
hariyang indah pagi hati di paviliun dandelion milik. Xia. seorang hadis cantik yang sedari pagi buta telah terbuka matanya. terdengar suara goresan demi goresan pedang.
nampak gadis cantik tengah duduk di tepi kolah sambil mengasah sebuah belati kecil.
" HEH!! ANAK BURUK RUPA DIMANA KAU?!! " suara bagaikan sangkakala dari luar paviliun. xia hnaya sedikit tersenyum evil. dia melangkah menuju pintu luar.
PLAK
Suara tamparan keras mendarat di pipi selir yuan. xia mengibaskan tangan seperti setalah menampar tembok saking kerasnya make-up tebal selir ****** ini.
" kau berani sekali, dasar anak ******!! " ucap selir yuan sambil mengangkat tangan akan memukul xia, dengan sigap xia menghindar membuat selir itu terjatuh dengan posisi sujud pada xia.
"ouh.. ibu aku tak perlu sijud darimu jangan sungkan.. " ucap xia masih dengan wajah datarnya. xia masih belum membuka cadar di depan keluarga Jenderal ia ingin semua orang tau bahwa yang mereka hadapi lebih berbisa dari pada racun.
" kau!! menag tak ada bedanya dengan ibumu kau adalah ******!! " ucap yuan sambil pergi meninggalkan paviliun Xia.
" menarik... "
setelah pertunjukan kecil itu xia tertawa di dalam kamarnya. dia sangat seng bisa menmpar wajah tebal itu. walaupun, rasanya sangat sakit saat menamparnya.
" sangat seru, andai saja ada air pasti ku lunturkan dulu make-up baja selir itu... " ucap xia setelah tertawa lama. setelah itu dia mandi dengan air panas bercampur mawar dan sedikit zaitun.
1 jam dia mandi . pemandian air panas yang langsung mengalir dari ini air panas dari tengah hutan.
" bagaimana ini? sungguh membosankan jika seperti ini, "
" bisa auto meninggoy kalo terus di dalam paviliun ini, " ucap xia seperti anak kecil sambil berbaring dan mengangkat kakinya bergantian.
" kenapa bisa orang hidup disini, tanpa elektronik, hah.." dengus Xia.
"meimei, kenapa apalah ada yang salah? " tanya suan melihat xia yqng nampak menekuk bibir hingga langit ke. tujuh
" jiejie... bolehkah aku keluar, jika tidak aku benar-benar akan meninggal disini... " ucap xia sambil berakting nafas engap( kayak sesak gitu tang rasanya mau meninggoy)
" meimei... tapi aku akan menemanimu bagaimana? "
"tidak, aku ingin pergi sendiri dan bagaimana kalau selir yuan kesini dan mengacaukan paviliun? "
" itu akan sangat merepotkan untuk beres-beres, " ucap xia sambil memelas agar dirinya yang lemah, lesu, lelah, dan mager dalam kamar bisa bernafas keluar sendiri.
akhirnya suan mengijinkan dan pergilah xia tanpa aba-aba. dia memakai pakaian sederhana. dia tak mau menjadi pusat perhatian.
saat tiba kakinya melangkah dalam pasar dia menatap penjuru pasar. setiap ia melihat pasar pasti tidak jemu. jiwa belanja dan ingin tau menggelora dalam hatinya.
tak lama xia melihat pedagang roti yang telah tua. tak ramai orang datang. xia menghampiri pria itu dan duduk di sebelah gerai kakek itu.
tak lama ia mengetik sitar( gitar lama guys) dan melantunkan melodi yang sangat menenenangkan.
Karena yang menunggu hanyalah penyesalan
Tidakkah kamu tahu aku bukan hantumu lagi
Kamu kehilangan cinta yang paling aku cintai
Aku belajar hidup setengah hidup
__ADS_1
Sekarang kamu menginginkanku sekali lagi
Kamu pikir kamu siapa?
Berlari meninggalkan bekas luka
Mengumpulkan toples hati Anda
Mencabik-cabik cinta
Kamu akan melayang hilang
Dari es di dalam jiwamu
Jadi jangan kembali untukku
Kamu pikir kamu siapa?
