
Kelanjutannya nih sahabat...
Arman pun tersenyum setelah melihat Dafa adik letingnya tengah berseteru dengan keponakan satu satunya.
"Waalllllahhh... ada Shasa disini,, sini nduk.. ayo duduk dulu,, baru pulang sekolah ya ?" tanya Arman.
Sontak mereka semua terkejut. Dafa tak kalah kaget, dia merasa tidak enak hati pada seniornya itu karena sudah tidak mempercayai bahwa gadis tadi keponakan Arman.
Sedangkan teman Arman yang lain berusaha mengalihkan kegiatan mereka, seolah olah mereka tidak terlibat dalam hal itu.
Hani sempat terkejut mendengar suara Arman dan sedikit lega akhirnya Arman keluar menemui mereka,, Hani masih diam sambil lirik lirik, melihat dekorasi ruangan rumah Arman yang menjadi impian Hani.
Sedangkan Shasa tak terkejut sedikitpun,dia hapal benar suara Om Kesayangannya itu. Shasa menoleh, melihat Arman yang menuju ke arahnya sambil tersenyum senang.
"Maaf ndan... saya tadi sempat tidak mempercayai gadis ini ponakan anda, habisnya mereka masuk rumah tanpa ketok pintu, saya mengira mereka salah alamat, salah masuk rumah " kata Dafa tegang.
Arman pun tertawa kemudian duduk di sofa, di dekat Dafa berdiri.
"Sudahlah jangan formal begitu bukankah ini di rumahku.. Dia Shasa,, putri satu satunya kakak perempuanku Kak Arni... duduklah! lanjutkan saja kegiatanmu tadi! " perintah Arman kepada Dafa dengan sabar.
Arman memang seorang yang sabar, namun berwibawa dan bertanggung jawab, maka tak khayal membuat sungkan teman dan adik adik letingnya. Pangkat tinggi Arman tak lantas membuatnya sombong, "Aku masih tetap Arman yang dulu semuanya tak kan mampu mengubahku menjadi orang lain." Begitu tuturnya kepada sahabat sahabat lama Arman di kala sedang berkumpul bersama.
Tak mau berlama lama Dafa pun segera bergabung kembali bersama teman temannya di ruang tengah. Sedangkan Shasa kembali menarik tangan Hani, memberi kode agar Hani mengikutinya. Shasa mengulurkan tangannya kepada Arman..
"Om salim dulu ekum... " kata Shasa mencium punggung tangan adik laki laki bundanya itu. Arman juga mengulurkan tangannya kepada Shasa sambil tetep tersenyum. Disusul Hani yang ikutan mencium tangan Om Arman.
" Halo omm... Aku Hani Ananta sahabat Shasa... om sehat kan? " tanya Hani sambil mencium punggung tangan Arman.
Arman sedikit terkejut bukannya tidak memperhatikan Hani namun dia memang benar benar tidak sadar bahwa ada teman Shasa yang datang bersamanya.. rupanya tubuh mungil Hani tertutup tubuh Shasa bongsor, pantas saja Arman tidak begitu memperhatikannya dari tadi.
Arman mengulurkan tangannya pada Hani, menatap wajah gadis itu, manisnya.........
decak Arman kagum.
__ADS_1
"Tangannya dingin sekali aneh ya, " gumam Hani,, tapi Hani tidak peduli ketika Arman menatap wajahnya.
"Om.. sudah ekumannya lepasin tangan Hani... " seru Hani kepada Arman yang tak segera melepas tangannya.
Arman kaget dan segera melepas tangan mungil gadis itu..
"Ahhh bocah bagaimana mungkin bocah seusia Shasa menggetarkan hatiku tiba tiba sih " gerutu Arman dalam hati.
"Om ditanya Hani tuh sehatkah? " kata Shasa kemudian mencairkan suasana,, lalu mengambil posisi duduk dekat Arman. Sedangkan Hani memilih duduk di sofa tunggal berhadapan, di depan Arman.
"Oh iya maaf Hani,, Om sehat kok.. " kata Arman.
Hani pun membalas dengan senyuman. Membuat Teman teman Arman yang mencuri curi pandang pun ikutan adem ngelihat senyuman Hani.
"Shasa biasanya pulang sekolah begini, pasti ada sesuatu ya mampir kemari? tanya Arman pada Shasa. Shasa segera mengeluarkan bungkusan kertas kado batik dari dalam tas kemudian menyerahkannya kepada Arman.
Arman menerima bungkusan itu dan meletakkannya di atas meja.,tanpa mengatakan apapun.
