
Lanjut.. kembali lagi nih... simak dan dukung terus ya....
Di Dapur...
Hani yang masih berada di depan Arman dengan posisi tangan kirinya memeluk pinggang Arman sedangkan tangan kirinya diperlihatkan pada Arman.
" Ya Allah dek... sampai seperti ini bentar lagi di beri salep ya" kata Arman masih meniup niup lengan Hani.
Tiba tiba Arman sadar detak jantungnya berdegup kencang,,, deg...deg... deg.. berasa seperti nyaris terkena peluru musuh......
Melihat gadis polos berdiri menempel di dada bidangnya itu, tengah memeluknya menahan perih.
Sementara Hani hanya meringis kesakitan mendapati lengannya yang terkena minyak panas.
" Gak papa kok om... Hani sudah biasa seperti ini,,Hani gak takut.. hanya saja Hani kaget tadi maaf ya om udah berani meluk meluk Om Arman." kata Hani polos.
Kemudian Hani menarik tangannya yang terkena minyak dan mundur sedikit dari Arman setelah sadar dirinya memeluk Arman yang mematung itu.
" Ahhhh... ayamnya... .." teriak Hani panik lagi,, kemudian buru buru dia menghidupkan kompor lalu melanjutkan menggoreng ayamnya.
Arman yang memperhatikan Hani sejak tadi segera menghampiri gadis itu lalu membantunya menggoreng ayam.
" Sudah kamu di sana aja dek nanti kenak lagi udah tinggal dikit juga,, " perintah Arman pada Hani.
Hani pun mengangguk lalu bersiap mengulek sambal yang sudah Arman racik di atas cobek sambil berdiri di samping Arman.
" Om... mana ulekannya,, Hani ulek sekarang ya sambalnya " Tanya Hani. Arman menunjukkan letak Ulekan yang di minta Hani
Arman panjang lebar menjelaskan letak letak peralatan dapur di rumahnya, letak tempat piring, tempat sendok, tempat menyimpan gelas bahkan menyimpan bumbu bumbu dapur..Macam koki saja,,
" Wuuh lengkap juga ya dapur Om Arman,, Om Arman suka masak ya ? "tanya Hani lagi.
" Lebih suka masak sendiri dek kalo ada waktu luang, lebih sehat.." jawab Arman kembali menggoreng ayam, membolak balikkannya. Hani kagum pada Arman sudah tampan, baik, pandai memasak pula,, dia pikir tentara hanya berperang saja ternyata Om Arman jago dan rajin masak" batinnya
__ADS_1
Sementara itu Hani segera mengulek sambal di depannya. Arman memperhatikan Hani yang berdiri di sampingnya..
"Gadis manis ini kenapa tiba tiba menarik perhatianku, dan sukses membuat jantungku berdebar. Padahal masih bocah, polos di lihat dari cara bicara dan tingkahnya tidak jauh beda dari Shasa. " Arman memandang wajah Shasa.
"Efek terlalu lama menjomblo jadinya sering baper deh, dikit dikit berdebar" gumam Arman lagi.
"Ahhh awas om gosong tuh ayamnya sayangkan... " suara Hani mengejutkan Arman,,
"Ahh iya iya " Arman pun mengangkat ayam terakhir yang di gorengnya.
" Emm enak... " Hani mencicip sambal buatannya, meskipun yang meracik adalah Arman tapi kan yang ngulek Hani hehehe.
" Pedas ya dek..? " tanya Arman,, " Gak kok om pas... " jawabnya sambil mengangkat cobek tadi di atas meja makan.
Hani dengan cekatan mangambil beberapa piring dan sendok di tempat yang telah Arman tunjukkan tadi.
Dan Arman pun mengangkat nasi yang memang sudah ada, karena sebelum Hani datang Arman sudah menanaknya di Rice cooker.
Karena sedikit berlari lari tergesa Hani hampir saja menabrak Arman. Sama sama terkejut lalu Mereka pun tertawa lepas ..
Hani jarang tertawa lepas sperti ini sekalipun bersama teman temannya di sekolah. Hani suka bercanda, bergurau, dan periang jika di sekolah tapi rasanya beda saja tertawa kali ini sama seperti perasaan bahagia saat masih ada ayahnya, bercanda saat keluarga mereka masih utuh.
