
Makan dan dapur....
Setelah selesai menunaikan Sholat Ashar mereka berdua pun segera keluar dari kamar tamu. Meskipun Hani berusaha menyembunyikan kesedihannya akan tetapi masih terlihat betul kemurungan itu. Shasa sempat tidak enak hati.
Sebenarnya bukan karena ucapan Shasa.. Hani seperti itu akan tetapi Hani tiba tiba teringat almarhum ayahnya. Jika saja ayah masih ada tentu aku tak perlu memikirkan hal seperti ini. Kepasrahan Hani menyerahkan semua hanya kepada Penciptanya menjadikan Hani sosok yang tabah dan kuat.
Sementara itu Arman dan temannya berbincang ringan. Mereka tak lagi berani bertanya lebih dalam tentang keponakan Arman dan temannya yang manis itu, mereka lebih memilih berbincang tentang kegiatan menyambut HUT TNI beberapa bulan kedepan. Arman pun demikian meskipun hati dan pikirannya masih tak bisa begitu saja melupakan Hani
Kedua gadis berjalan beriringan menuju tempat dimana Arman dan kawannya berbincang. Suasana dalam rumah Arman tak lagi membuat Hani tertarik. Dia ingin segera pulang ke rumah. Selain lelah perutnya pun makin tak kompromi.
Arman yang melihat Shasa dan Hani selesai sholat segera menyapa mereka.
"Udah slesai sholatnya? Kalian dah makan belum? "tanya Arman.
Shasa menggeleng begitu pula Hani.
"Bagaimana kami sudah makan om... sedangkan setelah bel sekolah berbunyi kami pun meluncur kemari. " sahut Hani sedikit cemberut.
" Ahhh iya om... kami lapar beri kami makan... " rengek Shasa pada adik laki laki ibunya itu.
Tatapan kedua gadis itu mengarah ke Arman dan Arman pun dengan sigap berkata..
"Ohooo baiklah keponakan om.. Om mu yang tampan ini akan memberi kalian makan... "
Seketika wajah murung Hani terlihat ceria mendengar kata "makan". Ya makan karena memang Hani sudah lapar gara gara serius banget menyimak pelajaran jam terakhir tadi.
Shasa yang melihat sahabatnya sumringah kembali jadi ikutan semangat dan senang.
Shasa sangat menyayangi Hani, dia sudah menganggap Hani saudara sendiri.
Karena Shasa sendiri adalah putri tunggal di keluarganya, gak punya teman bermain di rumah, kesepian, maka dia akan datang ke rumah Hani begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Hani menyayangi sahabatnya ini karena memang yang paling mengerti dibalik sisi kehidupannya hanyalah Shasa... "Shasa Maharani" sahabat sejak sekolah dasar.
" Kalau begitu sebentar ya kalian duduklah di sana biar om masakkan sesuatu dulu. " kata Arman kemudian. Hani yang mendengar kata memasak senang bukan main,, "memasak itu hobi ku,, ehh ternyata omnya Shasa juga bisa masak ya,, Keren... " Hani bergumam.
"Ehh om tunggu dulu Hani boleh ikutan membantu gak ?" tanya Hani sambil memasukkan mukenanya di dalam tas sekolah.
Tanpa menunggu persetujuan Arman Hani pun bergegas menuju ke arah Arman yang berdiri dan bengong melihat Hani yang akan membantunya memasak di dapur.
"Ahh gadis ini baru saja mengenalku tetapi seperti sudah bertahun tahun rasanya akrab banget,, gadis yang supel. " Arman berkata dalam hatinya kagum.
" Ayo om... kok bengong.. keburu lapar nih.. " ajak Hani sambil menunjukkan perutnya kepada Arman, mengkode kalau perutnya keroncongan.
Arman pun bergegas ke dapur, Hani mengekor di belakangnya. " Sebentar ya kalian lanjut dulu diskusinya.., " lanjut Arman pada teman temannya.
Sementara Shasa tak tertarik untuk membantu pamannya itu memasak, karena Shasa gak suka masak, sukanya makan hehe🤣🤣
Dia lebih tertarik mendengarkan diskusi temen temen Arman yang duduk di bawah beralaskan karpet bulu warna coklat sambil menonton acara Televisi. Shasa membiarkan sahabatnya pergi memasak bersama Arman di dapur. Karena Shasa punya alasan untuk kenalan dengan Dafa.. teman Arman.