"Dari bunda tuh om,, kata bunda kalo om udah nerima titipan dari mama, Om Arman disuruh segera telpon bunda.. Bunda lagi ke Surabaya ada seminar kantor " celoteh Shasa.
Sementara itu Hani mulai bosan, dia menatap wajah Arman dan sahabatnya Shasa yang asyik mengobrol.
"Emmm betapa senangnya punya om yang ganteng, baik tentara pula.. betapa beruntungnya Shasa hidup di tengah tengah keluarga yang utuh."
Hani menatap iri hubungan kehangatan antara om dan keponakan itu.
Dia pun segera mengalihkan pandangannya kepada om om tentara di ruang tengah itu
"Ohhoo... memang Tentara rata rata cakep, gagah, tapi gak jarang juga yang punya mukak angker,, kayak Om Dafa tadi,, masak iya cakep cakep galak, nanyak sama cewek sampek segitunya ya,, apalagi kalo nanyakin tawanan,, ahh mungkin memang harus begitu, Tentara kan harus tegas,, " batin Hani.
Entah pikirannya melayang kemana mana, matanya pun menyusuri ke bagian tengah ruangan.
"Satu... dua... tiga... empat... lima... ada lima om tentara disana.." gumam Hani menghitung.,, mereka lagi asyik dengan kegiatannya masing masing..tak terkecuali Om Dafa yang tengah asyik dengan ponsel di tangannya. Sampai akhirnya tiba tiba mata Hani berhenti di sebuah meja kecil disamping rak foto.
__ADS_1
"Astaughfirullah... Aku belum sholat ashar Sha... om boleh ya numpang sholat sebentar aja" pekik Hani membuat orang orang di ruangan itu kaget.
Rupanya mata Hani berhenti di meja kecil dan terdapat sajadah di atasnya. Maka segera dia ingat bahwa dirinya belum menunaikan kewajibannya itu.
Arman yang kaget mendengar suara Hani kembali tersenyum kagum. " Gadis ini... berhenti memikirkannya Arman" hati kecilnya menggerutu.
" Oh iya Hani mau sholat silahkan... Sha... ajak temanmu sholat di sebelah kamar om ya,, di sana ada mukenanya bunda yang sengaja di tinggal di sini.." kata Arman pada Shasa dan Hani.
"Siap om.. " jawab Shasa kemudian.
"Gak usah om,,, Hani bawa mukena sendiri kok,, " sembari mengeluarkan mukena dari dalam tas hitamnya itu.
Shasa yang melihat Hani dengan sabar menunggu sahabatnya mengambil mukenanya.
Shasa pun mengajak Hani masuk ke dalam ruang tengah menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu masuk ke kamar tamu dan segera menunaikan kewajibannya.
Selesai sholat sambil melipat mukena Hani bertanya pada Shasa.. " Sha... apakah om kamu belum menikah? apakah di rumah bagus seperti ini tinggal sendirian? "
Shasa menyisir rambutnya di depan cermin setelah melipat sajadah. Mendengarkan pertanyaan sahabatnya itu.
"Om Arman belum menikah Hani... masih belum mau menikah, katanya sih masih ingin berkarier " jelas Shasa.
Hani hanya manggut manggut mendengar penjelasan Shasa.
"Kenapa Han.. kamu naksir ya sama om ku " goda Shasa lagi..
"Ahhh kamu Sha,,, bukannya apa,, kamu tau aku kan,, mana berani aku jatuh cinta saat ini, aku tak ingin konsentrasi belajarku terganggu oleh hal hal macam itu, aku segera ingin lulus sekolah Sha.. dan bekerja membantu ibuku.. aku ingin punya penghasilan sendiri agar tidak membebani ibu terus,, aku ingin menabung buat kuliah tentunya sambil kerja Sha...Bukannya aku meragukan ibuku tapi apakah salah jika ingin kuliah dengan biaya sendiri.. satu satunya jalan ya bekerja Sha." cerita Hani sedih.
"Maaf Hani aku gak bermaksud membuatmu bersedih... aku paham ..maaf ya aku hanya bercanda tadi.. " Shasa pun segera memeluk Hani sahabatnya yang berusaha menahan airmatanya agar tidak jatuh.
Persahabatan yang indah,walaupun keduanya mempunyai latar belakang yang berbeda, bahkan tak jarang pendapat mereka pun berbeda namun rasa saling menyayangi diantara keduanya melebih rasa sayang saudara kandung sendiri.
Mereka berdua segera keluar kamar setelah selesai sholat ashar. Wajah murung Hani masih terlihat meskipun Hani menyembunyikannya, Shasa merasa tak enak hati melihatnya.
__ADS_1
bersambung dulu ya sahabat,, tetep kepoin disini 🤗 🤗