
Lanjut lagi masih di 💕Pernikahan Kilat 💕 yuk berikan like ❤ komen, vote dan bintang 5 nya yah kakak.. salam sehat selalu,, selamat membaca.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Arman menemui sang kekasih hati yang sedang menjemur pakaian di teras belakang rumah.
"Dik ayo sarapan,, mas dah lapar,, apa sudah selesai jemur jemurnya..? " tanya Arman seraya merenggangkan kedua tangannya ke atas.
"Ayo mas.. udah kok sudah selesai.. " kata Hani.
Hani dan Arman kini duduk di depan meja makan, mereka berdua makan dengan lahap sarapan pagi ini mengingatkan Arman saat masih ada almarhum ibunya, Sarapan pagi dengan lalapan menambah nafsu makan.
Setelah selesai makan, Hani akan membereskan piring kotor namun dicegah Arman.
"Biar mas aja dik.. mas yang nyuci piringnya." Arman mengambil piring di tangan Hani lalu membawanya ke dapur dan mencucinya.
Setelah mencuci tangan Hani membuka bungkusan cenil yang di beli sang suami.
"Wahhh betapa aku merindukanmu wahai cenill.. lama gak ketemu yah, suamiku tahu benar kesukaanku.. " seru Hani seorang diri yang senang mendapat bingkisan kecil pagi ini.
Saat Hani membuka cenil yang di bungkus daun tersebut,dan mencium aroma pandan tiba tiba....
Hani berlari ke arah kamar mandi luar, yang letaknya di dekat kamar tamu.
Arman yang selesai mencuci piring, melihat Hani berlari buru buru menuju kamar mandi heran,
"Kenapa harus lari sih... nanti jatuh.. " kata Arman pada Hani, namun yang diajak bicara sudah menghilang..
Arman duduk di meja makan, menghabiskan jus jeruk yang istrinya buat khusus untuknya.
Di pandanginya cenil diatas meja, kemudian kembali menatap pintu kamar mandi luar. Masih ada tanda tanya besar di kepalanya.
Sesaat kemudian, Hani keluar dengan wajah pucat sambil memegang perutnya. Arman kaget dan menghampiri Hani yang masih berdiri mengambil napas di depan pintu.
"Kenopo opo dek? " Tanya Arman memegang pundak Hani, menatap Hani yang pucat.
Hani menggeleng kepala, menahan sesuatu sampai kemudian kembali putar balik ke arah kamar mandi.
__ADS_1
"Hoekkk... hooekk... " Hani memuntahkan semuanya di sana, dua kali demikian.
Arman respon dengan cepat memijit leher Hani dengan lembut. Dalam hatinya berpikir resah, ada apa dengan Hani.
Kembali pucat, karena cairan sudah habis dia keluarkan. Berjalan gontai di bantu sang suami menuju meja makan.
Arman mengambilkan air putih untuk Hani, dan yang di sodori meminumnya perlahan.
"Mual mas... pusing.. tiba tiba "kata Hani menelungkupkan kedua tangannya di atas meja kemudian menyandarkan kepalanya di sana.
Arman membelai lembut kepala Hani. Saat Hani kembali mencium aroma daun, gula merah dan cenil, mualnya datang lagi.
Akhirnya Arman menyingkirkan cenil dari depan Hani, dan mengajak Hani beristirahat di kamar.
Hani menurut, dia berbaring lemas menekuk kedua kakinya yang terasa dingin. Belum pernah Hani merasakan mual seperti ini. Hanya ketika telat makan saja tapi tidak separah seperti harus memuntahkan lahar dari dalam perutnya seperti tadi.
"Sebentar sayang, mas menelpon Dokter Rudi dulu, mas takut tipes kamu kambuh lagi" Arman berlalu meninggalkan istrinya yang meringkuk di bawah selimut dengan wajah pasi.
Arman menelpon seseorang, dengan pesona wajah yang rupawan meskipun terlihat jelas rasa kekhawatiran Arman itu namun tidak mengurangi ketampanan laki laki berwajah oriental tersebut.
Tak butuh waktu lama, Arman membuka pintu untuk Dokter Rudi yang rumahnya tiga rumah dari rumah Arman.
"Ada apa toh bro.. kok panik amat..? " sapa Rudi pada Arman yang mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.
"Istriku tadi habis sarapan tiba tiba muntah, katanya dia mual, sebenarnya sudah sedari pagi dia mengeluh pusing, namun kamu tahu karakter istriku kan, seperti sakitnya kemarin, dia tidak merasakan pusingnya itu." cerita Arman.
