
Selama 7 bulan ini, Risa menjalani kehamilannya seorang diri dengan tetap bekerja dan beraktivitas seperti biasa.
Tidak ada yang mengetahui kehamilannya, Risa sangat pandai menutupi kehamilannya agar tidak ada orang yang tahu. Meski begitu dia tetap memperhatikan kesehatan kandungannya supaya tidak kekurangan gizi dan nutrisi yang sangat penting untuk tumbuh kembangnya.
Risa juga rajin berkonsultasi dengan dokter kandungannya agar tidak ada kekurangan pada bayinya. Dia menjaga pola makan yang sempat turun dalam masa kehamilan, aktivitasnya pun ikut dia perhatikan agar tidak kelelahan yang bisa menyebabkan dia harus bad rest dan juga dia memilih pekerjaan yang tidak menuntut banyak tenaga yang diperlukan.
Sehingga semenjak kandungannya menginjak usia 4 bulan dan mulai terlihat menonjol, Risa mengajukan pengunduran diri dari perusahaan. Dia yang sudah diangkat menjadi pegawai tetap dan sudah dianggap senior membuat perusahaan awalnya mencegah Risa keluar tapi dia yang tetap memaksa keluar pada akhirnya perusahaan tidak dapat lagi mencegah. Seperti manager Risa sendiri yang awalnya tidak menyetujui pengunduran diri dari pegawai yang dia anggap berkompeten, namun kembali lagi pada Risa yang sudah menghendakinya sendiri.
“Mbak ini pesanan bajunya masuk 100 pieces lagi, tapi di gudang hanya tersisa 89 saja. Terus harus bagaimana ini
Mbak?” tanya seorang perempuan berjilbab.
“Kamu sudah menghubungi pihak konveksinya?” tanya Risa yang sedang mengatur pernapasan.
“Sudah Mbak, tapi di sana juga sudah kosong. Kalau pesanan mencapai 1000 pieces baru nanti akan diproduksi lagi Mbak,” jawab perempuan berjilbab.
“Ya sudah, katakan saja pada costumer kalau di tempat kita tinggal segitu. Kalau dia mau menunggu 2 minggu lagi kita bisa penuhi tapi kalau tidak mau ya sudah,” jawab Risa sambil melakukan gerakan yoga.
Risa yang diajak bicara kembali melakukan gerakan yoga yang dipercaya bisa membantu pada proses kelahiran
nantinya. Sedang perempuan yang bertanya tadi setelah mendapat jawaban pamit kembali ke tempatnya meninggalkan Risa yang sedang menikmati waktu untuk berolahraga.
Dengan peluh yang bercucuran membasahi pakaian yang dia pakai, akhirnya Risa menyudahi olahraganya pagi ini. Dia segera menuju kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian yang bersih. Setelah selesai membersihkan diri, Risa segera keluar kamar menuju ruang tengah yang bergabung dengan ruang makan. Ruang tersebut sudah ada dua orang perempuan yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Perempuan satu sedang sibuk membungkus pakaian dalam plastik yang sudah bertumpuk membentuk gundukan pakaian. Sedangkan yang satu sedang sibuk dengan mengoperasikan computer dan beberapa hp di sekitarnya. Pakaian-pakaian tersebar dimana-mana dan plastik-plastik yang beragam ukuran.
“Selamat pagi girls, kalian sudah makan belum?” tanya Risa yang melihat jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi.
“Selamat pagi Mbak, kita sudah sarapan tadi. Oh iya itu tadi aku beli 3 bungkus, masih ada 1 bungkus bubur ayam kalau Mbak Risa mau,” jawab perempuan berjilbab yang tadi fokus dengan komputernya.
__ADS_1
“Beneran? Terima kasih ya.” Risa dengan semangat segera ke meja duduk di samping perempuan berhijab di meja makan untuk mengisi perut yang sedari tadi terus meronta ingin diisi.
Risa melahap bubur yang dipesankan oleh perempuan itu dengan lahap dan sangat menikmati makanan yang masuk dalam mulutnya.
Sejak Risa memutuskan keluar dari pekerjaan, dia memulai usaha online shopnya dengan modal uang yang dia dapatkan dari hasil bekerja yang sangat terbatas. Awalnya dia mengalami kesulitan untuk bisa mengembangkan usahanya. Namun lama kelamaan dia Tuhan membantu Risa dan pada akhirnya usaha yang dia jalani bisa berkembang pesat seperti sekarang.
