Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 12 Pertemuan Resmi..


__ADS_3

Kelanjutannya.....


Suasana sore di kamar Rumah Sakit..


Hani yang masih tidak bisa percaya dengan kejadian barusan seperti merasakan mimpi, Andai Aldo duduk di dekatnya dia akan meminta adik laki laki itu untuk mencubitnya.


Sementara Ibu Hani kembali menanyakan keseriusan dari niat bundanya Shasa untuk menjodohkan anak gadisnya dengan Arman, adik laki laki Arni.


" Tidak kah sebaiknya kau minta dulu persetujuan dari Nak Arman... setuju kah dia,, kamu asal main jodoh jodohin aja,, bagaimana pun juga Nak Arman itu sudah dewasa, sudah punya pilihan hidupnya, masih saja kamu perlakukan dia seperti aku memperlakukan Aldo.. " Kata Ibu Hani pada Mita.


Arni setuju dan berkata. " Mita.... aku tau dan paham maksudmu,, kamu juga harus paham maksudku, aku tidak asal berpikir Mita ini hal besar yang harus aku pertanggung jawabkan kelak pada Allah dan pada orangtuaku disana aku hanya ingin Arman mendapat yang terbaik dan yang terbaik untuknya saat ini adalah Hani...


Hani memang masih polos aku tau kamu mengkhawatirkannya tapi yakinlah Hani gadis yang cerdas dia akan dengan cepat belajar dan Arman pemuda yang sabar, dia akan membimbing Hani dan menjadi imam yang baik untuk putrimu.. dengan begini beban kita akan sama sama ringan Mita.. " jelas Arni pada sahabatnya itu.


"Huhh kenapa Shasa masih saja tidur,, kemana dia saat aku butuh dirinya, ayo Sha.. bangun dong. bantuin aku... " hati kecil Shasa bergumam ,dia menatap sahabatnya masih tidur manis di ranjang.


Hani yang merasa malu dan tidak dapat berbicara apa apa segera berdiri dan mengajak Aldo keluar kamar rawat inap Shasa.


" Maaf Hani ingin keluar sebentar ya.. " Hani meminta ijin lalu menarik tangan adiknya itu keluar. Aldo yang terkejut akhirnya mengikuti kakaknya.


Ibu dan Arni tersenyum, tahu benar jika gadis 18 tahun itu malu. Sedangkan Arman memberanikan diri berbicara pada kakak dan Ibunya Hani.


" Mbak.. maaf sebelumnya,, apakah mbak berniat menjodohkanku dengan Hani? " tanya Arman.


" Iya dek,, aku ingin dia menjadi istrimu,, apa kamu menyetujuinya,, atau menolaknya,, apa kamu sudah punya calon lain? " selidik Arni.


" Aku tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun mbak, mbak kan tahu sendiri bagaimana sibuknya aku , Jika mbak rasa Hani pilihan tepat buat aku , aku setuju mbak tapi apakah Hani nya mau,, dia kan masih sekolah, masih mudah berubah pikirannya.. kasihan jika harus menerima perjodohan secepat ini.. " kata Arman.


" Ya Allah.. adikku kamu setuju,, alhamdulillah terimakasih ya,, tenang saja Hani pasti bisa dan setuju, dia anak yang baik dan penurut bukan begitu kan Mita? " kata Arni pada Mita. Mita mengangguk setuju dan bahagia.


Arman berdiri menghampiri Mita dan Kakaknya,, lalu berkata pada Mita...


"Ibu... bolehkah saya memanggilmu ibu mulai saat ini, ijinkan saya mencintai dan menyayangi putri ibu, saya berjanji akan selalu menjaganya Insyaallah sampai kelak maut memisahkan kami, Ibu ijinkan putri ibu menjadi pendamping saya." kata Arman pada Mita.

__ADS_1


Mita yang mendengar permintaan Arman berkaca kaca, terharu tak dapat mengeluarkan sepatah katapun.. tak terasa dia menitikkan airmata,, tiba tiba teringat almarhum suaminya. Seandainya ayah Hani masih ada akan merasa bangga putrinya di lamar seorang tentara yang baik dan berjiwa besar...


"Nak Arman,, panggilah aku ibumu,,, dan jagalah Hani untukku, Hani anak polos dan kekanak kanakan, dia butuh banyak bimbinganmu nak.. ibu harap nak Arman sabar ya.. " tak kuasa Mita menahan tangisnya. Arni yang sejak tadi menitikkan airmata melihat hal mengharukan itu pun memeluk Mita sahabatnya.. seraya berkata..


" Terimakasih Mita, ,, Terimakasih untuk semuanya... ,"


Mereka pun larut dalam keharuan, tak terkecuali Arman juga berkaca kaca, Dia juga sangat bahagia melihat kakak perempuannya itu bahagia. Masih ingat betul perjuangan Arni untuknya sampai harus rela meninggalkan masa remajanya hanya untuk mengurus dirinya dan usaha milik keluarga.


