
Lanjut baca lagi ya kak... mohon dukungannya, jangan lupa like❤..komen.. vote.. dan bintang 5 nya ya readers.. salam sehat selalu....
Satu minggu telah berjalan...
Hani telah sembuh dari sakitnya, dan dia menjalani rutinitas seperti biasanya, Arman
yang setia mendampingi di saat Hani sakit sangat senang, kekasih hatinya telah pulih.
Pagi ini.....
Setelah melaksanakan sholat shubuh berjamaah Hani dan Arman berbincang sejenak.
"Mas... bahan makanan menipis, aku mau ke pasar dulu yah, membeli beberapa bahan mas mau Hani masakin apa? " Hani bertanya pada Arman.
"Emmm masak apa aja, asal Hani yang masak mas makan, oh ya dek,, mas antar saja yah sekalian mas mau ke minimarket membeli semir sepatu... "jawab Arman.
"Baiklah mas... emmm mas naik motor aja lama Hani gak di bonceng mas Arman hehe 🤗 nanti pulangnya mampir maem pecel Madiun yah mas... " ajak Hani berkata manja pada suaminya yang masih memakai baju koko dan duduk bersila di atas sajadah.
"Oke... ayo... tapi....... " Arman menarik tangan Hani untuk mendekat. Arman memandang wajah manis berbalut mukena putih tulang.
Arman mendekatkan wajahnya ke wajah Hani kemudian.. cuppp... sebuah kecupan manis di bibir Hani, membuat pipinya merah merona.
Mereka berdua segera berangkat ke pasar, dengan mengendarai motor sesuai permintaan Hani.
Kali ini tanpa di minta Hani memeluk erat pinggang Arman. Menempelkan tubuhnya ke punggung Arman, sehingga sangat terasa ada sesuatu yang menempel empuk di punggungnya. Dan membuat Arman senang.
"Udah gak malu nih dek, pegang erat yah,, mas suka.... empuk empuk gimana gitu... " goda Arman pada istrinya yang sudah duduk di boncengan motor yang dia kendarai.
Hani hanya tersenyum dan memukul bahu Arman. "Ya iyalah gak malu, kan udah sah jadi istri,, bebas...Jangan mesum dong mas.." kata Hani sambil tertawa.
Pertama yang dituju adalah minimarket, Arman membeli kebutuhannya, semir sepatu, minyak rambut dan beberapa kebutuhan lainnya. Seusai itu mereka menuju pasar.
__ADS_1
Hani ditemani Arman berbelanja ke pasar, membeli beberapa ikan dan sayuran, serta buah kesukaan Arman. Hani pandai menawar dan mempunyai banyak langganan di pasar. Pedagang yang mengenali Hani karena Hani dulu sering ikut ibunya berbelanja untuk kebutuhan pesanan catering.
"Wah mbak Hani.. makin cantik aja Alhamdulillah udah berhijab ... emmm suaminya juga tampan... udah ada celengan belum? mudah mudahan cepet yah.. " kata seorang ibu pedagang langganan ibu Hani.
Hani senyum senyum dan melirik sang suami dengan bangga. Arman membalas lirikan Hani dengan memainkan matanya genit...... Hani memonyongkan bibir, merasa geli melihat kekonyolan suaminya itu. Setelah berbincang sebentar dan membeli beberapa sayur di kios ibu tersebut Hani segera berlalu.
Melanjutkan perjalanan.. di tengah jalan. Hani berpikir keras..." Apa maksud dari ibu tadi yah, belum ada celengan,, aku kan ada tabungan di bank.. gak nabung pake celengan seperti waktu kecil dulu... " batin Hani dengan sekali kali melirik suaminya, yang setia membawakan kantung plastik belanjaan.
Setelah ke pasar, mereka berdua melanjutkan menuju warung nasi pecel Madiun.
Hani dan Arman masuk ke warung dan memesan nasi serta minuman, keduanya menyantap dengan lahap setelah pesanan mereka datang.
Di sela sela mereka makan, dan berbincang, bersenda gurau, tiba tiba dikagetkan dengan suara menyapa.
"Hai.... kalian di sini.. " ujar suara itu yang di tujukan pada Hani dan Arman.
Pasangan tersebut menoleh ke asal suara dengan kompak. Ternyata suara itu berasal dari suara Resti dan beberapa teman wanitanya.
Hani tersenyum ramah pada Resti, sementara Arman sedikit acuh, cuek dan melanjutkan kembali makannya.
"Iya nihh... oh ya Arman bagaimana kabarmu? katanya kamu lagi tugas di perbatasan, udah balik rupanya.... " Tanya Resti pada Arman sedikit genit.
