Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 42 Hadiah


__ADS_3

Masih lanjut...


Suasana malam...


Malam yang panjang akan segera dimulai, Arman dan rombongan pasukan telah sampai di bandara untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan pesawat militer ke Papua.


Sebelum itu, pasukan di berikan waktu beristirahat. Arman bersama rekan rekannya memanfaatkan waktu istirahatnya untuk sholat dan makan.


Seusai sholat di masjid, Arman duduk menyandar pada pilar besar penyangga teras masjid.


Di ambilnya ponsel di kantung saku celananya. Terdapat gambar Hani dan dirinya saat berfoto bersama, menjadi wallpaper di ponsel warna hitam itu.


Tut... tut... tut....


Arman melakukan sebuah panggilan. Panggilan telepon untuk Hani, sang istri.


Sesaat kemudian panggilan di jawab..


"Assalamualaikum mas... mas lagi di mana? " jawab sebuah suara yang tak lain adalah Hani.


"Waalaikumsalam,, mas lagi di masjid nih, masjid bandara sebentar lagi akan terbang dek,, sambung doanya yah.. Lagi apa nih? " tanya Arman.


"Lagi duduk duduk di halaman belakang mas, bareng Aldo... mas udah sholat? sudah maem belum?" Hani bertanya balik.


"Sudah sayang, jangan tidur malam malam, cepatlah masuk, angin malam tidak baik buat kesehatan... Hani jangan lupa makan yah,," jawab Arman senyum senyum.


Agus dan Dafa yang melihat wajah seniornya bahagia ikut bahagia juga. Mereka bahagia karena selama ini Arman yang mereka kenal memang jarang sekali terlihat bahagia saat menerima atau menelpon. Malam ini mereka memaklumi situasi tersebut karena hati Arman sedang bahagia menelpon istrinya.


Setelah berbincang cukup lama, Arman mengakhiri panggilannya. Menyimpan kembali ponsel itu ke kantung sakunya.


Di lihatnya kedua rekannya tadi yang setia duduk bersama Arman.


"Kalian tidak mengabari orang rumah? " tanya Arman pada keduanya.


"Sudah bang.. saya wa kakak saya jika saya akan segera terbang ke Papua. " jawab Agus.


"Tadi saya telepon keluarga di Aceh, sedang tidak ada sinyal rupanya bang,,, jadinya saya kirim pesan saja. "sahut Dafa sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Arman mengangguk paham.


Terdengar suara sirine tanda berkumpulnya pasukan. Deru bising baling baling pesawat hercules pun terdengar keras memecah keheningan malam itu.

__ADS_1


Arman dan yang lainnya segera bersiap menuju pesawat yang akan membawa mereka menunaikan tugas mulia itu.


"Bismillah.. Ya Allah lindungilah kami, lindungilah keluarga kami, ikhlaskan hati kami untuk terus maju,, semoga perjalanan ini lancar hingga akhir. Aamiin " Arman berdoa dalam hati sembari memanggul ranselnya, berjalan mantap menuju pesawat dan tugas negara yang menantinya.


Bayangan wajah imut Hani, mbak Arni, Shasa, Aldo, ibu Hani, dan mas Arya semua sempat terlintas di pikirannya.


"Mudah mudahan Allah ijinkan kita bertemu lagi.. tunggu kedatanganku..." lirih Arman.


Beberapa menit kemudian, pesawat hercules yang membawa pasukan tersebut lepas landas dari bandara. Menebus gelapnya malam, membawa sejuta harapan untuk memenuhi kewajiban, berangkat demi negara dan pulang demi cinta. Demikian kalimat yang ada pada hati Arman saat ini. Karena pertama kalinya bertugas dengan penuh pengharapan dan semangat bela negara, sampai akhirnya bertemu kembali dengan cinta yang setia menantinya.


*****


Sementara di rumah Cendana...


Hani sangat senang sekali menerima panggilan dari Arman. Arman menelpon dan memberitahukan keadaannya di sana. Hani berdoa agar Allah selalu melindungi suaminya itu.


"Ya Allah... lindungilah suamiku dimanapun berada.. jagalah dia.. anugerahkanlah keikhlasan yang luar biasa kepada kami" doa Hani dalam hati.


Aldo yang mendengar kakak iparnya menelpon tadi turut bahagia. Karena sedari pulang mengantarkan Arman, dilihatnya Hani belum tersenyum sama sekali. Malam ini kembali dilihatnya senyuman manis kakaknya itu.


"Kak... Aldo janji, bakalan jagain kakak, meskipun Aldo masih kelas 5 tapi Aldo yakin bakalan rela berbuat apapun demi kebahagiaan kakak dan ibu." Aldo membatin sambil memainkan ponsel di genggamannya itu. Anak ini bukan bersikap sok dewasa, namun keadaan memaksanya untuk berpikir dewasa, bahkan seringkali Hani melarangnya bersikap seperti itu. Hani merasa kasihan pada Aldo, bocah yang seharusnya bermain dengan temannya di usianya sekarang ini, justru Aldo memilih tinggal di rumah sekedar membantu atau menemani kakak dan ibunya.


Aldo menghentikan langkahnya lalu berkata.. "Aldo masih ingin nonton TV kak , malam ini ada acara club bola kesayangan Aldo kak,, boleh ya nonton? " pinta Aldo.


"Baiklah tapi kamu jangan tidur terlalu malam, besok kita akan mengunjungi ibu dek, segeralah tidur jika kamu sudah mengantuk!" kata Hani sambil tersenyum.


Aldo mengangguk mengiyakan perintah kakaknya itu. Dengan semangat dia berjalan menuju ruang tengah, duduk di karpet bawah dan menyalakan TV.