Rudi mengangguk paham, lalu mengikuti langkah Arman menuju kamar utama tempat Hani tidur.
Dafa yang ikut bersama Rudi berjalan menuju teras belakang untuk menunggu di sana. Tempat itu tempat favorit Dafa di kala berkunjung ke rumah calon om iparnya.
Arman dan Rudi masuk ke kamar utama. Rudi memeriksa denyut nadi Hani. Hani yang setengah memejamkan mata, mencoba tersenyum pada Rudi.
Rudi memeriksa sekali lagi memastikan dengan baik kondisi Hani. Hal ini menambah kekhawatiran Arman.
"Hani... terakhir menstruasi kapan? " pertanyaan Rudi memecahkan ketegangan di ruangan itu.
__ADS_1
Hani berpikir sejenak... mencoba mengingat ingat. Tamu bulanannya.
"Sepertinya 16 mei dokter, saya terakhir haid. Bulan ini Hani belum dapat, Hani santai saja dulu waktu masih sekolah Hani kadang telat seminggu halangan , karena sedang capek, stress" seru Hani pada Rudi. Rudi mengangguk paham. Kemudian tersenyum pada Arman yang masih tegang.
"Selamat yah... Arman sebentar lagi kamu akan jadi ayah.. Hani selamat yah,, kamu sedang hamil. Untuk pemeriksaan lebih lanjut bawalah istrimu ke klinikku nanti sore aku tunggu.. " kata Rudi.
Arman masih tertegun tidak percaya mendengar apa yang Rudi katakan barusan.
Dia mengikuti langkah Rudi yang berpamitan kepada Hani yang masih lemas dan sakit kepala. Rudi meninggalkan kamar utama, keluar dan berjalan menghampiri Arman.
"Jaga baik baik istrimu, biasanya tri semester pertama kehamilan memang sedikit melelahkan, apalagi Hani hamil anak pertama dalam kondisi masih berusia muda sekali. Kamu harus ekstra menjaga dia, mending kalo kamu sedang tugas usahakan dia ada teman atau keluarga yang menemani. Cuman untuk jaga jaga dari hal hal yang tidak di inginkan. Jangan lupa nanti sore.. " kata Rudi sambil menepuk bahu sahabatnya tersebut.
Arman mengangguk paham, Rudi mencari Dafa yang duduk di teras belakang, untuk berpamitan.
Dafa ikut mengantar kepergian senior yang bekerja di bagian kesehatan TNI di bataliyonnya tersebut.
Setelah mengantarkan kepergian Rudi dan mengucapkan terimakasih, Arman berkata kepada Dafa untuk memintanya tinggal sementara di sini, menemani Arman jika sewaktu waktu butuh bantuannya.
Arman menyuruh Dafa sarapan. Dan beristirahat di kamar tamu. Arman menuju meja makan, untuk menunjukkan letak makanan kepada Dafa.
"Bang ini kenapa makanan gak di makan sih," kata Dafa menunjuk piring berisi cenil yang membuat Hani mual tadi.
"Makanlah daripada gak ada yang makan, tadi sengaja aku beli buat Hani ini kesukaan Hani, eh gak taunya kudapan ini bikin Hani mual, muntah" cerita Arman.
Dafa kaget, mendengar cerita Arman...
"Apakah keracunan makanan bang? " tanya Dafa dengan wajah polos.
"Bahkan menyentuh kudapan itu saja belum, Hani telat datang bulan, prediksi Rudi Hani hamil.. Nanti sore kami akan memastikan ke klinik.. mangkanya aku butuh kamu di sini, siapa tahu butuh sesuatu.. " sahut Arman senang.
"Siap bang.. jangan sungkan.. Wah selamat bang..., kalo gitu aku makan saja ya mubadzirr... " kata Dafa melahap dengan nikmat makanan dengan warna hijau dan merah bertabur kelapa dan gula merah diatasnya.
Arman meninggalkan Dafa yang asyik makan, menuju kamarnya.
Dilihat Hani tengah tertidur dengan posisi meringkuk seperti orang kedinginan. Arman merasa senang sekaligus iba melihat kondisi istrinya. Bagaimana tidak iba saat melihat Hani mengeluarkan semua isi perutnya di kamar mandi tadi, sampai tenaganya habis lemas.
__ADS_1
"Apakah benar istriku hamil.. Alhamdulillah Ya Allah...beri kami kesehatan." Arman membelai lembut puncak kepala Hani.
Bersambung dulu yah.. 🤗🤗 mohon dukungan saran dan kritiknya ya..