
Berlanjut....
Masih di kamar utama...
Arman terus berjalan pada Hani, sedangkan Hani melangkah mundur, sampai tubuhnya mentok di buffet tempat foto dan buku buku Arman..
"Ommmmmm.... "suara Hani terdengar lirih.
Sekarang dia terhimpit dan tidak dapat keluar melarikan diri dari Arman yang terus menatapnya.
Membungkukkan badan,, Mendekatkan wajahnya,, menelusuri pandangannya kepada gadis di depannya itu. Dari kedua mata yang jernih, hidung yang tidak terlalu mancung, pipi Hani yang chubby dan putih nampak merah merona, lalu pandangannya terhenti saat melihat bibir mungil Hani.
Makin mendekat, Hani makin memundurkan wajahnya. Arman mengangkat dagu Hani...
"Apakah masih akan memanggilku om jika kita sudah menikah nanti? " Arman menikmati wajah imut Hani yang setelah lulus nanti akan resmi menjadi istrinya.
"Ahhh.. emmmm aaa.. anuuu ommm ehhh terus Hani haaaruss manggil om apa? "Tanya Hani memandang mata Arman.
"Jangan memanggilku om lagi... panggil saja mas... yah.. "Arman memberi jawaban.
"Iya ommm.. ehh emmm mass... " kata Hani berusaha sedikit mendorong Arman. tapi sia sia karena tubuhnya sangatlah tidak berarti jika di bandingkan badan Arman yang kekar secara Arman juga seorang tentara yang tenaganya tentu lebih kuat.
"Mas... Hani sesakk... jangan mendorong maju terus.. "pinta Hani pada laki laki bertubuh atletis tersebut.
Arman masih tetap pada posisinya dia ingin dekat dengan Hani yang secara ajaib bisa mengalihkan dunianya. Dunia Bucin. Model anak jaman sekarang. Hani mampu membuat Arman jatuh cinta karena kepolosan dan keluguan gadis ini., dan akibat tak lama lagi akan ada 💕Pernikahan Kilat 💕 yang benar benar tidak mereka sangka sangka.
Saat kedua mata saling memandang dengan jarak yang cukup dekat, sampai deru dan hembusan napas mereka saling terdengar, tiba tiba jatuhlah air dari rambut Hani yang menetes di hidungnya. Karena memang rambut Hani masih basah dan belum kering betul.
Sontak mereka berduapun tertawa bersamaan... ambyar deh..... momen romantis mereka.
Arman pun cukup puas dengan mengecup kening calon istri kecilnya itu. Lalu mengusap usap kepala Hani.
"Sebentar ya mas mandi dulu... mau sholat,, Hani kalo capek istrahat saja di sana. " Arman menunjuk ranjang besar di kamarnya.
" Siap om... ehhh salah maaf.. mas... " ketawa Hani terdengar oleh Arman, dan membuat Arman ikutan senang, lalu masuk ke kamar mandi.
Hani masih sibuk mengeringkan rambutnya. Di amatinya kamar berukuran lumayan luas itu dibandingkan kamar sebelah.
Rapi...simple.. . dan tak banyak ornamen di situ.
Di lihatnya foto Arman dengan seragam kebanggaannya, terlihat gagah dan tampan.
"Siapa sangka aku bisa menikah dengan laki laki ini... Terima kasih Ya Allah.. " gumam Hani.
Setelah mengeringkan rambutnya Hani menuju ranjang dan merebahkan diri..
__ADS_1
" Ahhhh nyamannya di sini... " seru Hani.
Hani teringat kejadian barusan. " Emmm ku kira aku akan kehilangan ciuman pertamaku melihat Mas Arman yang begitu dengan tatapan matanya,,, ku kira dia akan melakukannya seperti di film drakor yang sering aku tonton.
Tak dapat kubayangkan" kata Hani malu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Saking asyiknya berdiam dan melamun lama lama Hani pun tertidur, dengan handuk di tangannya. Sedangkan rambutnya di biarkan terurai begitu saja, kaos yang dipakainya kebesaran sampai hampir ke lutut dan celana pendek hitam ketat yang biasa dia kenakan.
Arman yang selesai mandi menuju lemari pakaiannya dan mencari baju koko. Arman melirik Hani yang ketiduran.
Arman segera melaksanakan sholat dhuhur.
Setelah selesai dia melipat sajadahnya. Meletakkan di atas meja kerjanya. Arman berjalan dan duduk di tepi ranjang melihat Hani yang pasti sudah bergumul dengan mimpi mimpinya.
"Bagaimana bisa gadis ini teledor, tidur seperti ini tanpa menutupi tubuhnya dengan selimut. Jika dia tidur begini di rumah temannya bagaimana, akan banyak mata dari teman laki lakinya senang melihat Hani seperti ini, aku juga akan berpesan pada Shasa untuk slalu menjaga diri dengan benar. Sebab anak sekarang bergaulnya mengerikan" Arman mendengus kesal, melihat Hani yang tidur dengan lelapnya, tanpa selimut, kaki panjang di biarkan menjuntai. Sedangkan celananya hanya sampai di atas lutut.
Arman meraih selimut dan menutupinya...
"Dasar ceroboh,, untung saja di rumah tunangannya.." Seru Arman lagi.
Arman duduk di sampingnya, membelai rambut Hani menyibak sebagian poni yang menutupi mata Hani.
Di pandangnya lagi wajah itu.. entah mengapa tidak bosan menatap gadis ini.
