Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 58 Kegagalan Shasa


__ADS_3

Lanjut lagi masih di 💕Pernikahan Kilat 💕 yuk berikan like ❤ komen, vote dan bintang 5 nya yah kakak.. salam sehat selalu,, selamat membaca..


Masih di cafe mall "A "


Setelah kepergian Shasa, Hani duduk kembali di meja berbentuk lingkaran tersebut, bersama ketiga sahabatnya.


"Gak ada apa apa kan sama Shasa, kok mendadak gitu? " tanya Prasa pada Hani yang memeriksa dompetntya, setelah membayar nota pemesanan di kasir.


"Mudah mudahan saja, mungkin bundanya lagi ada acara penting. Tapi tadi gak sempat pesan apa apa sih, dari tadi aku telepon bunda Shasa gak aktif ponselnya." cerita Hani.


Kegelisahan di wajah mereka mulai tampak, mereka sibuk menghubungi Shasa melalui wa. Namun centang satu.


Semua terdiam membisu dengan pikiran di kepala masing masing. Mulai malas bercanda gak lengkap rasanya jika tidak ada salah satu dari anggota geng Hani di sini.


Tiba tiba Pras melihat sosok pria berseragam doreng menuju meja mereka. Tak asing lagi dia adalah suami Hani.


Pras memanggil Hani.. " Hani.. suami kamu tuh udah jemput. " kata Pras dengan suara datar.


Hani menoleh ke belakang, di dapatinya seorang laki laki tengah tersenyum manis padanya sambil memainkan kunci kontak mobil.


"Maaf sayang nunggu lama yah.. " kata kata Arman membuat ketiga sahabat itu berimanjinasi dengan kata kata sayang.


Arman menyapa sahabat sahabat Hani dengan hangat. Mereka bertiga membalas dengan ramah pula.


"Gak papa mas.. mas masih mau minum atau kita langsung pulang? " tanya Hani pada Arman.


"Kalo udah selesai reuninya, Kita pulang aja yuk.. " jawab Arman.


Hani mengangguk setuju, karena memang sudah lama Hani meminta ijin keluar rumah.


Dia sekarang sudah bukan gadis remaja lagi Hani sudah punya tanggung jawab sebagai seorang istri.


"Maaf yah, saya ajak pulang duluan Hani nya, oh ya di tunggu kedatangannya di acara kita. " kata Arman pada Pras, Felii dan Roni.


"Oke om... see you ya.. Hani makasih traktirannya" seru Felli.


Hani berkata.. " Oke sama sama, jangan lupa ya,, datang di awal,,, aku tunggu,, aku duluan yah,, Felli jangan gosip mulu sama Roni,, Pras semangat yah.. "


Ketiga sahabat ini toss dan tertawa lalu menyempatkan diri kembali berfoto. Kali ini ada Arman di samping Hani yang ikutan foto.

__ADS_1


Setelah berpamitan, pasangan itu meninggalkan cafe. Arman memegang bahu istrinya berjalan berdampingan. Pras dan kedua temannya memandang sejenak lalu memutuskan untuk ikut pulang.


Di rumah Shasa..


Bunda Shasa sudah menunggu Shasa di ruang tamu. Shasa masuk rumah dengan wajah tegang.


"Assalamualaikum... Shasa pulang bun.. " kata Shasa lalu duduk di samping Arni. Arni melihat kepulangan putrinya dengan senyum dan menyuruhnya duduk seraya menatap Shasa.


"Hari ini darimana saja? " tanya Bunda Shasa.


"Kami ke kantornya om, lalu ke cafe bun,, ada apa bunda menelpon Shasa tadi? " Shasa bertanya balik.


Arni menghela napas sejenak, memandang putri semata wayangnya.


"Nduk...... Shasa..... tadi bunda dapat surat pemberitahuan dari tempatmu tes, yang isinya menyatakan Shasa masih belum lulus di ujian terakhir kemarin nak.. " cerita ibu Shasa sambil sedikit menahan rasa sedihnya.


Shasa terdiam, airmatanya tengah tertahan di sana, menunduk dalam. Kekecewaan terlihat di pelupuk matanya.


"Tenang saja masih banyak kesempatan yang lain bukan, kan Shasa baru aaal ini ikut tes, nanti lain hari kita coba lagi... oke... " begitu Arni menghibur putrinya ini.


Arni membelai rambut Shasa, tangis Shasa pun akhirnya pecah di dalam pelukan wanita berusia 35 tahun tersebut.


Sementara Arman dan Hani telah sampai di rumah. Kesibukan di sore ini sedikit membuat Hani melupakan keadaan Shasa, dan tidak bertanya pada suaminya. Dia tengah memasak di dapur, sementara Arman menjemur pakaian yang sudah di giling di mesin cuci.


Keduanya larut dalam kegiatan harian masing masing hingga menjelang tidur.


Saat kedua mata Hani belum terpejam, Hani melirik lalu mendekat, dilihatnya suaminya pun demikian. Masih belum memejamkan mata.


