Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 48 Rujak rujak


__ADS_3

Haiiii.. ketemu lagi.. lanjut yuk..


Masih di rumah cendana...


Siang itu Arman dan Hani tidur dengan pulas sambil berpelukan. Tak terasa jam menunjukkan pukul 14.00


Arman membuka matanya, karena rasa gerah dengan cuaca yang lumayan panas. Di pandangnya wanita yang sedang tidur sambil memeluk erat pinggangnya.


"Aku pulang beneran, sekarang ada Hani di sini..bisa ku pandangi wajahnya sepuas hati." gumam Arman.


"Astaghfirullah... aku ketiduran... rupanya aku tidak pergi sholat jumat tadi.. saking lelahnya aku sampek tidak mendengar apapun..." Arman mencoba mengalihkan tangan Hani yang melingkar di pinggangnya perlahan.


Arman sengaja tidak membangunkan istrinya dia pun pergi ke kamar mandi dan sholat dhuhur.


Sore berganti malam....


Kedua insan melepas rindu dengan saling bersenda gurau. Memasak bersama dan berbagi cerita dengan pengalaman baru mereka. Hani membuat rujak manis, karena dia kangen dengan makanan itu.


"Mas.... Hani bikin rujak manis nih,, seger pasti malam malam,, tolong dong bantuin kupasin.. bumbunya udah ready. " kata Hani memnerikan mangga dan jambu kepada suaminya yang duduk di teras belakang.


"Dek... malam malam kok rujakan, nanti sakit perut loh.. " Arman menerima kantung kresek berisi buah dari tangan Hani.


"Hani dah lama mas gak rujakan, terakhir sama Shasa dan temen temen itu, biasanya Hani sama ibu suka rujakan malam malam sambil nonton TV... " Hani kembali melanjutkan mengkupas bengkuangnya.


Arman menurut pada istrinya, kemudian melanjutkan cerita yang Hani minta, sambil mengkupas mangga.


Hani begitu terkesima mendengar cerita di daerah perbatasan. Rasa iba, rasa bangga, rasa penasaran membuat Arman tidak berhenti bercerita hingga menjelang tengah malam.


Malam itu Hani makan rujak dengan lahap, sementara Arman yang melihat istrinya makan mangga muda yang masam sekali, merasa geli.


"Ih dekkk gak kecut tah.. jangan banyak banyak nanti sakit perut.. " kata Arman sedikit khawatir.


"Tenang aja mas... Hani beneran kangen makan rujak... " sahut Hani enteng., sambil terus mencolek colek bumbu dengan buah di hadapannya.

__ADS_1


"Koyok wong ngidam ae dek dek.. padahal mas belum apa apa loh ya.. hehe... dek.. dek sudah dapat berapa hari menstruasinya? Biasanya berapa hari sih kalo laagi dapat..?" tanya Arman sambil mengarahkan rambut Hani yang mengganggu saat makan, ke arah belakang.


"Baru tadi pagi mas sakit perut, kram,, Hani dah nyangka.. eh gak tau nya tembus bocor beneran di sprei.. Biasanya Hani seminggu dah bersih, dah mandi suci mas" jawab Hani dengan santai.


Arman menghela napas panjang, dan tersenyum kecut... "Sabar seminggu lagi deh mudah mudahan lancar" batin Arman sambil melihat istri kecilnya yang masih saja polos meskipun sudah menikah dengannya empat bulan yang lalu.


Malam berlalu begitu cepat. Jam menunjukkan pukul 23.15 ..Hani dan Arman pun mengantuk dan segera pergi tidur. Mereka mengakhiri percakapannya si halaman belakang, dan berlanjut ke kamar untuk sejenak rehat.


Mereka tidur dengan saling berpelukan , Hani begitu nyaman tidur di samping Arman dan memeluk erat pinggang suaminya yang kekar itu. Arman mengecup kening dan pipi Hani dengan lembut, dia tidak berani untuk berbuat lebih memancing nafsu yang belum tersalurkan,, Arman tidak mau pusing di buatnya. Dia peluk erat Hani dan mengucapkan selamat malam, lalu keduanya memejamkan mata, larut dalam buaian mimpi mimpi.


******


Keesokan paginya di rumah ibu Hani..


Ibu sedang sibuk memasak nasi kotak dan tumpeng untuk acara selametan syukuran kedatangan Arman menantunya.


Bi Imas yang setia menemani Mita pun membantu mempersiapkan segalanya. Ibu juga membangunkan Aldo untuk bersiap sholat Shubuh.


Acara tasyakuran di rumah Arman nanti akan di adakan pukul 09.00 pagi , tidak jadi sore, karena Arni bundanya Shasa akan menjemput Shasa yang selesai ikut ujian tes kedinasan.


Hani segera bangun dari ranjang setelah Arman membangunkannya. Hani sedikit pusing, dan memegang kepalanya.


"Kenapa tiba tiba pusing,, mungkin terlalu malam tidurnya.. jadi pusing deh.. " kata Hani turun menuju kamar mandi.


