Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 45 Nano nano


__ADS_3

Lanjut yuk....


Sore itu..


"Bu... Hani berangkat dulu yahh.. Hani sekalian langsung pulang yah bu,,, hari ini adik gak ikut nginep di rumah katanya ada kerja kelompok di rumah Aditya. Besok Hani ke sini lagi bu, ini tinggal satu pesanan rendang saja yang belum diantar. Hani pergi dulu.. Assalamualaikum... " pamit Hani.


Ibu mengantarkan kepergian putrinya itu hingga halaman rumah.


Hani menaiki motornya, melaju dengan perlahan sambil mencari alamat si pemesan. Karena ini pesanan terakhir, Hani menutup orderannya.


" Jalan Patimura nomer 12 " Hani mengingat ingat alamat yang tertulis di ponselnya.


Setelah tiba di alamat tujuan, Hani memarkirkan motornya di depan pagar, Dan memastikan alamat pemesan sudah benar. Diapun memencet bel yang ada di samping pagar.


Tak lama keluarlah si empunya rumah. Sosok wanita... Hani melihat sekilas lalu mengingat pernah bertemu wanita itu.


Setelah membuka pagar, wanita itu mempersilahkan Hani masuk.. "Dari dapur Hani yah?"tanya wanita itu.


Hani yang masih memakai helm bogo nya mengangguk, melangkah ke dalam halaman rumah itu, tiba tiba ingatannya kembali.


"Ahh yang memesan ternyata Tante Resti. Mantan pacar sang suami.. ... kira kira dia ingat aku gak yah.. "batin Hani.


"Ini pesanan rendangnya kak.. notanya tertulis di sana" Hani memberikan kotak plastik berisi rendang yang mantab.


Wanita itu menerima kotak dan notanya lalu menyodorkan sejumlah uang pada Hani. Wanita itu belum menyadari bahwa pengantar pesanannya adalah wanita yang pernah dia tabrak sewaktu di mini market dulu.


Hani segera berpamitan dan keluar pagar rumah Resti. Namun tiba tiba...


"Tunggu dek... tunggu sebentar.. "Resti memanggil.


"Huhh ada apa sih.. " batin Hani membalikkan badannya dan melihat Resti.


"Sepertinya saya pernah tahu sama wajah kamu,, Kamu gadis yang bersama Arman bukan? Bagaimana bisa menjadi pengantar makanan? " tanya Resti kepo.


"Iya kak benar.. saya yang bersama mas Arman waktu itu." kata Hani. Mau tak mau Hani mengakui juga.

__ADS_1


"Hai.. aku dengar kalian sudah menikah,belum ada undangan nih.. oh ya mengapa sekarang kamu keluyuran begini, apakah Arman gak ngasik uang belanja ke kamu dek? sampai tega membuatmu menjadi kurir makanan. Arman kan orang kaya... masak pelit sama istri sendiri. " kata Resti dengan nada sedikit menghina pada Hani.


"Maaf kak, kami sudah melangsungkan akad nikah, Insyaallah resepsinya menyusul 😀emm kalo masalah jadi pengantar makanan.. Gak papa kak apa salah menjadi kurir makanan, yang penting halal.., " Hani menjawab dengan senyum kecut.


"Ntar kalo ketemu aku tegur dia,, untung saja aku gak nikah sama dia, coba pasti nasibku sama kayak kamu jadi kurir karena tidak di nafkahi., atau kurang ngasik uang belanja" Resti kembali mengatai suami Hani.