Saya mendengar Anda bertanya di sekitar
Jika saya di mana saja dapat ditemukan
Tapi aku telah tumbuh terlalu kuat
Untuk pernah jatuh kembali ke pelukanmu
Saya telah belajar untuk hidup setengah hidup
Sekarang kamu menginginkanku sekali lagi
Kamu pikir kamu siapa?
Berlari meninggalkan bekas luka
Mengumpulkan toples hati Anda
Mencabik-cabik cinta
Dari es di dalam jiwamu
Jadi jangan kembali untukku
Kamu pikir kamu siapa?
Butuh waktu lama hanya untuk merasa baik-baik saja
Ingat bagaimana mengembalikan cahaya di mataku
Saya berharap saya telah melewatkan pertama kali kami berciuman
Karena kamu melanggar semua janjimu
Dan sekarang kamu kembali
Anda tidak bisa mendapatkan saya kembali
__ADS_1
Kamu pikir kamu siapa?
Berlari meninggalkan bekas luka
Mengumpulkan toples hati Anda
Mencabik-cabik cinta
Dari es di dalam jiwamu
Jadi jangan kembali untukku
Jangan kembali sama sekali
Kamu pikir kamu siapa?
Berlari meninggalkan bekas luka
Mengumpulkan toples hati Anda
Mencabik-cabik cinta
Dari es di dalam jiwamu
Jangan kembali untukku
Jangan kembali sama sekali
Kamu pikir kamu siapa?
Kamu pikir kamu siapa?
Kamu pikir kamu siapa?
(jar of heart (indonesian versi) (crisstina perri))
lagu yang tak pernah mereka dengar, dilantunkan dengan indah dan nada tinggi yang paling tinggi yang pernah mereka dengar. semua orang terpanh akan gadis cantik ini. walupun bercadar. ada yang memuji namun juga ada yang menjulid dan congornya tak terkondisikan.
saat xia melangkah pergi
" nona tolong mainkan 1 musik lagi, kamia akan membayar dengan penuh, "
" iya nona, suara anda dan lagu anda sangat unik, "
"kami akan memberikan koin nona, tolong bermainlah lagi, "
Xia menoleh dan sedkit tersenyum.
" saya akan bermain lagi, tapi saya tidak ingin uang kalian, bagaimana kalau kalian membeli roti dari kakek ini? mala saya akan bernyanyi kembali, " tawar Xia, semua orang mengangguk dan segera membeli roti sang kakek. sang kakek terkejut saat xia menyuruh orang membeli rotinya.
tak lama roti sang kakek telah laris manis habis. dan akhirnya xia kembali menyanyi dengan masih lagu yang sama. terpukau, terpesona, kagum, itulah gambaran untuk pikirann semua orang.
" akirnya aku bisa membeli obat dan makanan untuk cucu-cucu ku, " batin sang kakek sambil menitikkan air mata. Xia yang memang visa. membaca isi batin seseorang tersenyum. ia mendekati kakek tetsebut dan mengeluarkan sekantung penih koin emas. 500 koin emas, kakek yang tau jumlahnya tak bisa berkata-kata.
dua amat terkejut dengan jumlah uang ini. iluntuk rakyat biasa. uang emas ini bisa untuk hidup samapai 7 keturunan tak habis.
__ADS_1
kakek itu menangis sambil bersujud ke kaki Xia. tak Terima xia langsung mengkat kakek itu.
" kakek, tolongjangan pernah bersujud pada siapapun kecuali tuhan, anggap saja ini sebagai imbalan telah menyedoakan roti yang lezat ini, "ucap xia dengan senyuman lepas. sang kakek berbiat mengembalikan sejumlah unagnya. bagi kakek itu 500 koin emas terlalu banyak untuk nya, tak layak menerima itu. Xia dengan tegas menilak pengembalian uang itu. ia meminta agar sang kakek bisa lebih sejah tera dengan uang itu.