung masakannya masih hangat,” jawab Syarah.
“Terima kasih sudah repot-repot memasak untuk makan malam ini,” ucap pak Pandhu.
“Tidak perlu berterima kasih Kek. Ini sudah menjadi tanggung jawab dan tugasku,” ucap Syarah.
__ADS_1
Kemudian pak Pandhu melewati makan malamnya ditemani Syarah karena Syarah berniat menunggu suaminya untuk makan bersama. Setelah selesai makan malam, Syarah menunggu kedatangan suaminya dengan harap-harap cemas.
Syarah menunggu Danar di ruang tengah sambil menyalakan televisi agar tidak hening di rumah sebesar itu. Walaupun tvnya menyala tapi fokus Syarah bukan pada benda tersebut, melainkan pada pintu depan dimana suaminya akan lewat saat akan masuk rumah.
Syarah dirundung kecemasannya dalam menunggu kedatangan suaminya, Syarah bimbang apakah dia harus menelepon Danar untuk menanyakan kapan suaminya akan pulang atau berusaha untuk tetap tenang menunggu. Terdengar derap langkah dari arah luar menuju ke dalam rumah.
Segera Syarah menengok siapa yang datang dan berharap itu adalah langkah kaki suaminya. Benar saja, langkah kaki itu adalah milik Danar.
“Kak, kau sudah pulang,” ucap Syarah sambil menyalami Danar dan mengambil alih jas yang berada dalam genggaman suaminya.
“Kamu mau mandi dulu Kak? Biar aku siapkan air hangat untukmu mandi,” tanya Syarah sambil mengikuti langkah Danar menuju kamar mereka.
“Tidak perlu, aku bukan orang sakit yang harus mandi dengan air hangat,” jawab Danar.
“Baiklah, jika memang tidak mau mandi dengan air hangat. Bagaimana kalau aku buatkan wedang jahe saja biar badannya hangat?” tanya Syarah menawarkan.
“Hmm,” gumam Danar yang mulai memasuki kamar.
Danar yang sedang berkutat melepaskan kancing kemejanya tak luput dari pantauan Syarah. Segera saja Syarah membantu melepaskannya agar Danar bisa segera mandi, tapi tidak untuk bagian bawah, biarlah Danar saja yang melakukannya.
Syarah kemudian mencari pakaian ganti untuk Danar kenakan. Sedang Danar pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari segala aktivitas yang dia lakukan hari ini.
Syarah berganti pakaian setelah dia berkutat pada masakan tadi. Dia khawatir jika badannya mau masakan akan membuat Danar kurang nyaman bila berada di dekatnya.
Dilihatnya Danar keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil untuk mengelap kepalanya yang masih basah, sepertinya baru selesai keramas. Syarah menghampiri suaminya dan membantu mengeringkan rambut Danar. Danar hanya diam menurut dan menikmati usapan Syarah di kepalanya.
Karena posisi Syarah berhadapan dengan Danar yang wajahnya sejajar dengan perut Syarah membuatnya tanpa sadar menarik badan Syarah menempel padanya. Danar menenggelamkan wajahnya pada perut Syarah yang datar. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh Syarah yang memabukkan untuknya.
Syarah hanya terdiam menahan geli diperutnya, namun tiba-tiba Danar menggelitiki perut Syarah.
"Aduhh Kak. Geli sekali, ampun ampun sudah berhenti," ucap Syarah.
Syarah tertawa geli mencoba melepaskan diri dari kukungan Danar pada tubuhnya. Tapi apalah daya, tubuh Syarah terlampau kecil dibandingkan Danar yang bertubuh besar jelas akan kalah tenaga.
"Hahaha kak am-punnn sudah lepaskan, geli sekali huhh huhh," ucap Syarah yang tak kuat karena tertawa terus.
Danar tidak memperdulikan Syarah yang memohon untuk dilepaskan. Melihat Syarah seperti ini justru membuat dia semakin bersemangat untuk menggoda Syarah.
Karena terlalu berasyik masyuk pada kegiatannya membuat mereka tak sadar sudah terjatuh ke kasur. Syarah jatuh dengan posisi Danar berada di atasnya.
Posisi wajah mereka yang sejajar membuat Danar memandang wajah Syarah yang memerah karena kegelian.
Syarah masih mengatur nafasnya yang terengah-engah setelah tertawa lama. Hingga tak menyadari ada seseorang yang menatapnya dengan tajam sedari tadi.
Cupp. Awalnya Danar mengecup hidung Syarah. Syarah yang terkejut membuka matanya kaget.
