Perawan Tua Istri Sang Duda

Perawan Tua Istri Sang Duda
15. Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari berlalu terasa begitu cepat bagi keluarga Wijaksana dan keluarga Syarah. Mereka menyiapkan kebutuhan pernikahan dengan kilat.


Pernikahan yang akan diadakan di dua tempat yaitu, akad akan dilangsungkan di masjid kota sedangkan untuk resepsi pernikahan akan dilangsungkan di hotel berbintang. Sementara untuk akad dari keluarga Wijaksana akan mengundang kerabat dekat dan rekan kerja tertentu, sedangkan keluarga Syarah hanya akan mengundang keluarga dekat saja berhubung jarak antara tempat pernikahan dan tempat tinggal keluarga Syarah sangat jauh.


Semenjak mengetahui mahar permintaan Syarah malam itu, Danar yang tertantang selalu belajar menghafal satu surat sesuai keinginan Syarah. Danar memang bukan orang yang taat beragama, untuk menghapal satu surat dia sedikit kesulitan.


Jadilah di setiap kesempatan dia menggunakan waktunya untuk menghafal beberapa ayat. Otak cerdas miliknya tetap saja harus bekerja ekstra saat diminta menghapal. Jika berhubungan dengan bisnis dan angka tentu sangat mudah untuknya.


Sedangkan untuk tempat ibadah dia baru saja mendapat infomasi dari anak buahnya mengenai lokasi yang cocok untuk mendirikan tempat ibadah. Dia akan membangun sesuai dengan permintaan Syarah.


Pada lain sisi, Syarah juga terlampau sibuk untuk mempersiapkan pernikahan yang akan menggunakan adat Jawa sesuai kesepakatan bersama. Kesibukan Danar dan Syarah membuat mereka cukup jarang bertemu karena memang sejak setelah lamaran keluarga Syarah diminta untuk tinggal di kompleks perumahan milik pak Pandhu yang belum pernah ditempati.


*****


Hari ini adalah hari pernikahan Syarah dan Danar, sejak subuh Syarah sudah mulai dirias pengantin begitu pula keluarga Syarah. Bahagianya karena keluarga kakaknya dan adiknya dapat hadir di pernikahannya yang mendadak ini.


Sementara di kediaman keluarga Wijaksana, terlihat Danar sibuk merapalkan hafalan surat yang sudah seminggu ini dia hafalkan. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya dengan tidak dapat menghafalkan dengan lancar.


Tidak pernah Danar setegang ini dalam hidupnya, bertemu dengan lawan berat bisnis dan berbagai hal yang menegangkan dia lewati dengan mudah. Namun untuk pernikahan ini dia dilanda kegugupan.


Satu jam sebelum acara pernikahan dilangsungkan, keluarga Wijaksana segera berangkat menuju tempat akad. Sama halnya dengan keluarga Syarah juga mulai bersiap menuju tempat tujuan.


Syarah juga merasakan kegugupan dengan sangat, ia tahu Danar bukanlah orang yang sangat taat agama. Akankah Danar bisa memberikan sesuai mahar yang diinginkannya. Dia hanya bisa berdoa jika memang mereka berjodoh semoga Tuhan melancarkan pernikahannya.


*****


“Permisi, Nona sudah waktunya untuk akad,” ucap pegawai pengurus pernikahan.


“Bismillah ya, Nduk, semoga lancar ayo kita keluar,” ujar ibu Syarah kepada Syarah.


Syarah keluar menuju dalam masjid untuk melangsungkan akad ditemani oleh ibunya, ayah Syarah sudah berada di tempat sedangkan kakak dan adik Syarah juga sudah menempatkan diri.


Akad yang dilangsungkan pagi hari ini, Syarah terlihat begitu cantik dengan kebaya berwarna putih dengan hiasan Jawa. Syarah diarahkan duduk disamping Danar. Begitu juga dengan Danar yang terlihat sangat tampan dan berwibawa dengan berkap berwarna senada.


Naib meminta Danar untuk mulai membaca hafalan surat sebagai mahar pernikahan. Mendengar ini Syarah begitu gugup khawatir Danar tidak bisa menghafal dengan lancar. Kegugupan ini semakin memuncak kala Danar mulai mengeluarkan suara hafalan suratnya.