Hani yang sudah kesal dengan perkataan Resti menjawab.. " Maaf kak, mas Arman tidak seperti yang kakak bayangkan, dia itu suami yang bertanggung jawab, bahkan suami idaman bagi semua wanita saya rasa. Dia memenuhi tugasnya, bahkan bukan hanya uang gaji bulanannya yang diberikan pada saya dengan utuh.. kartu ATM yang berisi uang dari bisnis keluarganya pun saya yang pegang, Tapi saya menikah dengannya bukan karena materi, saya hanya mengisi waktu luang dengan menerima orderan di usaha catering ibu saya.Nama dapur Hani itu diambil dari nama saya. Setidaknya saya bisa jajan tanpa harus mengurangi uang di ATM suami saya, meskipun dia tidak pelit, dan menyerahkan urusan uang kepada saya, saya punya rasa tanggung jawab sebagai istri. Tidak seenaknya saja menghamburkan uang. " kata Hani sedikit tegas namun masih batas sabar. Karena bagaimanapun juga Resti adalah konsumen Hani.


Resti terdiam mendengar penjelasan Hani. Dan agar tersindir dengan ucapan wanita yang berdiri di depannya itu.


"Ohh benarkah sampai seperti itu Arman pada gadis ini, bahkan bisnis keluarganya gadis ini sudah mulai menguasainya. Kenapa sama aku dulu Arman tidak pernah mengajaknya ke sana, dan bercerita padaku. Bahkan aku mendengar bisnis keluarga Arman dari teman teman di asrama." batin Resti.


"Maaf kak.. jika sudah tidak ada yang kakak tanyakan lagi, saya pamit dulu, sudah ashar. Makasih kak sudah order, ditunggu lagi orderan berikutnya.Assalamualaikum.." Hani meninggalkan Resti yang sedikit malu padanya.


Hani kembali membawa motornya dengan perlahan menuju rumah cendana. Entah kenapa hatinya sedikit lega kali ini. Perasaan ini macam permen.. Nano nano.. ada seneng, sedih campur bangga karena sudah meluapkan sedikit kekesalannya pada wanita itu.


Sepertinya Hani telah meluapkan rasa yang terpendam setelah merasakan sakit yang dia dapat dari wanita mantan pacar suaminya itu.


"Ya Allah... sungguh beruntung nasibmu mas, engkau tidak di takdirkan dengannya,, ternyata Allah sengaja memberikan luka di hatimu agar kamu jauh darinya. Dia bukan wanita yang pantas mendampingimu meskipun dia terlihat sempurna ternyata sangat suka merendahkan orang. " batin Hani.


Hani membersihkan diri kemudian sholat.


Tak lupa mendoakan sang suami agar selalu sehat dan dalam lindungan Nya. Terlintas wajah Arman..


"Bagaimana keadaanya sekarang, apakah dia makan dengan teratur..tidur dengan cukup..? " semua pertanyaan tersebut muncul begitu saja di benak Hani.


"Krukkkk... krrukkk..." perut Hani mulai menyanyi. Hani pun membuka mukena, melipatnya, dan menaruhnya di atas ranjang.


"Emmm lapar.. biasanya Aldo nih yang nemani makan. Sekarang makan sendiri deh." Hani bergumam sendiri.


Dia menuju dapur, membuka lemari es dan mengambil sebuah kotak persegi berisi rendang yang sengaja di bawa dari rumah ibu tadi sore. Hani membuka kotak, dan menuang isinya ke teflon kecil untuk menghangatkan. Segera Hani mengambil nasi di piring, sambil menunggu rendang di depannya hangat, dia teringat dengan Resti.


"Wah hari ini ketemu mantannya mas Arman, gak bisa menghindar meskipun aku ingin, tapi seandainya aku menghindarpun akan bertemu juga ujung ujungnya, bukankah suaminya juga seorang tentara, ntar juga bertemu jika ada pertemuan rutin di kantoe, seperti yang mas Arman pernah bilang,, oh iya.. tapi kenapa tidak di kirim ke Papua yah?" kembali bergumam sambil membolak balikkan daging rendang di depannya.


"Bodo ah... kenapa harus sibuk mikirin dia, tapi setidaknya hatiku lumayan puas tadi.. " kata Hani mematikan kompor, mengambil beberapa potong daging dan membawa piringnya menuju ruang tengah. Hani pun makan sambil nonton TV.

