Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 62 Ngidam


__ADS_3

Lanjut lagi masih di 💕Pernikahan Kilat 💕 yuk berikan like ❤ komen, vote dan bintang 5 nya yah kakak.. salam sehat selalu,, selamat membaca.


Sore di rumah...


Hani membuka matanya perlahan, mencoba menyatukan sukma, mengingat sesuatu sebelum terbuai mimpi.


Pusingnya berangsur hilang meskipun belum sepenuhnya sembuh.Terdengar napas teratur di samping kanan dia berbaring. Berhembus dengan damai, dipandanginya pemilik napas itu. Tengah tertidur, dengan melingkarkan tangan kekar di atas perutnya.


Hani tak sampai hati untuk membangunkan, namun ini sudah sore. Dia memeluk juga suaminya, meletakkan kepala di bawah ketiak sang suami dan tangannya di atas dada bidang milik Arman.


"Mas... Mas Arman bangun mas... udah sore belum solat.. " Hani menggoyang tubuh suaminya.


Arman pun berusaha membuka mata dan melihat keadaan. Di lihatnya istri cantiknya sudah terjaga, sambil memelukkan tangan di atas dadanya.


"Maaf sayang ketiduran,, bagaimana keadaanmu? sudah mendingan tah? opo masih pusing? " tanya Arman menatap Hani.


"Wes mendingan kok mas... cuman sedikit mual aja.. tapi gak Hani rasakan wes biar.. " jawab Hani masih dengan posisi memeluk Arman.


"Alhamdulillah,, ayo kalo gitu mandi yah,, terus kita ke kliniknya Mas Rudi. Tadi dia meminta kita kesana." Arman mengajak Hani bersiap.


Namun Hani masih tidak mau melepaskan pelukannya, dan masih asyik mencium aroma tubuh Arman di bawah ketiak.


Suaminya yang geli, menahan dan berkata.. "Dek.. mas belum mandi sore,, masak kayak gini, daripada nyium di sini,, cium yang sini aja mas rela.. " seru Arman sambil menahan geli, menunjukkan pipi kirinya pada Hani.


"Sebentar saja mas... biarkan aku begini, entah mengapa aku suka sekali berada di sini.. 10.menit aja, lalu Hani akan mandi oke... " Kata Hani masih bersembunyi di bawah ketiak Arman.


Arman berusaha mengerti dan membiarkan istrinya bermanja ria. "Entah mulai kapan dia jadi penggemar aroma tubuhku, perasaan kalo mau di cium aja suka malu malu,, emm sekarang malah nempel terus hehe " batin Arman senang sekali melihat kelakuan istrinya yang seperti itu.


Setelah beberapa menit, Hani bergerak melepaskan pelukannya, memandang Arman lalu mencium pipi laki laki tersebut.


"Makasih mas udaah mau ngertiin sekarang Hani mandi dulu yah... " seru Hani berlalu dari hadapan Arman.


Arman tersenyum, lalu mengambil ponsel di nakas. Setelah di cek beberapa saat, Arman ingat bahwa dia tadi meminta Dafa untuk tinggal sementara di sini. Kemudian Arman segera bangun dan keluar kamar menemui Dafa.


Di lihatnya seluruh ruangan di rumahnya kosong, ruang tamu, teras belakang. Arman tak menemukan Dafa. Calon keponakan iparnya tersebut.


"Kemana dia... apa tidur di kamar tamu? " Arman beranjak ke kamar tamu di depan, satu ruang dengan ruang tamu.


Di ketok pintunya berulangkali tidak ada jawaban. Arman pun membuka pintu kamar, dan pandangannya mendapati Dafa yang tengah pulas di atas kasur bersama dengan ponsel yang masih menyala.

__ADS_1


Terdengar alunan lagu dari Anji di sana, Arman mendekat. Di lihatnya ponsel Dafa terdapat foto Dafa dan Shasa tengah berselfi ria menjadi wallpaper ponsel Dafa.


Arman mematikan musik di ponsel Dafa, lalu meletakkannya kembali di sebelah Dafa. Diapun meninggalkan Dafa dengan mimpinya.


"Nanti saja dibangunkan kalau sudah mau berangkat ke Rudi aja" batin Arman keluar kamar tamu dan menutupnya kembali. Ada rasa iba pada Dafa, yang jauh dari orangtua. Arman sudah menganggapnya seperti adik sendiri, bukan tanpa alasan merestui hubungan Shasa dan Dafa, karena Dafa adalah laki laki yang bertanggung jawab, dan pandai mengaji. Membuat Arman mengikhlaskan keponakannya bersama dengan Dafa.


Beberapa menit berlalu, Hani telah siap untuk pergi memeriksakan diri bersama Arman.