"Iya sudah pulang, kabarku,, seperti yang kamu lihat... Alhamdulillah berkat istriku yang rajin merawatku.. aku sehat. " masih dengan nada acuh pada Resti dan tersenyum dingin, justru senyuman Arman itu membuat Resti kembali mengagumi mantannya itu. Resti menyukai laki laki yang cool.
"Ohhh... jadi beruntung yah kamu dapat istri yang pandai merawat suami... aku juga merawat suamiku dengan baik loh... gak cuman istrimu yang pandai merawat... aku lebih jago.. " Resti bertambah genit sambil melirik ke arah Hani yang asyik dengan makanannya.
Resti kemudian menyuruh temannya memesan, lalu dia tarik kursi dan duduk di meja Hani dan Arman. Hani hanya tersenyum sambil terus melanjutkan nasi yang hanya tinggal beberapa suap itu.
"Oh begitu.... syukurlah,," Sahut Arman asal asalan menjawab.
"Mudah mudahan insyaf deh kamu Res... kasian suamimu.. jika kamu masih tidak mengubah kebiasaan dan gaya hidupmu yang glamour itu.. " batin Arman, melirik istri kecilnya yang makin imut saat makan karena kedua pipinya penuh nasi.
__ADS_1
"Sayang kamu jangan buru buru makannya, mas bayar dulu yah ke kasir.. "kata Arman pada istrinya, selain ingin menghindar Resti yang ikutan duduk di meja mereka, Arman segera ingin pulang ke rumah.
Hani mengangguk patuh.,Arman berdiri, berjalan menuju meja kasir. Resti yang melihat Arman ke kasir, mengikutinya tanpa sepengetahuan laki laki berbadan kekar tersebut.
"Maaf yah.. aku masih mau nambah menu, kalian tunggu sini sebentar, "kata Resti pada teman wanitanya yang sudah duduk di meja Hani menunggu pesanan.
Saat Arman membayar di kasir dan menunggu uang kembalian, Resti berdiri di samping Arman.
"Kamu makin tampan... gak nyangka deh.. oh ya ...istri kamu kapan hari dia ngantarin pesananku ke rumah,, bener dia punya bisnis kuliner dapur Hani? " tanya Resti membuat Arman sedikit jengah melihat wanita yang sudah mengkhianatinya.
Arman melirik pada Resti dan berkata..." Iya benar.. itu bisnis keluarga istriku. Oh ya... tolong jangan selalu menggangguku,, aku tidak mau istriku salah paham kepadamu nanti,dia masih polos, beda dengan dirimu!" pinta Arman kemudian.
"Ohhh..... segitu takutnya kamu,, entah kenapa hatiku sakit lihat kamu sama dia... " Resti berbisik pada Arman.
Arman menghindar dan mengambil jarak dari Resti, Resti yang merasa diperlakukan begitu sedikit sakit hati pada Arman.
"Jaga dirimu dan suamimu baik baik.. jaga rumah tanggamu sendiri... sorry aku duluan" kata Arman sambil menerima uang kembalian lalu beranjak pergi meninggalkan Resti yang memandang sinis padanya.
Arman berpamitan pada teman wanita Resti dan mengajak istrinya pulang dengan buru buru. Hani yang polos mengekor saat tangan Arman menggandengnya.
Hani menoleh ke belakang, dengan maksud berpamitan pada Resti dan temannya. Tapi keburu Arman menarik tangan Hani sedikit kasar. Hani meringis kesakitan namun Hani tidak berani bersuara.
Hani merasa suaminya sedang marah, maka dia diam saja dan menurut saat Arman menyuruhnya naik ke motor. Sementara Resti kembali ke meja makan tempat Hani dan Arman sambil memandang kesal kepergian pasangan itu.
Arman melajukan motornya dengan kecepatan sedang.Kali ini Hani hanya memegang baju Arman di samping kanan dan kiri. Hani tidak memeluk Arman seperti tadi, karena masih kesal juga Arman telah menarik kasar tangannya tadi.
Arman yang sudah merasa kesal dengan kedatangan Resti tadi pun, melajukan kecepatan motornya dengan tinggi dan sengaja mengeremnya dengan mendadak, sehingga membuat tubuh Hani berbenturan dengan punggung Arman.
"Huh mas... sengaja yah... " kata Hani memukul bahu Arman.
Arman diam namun dalam hatinya tertawa geli, mengerjain istrinya itu. Akhirnya mau tidak mau Hani kembali memeluk pinggang Arman, Arman pun sedikit tersenyum melihat ekspresi wanitanya begitu takut diam tanpa kata.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, hanya bising kendaraan yang terdengar, tanpa ada perbincangan keduanya.
Sampai sini dulu kakak.. di tunggu terus dukungannya.. sala sehat selalu yah 🤗🤗