
setelah selesai makan dan mengobrol, xia dan Hou pamit untuk kembalu pada tuan dan Nyonya Hu orang tua angkat mereka. mereka kembali mengitari ibukota dengan kuda mereka, tak lama salah seorang kasim menghampiri kuda mereka.
" salam untuk tuan dan Nona muda kediaman jenderal, hamba memberikan surat undangan dari yang Mulia kaisar, " surat itu segera berada ditangan Hao, dia kaget melihat isi surat itu, tanpa memberitahu xia dia langsung mengajak adiknya itu untuk kembali menuju kediaman.
"gege apa isinya? " tanya xia sambil masih memacu kudanya.
" undangan makan bersama dengan raja untuk malam ini adik kecilku, " ucap Hao masih dengan fokus pada jalannya. mereka segera kembali ke kediaman menaruh kuda dan menemui ayah mereka.
sebenarnya Xia tak ingin bertemu dengan pria bodoh itu tapi ia dipaksa sekedar menemani gegenya itu. mereka sampai di depan ruangan jenderal. pengawal memberitau je deral dan jenderal memperbolehkan mereka masuk.
" salam ayah, apakah benar kita diundang untukacara makan malam Kekaisaran? " tanya Hao dengan menunduk tapi Xia tak akan melakukan itu. dia hanya berdiri bahkan membuang muka saat di tatap oleh pria bodoh yang masih ayahnya itu.
" putriku... " gumam jenderal melihat putrinya yang bahkan enggan menatap bahkan mengapa dirinya. ada rasa sakit yang ia rasakan di ulu hatinya. namun semua memang salahnya putri dari istrinya tercinta tak ia pedulikan, disiksa, dihina, diracun semua penderitaan yang seperti itu di alami oleh putri kecilnya itu.
" benar, jadi persiapkan diri untuk pergi Kekaisaran nanti malam, " titah jenderal pada kedua anaknya.
__ADS_1
" baik ayah, " balas Hao pada ayahnya dengan penuh sopan santun.
" Xia beri salam pada ayah lalu kita kembali, " ucap Hao mendekati adiknya itu. dia tidak tau apa yang di alami Xia, yang ia tau bahwa selir Yuan memang tak baik, tapi ia tak tau apa yang di perbuat oleh Selir itu pada adiknya.
" heh, aku tak memiliki ayah gege, dia sudah mati, " ucap Xia lalu pergi berlalu dari ruangan itu.
Hao mengejar adiknya meminta maksud dari ucapannya. dia tak pernah melihat adiknya berbicara seperti itu.
" xia'er apa maksudmu?! " tanya Hao dengan mencekal tangan adiknya nada dan cekalan itu jelas membuat Xia sakit hati. tak lama
" apakah sakit gege? "
" apa yang kau lakukan xia'er?!!! " tanya Hao dengan nada tinggi dia tam menyangka dirinya ditampar oleh adiknya yang ia kira lembut ini.
" heh, lalu bagaimana denganku? " tanya xia dengan menatap mata kakaknya itu.
__ADS_1
" BAGAIMANA JIKA KAU MENJADI AKU?!! PIPIKU SUDAH MATI TAMPARAN SEPERTI ADALAH MAKANAN BAGIKU TIAP HARINYA SAAT KAU TIDAK ADA APAKAH KAU TAU ITU BAJINGAN!!! " Teriak Xia penuh dengan marah pada lelaki dihadapannya.
Hao tak bisa berkata kata. kata-kata itu masih ia cerna apa maksudnya tamparan menjadi makanan tiap harinya. apa yang terjadisaat dia tak ada di kediaman selama ini.
" DAN KAU BERTANYA APAMAKSUD UCAPANKU BUKAN?!! YA AKU TAK AKAN MENGANGGAP PRIA TUA ITU AYAHKU KARNA AYAHKU SUDAH MATI!! "
" DIMANA DIA SAAT AKU DISIKSA? SAAT AKU DIRENDAHKAN DI HINA, DIKUCILKAN?!! APAKAH SEPERTI ITU PANTAS KU SEBUT AYAH HA!!!! " ucap xia kemudian berjalan meninggalkan kakaknya yang masih terpaku dengan hati yang sakit dengan tiap ucapan adiknya.
banyak tanda tanya apa yang di alami adik nya sampai seperti ini. dia memanggil salah seorang Pengawal kediaman Xia. diaeminta ia menceritakan semua yang terjadi pada adiknya.
menangis ituyang di lakukan Hao menyadari betapa bajingannya ia tadi pada adiknya, bukan membela malah menyalahkan adiknya yang sebenarnya adalah korban.
" xia'er maafkan gegemu ini, " ucap Hao dengan lirih dalam tangisannya didalam ruangannya. dia tak menyangka hidup adiknya se sengsara itu di dalam kediaman ini.
happy readingggggg
__ADS_1