
Hallo kakak kakak readers... ketemu lagi.. yuk lanjut baca.. happy reading yah...
Acara tasyakuran di rumah Arman telah selesai, dan tamu tamu berpamitan pulang. Ibu Hani, Aldo, Mbak Arni, Mas Arya, dan Bi Imas yang diajak ibu sekalian meninggalkan rumah Hani dan Arman.
"Tante salamin buat Shasa yah... "Hani berkata sambil menggandeng tangan suaminya itu., mengantar kepergian mereka.
"Okeee kalian baik baik di rumah ya.. mbak pulang dulu.. " kata Arni melambaikan tangan.
"Ibu.. hati hati.. Hani masih libur dulu bu terima orderan.. " kata Hani pada ibunya.
Ibu Hani mengangguk paham, suami putrinya baru pulang tugas kemarin, pasti mereka tengah melepas waktu saling rindu. Ibu Hani mencium kedua pipi putrinya. Aldo memeluk kakak perempuannya dan kakak ioranya juga. Kemudian melambaikan tangan memasuki mobil Arni.
Setelah mobil fortuner hitam yang dikendarai Arya melaju meninggalkan rumah minimalis tersebut. Arman segera menutup pagar, Hanni berdiri menunggu suaminya untuk masuk.
Setelah di dalam rumah. Hani dan Arman saling bekerja sama membersihkan rumah, untung saja tadi Bi Imas membantu mencuci piring kotor, jadi mereka berdua hanya tinggal mengerjakan sisanya saja.
Arman kasihan melihat istri kecilnya tersebut membersihkan rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Dia menawarkan akan mencari seorang asisten rumah tangga untuk membantu dan menemaninya. Namun Hani menolak.
"Gak usah deh mas.. Hani masih bisa kok mengerjakan seorang diri. Hani kan gak ada kerjaannya, kecuali diajak Mbak Arni nengok sawah. Kalo Hani butuh pasti manggil Bi Imas untuk bantuin di sini mas... " begitu kata Hani pada suaminya tersebut.
Arman menurut dan mengiyakan selama tidak membuat Hani kerepotan.
"Ingat mas memperistri kamu bukan untuk membuatmu melakukan semua hal seorang diri, mas mau Hani hidup santai. Jika memang perlu katakanlah. Jangan sungkan" kata Arman menasehati istrinya.
Hani yang merasakan pusing makin menjadi dan memilih beristirahat sejenak di sofa ruang tamu. Sementara Arman selesai mengepel lantai.
Hani yang tak kuat menahan sakit kepala, tertidur di sana. Arman mencari Hani dan menemukannya tengah tertidur dengan posisi kaki di bawah sementara badannya di atas sofa.
Arman berjalan ke arah istrinya..
"Dik.. bangunn ayo tidur di dalam, di sini nanti ada tamu.. "Arman membangunkan Hani.
Namun betapa terkejutnya Arman saat menyentuh pipi Hani badan istri kecilnya itu panas.
__ADS_1
"Dik... dik.. kok demam.. dikk Hani sakit.. " berulang kalo Arman menggoyangkan tubuh mungil itu.
Hani yang merasa tubuhnya berguncang berusaha membuka matanya yang mulai panas.
"Mas... Hani pusing.. mata dan hidungku panas.. " Hani berusaha bangun dari sofa saat melihat Arman dengan wajah khawatir bersimpuh di lantai dekat sofa yang dia tiduri.
"Kenapa baru bilang,, sejak kapan dik..? pasti dari pagi tadi saat mas menyentuh tanganmu yah..kamu gak ngaku.. ayo masuk ke kamar.. " tanpa basa basi Arman sedikit kesal pada Hani langsung menggendong tubuh mungil itu. Bukan masalah berat buat Arman mengangkat Hani dengan mudahnya.
Hani hanya diam karena sudah benar benar merasa pusing sampai untuk membuka matanya saja dia gak sanggup.
Dilingkarkan tangan Hani pada leher Arman dan membiarkan Arman membawanya masuk ke kamar.
Arman membaringkan tubuh Hani. Membuka pelan hijb yang Hani pakai. Mengambil baju tidur Hani, memilihnya yang dari kain katun. Agar membuat Hani nyaman.
Arman membuka dress gamis panjang Hani. Dengan sangat hati hati. Hani hanya pasrah dan sibuk dengan sakit yang dia rasakan. Hingga membuatnya menggigil.
Perlahan Arman membuka resleting depan gamis. Menurunkan lengan di pundak putih Hani... Jantung berdebar saat perlahan melihat bagian bagian sensitive Hani. Dua buah yang ranum terbalut bra...membuat Arman sedikit bergetar. Arman segera menutupnya dengan selimut., dan menarik baju Hani dari balik selimut agar tidak terlihat olehnya bagian sensitive lainnya. Karena Arman pikir Hani sedang menstruasi.
