
Xia yang dipeluk seperti itu hanya membeku, dia tak tau harus bagaimana. Xia Hou yang melihat ekspresi adiknya yang nampak tak begitu senang bertemu dengannya segera melepaskan pelukannya.
" kau kenapa xia'er kecil, apakah kau tak senang gege mu ada disini? " tanya tuan Hao pada adiknya ini. sungguh tatapan dalam yang bahkan orang yang menatap mata itu tak akn bisa keluar dari dalamnya.
" tidak apa-apa gege aku hanya terkejut tadi, " ucap xia'er dengan tersenyum tipis mendengar itu Hao punerasa senang dan mengangkat pinggang xia dan memutarkan tubuhnya dan xia menjadi seperti baling-baling.
" aaaa... turunkannn!! " teriak Xia dan akhirnya Hao menurunkan adik kecilnya itu.
" xia'er mulai hari ini aku nerjanji akan ada di belakangmu dan tak ada yang akan menyakitimu, " kata yng sederhana namun membuat xia bisa sedikit tersentuh.
sejak dulu tak ada orang yang pernah mengatakan itu pada dirinya kecuali mama dan papa nya. kata-kata yang membuat airmatanya tak bisa ia kendalikan.
" baiklah, " ucap Xia sambil tersenyum kemudian ditariklah lehan Hao oleh xia. mereka menuju kandang kuda. mereka berdua menaiki kuda pilihan masing-masing dan melajukan kuda keluar dari kediaman jenderal.
saat dikota semua mata tertuju oada muda-mudi yang menaiki kuda itu, tuan muda Hao penerus jenderal dan Xia Lia putri jenderal yang membuat gempar seluruh Kekaisaran Ming karena rupa dan segala kebolehannya.
__ADS_1
"gege ayo kita berhenti di restoran itu, mereka adalah orang tuaku, " ucap Xia pada Hao. tentunya hal itu membuat sang kakak bingung, bagaimana adiknya menyebut pemilik restoran Hu adalah orangtuanya sedangkan enggan bahkan tidak ingin menyebut jenderal yang hakikatnya adalah ayah mereka.
" baiklah xia'er kecil, " ucap Hao dan mereka memberhentikan kuda di depan restoran itu. saat masuk pun pandangan orang-orang tak lepas dari mereka berdua.
" putri kecilkuu.. " teriak seseorang yang membuat kedua orang itu menoleh kearah sumber suara yang ternyata dari seorang wanita yang tak laian adalah Nyonya Hu.
" ibuu.... " ucap Xia juga dan langsung memeluk wanita paruh baya itu. interaksi anak dan ibu yang membuat Hao kaget dengan hal itu. sungguh dia tak pernah melihat Xia seperti ini pada ayahnya namun dia seperti ini pada Nyonya Hu yang bahkan bukan keluarga aslinya.
" sungguh putri durhaka kenapa lama tak berkungjung hmm?? " ucap Nyonya Hu sambil menjewer telinga Xia, mengaduh kesakitan itu yang dilakukan xia.
bagaimanapun dia dan Xia sama tidak mendapat kasih sayang orang tua.
" dia siapa putriku? " tanya nyonya Hu.
" dia kakak ku ibu dan anak tertuamu jika kau mau, hahah.. " tawa xia membuat Huo teekejut dan berharap sedikit bisa memiliki sosok ibu seperti Nyonya Hu.
__ADS_1
" tentu saja, jika tuan muda tifak keberatan, " ucap Nyonya Hu dengan senyuman hangat yang terukir dibibirnya.
" ibu, " ucap Hao membuat Nyonya Hu terkejut begitupula xia.
" ekhem, maksudku aku tak keberatan menjadi putra angkatanda Nyonya Hu, " ucap Hao membuat Xia dan Nyonya Hu Tergelitik hatinya. tangan Nyonya Hu mengusap rambut Hao dan hao menatap mata Nyonya Hu.
" baiklah sekarang keluarga Hu sudah mempunyai putra dan putri kecil mereka, " ucap Nyonya Hu, Hao yang tadinya merasa canggung kini merasa senang. walaupun bukan ibu kandungnya setidaknya dia tetap menyanyangi dia dan Xia yang sebatas anak angkat.
" baiklah putra putri ibu mari kita makan, kalian terlalu kurus ibu akan membuat kalian gempal.. " ucap Nyonya Hu dan menitah pelayan membuat makanan h tuk mereka termasuk tuan Hu.
mereka makan bersama dengan suasana keluarga. sungguh tak ada kecanggungan yang terlihat, mengalir dan harmonis keluarga kecil ini walaupun tak ada hubungan darah antara orang tua dan anak ini.
nostalgia masa lalu antara orang tua dan anak. rasanya hangat itu yang kini Xia dan Hao rasakan, sudah cukup lama mereka tak merasakan perasaan keluarga seperti ini. kasih sayang ibu dan guyonan Ayah.
happy Reading guyssss
__ADS_1