
*Lagi nunggu ya.... lanjutin dulu ya...
**Saat tiba di mall***....
Hani dan Arman turun dari mobil, setelah Arman memarkirkannya. Lalu mereka berdua berjalan menuju Mall.
Arman yang mengenakan kaos hitam berkrah dan celana jeans, sepatu kets nampak gagah dan tampan, sedangkan Hani yang memakai celana jeans plus atasan putih model abg sekarang, rambut di biarkan tergerai dengan poni rata, jepit bentuk hati bertengger manis di rambutnya yang hitam. Serta tas slempang kecil bergelayut di pundak.
Hani nampak imut, manis manja...benar benar serasi.
Setiap orang yang berada di dalam mall ada yang memperhatikan mereka berdua, ada pula yang bodo amat dengan pasangan itu.
Arman menggandeng tangan Hani. Hani yang kaget tak dapat menolaknya.
Hani membiarkan saja tangan Arman menggandengnya. Mereka berdua jalan jalan, Hani yang sudah lama tidak ke mall merasa senang.
"Dek ada yang mau di beli ?" tanya Arman pada Hani.
Hani yang di tanya berpikir,, " Oh ya om.. boleh gak mampir di toko buku, Hani mau carik buku resep memasak"
Arman heran mendengarnya, bukannya mau pergi membeli tas ataupun baju kok malah mau beli buku masakan.
"Kok buku masakan sih, bukannya ibu sudah pandai memasak, alangkah baiknya minta resep pada ibu saja. " nasehat Arman.
"Aku tahu om" jawab Hani santai.
"Lalu... ngapain masih mau beli resep masakan ?" tanya Arman masih penasaran.
Hani menghentikan langkahnya, lalu memandang wajah Arman. Hani mendongakkan kepalanya agak tinggi, karena memang Tubuh Arman jauh lebih tinggi darinya. Tinggi Hani hanya sampai bahu lengan Arman.
"Om sayang.... bentar lagi Hani kan akan menikah... terus punya anak... terus kalo Hani gak belajar resep masakan baru ntar kalian jajan melulu, kapan mau nabung? penting loh buku resep itu, Hani mau carik resep baru yang Ibu Hani belum bisa masakin, siapa tau Hani bisa bantu catering ibu nanti dengan resep baru Hani. " kata Hani masih menatap tajam Arman., meskipun harus agak mendongakkan kepalanya.
Arman terkejut bukan main,, bukan karena resep masakan ataupun menikahnya,, tetapi kalimat yang menggelitik Arman adalah.... "terus punya anak" lah.....
"Gadis polos ini lucu juga, makin gemas lihatnya" Batin Arman.
Arman menurunkan sedikit kepalanya mendekati wajah imut Hani, dekat .....dekat dan berkata...
"Kenapa gak sekalian aja carik buku resep membuat anak, kan penting juga dek dalam pernikahan"
Perkataan Arman sontak membuat Hani terkejut. Pipi chubinya itu memerah seketika. Hani terlihat grogi, dia tidak menyadari kalau kata katanya tadi membawanya terjerumus ke lembah yang paling dalam...
"Aaaaaaaawwwwwwwww....malunya tuh disini,, mana topeng.. mana..." hati Hani bergejolak ramai. Betapa vulgarnya ucapan Arman tadi,, membuat Hani seperti berada di atas bara api... panas plus maluuuuu.
Arman yang melihat raut wajah tunangannya memerah, tertawa dan mencubit gemas pipi Hani..
"1 sama ya ..." bisik Arman lagi.
__ADS_1
"Ma.. maksudnya apa?"Hani balik bertanya.
"1 sama kita,, sama sama terkejut iya kan. Tadi sayangku ini bilang akan mempunyai anak, memangnya harus sekilat itu ya,, sekilat pernikahan kita nanti. ?" tanya Arman sambil menggandeng Hani mengajaknya kembali berjalan.
Hani yang masih kesal pada dirinya sendiri, mengutuk berulang kali kebodohannya.
"Ih dasaaarrr mulutku ini gak ada remnya asal bicara aja. " gerutu Hani.
Hani tak menjawab pertanyaan Arman karena merasa malu. Arman yang melirik calon istrinya itu senang sekali menggodanya.
Arman dan Hani memasuki toko buku itu. Lalu Arman mempersilahkan Hani mencari buku yang dia mau, sementara Arman sendiri mencari buku tentang sejarah.
Setelah selesai Arman menemukan buku yang dia cari, dia bergegas menuju tempat Hani berada.
Di sana Hani tengah asyik memilih buku resep..
"Sudah ada yang cocok dek? "tanya Arman.
"Ada sih om tapi harganya agak mahal, Hani tadi gak ambil uang di celengan dulu sih, duit Hani gak cukup" Hani mengeluh pada calonnya, sambil masih memegang buku yang dia mau.
Arman menggelengkan kepalanya,, lalu mengambil buku resep di tangan Hani.
"Udah.... apa cuman ini aja? ada yang lain? apa sudah mencari buku penting lainnya seprti yang tadi om bilang. ?" Arman kembali menggoda Hani.
Hani yang kesal dan malu mencubit perut Arman. Arman pun pura pura kesakitan dan menahan tawa.