"Mas.... tadi kenapa tiba tiba Shasa di telepon mbak Arni, dan disuruh pulang duluan ya?" tanya Hani.


Arman menatap ke langit langit kemudian mengarahkan pandangannya ke istrinya,


"Shasa tesnya gagal dik... mbak dapat surat pemberitahuan yang dikirim kemarin. " Arman menjelaskan pada Hani.


Hani terdiam sejenak, "Mas kenapa gak ngasik tau dari tadi ke Hani, pantes saja sampai tadi ini Hani coba telepon Shasa Hpnya gak aktif mas... " kata Hani.


"Iya.. sudahlah dik belum rejekinya,Shasa mungkin lagi nenangin diri., sayang kita tidur yah udah malam. " Arman mengecup kening istrinya, membiarkan tangan kekarnya dan kakinya melingkar di pinggang kecil Hani dan kaki bawah Hani. Kemudian wajah tampannya larut di dekat kepala Hani.


Hani masih terdiam membisu, pikirannya masih kepada Shasa sahabat yang paling dekat dengannya tersebut. Hingga lama kelamaan ikut terlelap dalam pelukan sang kekasih.

__ADS_1


*****


*D*i rumah Shasa..


Shasa berbaring di kasur ranjang di kamarnya yang lumayan besar. Kegagalannya kali ini benar benar membuatnya larut dalam kesedihan yang teramat sangat.


Saat hati, pikiran dan tubuhnya lelah, matanya tak kunjung mau bersahabat. Dia ingin memejamkan mata dan menghempas sejenakan rasa lelah itu, namun sang mata masih terjaga dengan angan yang melayang entah kemana.


Masih terngiang di telinga Shasa, semua perbincangan yang terjadi suang tadi bersama bundanya.


Namun Shasa masih bersyukur memiliki ayah dan bunda yang slalu mendukung dirinya apapun yang terjadi.


"Semangatlah nak... jangan mudah menyerah ini bukan akhir dari segalanya, bahkan kamu belum mengawali jalanmu. Shasa.. bunda mau pun ayah disana tidak akan menyalahkanmu dengan kejadian ini, semua masih belum rejeki nduk.. Oh ya.. kamu bisa mendaftar kuliah online bareng Hani bukan. Kalian bisa sama sama menimba ilmu satu universitas pasti seru... keponakan dan tante sama sama kuliah bareng wahhh... ayolah semangat yah.. nanti Shasa juga bisa bantu bisnis keluarga kita sekalian isi waktu luang seperti Hani. Bunda rasa kamu pasti setuju.." Bunda Shasa meyakinkan putrinya, meskipun dalam hati bunda bersedih namun Shasa yakin bunda menahannya. Dan ini benar benar membuat Shasa makin bersalah.


Shasa menghela napas panjang, karena rasa kantuknya tak kunjung datang, dia pun mengambil ponsel di atas nakas. Lalu menghidupkan dan mengaktifkan paket datanya.


Nampak ponselnya penuh dengan pesan chat di whatsapp, serta panggilan tak terjawab dari para sahabatnya yang khawatir.


"Maafin aku yah,, aku masih butuh waktu sendiri, aku belum bisa balas wa kalian. " gumam Shasa.


Dia letakkan ponsel bewarna putih di samping bantalnya. Sesaat kemudian ponselnya kembali bergetar, notif pesan masuk terdengar.


Shasa meraih ponselnya dengan malas, dan membuka pesan, dari nomer asing, kemudian membacanya.


"Assalamualaikum.. apakah malam ini aku menggangu waktu istirahatmu? " isi pesan bertuliskan demikian.


"Waalaikumsalam, ini dengan siapa yah? " Shasa membalas pesan tersebut dengan perasaan kepo.


"Maaf.. lupa memberitahu, ini nomer Dafa, Dafa Permana yang tadi siang ketemu.."balas Dafa.


Betapa terkejutnya Shasa saat yang mengirim pesan tadi adalah cowok yang dia suka. Anak buah Om Arman.


"Ya Allah.. gak nyangka bang Dafa, pasti dapat nomer dari om yah.. " tanya Shasa kini hatinya sedikit berbunga, setelah mendung gelap tadi menyelimuti hati dan pikirannya.


"Iya.. maaf ya gangguin malam kamu, lagi apa nih? " Dafa mengawali perbincangan malam ini bersama Shasa.


Mereka berduapun larut dalam suasana malam. Dafa sukses membuat Shasa sedikit melupakan kesedihannya, membuatnya kembali tersenyum dengan memberi dukungan dan semangat, alhasil Shasa kini telah melupakan kegagalannya itu, dan berjanji untuk melangkah lagi ke depannya.


Entah janji apa yang dua insan ini berikan. Akan tetapi mereka punya komitmen yang baik. Akankah mereka berdua kelak menyusul Hani dan Arman ?.

__ADS_1


Bersambung lagi yah.. 🤗🤗


__ADS_2