Dalam waktu 3 bulan dia sudah bisa merekrut 2 pegawai yang bekerja untuk bisnis online shopnya. Sedikit demi sedikit dia menyisakan uang yang dia dapat untuk kelahiran bayi dan masa depan bayinya di samping biaya operasional pekerjaan barunya. Sekarang dia juga sudah bisa mengontrak sebuah rumah sederhana dan asri yang dia tinggali sendiri sekaligus sebagai tempat untuk usahanya.
**
Selama tujuh bulan berlalu ini, Syarah menikmati waktunya sebagai istri dari Danar dengan bahagia. Jika orang lain
yang tidak tahu dalam akan rumah tangganya pasti akan menilai jika mereka pasangan yang bahagia dan bisa membuat orang lain menjadi iri untuk bisa seperti mereka. Namun jika mereka mengetahui dalam rumah tangga Syarah, mungkin mereka akan menolak kehidupan sepertinya.
Menikah dan memiliki suami tampan dan kaya raya tentu menjadi dambaan banyak orang. Hanya Syarah yang mengetahui pahitnya rumah tangganya. Hidup bersama sebagai pasangan suami istri selama hampir setahun ini membuat Syarah merasa sebagai istri yang kurang sempurna.
Mereka sebagai suami istri yang sah secara hukum dan agama belum pernah sekali pun melakukan hubungan suami istri.
“Mau ngapain sih?” tanya Danar dengan malas.
“Sudah ayo bangun dulu,” ajak Syarah.
Akhirnya Danar turun dari sofa mengikuti kemana istrinya pergi dengan malas. Hari libur niatnya dia ingin bermalas-malas dengan menonton film action favoritnya setelah sehari-hari disibukkan dengan pekerjaan. Malah diganggu dengan istrinya yang datang tiba-tiba dan memaksa.
“Kamu mau ngapain sih bawa aku ke halaman?” tanya Danar pada Syarah yang sudah berjalan di depannya.
Syarah tidak menjawab dan terus berjalan ke tempat dimana dia ingin membawa suaminya dan berhenti di halaman belakang tepat di pokok dimana banyak sekali sayuran dan buah-buahan yang Syarah tanam semenjak dia tinggal di rumah Danar.
“Ini,” ujar Syarah sambil menyerahkan sebuah kapak.
__ADS_1
“Mau ngapain sih Sya?” tanya Danar.
“Ngapain lagi, potongin batang-batang ini buat penyangga melonnya,” jawab Syarah menunjukkan tanaman melon yang mulai merambat.
“Apa? Ngaco kamu. Buat apa di sini ada tukang kebun kalau kamu nyuruh aku buat motongin batang kaya begini,” ujar Hussein melempar kapak ke tempat semula.
“Lah kok tidak mau? Kamu tidak mau bantuin istri kamu?” tanya Syarah dengan tajam menatap suaminya.
“Tidak, ganggu orang nonton saja,” gerutu Danar ingin kembali ke ruang bioskop di rumahnya.
“Satu langkah kamu pergi, aku tidak akan mau mengantarkan makan siang lagi ke kantor!” ucap Syarah mengancam suaminya.
Danar yang mendengar ancaman dari istrinya kaget, ‘Beraninya dia mengancam aku,’ batin Danar.
“Sya, tapi tidak dengan memotong batang. Suruh saja tukang kebun,” ujar Danar mengalah.
“Tidak potong dulu batangnya, tidak banyak kok,” kata Syarah tak mau mengalah.
“Aku tidak mau, yang lain saja,” ujar Danar.
“Benar tidak mau?” tanya Syarah dengan melipat tangan di atas perut.
“Tidak, jika kamu mengancam aku juga bisa menutup toko bungamu dan tidak akan mengizinkan kamu untuk bekerja lagi. Bagaimana?” tanya Danar dengan penuh ancam.
Mendengar ancaman balik dari suaminya membuat Syarah kelimpungan, jika Danar sudah berkata demikian itu artinya adalah keputusan mutlak dari suaminya yang tidak bisa diganggu gugat. Danar pasti akan melakukan apa yang dia ucapkan.
“Huh … ya sudah batangnya biar tukang kebun yang mengurus. Tapi kamu tetap harus membantu aku,” ujar Syarah dengan senyum mautnya.
Danar tentu tidak bisa menolak istrinya karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menolak apa pun keinginan istrinya. Dengan cukup terpaksa dia mengikuti perintah Syarah memakai sarung tangan, istrinya menyuruhnya untuk membantu membuat pupuk dari kotoran yang akan di aplikasikan dengan tanah supaya tanaman menjadi semakin subur. Dia memang merasa jijik tapi dia tidak menolak bahkan saat Syarah menyuruhnya menanam bunga yang rasanya sangat feminim dan tidak cocok untuknya.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Dukung dengan ****like, vote dan komen