
Lanjut nih...
Masih di lapangan bataliyon...
Suasana mengharu biru di lapangan tersebut, melepas kepergian sejenak orang orang yang mereka sayangi.
Hani yang berusaha terlihat tegar, menatap punggung laki laki yang telah menikahinya tadi pagi. Sosok yang baru beberapa waktu lalu dia kenal, dan sosok itulah yang menjadi imam dalam rumah tangganya saat ini.
Semua begitu cepat terjadi. Pertemuannya.. singkat... perkenalannya... kedekatannya....... perjodohannya... terlalu cepat... pernikahannya ..kilat... bahkan perpisahan sementara ini berasa mimpi buat Hani.
"Ya Allah... berikan aku kekuatan seperti yang selama ini Kau anugerahkan padaku... " batin Hani.
Arman dan beberapa pasukannya menaiki kendaraan truk militer yang berjajar rapi di bahu jalan. Arman duduk di samping pengemudi yang tak lain adalah Agus. Sementara Dafa berada di belakang bersama beberapa rekan Arman yang lain.
Aldo yang melihat kakak iparnya itu begitu bangga sehingga membuatnya terinspirasi untuk bercita cita seperti Arman. Aldo melambaikan tangannya pada kakak iparnya itu. Di sambut dengan senyuman dan lambaian tangan seluruh penumpang truk militer.
Airmata Hani telah kering,, tak lagi menetes seperti tadi. Hanya raut wajah kusut, serta memaksakan senyuman dan melambaikan tangan mengantar keberangkatan pasukan. Perlahan namun pasti truk militer berjumlah 10 buah berjalan beriringan mulai meninggalkan lapangan tersebut.
Sesosok anak kecil perempuan berusia sekitar 5 tahun, meronta dari gendongan ibunya. Menangis dan memanggil ....
"Ayah.... ayahh.. aku ikut ayah... "rengek bocah kecil itu.
Ibu yang menggendongnya hanya terdiam dan tak dapat berkata kata. Lelaki separuh baya di sampingnya membujuk anak gadis itu untuk diam.
Hati Hani trenyuh melihatnya,, "Bukan hanya aku saja yang sedih kali ini. Aku harus bangkit dan kuat, bukankan sudah bersumpah dan berjanji untuk menjadi istri prajurit yang setia dan mandiri." batin Hani berkata.
Sungguh pemandangan yang baru pertama kali Hani lihat dalam hidupnya.
Bunda Shasa mendekat., pada Hani yang masih memandang kepergian truk yang mulai hilang dari pandangannya.
"Nduk.. ayo pulang... istirahatlah.. jangan sampai Arman mendengar kabar bahwa kamu sakit. Pulanglah bersama kami, biar om yang bawa mobilnya Arman." kata Arni pada Hani.
Hani menoleh pada Arni dan berkata...
"Tante saya pulang ke rumah cendana saja (sebutan rumah Arman karena terletak di perumahan cendana maka lebih singkat di sebut rumah cendana) Mas Arman berpesan agar saya tinggal di sana,, "
__ADS_1
Arni mengangguk paham, jika Arman sudah berpesan demikian berarti Hani memang harus menurutinya.
"Ibu.. kalo di ijinkan sekali waktu Aldo bermalam di rumah ya.. bu.. Shasa juga ya.. " kata Hani pada ibunya dan Shasa.
"Baiklah ibu mengerti " kata ibu Hani, bagaimanapun keadaannya, Hani sekarang sudah menjadi istri orang, jadi dia pun harus tinggal di rumah suaminya.
"Hani.. aku akan sering main ke sana, jika nanti tidak sibuk dengan tes yah,, Oh ya Hani doain aku yah.. besok lusa aku akan berangkat tes.. " seru Shasa bersemangat.
Hani mengangguk dan tersenyum...
Mereka pun segera meninggalkan bataliyon tempat Arman berdinas.
Arni membawa mobilnya pulang bersama Mita dan Shasa. Arni akan mengantarkan Mita terlebih dahulu karena sudah barang tentu keadaan rumah Hani saat ini masih berantakan setelah acara persiapan akad tadi pagi. Ibu Hani memasrahkan semuanya pada Bi Imas dan beberapa kerabatnya.
Setelah mengantar Mita pulang, Arni melajukan mobilnya ke arah rumah Arman adiknya, untuk menjemput Arya di sana.
Sementara, Hani, Aldo dan Arya , ayah Shasa membawa mobil Arman dan mengantarkan pulang ke rumah cendana.
Setibanya di rumah cendana, Hani pun turun membuka pagar rumah. Mobil dimasukkan ke dalam garasi. Dan Arya mengajarkan pada Hani cara untuk memanasi mobil , karena sudah pasti mobil tidak akan di gunakan setelah kepergian Arman.
