
Berlanjut lagi yah...
Papua berada...
Arman selesai latihan bersama pasukannya di lapangan base camp, melepas lelah di bawah pohon mangga yang berjajar di pinggir lapangan.
Di gunakan waktu istirahat sebaik mungkin, wajahnya yang sedikit gelap terpapar sinar matahari sepanjang waktu di tanah Papua, tak mengurangi sudut ketampanannya itu.
"Lelah sekali latihan hari ini bang... abang mau minum? " Dafa menyodorkan sebotol air mineral kepada seniornya tersebut.
Arman menerimanya ,berkata "Terimakasih... " Lalu meneguk air yang di berikan Dafa.
Dafa, Agus, Ujang dan Taufik duduk tak jauh dari Arman. Pikiran Arman tiba tiba ingat pada istri kecilnya itu.
"Sedang apa dia sekarang,, aku sudah sangat merindukannya.Padahal saat di sana pun kita juga jarang bertemu. Tetapi mengapa wajah manismu slalu nampak di hadapanku.." batin Arman sambil memainkan botol air di tangannya.
Menjaga perbatasan Indonesia dan Papua adalah tugas yang tengah di embannya saat ini. Berbaur bersama masyarakat di sini sedikit membuat hati para prajurit terhibur, setidaknya mengobati rasa kangen mereka dengan keluarga di kampung halaman.
Di sini Armanlah yang baru merasakan beratnya rindu.Pantas saja ungkapan yang ada di film Dilan.." Jangan rindu. Ini berat. Kau takkan kuat. Biar aku saja."ternyata ungkapan itu benar benar dia rasakan saat ini. Arman membatin seorang diri sambil menatap langit.
Rindunya sudah menumpuk tak terbatas, namun masih banyak asa, semua akan indah pada waktunya.
Arman memandang hamparan tanah lapang di depannya. Lelah yang dia rasakan saat ini akan terbayar dengan pengabdian pada negara menjadikannya kepuasan batin tersendiri. Suka dan duka yang mereka rasakan selama menjaga perbatasan ini, memberikan kesan tersendiri. Berbaur bersama penduduk asli. Memahami bahasanya, mempelajari budaya dan adat mereka, membantu kesulitan yang mereka hadapi, membuat Arman dan rekan yang lain menemukan pengalaman dan pelajaran baru.
Semilir angin berhembus sepoi sepoi, membawa kedamaian siang itu.
"Bang... Kangen gak dengan masakan rumah?" tanya Agus kepada Arman membuka percakapan sambil mengusap peluh di dahinya.
"Tentu saja... Kangen... Kangen rumah, kangen masakan rumah.. "ujar Arman menanggapi pertanyaan anggotanya.
__ADS_1
"Kangen istri tentunya bang" celutuk Dafa di sertai gelak tawa rekan yang lain. Gurauan Dafa kali ini mengena langsung pada pikiran Arman siang ini.
Arman ikut tertawa, dan terlihat manis sekali, meskipun wajah penuh dengan painting corak coret hitam dan hijau tetapi dia masih saja nampak tampan.
"Bang... Siap siap tempur deh...pengantin baru, kasihan ibu negara menunggu... " goda Agus pada Arman.
"Ahhh kalian jangan iri ya nanti.. Mangkanya lekaslah menikah.. Carilah jodoh... Tapi yang bener bener tahu sama tugas tentara, sewaktu waktu negara memanggil kita mereka tidak akan protes, bukan begitu Kang Ujang.. " nasehat Arman.
"Siap komandan.. Betull" yang dipanggil namanya mengacungkan jempol. Ujang rekan Arman sudah menikah dua bulan sebelum Arman. Tentu saja dia juga sudah pasti merindukan istrinya yang setia menunggu di rumah.
Agus yang merasa jomblo kali ini tersindir oleh perkataan Seniornya tersebut. Agus hanya tersenyum masam. "Aku belum ada jodoh bang,, belum nyarik takut gak mau sama aku yang hitam begini." Agus pasrah dengan ucapannya.
"Mana ada gadis yang nolak kamu gus..., kamu aja yang gak pede.. "Aya kahayang bari jeung teu dibarengan ku usaha mah sarua jeung ngabodor." Ingat itu.... kamu mah pengen punya pasangan tapi usahanya masih kurang." Kata Ujang menasehati Agus dengan campuran bahasa Sunda.