Arman segera mengganti gamis panjang Hani dengan baju tidur katun bergambar minion tersebut. Saat dirasakan tubuh kekasih hatinya itu panas. Arman panik, dan beranjak menelpon temannya yang seorang dokter, untuk memintanya datang ke rumah Arman.
Arman memeluk Hani... "Mas disini dek.. kamu kenapa? " Arman hampir menangis.
Setengah jam kemudian Dokter Rudi datang. Dia adalah dokter tentara sahabat Arman, kebetulan rumahnya masih satu komplek dengan perumahan milik Arman di griya cendana.
Tanpa basa basi, Arman mengajak Rudi ke kamar utama., Rudi segera memeriksa Hani.
"Sejak kapan begini? Demamnya 38, 5 derajat masih gak papa kok. Jangan khawatir. Aku akan berikan obat penurun panas. Apa dia makan sesuatu yang salah ?,, semacam buah asam atau semacamnya? " tanya Rudi memeriksa Hani dengan seksama.
"Entahlah Rud.. tadi badan dia memang hangat, tapi dia gak mau ngaku, barusan dia tertidur di sofa dan mengeluh pusing. Emmm semalam kami makan rujak, dia makan banyak mangga muda? " jawab Arman.
"Oh benar saja... selain kecapekan istrimu salah makan, ususnya sedikit bermasalah terhadap makanan asam asam dan pedas. Sehingga membuat tubuhnya demam. " kata Rudi kemudian.
"Gak udah khawatir, minumkan obat ini, berikan dia makanan yang lunak, bubur dulu saja jangan kasar kasar dulu., takutnya kena gejala tipes. Jika dua hari masih panas, kamu bawa dia ke laboraturium di markas, kami akan memeriksa darahnya, takut tipes sekarang lagi musim tipes Ar... " jelas dokter Rudi pada Arman sambil menyerahkan obat.
__ADS_1
Arman mengangguk paham, setelah mengantar dokter Rudi sampai ke depan rumah. Arman segera membuat bubur dan membangunkan Hani untuk makan lalu minum obat.
Hani bangun dengan rasa pusing yang masih mendera. Dengan telaten Arman menyuapi Hani, kemudian meminumkan obatnya.
"Mas.... Hani mau ke kamar mandi..." kata Hani setelah minum obat.
"Ayo ku gendong.. mari sini peluk mas... " Arman bersiap menggendong Hani, namun Hani menolak.
"Gak mas.. Hani bisa sendiri.. Hani mau ganti pembalut gak enak rasanya.. Hani malu gak usah di tungguin." Hani mencoba bangun meskipun kepalanya masih terasa berat.
Arman tidak bisa menolak keinginan istrinya tersebut, dia hanya memapah Hani sampai depan pintu kamar mandi dan menunggunya di luar pintu.
Lama Hani berada di dalam, karena memang Hani pelan pelan melakukannya, menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh. Hani selesai mengganti pembalutnya dan duduk sebentar di atas closet duduk sambil melihat cermin.
"Pasti mas Arman yang mengganti pakaianku, emmm sakit apa aku ini, kenapa sampai sepusing ini? " Hani melamun.
"Dik... dik... kok lama... kamu gak papa.., " Arman mengetok pintu kamar mandi.
Karena sudah tidak tahan, dan tidak segera mendapat jawaban dari dalam, Arman masuk tanpa ijin.
Mendapati Hani duduk di atas closet dengan wajah pucat.
"Sudah ganti pembalutnya dek..? " tanya Arman cemas. Hani mengangguk. Arman segera menggendong Hani tanpa bertanya lagi. Membawanya ke ranjang.Menyelimuti denga lembut.
Hani yang melihat suaminya begitu setia berdiri merawat dengan penuh kasih sayang, tak terasa mengeluarkan airmata, Hani pun menangis.
Arman terkejut melihat Hani menangis... "Apa ada yang sakit dik? apanya yang sakit? "
Hani menggeleng lalu memeluk tubuh kekar Arman. "Aku gak papa mas, makasih udah merawatku, maaf merepotkanmu.. "kata Hani masih sambil menangis.
Arman mengusap lembut punggung istrinya yang masih panas. "Jangan menangis, karena kamu adalah alasan seseorang tersenyum... jika kamu menangis hatiku sakit dik.. maafin mas yang lalai menjagamu.. Hani jangan banyak mikir,, kata dokter hanya gara gara kebanyakan makan mangga... lain kali jangan diulangi lagi.. mengerti..!" kata Arman menenangkan istrinya.
Hani mengangguk, Arman menidurkan istrinya dan menyuruhnya untuk tidur agar obatnya bisa segera bereaksi dengan baik.
__ADS_1
Seusai sholat Arman masih menemani istrinya dengan setia, hingga pagi menjelang. Arman sengaja tidak mengabari ibunda Hani karena takut khawatir.
Bersambung dulu ya.. jangan lupa kk di tunggu like, komen, vote, dan bintang 5 nya salam sehat selalu kak🤗🤗