__ADS_1


Malam itu terasa sepi, Hani seorang diri di rumah tersebut, namun dia sudah terbiasa dengan itu, Karena dulu pernah saat ayahnya sakit dan di rawat di rumah sakit, Hani di tinggal sendiri di rumah, sedangkan Aldo ikut ibu menunggu ayah di rumah sakit. Jadi sekarang jika untuk tinggal seorang diri Hani tidaklah takut.


Selesai mencuci piring di dapur, Hani kembali ke kamar utama dan segera beristirahat. Rutinitas hari inu membuatnya merasa lelah. Di peluknya guling di sampingnya..


"Sampai kapan meluk guling.. hehe,, mas Arman kapan pulang yah... kangen sih.. tapi gak berani bilang... antara malu dan gak punya keberanian itu beda tipis,,tapi ya sudahlah . “PR-ku adalah merindukanmu. Lebih kuat dari Matematika. Lebih luas dari Fisika. Lebih kerasa dari Biologi.”..begitu kalimat kalimat di film Dilan. " Hani senyum senyum sendiri, kemudian memejamkan mata.


*****


Di tempat Arman ...


Malam telah datang... Arman dan beberapa pasukannya telah melakukan patroli rutin di daerah perbatasan. Setelah laporan serah terima selesai, kini giliran prajurit dari daerah lain mulai akan menjalankan tugas menggantikan pasukan Arman yang akan kembali besok.


Malam itu beberapa penduduk desa, memberikan jamuan makan malam, untuk mengenang perpisahan mereka.


"Sudah tak sabar rasanya rindu pulang.. " kata Dafa kepada Agus.


"Tumben... biasanya kamu gak pernah rindu, apakah ada rencana balik ke Aceh? " tanya Taufik menenguk kopi yang di hidangkan warga.


" Di Aceh ayah dan ibuku pasti rindu diriku, namun belum tentu dapat cuti pulang kampung, kami hanya bisa video call saja nanti. Setidaknya melepas rindu, setelah melihat wajah mereka bang. " cerita Dafa.


Sesosok anak kecil menghampiri Dafa yang tengah makan pisang rebus. Tersenyum pada Dafa kemudian memegang erat tangan kiri Dafa. Dafa yang melihat anak itu membalas senyumnya, dan dengan bahasa isyarat diapun menyuruhnya untuk duduk disamping Dafa.


Anak laki laki itu memberikan Dafa sebuah kalung dari tulang binatang,. Dafa bertanya pada anak itu.. "Untukku kah kalung ini? "


Anak itu mengangguk kemudian berkata.. .. "Terimakasih kakak tentara sudah ajarkan aku membaca dan menulis. "


Selama ini Dafa memang sering mengajari beberapa anak di kampung itu untuk belajar membaca dan menulis, setelah tugas patroli selesai dia lakukan.


Setiap sore menghabiskan waktu bermain dan belajar bersama mereka. Sehingga anak anak di sana merasa terhibur.


Arman mendukung niat baik anggotanya itu, bahkan dia bangga Dafa punya niat tulus membantu anak anak warga di sana untuk belajar membaca dan menulis. Karena memang di sana belum ada sekolah, hanya seminggu sekali saja terkadang ada relawan yang mengajari mereka membaca dan menulis, itupun jika tidak ada kendala alam seperti hujan mereka bisa datang. Karena memang medan yang mereka lalui sangat susah terjangkau jika musim hujan datang.


"Oohhh bagus sekali ini,, termakasih yah.. ingat ko orang harus rajin belajar , agar bisa menjadi seperti saya. Bukankah menjadi tentara itu cita citamu toh.. Frans... semangat yah.. " Kata Dafa pada Frans bocah kecil berkulit hitam tersebut.


Mereka semua larut dalam acara perpisahan bersama warga di sana.

__ADS_1


Bersambung dulu yah... 🤗🤗


__ADS_2