
setelah menteri ning meng mengutarakan pendapatnya beberapa menteri lain seperti wan yang menteri dagang juga ikut memulai perebutan menantu ini.
" itu benar jenderal, putrimu ini sangat cantik juga sangat hebat sepanjang acara ini, " ucap wan yang yang diangguki sang putra wang son. kini yang lainnya juga ikut memuji xia. xia hanya mendecih, dapat dia ingat bagaimana dulu para menteri dan putranya ini berusaha dengan segala alibinya agar putra mereka tak berkontrak dengan xia dan menginginkan putra mereka berkontrak dengan saudara tirinya dulu.
sungguh sekarang nampaknya mereka sedang berpura-pura hal itu tak pernah terjadi dan berusaha menjilati air liur mereka sendiri, bukannya merasa senang xia tentunya sangat jijik dan engggan dengan tiap pujian busuk dari para menteri dan putra mereka itu.
sedangkan sang jenderal tentunya senang saat putrinya mendapat pujian itu, namun sejaklah sedari tadi saat ingin memegang tangan sang putri tepisan kasar lagi yang didapatkan dari putrinya, apakah begitu sakit hati sang putri padanya.
__ADS_1
penyesalan dan hanya penyesalan itulah yang ada dalam hati jenderal, dia membuat berlian yang dilahirkan susah payah oleh sang istri tercinta menjadi batu arang saat dirinya wafat, dan dia seakan tak peduli dengan berlian kecil itu. ini adalah karna pembalasan yang memang harus didapatkan dirinya itu adalah hal yang dipikirkan jenderal mendapat perlakuan seperti itu dari sang putri.
" apakah jenderal sudah mendapatkan kontrak pertunangan untuk putri mu? " tanya perdana ning meng pada jenderal sambil dia melihat xia dan kemudian beralih melihat putranya yang tak bisa menyiratkan rasa bahagia saat sang ayah menyatakan hal itu.
jenderal tersenyum dan menggeleng sebagai jawaban pertanyaan. tentu itu adalah hal baik untuk para perdana menteri ini, mereka ingin sekali xia menjadi menantunya, mereka menyesal kenapa dulu percaya pada selir yuan, tentang rumor xia. andai saja dulu mereka tak membatalkan pertunangan dan membuat banyak alibi mungkin salah satu dari mereka sudah menjadi mertua dari xia. mereka tak tahu saja xia bukanlah xia karena xia yang dulu telah lama mati dan sudah digantikan jiwa yang lainnya.
" tentu saja tuan perdana sekalian, sekarang pasti akan banyak orang yang mengajukan kontrak lamaran padaku, dan jika aku tidak salah ingat kalian dulu bukannya tidak ingin aku menjadi menantu kalian? " tanya xia membuat para perdana menteri itu gelagapan dan putra mereka menjadi sedikit murung mengingat hal yang sudah lalu itu.
__ADS_1
" dan jika aku ingat lagi, seharusnya adikku lah yang ingin kalian jadikan menantu? maaf maksudku anak ****** keluargaku lah yang ingin kalian jadikan menantu? " ucap xia kembali semakin membungkam para perdana menteri itu.
" juga aku tak pernah berbuat dengan menyetujui lamaran dari orang yang melupakan ucapan dan alibinya untuk menolak ku sebagai menantu di waktu yang lampau, aku akan ingat itu. aku permisi, " ucap xia kemudian melangkah menjauh dari gerombolan itu, para perdana menteri tak percaya bisa dikalahkan oleh seorang gadis kecil yang nampak sangat lembut itu. kata-kata sarkastik dari xia mampu membuat mereka bungkam hanya dengan beberapa kalimat saja.
tentu saja siapa yang bisa tidak bungkam dengan kata sarkastik xia yang tak memandang perasaan siapapun yang menganggu dirinya. tak segan membunuh bukanlah hal yang sudah seharusnya menjadi patokan mereka bagaimana nantinya mereka berhadapan dengan ke sarkastikan xia saat berbicara.
sungguh orang yang bodoh dan hanya mengandalkan status, itu adalah definisi yang tepat untuk para penjilat air liur dari tanah itu. jika saja ini adalah xia yang lama pastinya mereka juga tetap tak akan mau menjadikan xia menantunya, bahkan belum tentu xia akan mengikuti acara ini jika ibu tirinya masih hidup.
__ADS_1
xia berjalan menyusuri aula Kekaisaran mengambil beberapa kue dan memakannya dengan amat lahap tentunya xia sangat senang kemari karena rasa kue yang disajikan sangatlah sesuai dengan seleranya.