Tiba tiba....
seseorang menyapa Arman, dan akhirnya gurauan mereka berdua terhenti sejenak.
"Oh Andre.... apa kabar? " Arman menyapa laki laki itu sambil bersalaman.
"Kenalkan ini tunanganku.. Hani...dek ini teman om,, namanya Andre, kami sempat satu kompi dulu. " kata Arman memperkenalkan Hani dengan Andre.
Hani yang dipanggil namanya pun tersenyum manis. Menyapa teman Arman tersebut.
"Oh pantesan ..rambutnya cepak ternyata seorang tentara ..." batin Hani.
"Wah bang... sudah tunangan rupanya, jangan lupa yahhh nanti kalo pesta pernikahan bisa undang kami kami... " kata Andre.
"Insyaallah ya... " jawab Arman kemudian.
"Sedang mencari buku ya bang?" tanya Andre sambil melihat buku yang dipegang Arman.
Hani membatin.. " Ihhh gimana sih udah tau ini toko buku pasti yang di carik ya buku mana mungkin carik nasik goreng di sini.. emmm... "
Arman menganggukkan kepala lalu berbisik pada temannya itu...."Mencari buku resep buat calon istri ", keduanya tersenyum.
__ADS_1
Lalu Andre pun pamit duluan pada Hani dan Arman, karena masih ada keperluan lainnya.
Kemudian mereka berdua menuju meja kasir dan Arman pun membayarnya. Mbak kasirnya memasukkan buku itu ke dalam tas pembungkus lalu menyerahkannya pada Arman.
Setelah selesai membayar, mereka keluar dari toko buku.
"Om kan bukunya mahal, maaf,, Hani jadi gak enak nih om yang bayari, nanti sampai rumah Hani gantiin ya" kata Hani pada Arman.
Arman menghentikan langkahnya, dan menatap Hani tajam.
"Dek.... sekarang kamu tanggung jawabku jadi jangan katakan hal apapun lagi yang bersangkutan dengan uang, mengerti! apa pun yang Hani minta insyaallah selama om mampu akan om penuhi. " nada Arman sedikit meninggi.
Arman agak kesal pada Hani karena beberapa kali menolak pemberian Arman termasuk uang saku. "Emmm gadis lugu ini... benar benar aku ingin menutup bibir mungilnya itu dengan kecupanku,, " batin Arman kesal. Namun Arman menahan dirinya untuk tidak melakukan hal hal seperti itu sebelum pernikahan.
Hani yang mendengar Arman sedikit meninggikan perkataannya jadi terdiam dan menunduk.. "Ya Allah rasanya seperti yang waktu om ngolesin obat salep,, " Hani menahan airmatanya agar tidak jatuh, karena walau bagaimanapun juga Hani gak mau terlihat cengeng di depan calonnya itu.
Arman yang melihat Hani begitu,, tersadar dan meminta maaf, "Maaf ya sayang bukan maksudnya begitu,, Om sayang banget sama Hani, Hani sekarang tanggung jawab om, kalo butuh apapun katakan ya.. apa Hani mau pegang atm om saja? " tanya Arman.
Hani menggelengkan kepalanya pelan, lalu memeluk pinggang Arman sambil menyadarkan kepalanya di bahu kekar itu.
"Maafin Hani ya om.. udah buat om marah.. " kata Hani pada Arman.
Arman tersenyum dan mengangguk.
Setelah berkeliling mencari makanan di restoran, mereka berdua pun melanjutkan dengan menonton film.
Sayangnya saat ini yang sedang tayang adalah film horor mau gak mau ya Hani ikut lihat.
Sepanjang perjalanan film, Hani lebih banyak bersembunyi di balik lengan Arman.
Selesai menonton, mereka berdua memutuskan pulang karena sudah puas dengan jalan jalannya hari ini.
Hani berulang kali mengucapkan terimakasih pada Arman dan tak lupa mereka berdua berfoto bersama. Hani akan mengirimkan moment kencan mereka berdua pada sahabatnya Shasa.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, lalu dengan perlahan Arman menjalankan mobilnya.
Di tengah perjalanan ...
Terjadi sedikit kemacetan.. ternyata di sebabkan oleh sebuah kecelakaan motor dan mobil.
Mobil Arman melaju perlahan.. sementara Arman melihat korban kecelakaan tersebut.
Arman terkaget karena merasa mengenal korban tersebut. Arman mensign lampu kiri nya dan menepikan mobil. Sementara Shasa yang tidak tahu apa apa, hanya diam memperhatikan Arman.
"Sayang tunggu sini ya... " kata Arman memerintah Hani agar tetap di dalam mobil.
Arman turun dan mendekati korban yang di kerumuni beberapa orang di sana yang berusaha menolong.
__ADS_1
"Ternyata seorang wanita muda... siapa dia ya? kenapa tiba tiba Om Arman turun dan menolongnya. Apakah dia mengenalnya atau hanya sekedar menolong berdasar kemanusiaan.. " batin Hani bertanya tanya. Sementara tangannya reflek mengarahkan gawainya untuk mengambil gambar Arman saat akan menolong wanita tersebut.
bersambung dulu ya kakak. 😀