
Lanjut ya....
Dua hari kemudian...
Sore ini Hani akan datang ke rumah Shasa untuk memberi ucapan selamat pada Tante Arni yang berulang tahun.
Arman akan menjemput Hani, Aldo dan Ibu Mita untuk ikut ke acara ulang tahun Ibunda Shasa.
Sore itu mereka telah bersiap siap. Hani tampil sederhana namun kesederhanaannya tak mengurangi kecantikan alami Hani.
Mobil Arman memasuki halaman, seperti biasa Aldo lah yang menyambut senang kedatangan Arman.
"Ibu... kakak.. Mas Arman datang nih... " teriak Aldo. Arman turun dari mobil, menggandeng Aldo, lalu menghampiri ibu Hani dan menyalaminya
Ibu yang sedari tadi siap memanggil Hani yang masih di kamar.
"Ayo Hani... semua sudah menunggu " ajak Ibu Hani.
Ibu mempersilahkan Arman duduk dan mengajaknya mengobrol sembari menunggu Hani keluar kamar.
"Ayo bu Hani dah siap... " Hani keluar dari kamar.
Arman melihat Hani, dan memberinya senyuman hangat.
Mereka pun segera berangkat menuju rumah Keluarga Shasa.
Sesampainya di sana mereka di sambut keluarga Shasa. Suasana sore itu begitu hangat sekali, Hani benar benar merasakan keutuhan keluarga yang sudah jarang dia rasakan sejak ayahnya meninggal.
Shasa pun demikian setelah sekian lama akhirnya Shasa punya teman bahkan keluarga seperti Hani.
Setelah acara Tante Arni selesai, Ibu Hani memohon ijin untuk pulang duluan sebab nanti malam akan ada undangan di tetangga rumah Hani. Jadi Ibu dan Aldo yang pulang dengan di antar Arman. Akan tetapi Hani tak ikut pulang.
Hani harus tinggal dulu sebentar untuk memilih beberapa gaun pengantin yang Ibunda Shasa siapkan di butik langganannya. Arni telah menghubungi butik gaun pengantin kenalannya.
Sementara di luar sana sedang turun hujan deras.
"Nak Arman hati hati membawa mobilnya ya.. hujan deras , jika memang tidak memungkinkan lebih baik kalian kembali saja ke rumah. Dan pulanglah besok agar ibu juga tidak khawatir. " pesan Ibu kepada menantunya itu.
"Baik bu..." jawab Arman.
Seusai mengantar ibunya, Hani dan Arman menuju butik seperti pesan Arni.
Sepanjang perjalanan... Hani melihat hujan begitu deras di sertai petir. Hani lumayan takut , tapi dia tidak mau menunjukkan pada tunangannya itu kalo takut. Arman yang melihat Hani gelisah berusaha menghiburnya.
Sejak kecil Hani takut suara petir. Biasanya dia akan pindah ke kamar ibunya jika hujan turun di malam hari.
Sesampainya di butik langganan Bundanya Shasa...
Di sana ternyata kedatangan mereka berdua telah di tunggu tunggu. Setelah memilih beberapa pakaian ada satu kebaya pengantin yang Hani suka.
Pemilik Butik tersebut meminta Hani mencobanya. Hani yang keluar dari kamar ganti, menuju Arman yang sedang menunggu Hani memilih baju pengantin.
__ADS_1
Arman menoleh pada Hani... " Masyaallah.. " seru Arman. Melihat Hani tak berkedip.
"Mas bagaimana dengan yang ini cocok gak sama Hani? " Hani bertanya pada Arman otomatis ambyarlah lamunannya.
"Cantikkk. ...Pantes pantes cocok Mas suka" jawab Arman.
Hanipun tersenyum puas,, sambil berputar putar seperti bocah kecil di depan Arman.
Arman sangat senang melihat calon istri kecilnya itu bahagia.
Setelah selesai Arman menelpon kakaknya dan mengajak Hani pulang.
Hujan angin seperti badai di luar sana membuat dress Hani sebagian basah terkena air hujan meskipun udah memakai payung.
Dalam perjalanan pulang jalanan macet,, ternyata ada pohon tumbang, dan akhirnya Arman putar balik.
Satu satunya jalan mereka hanya bisa pulang ke rumah Arman. Sebenarnya Hani tidak setuju, Hani kepikiran ibu dan adiknya,,tapi mau bagaimana lagi meskipun memaksa akan memakan waktu lama, karena pohon tumbang tepat di tengah jalan raya yang harus di lalui Hani ketika pulang.
Rumah Hani dan Arman memang satu arah tetapi rumah Hani melewati rumah Arman tadi. Sedangkan jalan menuju rumah Hani tidak dapat dilewati. Akhirnya Arman memutar balik mobilnya dan pulang kembali ke arah rumahnya.
"Mas jangan lupa telpon ibu yahh" pinta Hani pada Arman.
Arman mengangguk lalu membuka pintu rumah.