"Kisahnya ini mengingatkanku pada Mbak Arni, berjuang demi hidup kami setelah kejadian tragis merenggut nyawa kedua orang tua kami.. " Arman masih membatin.
"Hani... sayang... mas tahu kamu belum siap menikah secepat ini, tapi Mas janji akan benar benar menjagamu, jadilah istri yang baik ya." lirih Arman mengecup kening Hani untuk kesekian kalinya.
Ingin rasanya Arman mengecup bibir mungil Hani. Laki laki mana yang tak kan tergoda melihatnya. Arman laki laki normal, tetapi dia menahan hasratnya itu serta tak ingin merusak kepercayaan yang Hani berikan padanya.
"Semua akan indah pada waktunya... "batin Arman tersenyum puas.
Arman bangkit dari sisi ranjang dan duduk di meja kerjanya. Di buka laptop dan mulai memeriksa ponselnya. Tak butuh waktu lama sampai Arman sibuk dengan pekerjaannya itu.
Ponsel Hani bergetar... membuatnya terjaga dari tidurnya.
Hani membuka mata, dilihatnya Arman tengah sibuk di depan laptopnya. Hani meraih ponselnya.. dan melihat pesan masuk dari Shasa..
"Sudah bangun dek? " tanya Arman tanpa menoleh pada Hani.
" Iya mas... maaf ketiduran,, mas ini sudah jam 4 sore,, Hani belum bilang ibu tadi kalo masih akan mampir ke sini. " kata Hani bangun dan duduk di tepi ranjang. Walaupun masih agak ngantuk dan gak begitu sadar Hani hanya membatin mengapa selimut besar ini disini bukannya tadi dia tidak memakainya. Hanya saja Hani malas menanyakan pada Arman yang nampak serius.
"Mas sudah menelpon Ibu Mita agar tidak khawatir dan tadi ibu cerita ada mbak Arni lagi mampir, membicarakan persiapan pernikahan kita. "Arman menghentikan kegiatannya dan mengakhiri dengan mematikan lalu menutup laptopnya itu.
"Dek.. kamu lapar,, Mas masakin sesuatu ya" tanya Arman.
__ADS_1
Hani yang tak bisa menolak mendengar kata makan pastilah semangat.
" Ayo mas kita masak masak,,, "Hani bangun dari tempat tidur lalu menarik tangan Arman. Arman pun mengekor.
Mereka berdua asyik memasak, tertawa bersama. Tentu hal ini akan sering terjadi di saat mereka telah menikah.
Saat Arman mencuci sayuran dengan sengaja menyipratkan air ke muka Hani yang lagi serius menggoreng telur dadar.
"Ahhh mas kan basah wajahku.. ihh awas ya" Hani mencubit perut Arman.
Arman kembali menggoda Hani, Hani yang kesal akan mencubit perut Arman gagal,, lalu menarik sarung Arman yang akan lari menghindar.
"Ehhhh ehh sayang jangan di tarik nanti melorot nih sarungnya,,, " kata Arman sambil memegang sarungnya karena memang Arman tadi belum sempat berganti pakaian setelah sholat dan sibuk dengan laptopnya, terus Hani menariknya untuk segera ke dapur.
"Biarin... biarinnn... siapa suruh masak pake sarung... biar melorott sklian " Kata Hani kembali ke depan kompor dan meneruskan menggoreng telur dengan wajah cemberut.
"Jangan gitu dek... Ahhhh mas gak nyangka aja ternyata Hani gak sabar ya... main tarik tarik sarung nih" goda Arman kemudian.
" Ahh Mas Arman ngomong apaan sih,,, Mas Arman mesum.. " makin membuat Hani cemberut dan malu,,.
"Mesum sama tunangan sendiri gak masalah" Arman membetulkan sarungnya.
Setelah makan, Hani mencuci semua peralatan dapur sementara Arman mengepel lantai dapur.
Tak terasa waktu magrib telah datang.
Arman melaksanakan kewajibannya sendiri karena Hani memang masih belum bisa sholat.
Setelah itu Hani yang bersiap untuk pulang, menunggu Arman yang sedang ganti baju.
Tak beberapa lama mereka berdua meninggalkan rumah Arman., menuju rumah Hani.
Sesampainya di rumah Hani, turun bersama Arman,. Arman segera ijin pamit karena masih ada pekerjaan yang belum selesai di kerjakannya. Arman mencium punggung tangan mertuanya lalu pergi diantar Hani sampai mobil.
" Sayang... besok mas jemput yah sekolahnya mulai besok insyaallah kalo mas gak ada tugas dadakan mas siap antar jemput Hani dan Aldo juga oke,, tapi syaratnya harus pagi ya mas juga harus apel pagi di markas. Assalamuallaikum.. " kata Arman sambil mengelus kepala Hani.
Hani senang mendengarnya...
"Waalaikumsalam Baik mas,, hati hati ya... sampai jumpa besok. "
Hani memandang kepergian Arman di gelapnya malam lalu masuk ke dalam rumaj dan bercengkrama dengan ibu, Aldo dan Bi Imas.
Sambil menonton TV lalu menikmati kudapan tahu isi sayur kesukaannya , pikiran Hani melayang mengingat kejadian di kamar stelah dirinya mandi tadi kejadian sarung di dapur Arman. Hani senyum senyum sendiri.. sarung ...ohhh.. sarungg...
bersambung dulu ya....
__ADS_1