Agus hanya manggut manggut mendengar perkataaan Ujang.
"Sayangnya di hutan gak ada wanita cantik bang.. kalo nyarik di kota takut.. takut gak mau sama saya. " gurauan Agus disambut seruan setuju rekan yang lain.
"Bagi tips dong kak jangan hanya nasehat aja... biar kita bisa pulang nanti bisa nyusul Bang Arman.. "
Mereka semua tertawa bersama. Di sela sela melepas lelah pasti terdapat guyonan guyonan tercipta, setidaknya dapat mengurangi rasa penat itu sendiri.
Dafa yang diam sedari tadi, kemudian mendekat pada Arman. Setengah berbisik.. "Bang.. Apa boleh saya meminta nomer hp Ning Shasa..? " Dafa memberanikan diri.
Arman melirik Dafa yang menunduk.
"Untuk apa? " tanya Arman acuh.
"Hanya sekedar ingin mengenal lebih dekat.. " jawab Dafa.
__ADS_1
"Kan sudah kenal.. " kembali Arman menjawab.
Dafa menghela napas dan terdapat wajah kecewa serta putus asa.
"Dia sedang sibuk mengikuti tes kedinasan doakan saja dia lulus, kamu suka Shasa? " Arman kembali melirik Dafa yang sedang memandang langit tanpa batas.
"Maaf bang saya belum berani.. " jawab Dafa sedikit khawatir.
"Kumpulkan keberanian kamu lalu datanglah padaku kemudian! " perintah Arman pada anggotanya yang paling muda tersebut.
Dafa yang merasa mendapat angin segar dari Arman merasa kembali bersemangat.
"Siap laksanakan " sahutnya penuh keyakinan.
Dafa bertekad akan mulai menjalin keseriusan dengan Shasa jika nanti sudah pulang balik ke tanah Jawa.
"Mari kembali ke base camp, nanti sore waktunya kita patroli rutin terakhir kita" Arman mengajak rekan rekannya di sana untuk kembali ke tempat tinggal sementara selama menjaga perbatasan.
Mereka telah menyelesaikan latihan bersama untuk persiapan upacara kepulangan pasukan besok. Namun tidak ada satupun dari mereka yang mengabarkan pada handai taulan karena terkendala sinyal.
*********
Sementara di tempat Hani..
Hani sedang sibuk mengantar beberapa pesanan masakan. Dengan mengendarai motor matic hadiah dari kakak iparnya, Hani pergi mengantar pesanan yang dibuat olehnya bersama Ibu Hani. Setiap pagi, setelah merampungkan beberes rumah Hani pergi ke rumah ibunya untuk memasak aneka pesanan yang sudah di order pelanggan, kemudian mengantarnya sampai ke tempat tujuan., sekalian mengantar Aldo ke sekolah. Sore harinya Hani pulang ke rumah cendana, bersama Aldo seusai Aldo mengaji. Jika ada acara untuk mengunjungi sawah dan kebun atau kos kosan bersama Arni, Hani pun tidak menerima orderan.
Hani tetaplah seorang gadis yang periang, aktif, dan ramah meskipun sudah menikah. Semua yang terjadi karena pernikahannya itu tak lantas membuatnya berubah memjadi sosok yang berbeda. Hani masih tetap Hani yang dulu, periang, ramah dan supel. Hanya saja beberapaa waktu belakangan ini dia mencari kesibukan, karena merasa kesepian. Biasanya para sahabat menemani malamnya dengan obrolan seru di grup, namun beberapa hari ini mereka satu persatu menghilang karena kesibukan masing masing.
Namun Hani menjalani hari harinya tanpa beban, karena dia ingat pesan Arman untuk membuat hidupnya jangan terlalu memikirkan hal hal yang rumit. Terkadang hal yang mudah terasa rumit karena kita terlalu sibuk memikirkan masalah itu, padahal jalan keluar sudah ada.
__ADS_1
Kini Arman dan Hani berdiri di satu bumi, berpijak pada satu tanah namun berjauhan, tempat yang berbeda ,dengan kegiatan yang berbeda pula.
Bersambung dulu.. 🤗🤗