Hani dan Arman tenah bersiap dengan acara tasyakuran ini. Semua keluarga sudah berdatangan silih berganti. Begitu juga dengan rekan rekan Arman. Agus, Dafa dan Taufik tidak pernah absen,. Karena mereka sudah seperti keluarga sendiri bagi Arman.


Hani yang nampak cantik dengan hijab warna maroon., membuat sahabat sahabat Arman terkejut dengan penampilan baru istri seniornya itu.


"Wah bang... penampilan baru ibu Hani..." kata Dafa pada Agus.


Agus melirik wanita berhijab yang duduk di samping Arman. Lalu berkata.. "Huss tuh mata jangan lihat lihat aja,, bukannya kamu suka keponakan bang Arman.? bisa fatal ntar" kata Agus pada Dafa, Dafa langsung terdiam.


"Cuman becanda bang,, kan penampilan Bu Hani memang beda. Udah nikah sama bang Arman, dulu masih pake baju seragam sekolah sekarang udah pakai seragam Ibu Persit , berhijab lagi.. kan beda" gerutu Dafa sedikit berbisik.

__ADS_1


Agus menggeleng gelengkan kepalanya, sementara Arman asyik ngobrol dengan Taufik dan beberpa rekan yeng lain.


Saat acara selesai di buka dengan doa, semua keluarga di persilahkan untuk makan. Hani membantu menghidangkan nasi tumpeng urap urap pada rekan rekan Arman, sementara Arni dan Mita sibuk meladeni Arya dan keluarga yang lain.


Arman membantu istrinya, mereka terlihat mesra. Saat Arman menyentuh tangan Hani yang sedang menyodorkan piring berisi nasi padanya, Arman tersenyum dan menggenggam tangan Hani yang hangat.


"Makasih sayang.. sayang kenapa tanganmu hangat,, kamu sakit? " Arman meletakkan piringnya lalu menempelkan tangannya pada dahi Hani. Hani memang tidak begitu enak badan, berasa kurang tidur pikir Hani. Dan dia pun tidak ingin merasakannya., karena sedang ada acara di rumahnya saat ini.


"Ahhh gak papa mas,, udah mas makan aja yah.. sebentar Hani ambil sendoknya kurang" Hani memegang tangan suaminya sambil tersenyum manisssss sekali. Membuat yang ada di sekitar situ merasa adem.


Arman membalas senyum kekasih hatinya, dan membiarkan istri kecilnya berdiri, dan berlalu menuju dapur.


Agus yang melihat pemandangan barusan menyenggol lengan Arman.


"Bang mesra banget... semalam sudah berhasil belum... membuka jaring...? " tanya Agus sambil mengangkat kedua alisnya menggoda Arman.


Arman tertawa renyah.. membuat Dafa menoleh padanya.


"Roman romannya sudah berhasil bang,, kalo di lihat dari cara abang tertawa, senang sekali.. wah selamat bang, bentar lagi bakalan ada keponakan baru untukku" lanjut Agus menggoda Arman sambil mengunyah hidangan di piringnya.


"Aku ketawa seperti ini.. bukan apa... ketahuilah ini ketawa mengenaskan.. Kami belum melakukannya.. " bisik Arman agar tidak terdengar rekan lainnya.


Agus melotot, matanya hampir keluar, sementara mulutnya berhenti mengunyah. Agus menoleh menatap sahabatnya itu seolah tak percaya.


"Bang.. kau menikah 4 bulan lalu, aku yakin tanpa malam pertama karena kita akan sgera berangkat, aku tahu kau tak mungkin mau melakukannya dengan buru buru, tapi kan sekarang kita dapat cuti bang.. kenapa tidak...... " Agus berbisik pada Arman.


" Ooppp... dia lagi kedatangan tamu, gak bisa di ganggu,, kudu sabar empat hari lagi.. " Arman memotong pembicaraan Agus agar tidak melanjutkan ocehannya itu.


Agus masih belum paham, namun dia menghentikan perbincangannya karena Dafa sudah mulai curiga.


Lama Agus menelaah perkataan Arman, lama lama dia paham juga.. setelah melihat Hani yang menenteng kantung plastik berisi pembalut yang di pesannya dari Bi Imas.


Hani meminta tolong pada Bi Imas sebelum acara di mulai untuk ke mini market membelikan pembalut yang stoknya tinggal satu di kamar mandi. Hani yang tidak enak badan memohon bantuan asisten ibunya itu.

__ADS_1


Arman dan Agus saling memandang sekilas, dengan tatapan mata yang berbicara.. Agus pun paham dengan kedatangan tamu Hani. Dia pikir kedatangan mereka mengganggu seniornya ternyata kedatangan tamu bulanan buat wanita.. Emmm dasar Agus...


Bersambung dulu ya.. jangan lupa kk di tunggu like, komen, vote, dan bintang 5 nya salam sehat selalu kak🤗🤗


__ADS_2