Hani membiarkan adiknya menonton acara kegemarannya itu. Di lihatnya jam dinding yang bertengger di atas rak TV menunjukkan pukul 20.30, dia menuju kamar utama.


"Da.. da...dah kak Hani, selamat malam selamat tidur" Aldo melambaikan tangannya pada Hani.


"Selamat malam, jangan lupa pesan kakak! " kata Hani kemudian,sembari membuka pintu kamarnya, meninggalkan Aldo yang mulai asyik dengan acara TV.


Hani membersihkan diri sebelum pergi tidur, mengganti pakaiannya dengan baby doll yang Arman belikan. Sampai saat ini Hani belum mengemasi pakaiannya yang masih ada di rumah ibu. Rencananya besok dia akan datang berkunjung sekalian membawa barang barangnya untuk di pindahkan ke rumah Arman.


Hani pun berbaring dengan nyaman. Hatinya sedikit lega setelah tadi menerima telepon dari sang suami.


Saat akan mematikan lampu, tiba tiba ponsel Hani bergetar menandakan baterai lemah.

__ADS_1


"Ahh rupanya aku lupa mencash ponselku, mana lupa lagi chargernya masih di rumah ibu, mungkin mas Arman punya cadangan charger. " gerutu Hani turun dari ranjang dan mencari charger.


Di bukanya satu persatu laci di kamar Arman. Tak ditemukan yang dia cari, sampai pada laci terakhir yang gandeng dengan meja rias baru yang ada di kamar Arman. Mungkin Mbak Arni tahu bahwa setelah menikah nanti Arman akan membutuhkan meja rias untuk istrinya, maka dari itu Arni menyiapkan perabot baru itu di kamar utama.


Di bukanya laci tersebut. Mata Hani langsung tertuju pada dua buah kotak kecil dan sepucuk surat.


Dua kotak, berukuran kecil berwarna pink dan yang satunya kotak berukuran sedang bermotif batik. Di laluinya kotak tersebut, dia lebih tertarik pada sepucuk surat di sana.


Di raihnya surat tersebut yang bertuliskan..


" To. Hani my lovely "


"Ini surat buatku bukan, dari siapa yah? apakah dari Mas Arman ? di sini tertulis...... To Hani.. tapi mengapa mas Arman tidak mengatakan apapun tentang surat ini tadi di telepon. Jika aku buka, apakah mas akan marah ya? " gumam Hani.


Hani penasaran... "Ahhh tapi aku kepo nih.. biar aku buka saja, besok jika mas Arman menelpon aku akan memberitahukan dan menanyakan padanya. "


Hani membuka perlahan amplop surat itu. Di keluarkan isi surat tersebut, dan membacanya dengan hati hati.


"Assalamualaikum dek... maaf mas sengaja menulis pesan ini karena tidak sempat untuk mengatakannya padamu. Mas tahu saat kamu membaca surat ini ,mas Arman sudah berangkat bertugas. Begini dek... mas sengaja menulis surat ini, memberitahukan bahwa dua kotak kecil yang sengaja mas letakkan dalam laci meja riasmu adalah milik Hani. Warna pink itu dariku... bukalah,, itu hadiah pribadi yang mas berikan khusus untukmu.. keinginan mas sih akan mas berikan saat sebelum kita menghabiskan malam pertama,, hehe maaf yah... semoga suka .. lalu kotak kedua itu hadiah dari mas Arya,, kamu gunakan dengan baik, ... maaf sekali lagi mas tidak bisa memberikan langsung padamu dek, terkendala waktu dan kesibukan mas. Mas harap Hani mengerti kondisi darurat ini... I love you Hani... " tulis Arman dalam suratnya itu.


Hani tersenyum dan trenyuh,, di lihat dari kata kata yang terangkai dalam isi surat Arman. Arman bukanlah sosok yang melankolis ataupun romantis, tapi dia berusaha membuat suasana hati Hani membaik setelah kepergiannya.


Hani meletakkan surat tersebut diatas meja rias, kemudian mengambil kotak berwarna pink dari Arman. Di perhatikannya sesaat.. lalu dibuka.. Hani tertegun melihat seuntai kalung emas dengan liontin berbentuk huruf " A " .


"Bukankah tadi pagi mas Arman menyerahkan mas kawin seperangkat perhiasan di masjid, kenapa masih memberi kalung lain disini?" gumam Hani. Memang sampai saat ini Hani belum membuka kotak mas kawin yang berisi perhiasan dari Arman, karena ibu Hani menyimpan dan membawanya pulang ke rumahnya tadi, setelah melihat Hani dan Arman pulang ke rumah cendana.


Hani mengeluarkan kalung tersebut , kemudian mengalungkan ke lehernya yang jenjang itu., mengaitkan dengan rapat agar tidak terlepas kalung pemberian Arman.


"Manis... Hani suka makasih mas... " kembali Hani bergumam seorang diri, menatap dirinya di depan kaca.


Kemudian Hani membuka kotak yang kedua terdapat sebuah amplop coklat, dibukanya amplop itu, ternyata di dalamnya berisi surat kendaraan BPKB motor matic atas nama dirinya, lengkap dengan surat surat dan Kunci motor. Di sana ada catatan kecil bertulis...


" Motor akan dikirim ke rumah cendana, Tanggal 8 Agustus "


"Bukannya tgl 8 besok kan" gumam Hani.


Hani memasukkan kembali surat surat tersebut dan mengucap banyak syukur. Hani menyimpan semua hadiah itu, dan berjalan keluar untuk meminjam charger pada Aldo.


Setelah mencash ponselnya,, Hani melangkahkan kakinya ke ranjang, membaringkan tubuhnya yang penat itu. Tak butuh waktu lama diapun pulas dan bergayut bersama mimpi mimpinya.

__ADS_1


Bersambung dulu yah...🤗🤗


__ADS_2