Syarah hanya bisa merapalkan doa dan menautkan tangan menahan gemetar. Hingga sampai akhir tidak ada kesalahan barulah dia menghembuskan nafas lega dan bersyukur dengan sangat. Dia tidak menyangka kalau suara Danar begitu merdu dan menghangatkan hati siapapun yang mendengarnya.


Air mata penuh rasa syukur keluar karena terenyuh dan lega. Para tamu yang hadir di acara akad ini juga menitikkan air mata haru. Kagum dengan Danar yang tampan dan bisa menghafal surat.


Setelahnya, acara akad yang sesungguhnya dimulai.


“Saudara Danar Putra Wijaksana bin Rama Wijaksana saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Syarah Haura dengan maskawinnya berupa hafalan surat dan masjid dibayar tunai,” ucap ayah Syarah ijab.


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Syarah Haura binti Muhammad dengan maskawinnya yang tersebut dibayar tunai,” ucap Danar.

__ADS_1


“Bagaimana saksi sah?” tanya naib.


“Sah, sah,” jawab saksi.


Syarah sangat bersyukur ijab qabul dapat berlangsung dengan lancar tanpa hambatan apapun. Dalam hati, dia berdoa semoga pernikahannya diliputi kebahagian bersama dengan Danar. Danar juga bersyukur ijab qabul dapat berlangsung dengan lancar tak terasa air mata menetes di matanya.


Dia lega karena dapat menghafal dengan lancar dan mengucapkan qabul dengan lancar pula. Kemudian menandatangani buku nikah oleh keduanya yang dilanjut foto berdua.


Dilanjut pemberian mahar oleh Danar kepada Syarah. Sebenarnya, diluar mahar permintaan Syarah, Danar memberikan mahar lainnya berupa perhiasan, alat sholat dan perlengapan lainnya yang tentu saja mewah.


“Silahkan memasangkan cincin,” ucap pengurus pernikahan.


Danar memasangkan cincin di jari manis Syarah, baru kini dia dapat melihat dengan jelas wajah Syarah. Bagi Danar, Syarah terlihat sangat cantik dan menawan. Sedangkan Syarah tidak berani menatap Danar yang terasa memandangnya dengan lekat.


Kini giliran Syarah yang memasangkan cincin di jari manis Danar, dia tak menyangka kini statusnya berubah menjadi istri orang. Jalan hidup yang tak pernah diduganya, dia yang tidak pernah berpacaran dengan siapapun tapi tiba-tiba dinikahi seseorang. Sungguh diluar rencana dan tak terduga.


Syarah begitu gugup saat menyalami Danar yang kini menjadi suaminya, imam dalam hidupnya. Danar kemudian mencium kening Syarah dan berbisik.


“Aku bukan orang yang sempurna, tapi hadirmu menyempurnakanku, Istriku,” bisik mesra Danar di telinga Syarah yang hanya bisa didengar mereka berdua.


Mendengar ini, Syarah tersipu malu dan hanya mengangguk. Dia memberanikan diri untuk melihat Danar, dipandangnya Danar yang begitu tampan tersenyum memandangnya balik.


Saat difoto, Danar merangkul pinggang ramping Syarah posesif dan kemudian dilanjut menghampiri orang tua Syarah dan pak Pandhu memohon doa restu. Para tamu kemudian menyalami satu per satu.


*****


Sesampainya di kamar, Syarah mulai melepaskan pakaian yang melekat di badannya. Syarah merasa cukup kesulitan saat akan melepas karena kepalanya terasa berat dengan sanggul jadi menyulitkan untuk menunduk. Danar yang melihat ini menghampiri Syarah di kursi rias.


“Kalau kesulitan gunakan bibirmu untuk bicara meminta tolong,” ucap Danar dibelakang kepala Syarah dengan memandang di cermin.


“Tidak tidak, aku bisa sendiri,” ucap Syarah yang gugup dan ingin segera menuju walk in closet.


“Tidak perlu gugup begitu, kita sudah sah,” ucap Danar yang memeluk Syarah dari belakang.


Danar benar-benar membantu melepaskan kebaya Syarah, setelah terlepas dia membalikkan Syarah menghadapnya. Sedari tadi Danar sudah menahan diri untuk tidak tergoda dengan bibir merah Syarah hari ini. Mereka mulai menikmati, terlebih Syarah yang tidak punya pengalaman sama sekali hanya menerima saja biar Danar yang bekerja.


Hingga suara bel memutus aktivitas mereka saat itu.


“Pakailah, biar aku yang membukanya,” ucap Danar dengan memberikan piyama yang berada di meja.