"Ndukk.. maaf ya mbak gak bisa mampir.. lain kali saja,, di rumah masih banyak kerabat dari luar kota yang datang, kamu baik baik ya,, kalo ada apa apa jangan segan menghubungi kami, Oh ya Aldo nanti sore pesan Ibu Mita tadi akan ada Pak Kardi mengantarkan pakaianmu kemari nak.. "kata Arni dari dalam mobil.
Aldo mengangguk, dan Hani menghampiri mereka. " Tante terimakasih banyak yah.. maaf merepotkan,, Shasa semangat buat besok" kata Hani.
"Oke beb.. aku akan chat kamu nanti... baik baik yah "Shasa melambaikan tangannya melalui jendela..
"Kami pamit pulang dulu ya nduk.... Assalamualaikum..." Arya melajukan mobil fortuner warna hitam tersebut.
"Waalaikumsalam.. hati hati... " Hani dan Aldo membalas lambaian tangan Arni dan Shasa.
Hani mengajak adiknya masuk ke dalam dan mengunci pagar dengan benar. Hani membuka pintu rumah, lalu berjalan masuk, menunjukkan kamar Aldo. Dan menyuruhnya untuk mandi lalu sholat. Aldo menurut pada Hani, dan berpamitan ke kamar.
Hani masuk kamar utama, kamar dirinya dan Arman. Di pandangnya ruangan yang harum semerbak karena bunga sedap malam itu.
"Kosong.... hanya ada aku" batin Hani lesu.
__ADS_1
Masih teringat jelas, beberapa jam yang lalu dia dan Arman disana. Masih berdiri dengan busana pengantin sementara Arman dengan pakaian jas dinas lengkapnya, seusai akad.
Hani melangkahkan kakinya di ranjang besar itu. Dia hempaskan tubuhnya yang lelah disana.
"Kangen..... Baru beberapa jam yang lalu berpisah bagaimana mungkin aku bisa menjalani hari hariku " lirih Hani.
Hani mengingat kejadian tadi saat Arman mencium bibirnya, ada perasaan terpendam yang sukar diungkapkan dengan nalar. Rasa hangat yang Arman berikan bukanlah sekedar nafsu semata, tetapi itu rasa sayang yang besar hanya untuk Hani.
Mata Hani terpejam sesaat, dia mulai tertidur masih dengan pakaian seragam isteri tentara, berwarna hijau itu.
Sore hari ...
Hani yang terjaga karena mendengar adiknya mengetuk pintu kamarnya, segera keluar.
"Kak... Aldo lapar.. tadi Aldo mau nyarik mie instant di dapur tapi belum ijin kakak,, kakak sakit? " tanya Aldo polos.
"Ya Allah,, kakak lupa memberimu makan dek.. kemarilah ikut kakak... kenapa harus ijin dek.. jika Aldo lapar datanglah kemari..Kakak baik baik saja maaf kakak ketiduran dek.. " Hani mengajak Aldo sambil menunjuk ke arah dapur.
Aldo mengekor.. Hani pun menunjukkan letak penyimpanan bahan makanan.
"Ada beberapa persediaan mie instant disana, disini ada nuget, telur dan sarden., itu camilannya disana dek.. kakak belum membeli susu untuk kamu, nanti kalo tidak capek kita keluar yah, sekarang bikin mie dulu sementara oke... " kata Hani pada Aldo, setelah menjelaskan letak letak bahan makanan.
Setelah selesai membuatkan mie buat Aldo, Hani masuk kamar untuk mandi dan sholat.
Untuk sesaat Hani sedikit terbiasa tanpa Arman. Usai sholat Hani begitu tenang setelah memanjatkan doa.
Beberapa waktu berlalu, bel di rumah Hani berbunyi. Di lihatnya dari jendela ternyata Pak Kardi yang datang.
Hani menyuruhnya masuk, namun Pak Kardi menolak dengan alasan masih membantu Ibu Hani di rumah beres beres. Lelaki separuh baya itu menyerahkan tas Aldo dan beberapa kotak makan. Setelah mengucapkan terimakasih, dan Pak Kardi pun berlalu, Hani dan Aldo masuk kembali.
Di bukanya kotak makan itu...
"Wahh ibu mengirimkan makanan buat kita kak,, kebetulan.. ayo kak makan dulu.. " ajak Aldo.
Hani pun bersemangat, membawa kotak nasi ke meja makan. Aldo yang masih lapar makan dengan lahapnya, saat Hani memasukkan sesendok nasi ke mulutnya, tiba tiba dia mengingat kejadian di meja makan waktu pertama kali datang ke rumah ini. Hani tersenyum sendiri.. Tidak menyangka sama sekali ternyata dia jodohnya.
__ADS_1
Bersambung lagi... 🤗🤗