
xia terdiam dengan sejuta pertanyaan dalam otaknya, mulai dari bagaimana bisa laki-laki itu menembus sampai mendekrit bahwa dia adalah permaisuri miliknya. ouh, sungguh kesialan bertubi-tubi. ingin istirahat malah menambah kekesalannya.
dia tak menjawab pertanyaan para beast dan lanjut untuk pergi ke arena karena dia harus maju untuk pertandingan selajutnya. tentunya dia kini dengan zirah baru setelah berganti dari ruang galaxinya. dia melihat para peserta yang sudah berkumpul walapun pertandingan kurang 15 menitan lagi. ya, mungkin mereka sedang berbincang satu sama lain dengan ketertarikan mereka pada salah satu nona yang hadir.
pembicaraan yang tak berbobot ditelinga xia, dia mengasah belati kecilnya, diasahnya belati itu sampai seperti cermin bayangan yang ada di besi tajam itu. gagang hitamnya yang mengkilap membuat belati kecil mencolok. xia menatap tajam ke arah ring kosong itu, tersenyum kemudian mengembalikan belati itu di sakunya.
dia kembali menekuk kakinya sambil masih menatap ring kosong itu, tiba-tiba duduk seseorang disampingnya, tentu saja dia tahu sosok itu. laki-laki yang berhubungan darah dengannya.
__ADS_1
dia ikit diam dan menatap hampa kearah depan, dia masih berharap xia memafkan dirinya yang tak ada guna. sungguh dia benar-benar merasa brengsek sebagai kakak laki-laki yang tak bisa melindungi adik perempuannya. bangkan masih sempat mengkasari adiknya itu.
dia menatap xia dalam kemudian dia memeluknya tiba-tiba, xia tersentak kaget dengan hal itu, bagaimana tidak dia tak biasa dipeluk sang kakak dan alhasil dia hanya membeku dengan menatap kearah ring yang sampai sekarang masih bwlum ada apapun dan siapapun diatasnya.
" lepaskan tuan muda jenderal! " ucap xia kemudian berdiri dan menjauh dari kakaknya itu, dia naik keatas ring untuk bersiap tak butuh waktu lama para penonton kini juga sudah mulai memasuki area penonton kini kirsi penonton sudah mulai penuh dengan para mereka yang ingin melihat kelanjutan pertandingan para tuan muda tampan jagoan mereka.
sungguh kini xia bisa melihat para nona yang dengan malu bahkan terang-terangan membicarakan para tuan muda yang ingin mereka pikat. dengan kipas yang mereka tenteng ditangan mereka berudaha seelegan mungkin dihadapan para tuan muda incaran mereka.
__ADS_1
sungguh hal yang tak dibutuhkan oleh seorang xia, bahkan hanya melihat jalannya xia para tuan muda dudah seperti jatuh disyurga fana milik dewa. suaranya juga sepetti sutra yang sangat lembut, apalgi parasnya yang sudah tidak perlu diragukan sudah lima Kekaisaran tahu bagaimana cantiknya sang Dewi ini. bagaimana kehebatan dirinya yang bisa beladiri dan dalam ilmu pengobatan yang sangat jarang ada wanita yang tahu tapi gadis ini mampu mematahkan hal itu.
kini xia sudh berada berhadapan dengan musuhnya, tak lama pertandingan dimulai dentingan pedang itu bergemuruh, namun xia bahkan tak mengeluarkan tenaga yang berarti untuk ini, setelah dia merasa cukup bermain dia dengan segera menyerang lawan membuat lawannya kalah telak dari dirinya.
dan kini xia akan maju ke babak final, 2 pertandingan antara dia dan juan muda kang, dan kakanya melawan tuan muda guan.
para pangeran tentu saja menanti pertunjukan yang sebenarnya.
__ADS_1