Saat akan berangkat, Arman membangunkan Dafa berpamitan. Dafa dengan wajah masih mengantuk mengantarkan kepergian pasangan tersebut sampai di depan pagar. Kemudian berlalu dan segera masuk ke dalam rumah minimalis milik Arman.


Sesampainya di depan klinik Dokter Rudi, Arman mengajak istrinya masuk. Kebetulan ada asisten dr Rudi sedang menulis laporan di meja terima tamu.


Setelah berincang bincang sejenak, sang asisten segera masuk ke ruang praktek menemui dr. Rudi.


Arman dan Hani dipersilahkan masuk ke ruang praktek.


"Selamat ya.. akhirnya kalian akan segera menjadi orang tua. Arman.. jaga istrimu ! masih ingat pesanku tadi bukan? " kata Rudi kepada Arman dan Hani yang duduk di meja kerja Rudi.


Hani yang selesai melalui beberapa pemeriksaan masih tertegun tidak percaya, jika tidak tangan hangat suaminya memegang tangan Hani.


"Ternyata aku hamil beneran Ya Allah.. aku kurang yakin tadi di rumah, tapi kini semua ada bukti nyata. " batin Hani senang.


Rudi mengangguk ikut senang, kemudian menyodorkan kartu nama untuk dokter kandungan wanita seperti yang di minta Arman, agar setiap bulan bisa kontrol rutin untuk kesehatan kandungan Hani dan adik bayinya.


Sepanjang perjalanan tak henti hentinya kedua manusia ini bersyukur. Kabar ini di sampaikan pada ibu Hani dan Bunda Shasa melalaui telepon.


Arman sengaja tidak membawa Hani ke rumah mereka, karena khawatir kondisi awal kehamilan Hani.


******


Ngidam semangka...


Malam ini Hani dan Arman tengah bersantai di teras belakang. Dafa berpamitan pulang karena besok akan ada kegiatan di markas.


"Mas... Hani pengen semangka... " kata Hani manja.


Suaminya diam lalu dilihat jam tangan di pergelangan tangan kiri Arman., menunjukkan pukul 21.08


Arman berpikir keras dimana ada yang jual semangka malam malam begini.

__ADS_1


"Sayang berani di rumah sendiri? mas mau carik di pasar yah.. sebentarrrrr aja.. " ujar Arman pada istrinya yang kelihatan masih teler bersandar di bahunya.


Hani mengangguk, matanya berbinar senang karena dia sudah tidak tahan sepertinya, buah semangka dengan warna merah merona segar berasa sudah di bibirnya.


Hani pun dengan semangat menyuruh suaminya untuk membeli semangka itu.


Arman meskipun sedikit khawatir, segera mengambil jaket dan kunci motor. Diapun mewanti wanti Hani agar tidak mematikan ponselnya.


Hani mengangguk paham, kemudian dia menunggu Arman di ruang tengah sambil nonto TV.


Hampir satu jam Arman berkeliling di jalan mencari toko buah yang buka. Dan tidak menemukan satu toko buahpun yang buka, namun dia tidak patah semangat.


Sampai di ujung pasar induk di kota itu, pandangannya terhenti pada kios toko buah yang masih buka.


"Alhamdulillah ada.. " gumam Arman, kemudian membeli satu buah semangka dengan ukuran besar. Dia berpikir istrinya bakalan senang, karena buah semangka tanpa biji ini super dan pilihan kata pemilik kios tersebut. Setelah membayar, Arman pergi pulang.


Masuk ke dalam rumah, memanggil istrinya yang masih terjaga di sana.


"Dik ini semangkanya,, mas belah ya.. " ujar Arman pada Hani.


"Wah dapat mas,, makasih ya.. " sahut Hani senang, kemudian memeluk buah semangka itu erat erat.


Arman menaruh jaketnya, kemudian memperhatikan Hani yang bertingkah aneh.


"Mas tidur yuk.. " ajak Hani.


"Loh katanya pengen semangka di maem dulu sayang, sini mas belah belah ya? " ujar Arman mengelus rambut Hani.


"Jangan biar aja begini, ayo bobok Hani dah ngantuk.. " Hani menggendong semangka itu ke dapur mengambil lap dan membersihkan kulit semangka tersebut.


Arman mengekor sambil bertanya tanya dalam hati namun dia tidak berani memberi pertanyaan pada istrinya.


Hani membawa masuk semangka itu, dan menggandeng tangan Arman masuk ke kamar. Hani meletakkan semangka itu di atas meja sambil mengelus elus, kemudian berbaring.


Suaminya hanya senyum senyum, ternyata orang ngidam itu aneh aneh ya,, kirain mau di makan gak taunya hanya di elus elus saja buah semangkanya.


bersambung dulu... 🤗🤗


maaf agak lama updatenya,, masih sedikit sibuk.. tunggu cerita berikutnya yah 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2