Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 34 Cinta luar biasa


__ADS_3

Lanjut lagi...


Sesampainya di rumah Arman..


Hani dan Arman telah sampai di depan pagar. Hani turun dari motor untuk membuka pintu pagar., karena jok motor Arman agak tinggi, otomatis membuat Hani harus memegang pundak tunangannya itu.


Arman membantu Hani turun, kemudian menyodorkan kantung kresek belanjaan pada Hani. Hani menerimanya, sambil menyeka bekas airmatanya agar tidak terlihat Shasa.


Arman yang melihat Hani, ingin menghapus buliran airmata di pipi kekasihnya. Namun Hani bergegas meninggalkan Arman di sana.


"Assalamulaikum.. Sha.. ini pesananmu.. " Hani menyodorkan kantung kresek milik Shasa. Kemudian masuk menuju dapur.


Shasa menjawab salam Hani dan mengucap berterima kasih pada Tante Iparnya itu.


Arman masuk ke dalam, dengan wajah tegang. Shasa memperhatikan wajah omnya sambil membuka camilan keripik kentang kesukaannya.


"Kenapa rupanya mereka.. berangkat tadi happy happy aja.. kenapa sekarang masam macam mangga muda " pikir Shasa sambil terus mengunyah keripiknya.


Arman menyusul Hani di dapur. Melihat calon istrinya tengah sibuk, Arman mencoba menyapa Hani.


"Sayang... apalagi yang perlu di siapkan? " Arman memulai pembicaraannya, sembari mendekati Hani yang sedang menata gelas di atas nampan.


"Sudah semua kok mas.. Mas bawa aja gelas ini ke meja makan, Hani ingin istirahat sebentar di kamar yah" pinta Hani dengan wajah dingin.


Arman mengangguk melakukan apa yang di perintahkan Hani dan menuju meja makan.


"Masih marah ternyata Hani.. bagaimana ini.. aku tidak bisa dan tak tau caranya membujuk agar tidak marah lagi. " gumam Arman meletakkan nampan silver berisi gelas.


Hani meninggalkan Arman dan menuju kamar utama., kamar Arman. Sementara Shasa masih sibuk dengan camilan dan TV, tak begitu memperhatikan Hani.


Arman akhirnya menemani Shasa nonton TV, dan berpikir keras, mencari cara agar bisa membuat Hani tidak bersedih lagi.


Adzan maghrib berkumandang, Arman bergegas siap siap sholat. Sedangkan Shasa menuju kamar tamu yang biasa dia gunakan jika menginap di rumah omnya itu,, Shasa akan sholat di sana.


Arman membuka pintu kamar. Melihat Hani yang tertidur di ranjangnya dengan mata sembab..


"Ya Allah... apakah aku terlalu menyakiti hatinya..hingga membuat gadis ini begitu kesal.. lalu mengapa dia hanya diam saja tidak memprotesku, apakah dia takut? " Arman mengusap lembut kepala Hani, menyingkirkan poni poni yang mengganggu Arman melihat wajah kekasih hatinya itu.


Hani merasakan ada sentuhan membuka mata perlahan. "Mas... ada apa.. apakah teman mas sudah datang? " Hani bertanya pada Arman yang sudah duduk di tepi ranjang.


Arman menggeleng.. "sudah adzan waktunya sholat dulu.. yuk.. " ajak Arman.


Hani bangun dan menuju kamar mandi, kemudian mereka sholat berjamaah. Seusai sholat Hani mencium punggung tangan Arman.


"Dek... mas mau bicara sebentar saja bisa kan ?" Arman memutar posisi duduknya menghadap Hani yang masih mengenakan mukena itu.


Hani mengangguk lalu menatap Arman.


"Hani... Hani benar benar sayang pada Mas kan? boleh gak mas minta sesuatu pada Hani? " tanya Arman dengan mimik yang serius.


"Insyaallah. memangnya mas mau minta apa dari Hani,? " Hani balik bertanya dengan tatapan mata sendu dan bening.

__ADS_1


"Mas minta Hani percaya pada Mas.. Hani.. mas tahu Hani cemburu pada wanita tadi bukan? kenapa Hani gak menegur mas sih ? Iya... wanita tadi adalah wanita yang sama, yang Hani jumpai di jalan, dan jadi korban kecelakaan. Hani.. mas dulu pernah menjalin hubungan dengan dirinya. Itu telah terjadi beberapa tahun yang lalu, mas menaruh harapan padanya, namun mas belum sempat memperkenalkan secara resmi pada Mbak Arni, mamanya Shasa. Tapi Mbak Arni sudah tahu jika kami dekat. Hingga suatu saat, mas menerima kabar pernikahan, yah.. pernikahan Resti yang notabenenya masih menjadi kekasihku. " Arman menghentikan ceritanya, menghela napas panjang.


Meraih tangan Hani, mengenggamnya dengan erat., menatap kemudian melanjutkan ceritanya..


"Rasa sakit ini bertambah ketika tahu bahwa calon suaminya adalah teman satu angkatan yang bernama Budi Kurniawan. Lengkap sudah sakit ini Hani, sampai akhirnya Resti meminta maaf pada mas, bahwa dia telah lama jatuh cinta diam diam dengan Mas Budi yang tidak mengetahui bahwa Resti punya hubungan dengan mas.. tapi semua berakhir hingga sekarang tak ada lagi rasa yang tertinggal Hani, mas ingin jujur sedari kemarin belum dapat kesempatan yang baik mengungkapkannya. Hani maukah kamu percaya padaku? " Arman kembali menatap wajah Hani.


Hani mendengar semua cerita Arman dengan rasa sedih, bercampur bahagia. Hani mulai tersenyum, dan mengangguk, kini dia telah mendengar sendiri penjelasan Arman tentang wanita tersebut.. Arman pun sedikit lega dan senang.