"Hati hati dek... " bisik Arman membuyarkan lamunan Hani. Arman berlalu ke dapur entah apa yang di lakukannya.. sementara Hani memandang laki laki dewasa itu.
" Berapakah usianya sekarang? Om Arman udah nampak berumur, bukannya Om Shasa ini tentara mengapa belum menikah? Seperti apakah tipe gadis yang di sukai Om Arman? " pertanyaan yang tak penting pun melintas di pikiran Hani.
" Astaghfiirullah .......kenapa aku jadi memikirkan Om Arman... tidak baik memikirkan laki laki yang baru di kenal.
Walaupun baru pertama kali aku bertemu dengannya namun seolah olah telah lama kami saling mengenal. " batin Hani lagi.
Di meja makan.....
Sambil menata nasi dan lauknya, Hani mengelap gelas satu per satu. Arman yang datang dari arah dapur membawa satu nampan besar berisi ayam goreng laos..
__ADS_1
" Emmmm harum om.... aromanya sedap banget, dah tak sabar Hani maem.. Om bumbunya masak sendiri atau beli? " tanya Hani pada Arman.
"Kebetulan Bundanya Shasa yang memberikannya pada om dek.. Karena tahu om suka masak sendiri jadi sama bundanya Arni selalu di kirimi bumbu bumbu masakan dari kemasannya rapi dek,, dan sehat karena produk rumahan.." jelas Arman pada Hani yang penasaran.
" Oh begitu ya om.... boleh cicip sedikit nih" tanpa menunggu persetujuan Arman, Hani mencomot secuil ayam goreng tersebut...
" Amboy... mirip masakan ibu di rumah om.." kata Hani sambil mengunyah ayamnya.
Arman hanya memandang Hani lalu pandangan itu turun ke tangan Hani, teringat akan luka itu, Arman mendekat pada Hani dan berkata.. " Hani.... ini harus segera di olesi salep nanti membekas dek.. " Arman menunjuk tangan Hani.
" Udah om gak papa, udah baikan, udah gak perih nanti juga sembuh sendiri. Om tenang saja ya... " Hani dengan santainya berkata pada Arman.
" Tapi dek itu kalo kenak air akan perih loh jika mengelupas.. om ada salep buat ngobatin, om ambil bentar ya... " Arman bangkit dari kursi makan untuk mengambil salep di kotak P3K.
Namun Hani menarik tangan Arman dengan kuat. " Gak usah om.. om gak perlu repot.. Hani lapar mo pengen cepet makan.., " Hani memohon dengan wajah melas pada Arman.
Arman agak sedikit kesal pada Hani. Dia menggerutu,,"
Awas saja ya kalo sakit... Ahh kenapa aku harus memikirkan gadis ini...., biar saja,, aku sudah menawarinya untuk aku obati tapi dia menolak.. dasar bocah.. manja dan semaunya sendiri saja,, tadi ngapain dia peluk peluk aku jika memang tidak merasa sakit... ahh... benar benar gadis polos..
"Apa yang ada di pikirannya itu..? " Arman bergumam sendiri panjang lebar.
Hani lupa mengambil lalapannya yang tertinggal di dapur, dia pun segera menuju dapur. Tak lama dia kembali dan berkata pada Arman.
" Taraaaa...... dah siap,, Om Arman yang baik boleh gak panggilkan sahabatku untuk makan, Hani dah lapar banget,, keburu adzan magrib juga om.. jadi lebih baik cepetan deh di panggilin " kata Hani memohon pada Arman.
Arman yang sedikit kesal,, entah kenapa menuruti saja kemauan gadis ini,, Dia beranjak dari tempatnya menuju ruang tengah dimana keponakan satu satunya dan teman teman Arman duduk menunggu di sana.
Di ruang tengah...
Perbincangan Shasa dan teman Arman berlangsung sangat akrab, Mereka cepat sekali berbaur, tak kecuali Dafa., sudah mulai ikut nimbrung juga. Menciptakan suasana tenang dan menyenangkan.
Bersambung dulu ya...
__ADS_1
kepoin episode selanjutnya,, salam sehat
ππ