"Sekarang waktunya aku membalas kasih sayang mbak.. kepadaku, terimakasih sudah mendampingi dan menghantarkan ku sampai bisa seperti ini,, love you mbak.. ๐Ÿ˜˜" Arman memeluk kakaknya.


Sementara di luar kamar, di taman tengah kamar rawat inap...


" Dek sekarang gak lagi bobok kan? sekarang kakak gak lagi mimpi kan? " tanya Hani pada Aldo. Aldo yang melihat keanehan kakaknya berkata.. " Kak Hani sejak kapan kakak alay begitu.. " " Cubit aku dek.. " Hani mengulurkan tangannya,, " Auuu sakittt" .. jerit Hani.


"Katanya disuruh nyubit kakak yaudah,, Kak Hani.. Aldo masuk dulu ya dingin di sini bentar lagi magrib kakak cepetan masuk ya" Kata Aldo berlalu meninggalkan Hani duduk sendiri.


Arman yang mencari Hani akhirnya menemukan gadis mungil itu tengah melamun.


" Mikiran om ya.. " kata Arman sambil memegang pundak Hani dari belakang. Hani yang kaget, menoleh ke belakang.


"Barusan aja kok.. kalo gak mikirin Om kenapa pipimu merah begitu.. " goda Arman., kemudian Arman duduk di samping Hani.


Memandang wajah Hani dan berkata.. " Dek kamu pasti sudah dengar apa yang Mbak Arni katakan tadi, tanpa basa basi, om mau tanya apakah kamu menyetujui perjodohan ini? "


Hani gemetaran tangannya berkeringat tak bisa menjawab, dia menunduk semakin dalam. Arman yang melihat Hani seperti itu pastilah paham, Arman memberanikan diri memegang tangan Hani , menggenggamnya erat,, dan bertanya sekali lagi...


"Hani... setuju kah kamu atas perjodohan kita? "


" Om Arman benar benar tanpa basa basi


, bagaimana aku menjawabnya,, kok gak kayak di tv tv ya,, laki lakinya romantis,, " sekilas Hani berpikir.


Arman masih menggenggam tangan Hani yang berkeringat dingin.

__ADS_1


"Om.... om sungguh sungguh mau berjodoh denganku? apakah om gak akan selingkuh? apakah om juga gak akan meninggalkanku sendirian? Om mau kan menerima segala kekurangan Hani " Hani memberanikan diri bertanya.


Hani menatap wajah Arman. Arman pun tersenyum dan juga menatap mata Hani.


" Gadis yang polos... jujur.. aku suka padanya,, ku kira aku hanya kagum padanya, ternyata aku benar benar menyukainya.. " batin Arman.


" Insyaallah... Insyaallah Om akan menjaga amanah ini.. asal Hani juga berjanji setia.. om akan terima segala kekurangan Hani begitu pula sebaliknya om harap Hani bisa berlaku demikian.. " jawab Arman..


Uwwwuuu so sweet... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Lama mereka berdua saling menatap,, saling mengagumi..Arman menatap mata sayu Hani, bibir tipis Hani, pipi putih Hani,, semua yang ada pada wajah Hani,,, "Ya Allah jantungku... " batin Arman.


Hani yang sadar segera menurunkan pandangannya lalu menatap kolam di depan dirinya. Tangan Arman masih menggenggam erat. " Terimakasih... " lirihnya.


Suara Adzan magrib mengharuskan keduanya segera melaksanakan panggilan itu. Mereka bergegas ke mushola.


Setelah selesai sholat, Arman memberitahu Hani bahwa ibu dan adiknya sudah pulang duluan karena ada telepon dari bi imas jika ada tamu yang menunggu di rumah,, untuk memesan catering.


" Nanti Hani pulang sama siapa om kalo ibu dah pergi? mana masih pake seragam lagi " gerutu Hani pada Arman.. " Om antar dek " sahut Arman tersenyum.


Di kamar rawat inap Shasa..


Rupanya Shasa sudah bangun.. Hani yang melihat sahabatnya sangat senang sekali.


" Darimana sih Om dan Tante?, " tanya Shasa Hani terkejut mendengar kata tante.


"Gak usah kaget kali,,bunda udah cerita semuanya, selamat ya Hani,, ehh Tante Hani" Shasa membentangkan tangannya mengkode Hani untuk berpelukan.


Hani pun tanggap dan memeluk Shasa kembali.. " Aku senang akhirnya kita akan terus bersama meskipun udah lulus nanti bukannya kamu benci kata perpisahan.? "


Kedua gadis itu pun sibuk dalam dunia mereka, Ibu Arni dan Arman pun tersenyum bahagia.


Pertemuan ini akan berlanjut ke pertemuan resmi... secepatnya .. secepat kilat,, ๐Ÿคฉsetelah Shasa sembuh tentunya.

__ADS_1


bersambung dulu ya.... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2