"Mas.. maaf bukannya Hani egois, tapi Hani tau rasanya sakit, maafkan Hani yang masih cengeng, Hani hanya ingin dengar dari mas langsung.. hanya ingin percaya pada perkataan Mas... Hani akan berusaha juga bisa menjaga cinta ini hingga akhir. "kata Hani terharu.


Arman memeluk erat Hani, Hani pun demikian. Perasaan pun tercurah pada pasangan beda 11 tahun itu.


"Sebenarnya masih ada satu hal yang belum dapat aku sampaikan padamu sayang, tapi aku tidak tega mengatakannya padamu, aku tidak ingin merusak senyum manismu lagi... aku harus mencari cara mengatakannya lagi" batin Arman sambil masih memeluk Hani.


Ternyata Arman masih memendam satu rahasia lagi yang belum dapat dia katakan pada calon istrinya yang sepuluh hari lagi akan dia nikahi itu.


Tok tok tok...


Ada suara mengetuk pintu membuyarkan suasana romantis mereka. Bergegas Arman berdiri dan Hani melepas mukenanya.


Dilihatnya Shasa sudah berdiri di depan pintu, mencari Hani yang tengah melipat sajadah.


"Om temannya datang tuh,, Shasa permisi masuk yah.. " kata Shasa pada omnya, Arman tersenyum mengelus kepala anak itu membiarkannya masuk menemui sahabatnya itu.


Arman menemui para sahabatnya. Acara di adakan di halaman belakang rumah Arman. Tidak luas sih namun suasananya benar benar nyaman.


Tak butuh waktu lama, rekan rekan Arman yang terbiasa berkunjung ke rumah Arman pun menyiapkan acara ini dengan riuh.


Semua telah berkumpul bersama disana, Hani dan Shasa ikutan bergabung.


Hani menyapa ramah rekan rekan Arman.


Penampilan Hani yang sederhana dengan rambut di kuncir kuda, poni yang rata, memakai celana jeans dan jaket berbahan kaos bergambar panda. Menunjukkan benar usia mudanya itu.


"Beruntungnya Kapten mendapatkan calon istri yang seperti ini" sayup sayup rekan Arman berbincang.


Suasana malam itu begitu menyenangkan. Banyak lagu lagu yang dipersembahkan buat pasangan yang akan menikah ini dengan alunan gitar "Om Dafa tentara yang tampan" julukan Shasa pada Dafa.


Shasa meminta Hani menyanyikan sebuah lagu malam itu dengan diiringi gitar. Awalnya Hani malu dan enggan dia takut Arman melarangnya. Namun Arman ikut mendukung dan mengijinkan kekasihnya itu bernyanyi.


"Ayolah Hani.. aku ingin dengar suaramu lagi, Hani ini sering juara nyanyi loh perwakilan sekolah selalu menang deh, selain itu dia itu menyandang gelar dirijen terbaik di sekolah. Setiap upacara bendera memperingati Hari hari besar Hani selalu dipilih mewakili memimpin paduan suara.. hebatkan sahabatku.. " pamer Shasa pada teman teman Arman.


Tatapan wajah mereka pun meminta Hani untuk menyumbangkan sedikit suara emasnya di malam itu.


Hani pun akhirnya mau bernyanyi. Posisinya duduk di samping Arman yang setia menggenggam tangan kecil Hani.


Baiklah.. saya akan mencoba menyanyi sedikit, karena lama tidak berlatih. Lagu ini khusus saya persembahkan pada seorang laki laki yang tiba tiba dengan ajaib datang dalam kehidupan saya, hingga terciptalah pernikahan kilat ini.


Hani mengawalinya dengan disambut tepuk tangan riuh Shasa dan beberapa rekan Arman.


'***Cinta Luar Biasa'

__ADS_1


Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


dst***.......


Arman terharu mendengar nyanyian Hani, Arman tak malu memeluk Hani di depan rekannya, tak pelak lagi mereka menyambutnya dengan bertepuk tangan.


"Akhirnya kapten kita bahagia... yeayyyy๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ’•selamat kapten.. " seru Dafa ikut bahagia.


Shasa pun demikian, hingga suasana malam ini begitu indah berbekas,.


Sepanjang malam,, mereka melanjutkan acara makan makaannya, sampai akhirnya Hani mengantuk dan mengajak Shasa untuk masuk ke kamar beristirahat duluan.


Shasa yang masih berat meninggalkan Dafa saat itu enggan ikut dengan Hani. Maklumlah Shasa baru saja memulai pdkt dengan anak buah omnya itu. Namun Arman mengkode Shasa untuk masuk.


"Masuklah tidurlah bersama Hani, tidak baik terlalu malam ikut bergadang buat gadis gadis seperti kalian. " perintah Arman pada keponakannya itu.


Shasa pun menurut dan akhirnya mereka berdua terlelap dalam mimpinya di kamar tamu. Hani dan Shasa tidur di kamar tamu. Sedangkan teman teman Arman masih melanjutkan malamnya sambil mengobrol ringan.


Arman menyiapkan tempat untuk mereka beristirahat di depan TV di ruang tengah.


Malam pun berlalu, Hani bermimpi indah sekali.. bernyanyi di atas gundukan awan dan hiasan penuh bintang, saat sang bulan tersenyum padanya.. turunlah seorang laki laki dengan membawa gulali warna merah ๐Ÿญ๐Ÿญ Hani menerima dengan senang hati. Hani terbuai dalam mimpinya hingga senyum itu masih menempel di wajahnya di kala tidur.


bersambung dulu yah.. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


"Assalamualaikum


__ADS_2