Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 39 Tangisan


__ADS_3

Lanjut yuk...


*R**umah Arman*...


Sesampainya di rumah Arman. Hani masuk dengan di bantu Arman yang kesulitan dengan kebaya pengantinnya itu. Arman mengangkat bagian belakang kebaya Hani yang panjang bak ekor itu. Hani berjalan menuju kamar utama.


Hani terkejut disana kamar Arman berubah tidak seperti yang biasa Hani lihat. Semua yang ada di sana berbeda. Ada meja rias mungil dengan kaca hias yang minimalis, sementara jendela di ujung terdapat sofa kecil tertata indah dengan juntaian gorden berwarna soft. Di pojok pojok ruang terdapat bunga segar yang di susun rapi.


"Mas.... kenapa kamarnya diubah? " tanya Hani pada suaminya yang masih berdiri di belakangnya sambil membantu mengangkat bagian belakang gaun kebaya Hani.


"Oh itu Mbak Arni dek yang mendesain.. kenapa..? Hani gak suka tah? Mbak sengaja mengubah interior kamar agar kamu merasa nyaman tinggal di sini. " Arman kembali bertanya.


"Hani suka banget ...." kata Hani dengan mata berbinar.


"Oh ya... Mas Arya juga menghadiahkan kita sebuah motor matic, nantinya bisa Hani gunakan untuk jalan kemana mana, gak harus nunggu mas kerja bukan.. jika ada keperluan yang harus Hani beli. Mana mungkin istri imutnya Mas ini naik ninja" Arman terkekeh menggoda isterinya.


Hani tertawa geli membayangkan dirinya naik motor ninja milik suaminya itu, bakalan jatuh dia, karena badannya memang kecil sih.


Arman meletakkan gaun Hani di lantai, memandang Hani yang tengah terkagum dengan kamar barunya., Arman memegang dagu Hani... Hani yang sedang asyik dengan pandangannya tadi, kini berada tepat di depan dada laki laki berwajah tampan Arman.


Kembali jantungnya berdetak kencang....


"Terimakasih untuk hari ini, terimakasih untuk kesanggupanmu menjadi istriku... semoga kita jodoh dunia akherat ya.... " Arman mendekatkan wajahnya pada Hani, menatap bibir mungil Hani.


Dan kemudian mencium perlahan. Hal yang telah lama dia tunggu, dari awal ingin dia lakukan pada gadis lugu ini sejak bertunangan. Namun dia berusaha menahannya., kini setelah resmi menjadi istrinya, Arman pun dengan bebas mencium bibir mungil Hani.


Hani yang tidak siap dengan itu hanya terdiam tidak membalas, karena memang itu ciuman pertamanya. Hani tidak tahu harus bagaimana.


Arman yang tahu istrinya tidak membalas, kembali mencium bibirnya, dengan lembut mendekap erat tubuh Hani hingga Hani kehilangan napas. Arman begitu menggebu.


Arman tersadar istrinya kesulitan bernapas selain karena dirinya terlalu menggebu, juga karena busana pengantin Hani yang membuatnya tudak nyaman.


Arman kemudian berkata.. "Maaf ya sayang... mari berganti pakaian dulu, kamu pasti tidak nyaman dengan ini.. " Arman berkata sambil menunjuk busana kebaya Hani. Hani mengangguk perlahan.

__ADS_1


Arman membuka lemari dan mengatakan bahwa ada beberapa pakaian disana untuk Hani yang sengaja dia beli untuknya.


Arman mengambil beberapa pakaiannya kemudian ke kamar mandi meninggalkan Hani yang masih mematung.


Di lihatnya lemari pakaian itu,, disamping lemari pakaian Arman terdapat tas ransel tentara yang sudah berisi penuh sesuatu. Hani hanya tertarik pada ransel punggung Arman tersebut.


Hani berjalan menghampiri.. tas ransel itu.. dipegangnya.. tak terasa airmatanya mulai mengalir....


Hatinya pedih, di sisi lain hatinya merasakan kebahagiaan telah resmi menikah dengannya, di sisi lain hatinya sedih karena akan berpisah beberapa saat karena Arman akan pergi bertugas.


Di sentuhnya ransel besar itu. Tiba tiba terdengar suara pintu kamar mandi dibuka., Hani segera berdiri menyeka airmatanya, dan berpura pura memilih baju yang akan dia kenakan di dalam lemari. Dia tidak ingin suaminya melihat dirinya sedang menangis.


Hani memilih sebuah baju dari lemari, dan akan mengganti pakaiannya. Diapun membuka kerudung yang menutupi sebagian rambutnya itu. Meletakkan di sofa kecil.