“Maaf, Tuan, kami kemari untuk membantu nona mempersiapkan diri untuk resepsi nanti,” ucap pegawai pengurus pernikahan.


“Baik, masuklah,” jawab Danar kemudian berlalu untuk mengganti pakaian dan keluar kamar.


“Waduh maaf sepertinya kehadiran kami mengganggu aktivitas pengantin,” ucap salah satu diantaranya melihat lipstik Syarah yang belepotan tanpa disadari Syarah.

__ADS_1


Syarah yang tersipu malu ketika menengok ke cermin baru menyadari kebodohannya ini. Lalu dia segera menghapusnya, dia benar-benar malu dengan orang di kamarnya.


Setelah itu, mereka membantu Syarah untuk merias diri dan berdandan untuk acara resepsi mala mini. Mereka akan membuat Syarah yang cantik natural dengan didukung dengan penampilan yang akan menunjang penampilannya sebagai ratu malam ini.


*****


“Sudah akan mendekati waktu resepsi, makanlah jangan sampai kau pingsan kelaparan,” ucap Danar melihat waktu resepsi setengah jam lagi.


“Tunggu sebentar, aku ambilkan makanan dulu untuk Mas dan Mbak,” ucap Syena, adik Syarah yang saat itu duduk disamping kakaknya.


“Terima kasih, Dek,” ucap Syarah pada adiknya.


Adiknya kembali dengan 2 piring makanan untuk kakak dan kakak iparnya.


“Kak, kau juga makan,” ucap Syarah menyodorkan piring makanan ke Danar.


“Oke tapi suapi aku, aku masih mengecek email,” kata Danar yang sedang mengecek pekerjaannya.


“Hm baiklah, Bapak,” jawab Syarah yang dibalas pelototan dari Danar.


“Iya iya, Kakak,” ucap Syarah jengah.


Mereka makan sepiring berdua hingga tandas, sebagai amunisi resepsi sebentar lagi. Setelah selesai Danar mencuri kecupan pada istrinya, dia bilang sebagai hidangan penutup. Syarah melayangkan cubitan kecil di pinggang Danar sebagai balasan, bagaimana bila ada yang tahu kelakuan Danar tadi.


*****


Di ballroom yang luas dengan didesain oleh wo ternama memang membuat mata siapapun terkagum. Kebanyakan undangan berasal dari keluarga Wijaksana, rekan kerja dan kerabat. Tak banyak yang Syarah undang karena dia disini belum memiliki banyak teman.


Semua yang mendapat undangan terkejut karena berita pernikahan ini belum terhunus ke publik. Acara pertunangan pun dilangsungkan secara privat dan tertutup sesuai permintaan pak Pandhu. Jadilah hampir sebagian besar menghadiri pernikahan cucu sekaligus penerus tunggal keluarga Wijaksana yang memiliki bisnis dimana-mana.


Sejak kabar pernikahan ini tersebar, banyak orang yang tak menyangka bahwa Danar akan menikahi gadis muda seperti Syarah yang konon bukan berasal dari golongan atas. Ada yang menyayangkan pernikahan mereka, tapi ada juga yang sangat mendukung dan mendoakan kebahagiaan mereka.


Gaun yang dipakai Syarah nampak begitu cantik dan anggun, membuat siapa pun terpesona. Selama ini Syarah tidak pernah berdandan berlebihan, dia selalu memakai sesimple mungkin dan tidak mencolok. Danar memakai setelan berwarna hitam, walaupun formal seperti saat ia pergi bekerja tapi malam ini terasa berbeda, bosnya itu terkesan santai.


“Selamat malam, terima kasih kepada tamu undangan yang hadir pada pernikahan kami,” ucap Danar membuka sambutan kepada para undangan.


Setelah memberikan sambutan yang cukup panjang layaknya bos yang sedang meeting dengan karyawannya pesta dilangsungkan dengan mewah.


“Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai suami, terima kasih sudah membantuku mewujudkan permintaan kakekku, terima kasih sudah menjadi istriku,” ucap Danar kepada Syarah yang dilanjut dengan kecupan mesra di depan para tamu undangan.


Hal ini disambut dengan tepukan riuh dari tamu undangan yang hadir. Mereka mengantri untuk dapat memberikan ucapan kepada mempelai yang berbahagia.


TBC


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak di komen dan berikan like sebagai bentuk dukungan pada karya pertama saya

__ADS_1


__ADS_2