
saat berbalik xia mengencup pipi kiri Fu Haifeng, membuat sang empu membludak merah pada wajahnya. tak. bisa dipungkiri kini dirinya benar-benar senang bisa mengerjai orang itu.
" anggap saja ucapan terimakasih, " ucap xia lemudian kembali berjalan meninggalkan pemuda itu mematunh dengan perasaan tak karuan.
" apa ini nyata? "
" dewiku mencium pipiku?!! " teriak Fu Haifeng saat xia sudah jauh. fia amat senang bahkan dia pura-pura pingsan dan untung tak ada yang melihat dia seperti itu. kini hatinya berdebar dan jantungnya berdetak 3 kali lebih cepat.
" aku tak akan membiarkan bekasnya hilang!! " ucap Fu Haifeng yakin dan mulai mengelus pipinya yang dicium oleh Xia. sudah jalan bersama dan kini pipinya di cium sungguh doa yang terkabul. batin Fu Haifeng, mungkin benar jika berdoa saat bintang jatuh akan menjadi nyata.
berbeda tempat dan suasana hati dengan Fu Haifeng kini sesosok pria tengah terbakar jenggot, matanya melotot kayak mau copot, wajah merah padam seperti bom akan meledak. seperti dineraka jahanam rasanya saudara, teebakar cemburu tanpa ikatan.
xia melangkah kaki dengan santai, tak ingin ke dalam kamarnya karna ingin mengelilingi taman. belakang istana yang tak ada orang, ini hari terakhir xia di Kerajaan Liang. dia sudah beberapa hari disini dan dia harus kembali. sudah 2 bulan dia tak ada di Kerajaan Ming lebih tepatnya kediaman jenderal Ming.
meski sudah digantikan oleh dayangnya namun tetap saja dia harus kembali. dia pasti sedang akan bersiap untuk dimarahi jiejie nya sian, bagaimana tidak 2 bulan harus menjawab pertanyaan dari wanita jalan istri jenderal mantan ayahnya itu.
selir yuan siang ****** itu dan anaknya rong pasti hanya akan percaya. apalagiereka mendengar kalo xia sakit kulit dan bisa mewabah pada mereka, pasti mereka tak sudi menuju paviliun milik xia.
__ADS_1
xia terus mengedarkan pandangan kesetiap sudut taman itu, sebuah tempat peristirahatan kecil diatas sungai tengah danau, beberapa pohon yang masih rindang, dan taklupa beberapa bunga yang tumbuh liar ditaman belakang ini.
xia menuju tempat istirahat tengah sungai itu dan duduk disana. dipandangi pantulan bintang diatas air yang tenang itu. xia melmparkan batu dan memantul 7 kali diatas air.
kebiasaan yang sering ia lakukan di kehidupan sebelumnya. sejenak saat ia memejamkan mata dia teringat dengan beberapa memori dari miliknya dan putri Xia yang sebenarnya.
ternyata dua perempuan yang sama, kehilangan keluarga, kasih sayang, perhatian, dan rasa cinta. namun perbedaannya jika putri Xia mudah ditindas, lemah, penakut sanagat terbalik dengan Aila yang barbar, kejam, berhati dingin, dan menindas dua orang dengan masalalu sama watak yang beda dalam satu tubuh.
tak lama mata tertutup. dia masuk kedalam alam mimpinya.
" mama... ayok main lagi.. "
" ah.. papa curang.. mama lihat papa curang... " tangisan anak kecil yang mengadu pada mamanya karna papanya. ya, anak itu adalah aila atau putri xia yang sekaran ini. bukankah indah? namun itu demua harus hilang dalam hidup gadis itu.
dari atas pohon sesosok pria menatap xia dengan lekat, kecantikan yang tak bisan untuk siapapun menatapnya.
" turunlah kau jangan melihatku! " ucap cia masih dengan memejamkan mata, xia mampu merasakan kehadiran musuh yang dekat dengannya. dia tau bahwa dari tadi dia diikuti dan di intai seseorang.
__ADS_1
" ternyata nona Xia sangat peka terhadap calon suami ya... " ucap pria itu yang ternya pangeran mahkota zu Liang. melangkah mendekat kearah xia.
" apakah tugas pangeran mahkota sangat sedikit hingga ada waktu mengintai aku yang mulia? " tanya xia tanpa berdiri dan memejamkan mata. dia malas untuk berhadapan dengan pangeran satu ini.
" apakah seru jalan-jalan anda di Kekaisaran ini? " tanya pangeran mahkota memulai topik. xia yang mendengar itu berdiri dan menuju pembatas jembatan sungai.
" tentu aku dan Fu gege berjalan ke kota, makan bersama, dan menikmati bintang jatuh bersama sangat menyenangkan, " ucap xia dengan enteng namun tak dengan pangeran mahkota yang mendengar panggilan permaisurinya untuk sahabatnya yaitu gege( kakak lelaki, dipanggil untuk punya hubungan dekat bisa kekasih untuk tak sedarah atau adik untuk sedarah) .
" sepertinya sangat menyenangkan ya... " ucap pangeran mahkota menanyakan kembali dengan harapan jawaban yang berbeda. namun sayang jawabannya tetap sama.
tak lama tangan mahkota menarik tangan xia dan menggapai pinggul ramping xia dan mendekatkan pada tubuhnya yang kekar.
dan.....
hai guyss maaf baru up ya soalnya author juga mikir untuk novel baruππ©
HAPPY READING
__ADS_1
DAN JANGAN LUPA SEKALI LAGI LIKE, KOMEN, VOTE, DAN FAVORIT ππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