Kemudian berusaha membuka resleting kebayanya yang letaknya di belakang. Hani kesulitan membuka resleting.


Arman yang melihat Hani kesulitan pun segera membantunya. Dia berdiri di belakang Hani. Sementara Hani sibuk sendiri. Saat Arman membantu Hani melepas resleting debar jantung Arman berdetak kencang...


Di lihatnya punggung putih Hani yang mulai terbuka di saat dia menurunkan resleting kebaya tadi. Arman tertegun sejenak., menghentikan aktifitasnya. Naluri kelaki lakiannya bangkit.


Seketika Arman melepas resleting Hani dan berjalan meninggalkan istrinya untuk berganti pakaian.


"Meskipun sudah menikah, Hani masih saja malu.." batin Arman menutup pintu kamar dan membiarkan Hani berganti pakaian. Arman maklum, semua ini pertama bagi Hani.


Selesai mengganti busana kebaya dan mandi Hani keluar kamar, mencari Arman.


Hani melihat ke ruang tamu, tak dia temui sosok suaminya itu, kemudian dia berjalan ke arah dapur dan halaman belakang rumah. Ternyata Arman tengah tertidur di sana.


Hani mendekati Arman, dipandanginya pemilik wajah tampan itu. Di usapnya pipi Arman dengan lembut.


"Kasihan Mas Arman pasti lelah, Hani sayang banget sama mas... Hani harap mas bakal setia sampai kapanpun" bisiknya menatap iba pada Arman.


Yang di pegang pipinya akhirnya bangun, dan mendapati istrinya tengah duduk di sana.

__ADS_1


Arman membuka mata, dipandangnya Hani yang cantik, "Sudah mandi ya... segar sekali, cantiknya istriku " kata Arman memuji.


Arman duduk di samping Hani. Dia mendekati Hani, memandang sejenak dan pandangan kembali jatuh ke bibir mungil itu.


Arman mencium bibir mungil Hani, Hani pun kaget dan hanya bisa pasrah. Lama Arman memagutkan ciumannya pada Hani. Wanita yang sudah sah dia nikahi beberapa jam yang lalu. Mereka berdua menikmati momen indah itu. Berasa dunia milik mereka berdua.


Sampai suara dering ponsel Arman berbunyi. Arman menghentikan ciuman tersebut. Mengangkat telepon. Wajahnya kembali serius.


"Biasanya nih kalo serius telepon dari kantor" batin Hani yang masih setia duduk di samping suaminya.


"Sayang.... maafkan mas yah... Mas harus pergi meninggalkanmu sementara. Maafkan mas.. yang belum bisa membahagiakanmu saat ini, tapi mas janji, mas akan membuatmu melupakan segala kesedihan hari ini. " Arman berkata pada Hani seraya menggenggam tangan istrinya itu.


Hani menunduk diam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Buliran airmata basah mengenai pipinya. Hani berusaha menahannya agar tidak terdengar oleh Arman.


Namun Arman melihat dan merasakan kesedihan Hani. Arman memeluk Hani dengan erat.


"Lepaskanlah... lepaskan tangismu Hani.. mas mencintaimu... tunggu mas yahh.. " Arman memeluk tubuh mungil Hani.


Sontak meledaklah tangis Hani yang tak tertahan itu, Arman membiarkan istri kecilnya meluapkan kesedihan itu di dadanya.


"Hari ini seharusnya dia mendapatkan banyak kebahagiaan bukan kesedihannya." batin Arman teriris melihat Hani menangis di hadapannya.


Setelah beberapa saat, di rasa lega Hani pun melepas pelukan Arman. Di tatapnya dalam dalam wajah suaminya.


"Mas... berjanjilah untuk kembali dengan selamat.., Hani akan setia menunggumu" Kata Hani meraih wajah suaminya dan mendaratkan ciuman manis di pipi laki laki itu. Arman mengangguk dan tersenyum.


Hani pun membantu Arman menyiapkan segala keperluan. Sebelum itu Arman dan Hani pun sholat berjamaah. Mereka berdua larut dalam doa yang mereka panjatkan.


Setelah itu Arman memakai seragam dinasnya dengan berbagai atribut yang di perlukan. Hani segera berganti pakaian dengan seragam istri Tentara., untuk mengikuti upacara pelepasan.


Ponsel Hani berdering, dari Mbak Arni. Memberitahukan bahwa mereka semua telah menunggu kehadiran pengantin baru itu di depan markas besar.


Hani menutup teleponnya dan memberitahukan pada suaminya untuk segera berangkat. Karena semua keluarga sudah menunggu di sana.

__ADS_1


Bersambung dulu yahhh ditunggu kelanjutannya...🤗🤗


__ADS_2