" Ommm aku gak bantu ya... Shasa lagi pengen lihat TV aja.. " teriaknya pada Arman.
Teman teman Arman saling berpandangan, lalu melihat ke arah Shasa yang tiba tiba ikutan duduk bersama mereka.
Sambil memegang remote TV, Shasa memilih milih acara yang ingin dia tonton. " Maaf ya om om tentara.. Shasa pengen lihat TV,, om lanjut aja deh rapatnya.. "celoteh Shasa asal asalan..
Tatapannya kadang mencuri curi pandang pada Dafa yang cuek. "Ihh cuek amat sih bebek " batin Shasa.
"Dek kamu sekolah di SMA Kusuma Bangsa ya. Kelas berapa sekarang ?" tiba tiba seseorang bertanya pada Shasa. Dia adalah Agus Setiawan.. satu leting dengan Arman.
Shasa yang ditanya terkejut..
" Bagaimana om tahu kalo aku bersekolah di sana? "
__ADS_1
"Om setiap tahun diminta membimbing Paskib di SMA mu dek.. jadi om hapal betul seragam yang kau kenakan.." jawab Agus.
"Oh begitu ya om... pantesan saja.. oh ya om aku sekarang kelas 12.." cerita Shasa.
Mereka yang berada di ruang tengah rumah Arman telah larut dalam perbincangan bersama gadis muda yang tak lain keponakan Arman.
Sementara itu di dapur....
Arman sibuk mengeluarkan bahan yang akan dia masak bersama Hani. Hani pun demikian dia membantu Arman dan mencari letak pisau dapur dan baskom untuk wadah bahan masakan yang Arman keluarkan dari lemari pendingin.
" Cekatan sekali gadis ini,, andai Shasa seperti Hani,,, ahh gadis itu gak suka masak tapi suka banget makan, pantes tambah gendut si Shasa" gumam Arman dalam hati.
"Dek.. kamu bisa masak? " tanya Arman tiba tiba kepada Hani sambil menyerahkan mentimun seraya menyuruhnya mencuci.
Hani yang ditanya menjawab.. " Bisa om dikit,, ibu Hani kan catering jadi Hani sering membantu ibu jika tidak ada tugas atau kegiatan sekolah. "
Arman manggut manggut mendengar penjelasan Hani. Selesai mencuci sayuran Hani pun mengupas mentimun lalu memotongnya untuk dibuat lalapan., sementara Arman menyiapkan sambalnya dan menggoreng ayam yang sudah di bumbu atau di ukep.
Menu kali ini ayam goreng lalapan. Mereka berdua tengah menyiapkan untuk makan bersama setelah ini. Emmm harum terdengar dari ayam yang di goreng ini.. membuat Hani makin ngilerr tak sabar untuk segera makan.
Arman yang melihat tingkah Hani tertawa lepas, senang sekali rasanya baru kali ini masak seru banget. Arman terus memperhatikan Hani.. Adem liatnya.. sambil terus menyiapkan bahan sambal yang akan di ulek nantinya.
Saat Hani menggoreng ayamnya dan akan membalik ayam., tiba tiba Hani kecipratan minyak panas dan berteriak...
" Aduhhhhhh..... " spontan Arman yang berada di samping Hani pun kaget. Saat tersadar tubuh gadis mungil itu sudah berada di dada Arman. Hani terkejut tangannya terkena cipratan minyak panas, spontan saja dia lari ke arah Arman yang berada di samping dan memeluknya.
Arman yang melihat gadis mungil itu berlari memeluknya, kaget dan spontan juga segera mendekap dan mematikan kompor.
Sama sama tidak menyadari, keduanya panik. Arman segera melihat tangan Hani yang terkena minyak panas itu
"Panas ya... sini om lihat" Arman menarik tangan Hani yang masih melingkar di pinggangnya. Hani terlihat menahan perihnya, memperlihatkan lengan yang panas terkena minyak itu. Arman dengan telaten meniup niup bagian tangan Hani itu. Lalu mereka berdua tersadar akan posisi mereka...
__ADS_1
Bersambung...
Haii sahabat masih kepo yyaaa ikutin kelanjutannya... 😍