Arman menghubungi Ibu Mita mengabarkan bahwa mereka baik baik saja dan sekarang berada di rumah Arman.
Hani segera mandi dan berganti pakaian yang diberikan Arman padanya. Seperti biasa baju yang kebesaran. Tapi tak apalah daripada pake baju basah pikir Hani. Lalu Hani mengambil mukena dan melaksanakan sholat isya.
Di kamar Arman tengah sholat isya. Hani duduk di meja kerja Arman, sambil melihat lihat majalah di sana.
"Apakah itu untukku dek? " tanya Arman tiba tiba sudah berdiri di dekat Hani.
"Ahh mas... mengagetkan saja.. udah selesai sholat ternyata. Iya ini minum dulu biar hangat yah.. " Hani menyodorkan gelas mug berisi teh jahe.
Setelah menghabiskan teh jahe buatan Hani. Arman menyuruh Hani segera beristrahat , Hani menurut...
"Kalo bobok pake selimutnya yah... jangan sampek mas lihat tidur tanpa selimut, apalagi gak pake celana panjang seperti itu. " tunjuk Arman pada kaki Hani yang memang terlihat putih tanpa balutan celana panjang, hingga terlihat betis indah Hani.
"Emang kenapa mas... kan di rumah sendiri" tanya Hani aneh mendengar Arman berbicara seperti itu.
"Gak papa dek... pokok gak boleh.. " jawab Arman tegas.
"Ahhhh gadis polos ini bagaimana bisa aku jelaskan jika dia tidak menutupi bagian kakinya itu pasti aku yang tersiksa,, aku laki laki normal sayang,, dan aku harus menahannya sampai sah nanti" batin Arman.
Arman mengambil satu bantal lalu tidur di sofa kecil. Hani menurut pada Arman dan memakai selimut tebal itu bersiap tidur.
"Mas... mas gak papa tidur disitu ?" tanya Hani sambil melirik Arman yang memejamkan mata.
" Emmm gak papa.. udah tidurlah besok kelewat subuhnya loh.. " jawab Arman.
Hani memejamkan mata, tiba tiba petir menyambar dengan keras, bersamaan dengan mati lampu...
__ADS_1
"Mas Arman... hwaaaaaaa.... " Hani berteriak
Arman yang berada di sofa lari menuju ranjang. Dengan bantuan senter di hpnya. Hani memeluk erat Arman, Arman menenangkan Hani.
"Sebentar mas carik lampu emergency dulu yah " katanya kemudian akan bangkit namun pelukan Hani makin erat.
"Jangan mas jangannn... jangan tinggalin Hani... Hani takut" tubuhnya gemetaran.
Akhirnya Arman tidak meninggalkan Hani dan tetap berdiam diri bersama Hani.
Semalaman hujan turun dengan derasnya..., hingga membawa dua pasangan ini akhirnya terlelap dalam mimpi masing masing.
Mereka berdua tidur dengan saling memeluk erat.
Pagi harinya,, Hani benar benar kaget saat akan bangun untuk melaksanakan sholat subuh..
"Ya Allah... apa yang terjadi.. " batinnya... lalu Hani mengingat ingat kembali semalam hujan deras hingga membuat lampu padam.
Setelah itu Hani membangunkan Arman untuk sholat subuh berjamaah.
Hani menyiapkan sarapan, mereka sarapan dan Arman segera mengantar Hani pulang ke rumahnya dengan menggunakan motor agar lebih mudah dan tidak macet.
************
Beberapa minggu kemudian...
Hari ini, Hari Sabtu... Pagi ini rutinitas yang biasa terjadi di rumah keluarga Hani mulai nampak.
Ibu Hani sibuk dengan orderan, dan Bi Imas masih setia membantunya.
Aldo kecil sibuk mempersiapkan alat alat sekolahnya. Sementara Hani yang libur jika Hari Sabtu sibuk membereskan rumah, menyapu sambil bersenandung di iringi lantunan musik.
I like your shirt, I like your fingers, love the way that you smell
to be your favorite jacket, just so I could always be near
I loved you for so long, sometimes it's hard to bear
But after all this time, I hope you wait and see
Hani bernyanyi riang sambil menyapu. Entah mengapa hari ini hatinya senang.
Aldo yang sejak tadi memperhatikan kakak perempuannya begitu semangat ikutan senang.
"Dek belum berangkat? mau kakak antar atau ibu yang antar? " tanya Hani yang melihat adiknya sudah bersiap.
"Aldo sama ibu saja.. Ibu sekalian mau ke pasar, ada yang mau ibu beli. Nduk... nanti tolong hias tempat tumpengnya yah! " Ibu Hani yang muncul tiba tiba dan memberi Hani pesan.
"Siap bu " Kata Hani.
Tak berapa lama Hani sibuk dengan pekerjaannya., sehingga tak menyadari panggilan tak terjawab sebanyak 7 kali terdaftar di layar ponselnya...
__ADS_1
Dari siapa dan ada apa ya kira kira,, sementara ini bersambung dulu yah.. ππ