__ADS_1
"Cantik," puji Danar tepat di telinga Syarah.
Mendengar pujian ini membuat Syarah merona merah. Hingga Danar mengecup bibir merah alami Syarah. Tak lama setelahnya, hingga memori itu muncul dan berputar bagai kaset yang diputar dalam kepalanya.
Melempar Danar ke memori yang akan menghancurkan kehidupannya.
Dia segera melepas Syarah dan mencari sesuatu didalam laci nakas samping kasurnya. Ditelannya 2 pil itu dengan air hingga tandas. Keringat dingin langsung mengucur dari dahinya. Masih dengan sisa-sisa kesadarannya, Danar mencari pakaian dan memakainya dengan cepat.
Setelah mengenakan dia meraih kunci mobil dengan kasar dari meja. Danar harus segera pergi menjauh sebelum bertindak tanpa kendali yang bisa berakhir menyakiti istrinya.
Melihat kepergian Danar dan segala yang dilakukannya membuat Syarah menangis tersedu dan hendak menahan Danar dari kepergiannya. Tapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga Danar yang berbadan besar. Syarah tak bisa mengerjar Danar dengan kondisinya ini.
Dia hanya bisa menangis di balik pintu kamar yang sebelumnya di tutup kasar oleh Danar hingga menimbulkan suara berdebam cukup keras memekakkan telinga. Syarah luruh ke lantai menangis sejadi-jadinya. Kedua kalinya, mereka gagal melakukan hubungan dengan kondisi Danar yang sangat membuatnya terluka.
Sempat dilihatnya Danar yang menelan obat membuatnya semakin menangis. Sebenarnya apa kesalahannya pada suaminya hingga untuk kedua kalinya Syarah harus melihat keadaan suaminya yang tak wajar setiap mereka akan melakukannya.
Apa yang sedang terjadi saat ini? Siapa yang salah dalam hal ini? Apakah Syarah atau Danar?
Syarah yang sudah kelelahan menangis memunguti pakaiannya yang berserakan akibat perbuatan Danar sebelumnya. Dia juga mengemasi barang-barang yang sebelumnya dikacaukan Danar untuk mencari obatnya.
Syarah yang pikirannya sedang kacau sampai tidak bisa memikirkan obat apa yang diminum oleh suaminya itu. Dia hanya berusaha menguatkan hati dan membersihkan ruangan yang kacau akibat perbuatan Danar. Kemudian jatuh tertidur akibat kelelahan menangis.
Sementara Danar membawa mobilnya dengan serampangan sambil menghubungi seseorang dan memintanya untuk menemui Danar di tempat yang diinginkannya.
Sesampainya di tempat yang ingin dituju, Danar segera mencari tempat paling ujung dan pojok dimana jarang sekali ada yang berlalu lalang. Tempat yang selama ini sangat dia hindari dengan berbagai macam alasan walau sudah dipaksa. Namun kenyataannya malah Danar yang minta datang kemari.
“Weits, Bro. Aku benar-benar tidak percaya kau memintaku datang menemuimu di tempat yang kau bilang terkutuk,” ucap seseorang yang tadi dihubungi Danar untuk menemuinya.
“Diam! Aku memintamu kemari untuk menemaniku. Jadi jangan banyak bicara!” bentak Danar karena suara musik terdengar dengan volume tinggi.
“Bro, kita sudah kenal lama. Apa yang terjadi padamu hah? Jika bukan karena hal serius tidak mungkin kau seperti ini,” tanya orang tersebut.
Danar kini mulai menegak minuman yang selama ini dia jauhi karena memang dia lemah saat mengonsumsinya. Gelas demi gelas tandas olehnya yang bahkan kini sudah satu botol dihabiskan olehnya seorang diri.
“Dim, memori sialan itu tak kunjung lenyap dari kepalaku,” ucap Danar tiba-tiba.
“Apa maksudmu?” tanya orang tersebut yang bernama Dimas.
Dimas adalah sahabat Danar sedari SD hingga kini. Kelakuan Dimas benar-benar liar dan seenaknya sendiri. Tapi hanya pada Dimaslah Danar bisa menceritakan dan terbuka.
“Kurasa aku tak akan pernah bisa melakukannya dengan istriku,” lirih Danar yang bisa ditangkap oleh Dimas.
Hai temen-temen,
Terima kasih sudah membaca novel 'Perawan Tua Istri Sang Duda', nantikan kisah mereka selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komen dan like untuk mendukungku agar terus berkarya🥰🥰
__ADS_1